21 August 2009

Tak Mau ke NTT



"Buat apa tinggal di NTT? Mau kerja apa di sana? Ijazah S-1 gak kepakai. Percuma. Ruang gerak kita sempit. Kita hanya bisa lihat laut. Mau bikin apa-apa susah...."

Kata-kata ini disampaikan Chen Aifen, gadis Tionghoa, yang ayahnya lahir di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), kepada saya. Dia bicara dengan santai, tenang, tapi rasanya getir. Padahal, si Aifen ini dilahirkan oleh pria keturunan Tionghoa kelahiran Alor, NTT.

Si Aifen pun lahir di Alor. Tapi sejak usia tiga tahun dia sudah hijrah ke Jakarta, kemudian Surabaya. Pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA di Surabaya. Sekarang dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kristen Petra Surabaya.

Kamu pernah ke Alor? "Pernah. Hampir dua minggu saya berada di Alor, di rumah famili," akunya.

Karena terbiasa dengan irama hidup di kota besar yang cepat, luas, serbalengkap, gadis manis ini sulit mengikuti kehidupan masyarakat di kota kecil di Alor. Aifen sangat tidak betah berada di tanah kelahirannya, sekaligus kampung halaman bapaknya.

"Saya nggak ada minat ke sana. Kalau saya tinggal di Alor, apa yang bisa saya kerjakan? Paling buka toko. Itu pun kalau ada modal. Hehehe," ujar gadis yang suka blak-blakan ini.

Lain lagi si Thres, juga keturunan Tionghoa. Beda dengan Aifen, Thres ini asli Tionghoa Jawa Timur, tapi bersuamikan Tionghoa Flores Timur. Baba Tionghoa ini cukup terkenal di kampung halaman kami. "Saya gak ada minat tinggal di Flores. Kalau sekadar libur satu dua hari sih oke, tapi kalau menetap... no way!" katanya pedas.

Karena tiap hari berkumpul dengan orang Flores, baik yang asli maupun Tionghoa, si Thres yang lulusan Ubaya--Universitas Surabaya, kampus yang dominan Tionghoa--mengaku hafal karakter orang Flores. Celakanya, dia main pukul rata. "Ber.... aku malas banget bicara sama orang-orang dari kampungmu itu," katanya.

"Kan kampung suamimu juga!"

"Memang kampung suami saya ya Flores."

"Kenapa dengan orang Flores? Kok kamu suka sama si Flores, kemudian nikah dan punya anak?"

"Orangnya kebanyakan bicara, susah disuruh kerja, suka minum-minum.... Pokoke, aku gak senang."

"Suami juga begitu?"

"Hehehe... suamiku termasuk orang Flores yang baik. Dia gak kayak teman-temanmu itu."

"Yah, diingetin biar jadi orang baik kayak suamimu."

"Wis tak elingno, tapi angel. Sudah tahu salah, tapi ngeyel."

"Hmmm.... kamu kecewa kawin sama orang Flores?"

"Hussh... gak kecewa. Kan sudah jodoh."

1 comment:

  1. hello... hapi blogging... have a nice day! just visiting here....

    ReplyDelete