02 August 2009

Tukul dan Prof. Dangdut




Sudah berbulan-bulan saya tidak nonton EMPAT MATA, yang kemudian ganti nama menjadi BUKAN EMPAT MATA. [Akal-akalan ala pengelola televisi setelah program ini ditegur keras Komisi Penyiaran.] Bagi saya, acara ini tidak menarik lagi. Repetisi, guyonan Tukul diulang-ulang, mudah ditebak. Garing!

Kok acara ini bisa bertahan sangat lama? Saya heran. Yah, Tukul Arwana rupanya masih punya peminat amat banyak di Indonesia. Cocok dengan selera masyarakat kitalah. Acara seburuk apa pun, tapi kalau disukai banyak orang, mau bilang apa?

Tapi belum lama ini saya "dipaksa" oleh Andrew Weintraub, profesor doktor dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, untuk menonton BUKAN EMPAT MATA. Alasannya sederhana saja:

"Nanti malam saya keluar di BUKAN EMPAT MATA!" begitu pesan pendek Prof. Andrew yang fasih bahasa Sunda dan bahasa Indonesia ini. Dia musikolog, peneliti musik etnik Indonesia, peneliti sekaligus penulis buku THE HISTORY OF DANGDUT. Andrew juga punya band dangdut di USA, Dangdut Cowboy Band.

Nah, demi menyenangkan sang profesor yang istrinya wanita Sunda, Jawa Barat, saya pun menunggu BUKAN EMPAT MATA di televisi. Iklan banyak, Tukul masih dengan gaya khas, cuma kali ini seruan "puas, puas, puaaaasss...." nyaris tidak ada lagi.

Lama sekali si Tukul ini wawancara dengan penyanyi Rosa, tamu pertama. Saking lamanya, pertanyaan berikut terkesan dibuat-buat alias "maksa". Toh, informasi tentang rumah tangga Rosa dan Yoyok, drumer Padi, sudah dibahas tuntas di berita gosip yang di Indonesia disebut "infotainment'. Istilah jurnalistik yang salah kaprah!

Manajemen waktu Tukul payah. Tamunya banyak, tapi alokasi waktu dan pertanyaan tidak jelas. Widyawati nyaris tidak bicara karena tidak dikasih pertanyaan. Kapan Andrew Weintraub muncul? Lama sekali tak muncul-muncul.

Aha, ternyata profesor botak yang lebih suka dipanggil namanya saja, Andrew, gak usah pakai "profesor doktor", "bapak", "mister", "tuan", "mas", "akang"... ini muncul menjelang akhir BUKAN EMPAT MATA. Andrew membawakan dua lagu dangdut ciptaan Rhoma Irama. Si Rhoma ini sahabat dekat sekaligus idola si Andrew.

"Apa enaknya jadi bujangan...! Bujangan.... bujangan...." Paling enak kayaknya punya banyak istri kayak Rhoma Irama. Hehehe.... Husssh!

Wawancara dengan Andrew Weintraub nyaris tidak ada. Tukul sibuk melucu dengan bikin pelesetan bahasa Inggris. Seakan-akan Andrew tidak bisa berbahasa Indonesia. Andrew pun senyam-senyum. Justru Rosa yang spontan nyeletuk "apakah Andrew bisa berbahasa Sunda" mengingat dia pernah tinggal di Bandung selama lima tahun.

Cut! Iklan bermunculan. Tahu-tahu BUKAN EMPAT MATA selesai. Andrew tidak diajak bicara tentang musik dangdut, musik tradisional kita, yang selama ini ditekuni profesor USA ini. Bukankah itu menarik? Dan Andrew belum pernah muncul di televisi nasional secara langsung?

Tukul tidak melakukan itu. Dia lebih suku melucu dengan kata-kata dan bahasa tubuh yang sudah sering diulang-ulang. Sayang sekali!

"BUKAN EMPAT MATA tadi malam sangat buruk. Tukul bicara sendiri, Andrew bicara sangat sedikit," begitu SMS saya kepada Andrew.

"Saya setuju. Tukul itu one man show...," balas Andrew.

Andrew akhirnya menyimpulkan bahwa acara BUKAN EMPAT MATA bertujuan mengeruk sebanyak mungkin IKLAN, bukan memberi pengertian atau wawasan kepada masyarakat. Jadi, harap maklum, bahwa banyak penonton televisi yang saya kecewa.

"Tidak apa-apa. Yang penting, saya jadi tahu bagaimana manajemen acara hiburan di televisi Indonesia," kata Andrew sebelum pamit pulang ke USA.

No comments:

Post a Comment