24 August 2009

Tanda Salib di Jawa





KONJUK ING ASMA DALEM HYANG RAMA,
SAHA HYANG PUTRA,
TUWIN HYANG ROH SUCI
AMIN


Setelah diskusi ngalor-ngidul membahas kebudayaan di Sidoarjo, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Teman-teman pelukis, pemusik, pengamat, pencinta kesenian, masyarakat umum, yang jumlahnya 70-an orang, dikasih nasi kotak. Lumayan untuk mengganjal perut yang keroncongan dari tadi.

Saya kaget melihat Mas Joko--pelukis, pernah mencetak rekor Muri (Museum Rekor Indonesia)--tidak langsung makan. Matanya terpejam, bikin tanda salib, berdoa... "Wah, rupanya Mas Joko ini orang Katolik yang taat," batin saya.

Pemandangan ini, bagi saya, terbilang langka di Surabaya dan Sidoarjo. Jarang sekali orang Katolik yang membuat tanda salib di tempat umum. Alasannya macam-macam: "Tanda salib dalam hati saja! Gak enak deh dilihat orang! Ntar dibilang apa? kita kan minoritas! Ntar jadi pusat perhatian! Toh, Tuhan tidak butuh simbol-simbol!" Dan sebagainya.

Selain Mas Joko, di acara diskusi ini setahu saya ada empat orang Nasrani (Katolik dua, satu Protestan, satu Pentakosta). Termasuk saya. Tapi hanya Stevanus Joko Lelono seorang yang bikin tanda salib dan berdoa cukup lama sebelum makan. Saya lalu menghampiri Mas Joko yang kelahiran Jogjakarta itu:

"Wah, sampean benar-benar hebat Mas!" sapa saya.

"Hebat apanya?"

"Sampean bikin tanda salib di depan orang banyak yang 99,5 persen non-Katolik! Terus terang, dalam dua tahun terakhir saya baru satu kali ini melihat orang Katolik bikin tanda salib di depan umum. Kalau berdoa, tanda salib di kantin gereja, sih biasa. Rombongan orang Katolik berdoa di tempat umum, tanda salib... sih biasa."

"Hehehe.... Sampean ini bisa saja," kata Mas Joko. "Gak tahu ya, sejak kecil aku memang selalu doa sebelum makan. Dan harus pakai tanda salib, di mana pun. Aku gak peduli itu di rumah, retoran, warung kopi, atau pertemuan publik kayak gini. Sudah kebiasaan sih," demikian pelukis berambut ikal yang tinggal di Perumahan Magersari Sidoarjo itu.

"Gak malu dilihat orang? Gak sungkan?"

"Ora. Lapo isin... Berdoa kok malu. Kalau melakukan kejahatan, nyolong, selingkuh, berkelahi... baru malu. Kalau tanda salib itu kan memang bagian dari cara berdoa menurut Katolik. Ya, saya lakoni. Aku ya gak sungkan dan gak pernah disindir wong," tegas Mas Joko mantap.

"Tapi di Jawa Timur ini kan Katolik itu minoritas. Gak sampai satu persen!" pancing saya sekadar membuat Mas Joko gregetan.

"Orang berdoa itu gak ada urusan dengan mayoritas minoritas. Doa ya doa, titik. Hehehe..."

Lantas, kami pun bicara panjang lebar tentang tradisi tanda salib di kalangan jemaat Katolik. Mengapa saya "menggugat" tanda salib Mas Joko di kumpulan peserta diskusi yang 99 persen Islam?

Karena memang itu tadi, di Pulau Jawa ini--kecuali di sejumlah kantong Katolik di Jogjakarta atau Jawa Tengah--jarang sekali ada orang Katolik yang begitu lugas bikin tanda salib kayak Mas Joko. Biasanya, ngintip sana-sini dulu, katanya lihat "sikon". Kalau dianggap kondusif, baru tanda salib.

Dan, biasanya, "sikon" itu sulit kondusif. Buktinya, saya perhatikan teman-teman, relasi, kenalan yang Katolik jarang sekali bikin tanda salib di depot, kafe, restoran, dan sejenisnya. Hanya berdoa diam-diam, dalam hati, sebelum makan.

Suasananya beda banget dengan di Flores yang Katoliknya mayoritas. Di mana-mana orang buat tanda salib, bahkan terlalu berlebihan tanda salibnya. Sebelum dan sesudah makan. Mau minum air tanda salib. Dapat mangga matang, tanda salib sebelum makan. Panjat pohon tanda salib. Mau belajar tanda salib. Meyakinkan teman atau relasi bahwa ceritanya benar-benar kejadian, bukan bohong, buat tanda salib.

Melihat pertandingan sepakbola atau voli atau apa pun dan pemain kesayangannya bikin gol, tanda salib. Atau, sebaliknya, pemain pujaannya gagal mencetak gol dari titik penalti, tanda salib. Hehehe... Orang Flores itu dalam soal tanda salib mirip orang Amerika Latin, Spanyol, atau Portugis yang sangat doyan bikin tanda salib. Jalan di tempat keramat atau angker, tanda salib dipercaya bisa mengusir setan-setan dan roh halus.

Maka, jangan heran kalau Anda menyaksikan pemain-pemain bola asal Brasil, Argentina, Spanyol, dan Portugis sangat doyan bikin tanda salib. Diego Maradona termasuk sangat ekspresif kalau bikin tanda salib.

Yah, itulah tradisi yang sangat lazim ditemukan di Flores atau Timor Leste. Ingat, agama Katolik di Flores dan Timor Leste memang mula pertama dibawa oleh misionaris asal Portugis pada abad ke-16. Pastor-pastor Ordo Dominikan ini awalnya membuka pusat misi di Pulau Solor, tak jauh dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Misi Solor kemudian dipindahkan ke Larantuka. Bahwa orangnya jarang ke gereja, tidak pernah sembahyang, itu urusan lain. Yang penting "atas nama Bapa" [istilah tanda salib di Flores].

Ada segelintir orang tua di kampung saya, Flores Timur, yang bahkan menganggap bahwa "atas nama Bapa" [di Jawa: "dalam nama Bapa", bahasa Latin: "in nomine Patris", bahasa Jawa: "Konjuk ing asma Dalem"] sudah bisa menggantikan sembahyang alias doa.

Tidak berdoa sebelum makan tidak apa-apa, asalkan bikin "atas nama Bapa". Lupa ke gereja juga tidak apa-apa asalkan tidak lupa "atas nama Bapa" sebelum makan dan minum. Ini pengalaman yang rasakan waktu kecil dulu. Hehehe....

Koyolnya lagi, pencuri yang hendak memanjat pohon kelapa milik orang lain pun tak pernah lupa "atas nama Bapa" alias bikin tanda salib. Kok bisa? "Supaya tidak jatuh. Kalau sudah tanda salib, kita lebih berani di atas pohon," kata teman-teman waktu kecil yang biasa memanjat kelapa orang lain. Hehehe....

Kembali ke Mas Joko, wong Katolik Jowo yang rajin buat tanda salib itu. Obrolan kami kemudian mengarah ke tradisi berdoa rutin. Mas Joko ini menyisihkan waktu cukup banyak untuk berdoa: doa sendiri, doa bersama istri dan anak. Kalau tidak ada kesibukan, dia aktif doa bersama jemaat di lingkungan.

"Doa itu kayak ngomong-ngomong sama Gusti Allah," kata pria yang juga pembuat patung kawakan ini. "Doa itu termasuk salah satu kebutuhan primer manusia."

Mendengar penuturan Mas Joko, saya yang asli Flores Timur, yang mayoritas Katolik, merasa tertohok. Kenapa? Orang-orang Flores yang tinggal di Jawa umumnya "menyesuaikan diri" dengan lingkungan baru. Kebiasaan membuat tanda salib, "atas nama Bapa", di mana pun tidak bisa dipertahankan di Jawa. Tetap rajin ke gereja, tapi membuat tanda salib di kafe, depot, restoran, warung... sudah jadi barang langka.

"Bagaimana ya? Ini Jawa Timur, bukan Flores Timur, Bung! Kita lihat sikonlah. Kalau kita 'atas nama Bapa', lantas kita jadi pusat perhatian, jadi bahan pembicaraan orang.... Yah, tanda salib dalam hati," kata Stefanus, orang Flores yang sudah karatan di Surabaya.

"Apa ada jaminan orang yang rajin tanda salib itu lebih baik?" tambahnya. Yah, gak ada yang bisa menjamin. Wong urusan rohani kok pakai jaminan segala?

Yah, pada akhirnya ya kembali ke masing-masing pribadi. Mau bikin tanda salib di mana pun ala Mas Joko, silakan! Berdoa diam-diam, tanda salib dalam hati, silakan! Tidak berdoa, silakan! Yang jelas, mengutip kata-kata Mas Joko, "Gusti Allah ora sare!"

Tuhan tidak tidur!

2 comments:

  1. ...eh, intro ceritanya bawa nama Guk Djoko Lelono, hehe. Setuju, kenapa orang harus malu bikin tanda salib? bukan sombong atau sok kepedean, tapi itu kan emang identitas kita, ngapain malu?? ntar kalo suatu ketika gantian Yesus yg malu ngakuin kita, baru tahu rasa deh, hehe...

    ReplyDelete
  2. doa memang perlu habit. kalo gak pernah doa, ya susah mengekspresikan diri di depan umum. lingkungan juga menentukan. di mana2 golongan minoritas cenderung punya penyakit MINDER. sungkan sama mayoritas.

    ReplyDelete