22 August 2009

Tong Sin Fu yang Disia-siakan



Oleh M. DINARSA KURNIAWAN
Wartawan Jawa Pos
Foto-foto: Xinhua, kantor berita Tiongkok


Salah satu orang penting di balik keberhasilan Tiongkok menguasai bulu tangkis dunia adalah Tong Sin Fu alias Tang Xianhu. Pelatih kelahiran Lampung itu pernah memoles generasi emas bulu tangkis Indonesia. Dia terpaksa kembali ke Tiongkok karena permohonannya menjadi WNI (warga negara Indonesia) ditolak.

Pria renta itu hampir selalu berada di tepi lapangan setiap kali Lin Dan tampil pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Kepalanya terbungkus topi dan sebuah tas diselempangkan di pundak. Lin Dan, pebulu tangkis tunggal pria andalan Tiongkok, selalu menoleh ke arah pria itu setiap kali lawan berhasil menerobos pertahanannya. Menunggu instruksi.

Lin Dan, yang sejatinya hanya diunggulkan di peringkat kelima, akhirnya berhasil menjadi juara dunia di Gachibowli Indoor Stadium, Hyderabad, 10?16 Agustus lalu. Keberhasilannya, antara lain, berkat instruksi pria tua yang tak lain adalah Tong Sin Fu, pelatih tim nasional (timnas) Tiongkok.

Itu adalah gelar juara dunia ketiga bagi pemain berjuluk Super Dan tersebut, setelah memenanginya pada 2006 dan 2007. Di partai final, Tong tak tampak di pinggir lapangan lagi. Alasannya, mungkin, partai tersebut mempertemukan sesama pemain Tiongkok, Lin Dan v Chen Jin.

Tong adalah sosok yang sangat berjasa bagi kemajuan bulu tangkis di negeri terpadat di dunia itu. Sentuhan magisnya membuat Tiongkok menjadi raksasa bulu tangkis di era modern ini. Para pemain Tiongkok, dalam beberapa tahun terakhir, memang bermain dengan kemampuan jauh di atas pemain mana pun. Tak heran, pada kejuaraan di India itu timnas Tiongkok hanya kehilangan gelar ganda campuran. Empat nomor lain dikuasai pemain Tiongkok. Bahkan, tiga partai final berlangsung antarpemain Tiongkok.

Sebaliknya, Indonesia terpuruk. Nova Widianto/Liliyana Natsir, satu-satunya wakil di final kerjuaraan itu,?dikalahkan duet Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Melatih pemain Tiongkok, kata Tong, tidak terlalu susah. Sebab, mereka sangat berbakat. "Di Tiongkok, para pemandu bakat telah menyediakan pemain-pemain bagus. Kami, para pelatih, tinggal memoles," katanya dengan bahasa Indonesia yang masih fasih.

Tong memang lahir dan besar di Indonesia. Tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. "Di Tiongkok, nama saya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tua saya memberi nama Tong Sin Fu," paparnya kala ditemui di sela Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Ketika masih menangani timnas Indonesia, dia punya nama Fuad Nurhadi.

Tak kurang dari tiga puluh tahun dia menjadi pelatih bulu tangkis. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai gantung raket. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an.

Kemudian pada 1986 Tong melatih di Indonesia. Awalnya, dia tidak menangani pemain Pelatnas Cipayung. Dia melatih di klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Ketika itu dia dikontrak USD 750 per bulan. Setelah itu Tong ditarik untuk menangani pebulu tangkis yang ditempa di Pelatnas Cipayung.

Ketika itu sejumlah pemain legendaris nasional masih di pelatnas. Seperti Liem Swie King di masa-masa akhirnya, Icuk Sugiarto, dan Hastomo Arbi. Kemudian, dia ikut membidani lahirnya para pemain generasi emas, seperti Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi.

Bahkan, Tong mengantarkan Alan meraih medali emas bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992. Waktu itu Susi Susanti juga berhasil meraih emas sehingga dijuluki pengantin emas. "Para pemain Indonesia saat itu memang berbeda dengan yang ada sekarang," katanya.

"Secara kualitas mereka lebih baik. Selain itu, saya lihat mereka punya semangat dan kemauan keras untuk menjadi juara," lanjut pria 68 tahun itu. "Filosofi saya sebagai pelatih adalah bukan pelatih yang harus pandai, melainkan pemain sendiri. Tugas pelatih hanya membantu," sambungnya. Pemain terakhir Indonesia yang ditangani adalah Hendrawan yang juga sempat menyabet juara dunia.

Tong Sin Fu melatih ganda putri Tiongkok Lin Ying dan Wu Dixi tahun 1982. 

Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. "Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama," kata pria yang kini menetap di Fuzhou tersebut. "Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata," katanya.

Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI. "Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut," kata suami Li Qing itu, sembari sesekali membenarkan letak topinya.

Meski begitu, dia belum tahu kapan akan pensiun sebagai pelatih. "Saya menikmati peran saya sekarang. Selama saya masih kuat, saya akan terus melatih. Sebab, di usia ini kalau tidak ada kegiatan, malah tidak enak," paparnya.

Di Tiongkok, Tong tak langsung melatih tim nasional, melainkan menjadi pelatih tim bulu tangkis Provinsi Fujian. Tak lama kemudian, dia melatih timnas Negeri Panda itu. Pada Olimpiade Sydney 2000, dia harus melihat anak didiknya, Xia Xuanze, menyerah di tangan Hendrawan yang pernah dilatihnya.

Namun, Hendrawan hanya meraih perak di Olimpiade itu setelah di final dikalahkan Ji Xinpeng, pemain lain Tiongkok. Salah satu keberhasilan Hendrawan saat itu berkat arahan Tong Sin Fu. Sebaliknya, keberhasilan Ji Xinpeng mengalahkan Hendrawan "yang kini melatih tim Malaysia" juga berkat sentuhan Tong Sin Fu.

Setelah itu Tong ikut membidani lahirnya para pebulu tangkis andalan Tiongkok saat ini. Misalnya, Lin Dan, Chen Jin, Bao Chunlai, dan ganda pria Cai Yun/Fu Haifeng. Nama-nama inilah yang beberapa tahun terakhir mendominasi peta persaingan bulu tangkis dunia. Bahkan, selain mengantarkan Lin Dan hat-trick juara dunia, dia berhasil mengantar Super Dan meraih medali emas Olimpiade Beijing tahun lalu.

Tong merupakan salah satu pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya, Hou Chia Chang, asal Surabaya. "Saya meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis," tutur bapak dua anak itu.

Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta.

Di Tiongkok karir bulu tangkis Tong Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975. Hou Chia Cang juga berhasil. Mereka berdua dijuluki Raksasa Tiongkok karena keperkasaannya.

Sayang, ketika itu pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama mereka berdua tidak begitu dikenal secara internasional. Tapi, pers Barat yang mengendus keberadaan mereka menganggapnya sebagai kekuatan tersembunyi. Tong hanya tampil di Ganefo (Games of The New Emerging Forces) 1963 dan 1966. Dia menjadi juara tunggal pria.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Tong dan Hou mulai menunjukkan kemampuan. Bahkan, di sebuah laga ekshibisi, Tong berhasil menggilas pemain terbaik Eropa saat itu, Erland Kops, dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0. Oleh pers Barat, Tong dijuluki The Thing.

Ketika itu dominasi tunggal pria dunia di tangan Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Tong maupun Hou tidak sempat ditarungkan dengan jagoan Indonesia itu.

Mereka pernah bertemu Iie Sumirat dalam sebuah even antarpemain Asia di Bangkok pada 1976. Iie Sumirat berhasil memecundangi keduanya. Saat dikalahkan Iie Sumirat, usianya sudah 34 tahun. Tak lama kemudian, dia memutuskan gantung raket, dan menjadi pelatih.

Tong mengaku, meski sudah tak tinggal dan melatih di Indonesia, dia terus memperhatikan perkembangan bulu tangkis di negeri kelahirannya ini. Dia tak menampik, saat ini prestasi bulu tangkis nasional memang tak sebaik di era-era sebelumnya. Tapi, dia yakin, Indonesia kembali bangkit. "Hanya masalah waktu menunggu bulu tangkis Indonesia berkibar kembali," ucapnya.

Dia mengaku masih punya banyak sanak-saudara di Indonesia. Sesekali dia pulang ke Indonesia. Kedua anaknya "dia tidak mau menyebutkan namanya" juga dilahirkan di Indonesia.

Tong adalah contoh mutiara berharga yang disia-siakan.

Tong Sin Fu melawan Hou Jiachang. Keduanya pemain top pada masa lalu.

BACA JUGA

PP 10 Mengubah Peta Bulutangkis

31 comments:

  1. Tang disebut the Thing, karena nama lahirnya Thing Hian Houw; karena dia keturunan Hokchia / Hokchiu, begitulah namanya dituliskan menurut ejaan Hindia Belanda. Makanya sekarang dia menetap di Hokchiu (Fuzhou). Tong Sinfu itu namanya menurut bahasa Kanton. Sedangkan Tang Xianhu / Tang Hsien-hu itu namanya menurut bahasa Mandarin.

    Hou Jiachang itu asal Jawa Tengah. Antara Hou dan Tang, selalu gantian juara satu dan dua. Ada pemain Tiongkok satu lagi yang selalu juara nasional ke-3, asal Surabaya, namanya Fang Kaixiang, sekarang melatih di Kudus kalau tidak salah.

    Sebenarnya Indonesia masih punya Taufik Hidayat yang bakatnya luar biasa dan kalau mau tidak kalah dengan Lin Dan. Sayang kemauannya kalah kuat.

    ReplyDelete
  2. aq baru tahu kalo pemain2 china itu dilatih oleh eks pemain top indonesia. gila bener. pelatih paling top sejagat ngelamar jadi WNI kok ditolak. nyesel banget deh...

    ReplyDelete
  3. moga2 pemerintah kita sadar deh. met kenal mas!!

    tony

    ReplyDelete
  4. aq kira pemain2 indonesia sekarang kalah jauh sama china krn kita gagal di pembibitan. belum lagi bakat2 baru gak muncul. gak taunya bapak tong sin fu yg membuat china jadi raksasa di bulutangkis. sialan!!!

    ReplyDelete
  5. Kisah Tong Sin Fu ini sama dengan Qiu Jijin, pria asal Jawa Barat, yang sukses di China sebagai wasit balap sepeda. Kini dia tinggal di Fujian.

    Rochman Arief

    ReplyDelete
  6. Bung Wens di USA,
    Terima kasih atas penjelasan sampean, orang yang sangat paham sejarah keberadaan orang Tionghoa di indonesia. Penjelasan anda sangat membantu pembaca dalam memahami seluk-beluk ketionghoan.

    Tentang Taufik Hidayat yang "bakatnya luar biasa", saya sependapat. Karena itu, Taufik pernah meraih emas di Olimpiade Athena. Dia punya banyak sumbangan untuk bulutangkis di tanah air. Kalau sekarang Taufik kalah dengan Lin Dan, ya, karena faktor umur. Usia emas Taufik kan sudah lama berlalu.

    Terima kasih untuk Mas Arief atas tambahan informasinya. Moga-moga pemerintah semakin jeli dan sadar. Tidak lagi mengulangi kasus-kasus seperti yang dialami Tong Sinfu dan Qiu Jijin.

    Tetap berpikir merdeka! Tolak diskriminasi!

    ReplyDelete
  7. pembibitan harus dilakukan lagi di kalangan anak2 n remaja. pertandingan diperbanyaklah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju banget, cuman kayaknya anak sekarang gak kenal badminton. lapangan gak adalagi.

      Delete
  8. Bung, mantan pemain dan sekarang pelatih Hendrawan pernah bilang, pemain seperti Taufik dan Lin Dan itu muncul hanya tiap generasi (20 tahun) sekali. Seperti Tang Xianhu dan Rudy Hartono. Seperti Liem Swie King dan Yang Yang.

    Taufik sekarang baru usia 28, tapi sejak dia menang emas (usia 23) dan juara dunia (usia 24), motivasinya menurun karena merasa semua sudah tercapai. Padahal dia hanya 2 tahun lebih tua daripada Lin Dan.

    Bandingkan di bidang tennis dengan Roger Federer (seumur dengan Taufik) yang tetap konsisten berlatih keras dan bisa come-back setelah ditantang oleh Rafael Nadal (5 tahun lebih muda).

    Memang haknya Taufik untuk lebih nyantai setelah puncak tercapai. Aku sebagai penggemar, boleh dong kecewa, hehe.

    ReplyDelete
  9. yah... kita kalah lagi sama china. kayaknya beberapa tahun terakhir regenerasi pemain2 muda gak jalan. masa, si taufik masih tetap maen di thomas cup tahun 2010....

    ReplyDelete
  10. bravo tim indonesia, next time pasti juara...

    ReplyDelete
    Replies
    1. asal kerja keras n kerja cerdas...

      Delete
  11. aq baru tahu kalau kehebatan badminton china gara2 tangan dingin Tong Sin Fu yg notabene asal Indonesia. Kita terbukti goblog...

    ReplyDelete
  12. sehrusnya pemerintah harus sadar.pelatih sebagus itu mau ngelamar jadi WNI ditolak.lihat sekarang apa majunya bulutangkis Indonesia tanpa pelatih sebagus TONG SIN FU

    ReplyDelete
  13. indonesi goblok,

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah rezim orde baru yg benar2 gak pake otak. kalo sekarangsih pemerintah gak ngurusin bulutangkis..politik doang yg gak ada mutunya.

      Delete
    2. bukan GOBLOK tapi ada kebijakan rezim lama yg tidak kondusif untuk orang2 kayak tong sinfu. kita sekarang baru nyesal setelah melihat china punya begitu banyak bibit unggul bulutangkis.

      Delete
  14. kesempatan emas buat mengembembangkan bulutangkis indonesia disia-siakan dengan begitu saja .

    ReplyDelete
  15. Sebenernya yang goblok bin gila itu oknum-oknum petugas imigrasi dan kependudukan Indonesia... merekalah para bajingan yang membikin repot (dan pastinya juga memeras) orang-orang seperti Tong Sin Fu dan juga para mantan pebulutangkis nasional (keturunan Tionghoa) kita saat itu.
    Para bajingan kaya gitu mana mikir apalagi peduli tentang kepentingan dan keharuman nama bangsa Indonesia di kancah internasional... yg dipikirin cuma gimana caranya ngeruk duit sebanyak-banyaknya walaupun itu duit haram yg sumbernya dari memeras orang..!!! Dah gitu para atasannya juga sama aja jenis manusianya alias sama aja busuknya, mereka melihat kenyataan kaya gitu diem aja karena mereka juga makan setoran dari anak buahnya itu..!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalahnya sdh kebangetan. org2 hebat kayak mr tong ini pun dipersulit. seharusnya presiden soeharto waktu itu punya kebijakan khusus untuk memanfaatkan org2 hebat kayak beliau. jadi ini bukan lagi oknum imigrasi tapi pemerintahnya yg gak bener.

      Delete
  16. Tidak usah Lah puLang ke'Indonesia Pak Tong Sin Fu...
    Karena nanti nasib Bapak akan sama seperti Orang-orang yang teLah berjasa besar bagi negeri ini tetapi disia-siakan oLeh negeri ini...
    Dimana di masa tuanya untuk makan sehari-haripun susah...

    Lebih baik Bapak tetap tinggaL di China,, dimana Pemerintahnya memperhatikan dan membalas jasa Orang-orang yang telah berjasa terhadap Negerinya...

    Miris...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sangat setuju dengan comment anda.. sangat beruntung Pak Tang Hsienhu/ Tong Sin Fu ditolak oleh imigrasi, coba bayangkan klo diterima nasibnya di indo malah lebih nga jelas.. koruptor dipelihara, malah org2 yg berjasa buat negara dibuang. sedih liat negara kita ini

      Delete
  17. kita hanya bisa menyesal. sesal kemudian tidak berguna

    ReplyDelete
  18. Mantan pemain nasional Alan Budi Kusuma menganggap negara lain lebih memberi penghargaan kepada para pelatih bulu tangkis yang berprestasi.

    Hal ini diungkapkan oleh Alan mengenai sosok pelatih China kelahiran Indonesia, Tong Sin Fu atau Tang Hsienhu, yang mendampingi para pemain negeri itu mengalahkan Indonesia 3-0 pada final Piala Thomas, Minggu (16/5/2010).

    Alan memang dikenal dekat dengan pelatih kelahiran Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. Perkenalan terjadi saat Tong melatih di Indonesia pada 1987 hingga 1998. "Bayangkan, pada usia setua itu, ia masih diberi kesempatan duduk mendampingi pemainnya. Padahal setahu saya, ia memiliki masalah dengan jantungnya, serta memang sejak muda hidup dengan satu ginjal," katanya.

    Peraih medali emas olimpiade ini memang merupakan salah satu anak didik Tong sejak muncul akhir 1980-an. Menurutnya, Tong sebagai pelatih menanamkan disiplin tinggi buat anak didiknya. "Kalau latihan pukul delapan, dia sudah di lapangan pukul 07.30. Kami terlambat satu menit saja akan disuruh pulang," ungkapnya.

    Ia juga memuji Tong yang memiliki metode latihan yang unik dan tidak pernah sama untuk setiap pemain. "Saya dengan pemain lain, seperti Ardy, diberikan metode latihan yang berbeda. Namun, setiap memberikan teknik latihan, Om Tong selalu bilang, latihan yang dijalankan itu akan memberi hasil tiga bulan kemudian. Dan ini terbukti," ungkapnya.

    Mereka terus bersama hingga Tong memutuskan kembali ke China setelah permintaannya untuk memperoleh surat bukti warga negara Indonesia ditolak.

    "Om Tong memang cerita tentang kesulitan dia memperoleh izin naturalisasi. Dia telah mengajukan selama lebih dari sepuluh tahun dengan biaya sendiri hingga habis lebih dari Rp 50 juta-an," kata Alan. "Awalnya dia telah mendapatkan KIMS (kartu izin menetap sementara) yang diperpanjang dengan menerima KIM (kartu izin menetap), tetapi ketika saatnya mendapatkan surat bukti WNI, dia malah diminta mengurus ulang proses mendapatkan KIMS," katanya.

    Alan ingat bagaimana reaksi Tong Sin Fu saat permintaannya mendapatkan surat bukti WNI gagal. "Waktu itu kami masih latihan hingga pukul 10 malam. Om Tong bilang saya mau ke imigrasi sebentar," katanya. "Pukul 11 malam, dia pulang dengan menendang pintu ruang latihan sampai kami semua berhenti berlatih. Om Tong cuma teriak, 'kurang ajar... gue disuruh ngulang prosesnya!'" kenang Alan.

    Alan tidak tahu apakah dalam proses mendapatkan surat WNI tersebut Tong mendapat bantuan dari pengurus PB PBSI atau pejabat berwenang lainnya. "Beberapa hari setelah kejadian itu, dia bilang memutuskan akan kembali ke China," katanya. "'Lan, apa sih yang kurang saya lakukan buat negeri ini? Saya sudah membawa gelar juara, juga dapat penghargaan dari Presiden. Tapi semua itu tidak ada gunanya'," ucap Alan mengulangi perkataan Tong.

    Saat itu, Alan, karena masih menjadi pemain, meminta Tong mempertimbangkan keputusannya itu. Namun, pelatih yang pernah melahirkan nama-nama besar di China, seperti Lin Ying/Wu Dixi dan Li Lingwei ini mengatakan, "Gue di sini warga negara asing. Kalau mati di sini, istri dan anak gue makan apa?"

    Tong memang menikah dengan seorang wanita dari China daratan pada usia cukup lanjut dan memiliki putra yang seingat Alan baru berusia enam tahun. "Mungkin setelah menghubungi koleganya di China, ia mendapat kepastian tentang masa depannya di sana," ucap Alan.

    Juni 1998, Tong akhirnya kembali ke China dengan membawa keluarga. Ia diantarkan oleh para mantan anak asuhnya, antara lain Alan Budi Kusuma, Candra Wijaya, Hariyanto Arbi, dan Hendrawan sampai ke bandara Soekarno-Hatta.

    Menurut Alan, setelah pindah, Tong ditarik sebagai pelatih tingkat provinsi kemudian timnas oleh pelatih kepala, Li Yongbo. Sebagai pelatih timnas, Tong Sin Fu atau Tang Hsien Hu mendapat jaminan, seperti rumah, kendaraan, dan jaminan hidup hingga seumur hidup anaknya. Ya, seumur hidup anaknya!

    ReplyDelete
  19. kenapa Negara kita menyia2kan pelatih Tong Sin Fu kembali KeTiongkok?

    ReplyDelete
  20. ayo Indonesia jangan sia2kan pelatih yang benar - benar bonafit bisa membawa kembali kejayaan Bulutangkis kita.....

    ReplyDelete
  21. Itulah kebijakan rezim lama yg sangat irasional dan terbukti membuat RRT merajai bulutangkis dunia. Mudah-mudahan dambil hikmahnya oleh pemerintah dan pengurus PBSI sekarang. Mr Tong sudah lanjut usia, 70 lebih, sehingga tidak mungkin lagi melatih dengan baik seperti ketika masih 50-an tahun. Saat ini pun saya kira beliau sudah tidak lagi turun langsung melatih pemain-pemain RRT, meskipun beliau tidak mungkin bisa dipisahkan dari badminton.

    ReplyDelete
  22. semuanya terlambat.... sekarang bulutangkis sudah tidak populer di indonesia, makin sulit bersaing dengan china. sementara rakyat lebih gandrung nonton sepakbola di tv, gak ada yg latihan bulutangkis. ini semua romantisme masa lalu.

    wahyu malang

    ReplyDelete
  23. kenapa ga dikasi ya..sementara pelatih susi susanti liang chiu sia malah dikasih langsung sama try sutrisno. apa ada kasus lain?

    ReplyDelete
  24. Harusnya tu kita yg mohon supaya dia yg jadi wni, ini dia yg mohon masih ditolak pula. Jan guoblok

    ReplyDelete
  25. Kalau pemain atau pelatih sepak bola, barulah cepat jadi WNI. Kenapa? Karena bukan Tionghoa. Gitu aja. Negara Indonesia harus jujur, bahwa Tionghoa masih dijadikan sumber pemerasan.

    ReplyDelete