19 August 2009

Syukur karya H. Mutahar (SATB)



Husein Mutahar lahir pada 5 Agustus 1916. Ia tidak pernah mendapat pendidikan musik secara formal. Namun, bakat dan perkenalannya dengan doktor musik asal Polandia, Rudzit, menjadikan beliau dikenang sebagai komponis besar hingga saat ini.

Almarhum banyak menyumbangkan karya yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme generasi muda pada era perjuangan kemerdekaan. Kini, karya-karyanya tidak hanya dipelajari siswa sekolah, namun diperdengarkan pula saat upacara-upacara kenegaraan.

Ia mengecap pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada peridoe 1946-1947, setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A I (1938). Pada tahun 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947).

Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974), setelah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Vatikan (1969-1973).

Di samping himne Syukur, lagu ciptaan pertamanya yang diperkenalkan kepada khalayak pada Januari 1945, Mutahar juga mengarang lagu mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Pada 1946-1948, Mutahar menjadi ajudan Presiden Sukarno. Ia adalah penyelamat bendera pusaka Merah Putih saat Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia kala itu, dibombardir Belanda. Mutahar mengamankan bendera tersebut selama tujuh bulan agar tidak jatuh ke tangan Belanda.

H. Mutahar juga terlibat dalam gerakan Pramuka sejak awal lembaga kepanduan itu berdiri. Ia juga pengagas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Kwarnas Pramuka sebenarnya telah berencana untuk mengadakan konser untuk memperdengarkan karya-karya mantan ajudan Bung Karno tersebut. Tercatat 199 lagu menjadi karyanya.

Lelaki yang bisa berbicara dalam 12 bahasa itu dikenal sebagai budayawan yang lemah lembut dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Ia tidak pernah menikah, namun memiliki sembilan anak angkat yang sangat dekat dengannya. Kepada mereka, Mutahar sering berpesan agar menerapkan sifat jujur dan disiplin.

Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 9 Juni 2004, pukul 16.30, dalam usia 88 tahun. Pada detik-detik kematiannya, Pak Mut berpesan untuk dimakamkan di Taman Permakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta.

SUMBER NASKAH:
http://yulian.firdaus.or.id/2007/08/17/h-mutahar/

SUMBER PARTITUR:
Paduan Suara Mahasiswa Universitas Jember.

1 comment:

  1. Jiwa nasionalisme beliau memang pantas untuk diteladani kawula muda...

    ReplyDelete