08 August 2009

Subronto Kusumo Atmodjo - Paduan Suara




"Tidak ada paduan suara yang buruk. Yang ada hanyalah pemimpin paduan suara yang buruk." -- KURT THOMAS



Ada beberapa mahasiswa yang memanfaatkan tulisan-tulisan saya tentang paduan suara di blog ini. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan literatur paduan suara di tanah air. Apalagi, bahan-bahan itu dibutuhkan untuk menyusun skripsi atau tugas akhir.

"Anda menulis artikel paduan suara itu pakai sumber apa? Boleh disebutkan buku-bukunya?" begitu antara lain pertanyaan adik-adik mahasiswa. Sikap kritis yang wajar dan harus dilakukan mahasiswa, calon sarjana.

Sebagai bekas aktivis paduan suara mahasiswa, tentu saja saya membaca banyak literatur paduan suara. Juga partitur baik yang sederhana maupun tergolong sulit. Sayang, sebagian besar referensi saya sudah "diwariskan" kepada teman-teman atau adik-adik yang masih aktif di paduan suara.

Saya sendiri sudah 10 tahun lebih "lengser" dari paduan suara. Namun, saya masih tetap "terlibat" dalam paduan suara sebagai penikmat atau pengamat. Pengamat kelas amatiranlah.

Setelah mendapat e-mail dari Bernida, mahasiswa di Jakarta yang hendak menulis skripsi tentang paduan suara, saya mencoba membongkar arsip lama. Yah, akhirnya ketemu buku tipis karya Subronto Kusumo Atmodjo berjudul Panduan Praktis Memimpin Paduan Suara. Buku ini dulu--mungkin juga sampai sekarang--banyak dipakai aktivis paduan suara di lingkungan gereja-gereja Kristen Protestan dalam membina paduan suara gerejawi.

Subronto Kusumo Atmodjo lahir pada 1929 dan meninggal tahun 1982. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk musik vokal, khususnya paduan suara. Ada 11 lagunya dimuat di buku nyanyian rohani KIDUNG JEMAAT. Yang menonjol dari mendiang Subronto adalah sebagian besar komposisinya menggunakan nada-nada pentatonis ala Indonesia atau Timur. Padahal, almarhum adalah komponis lulusan Eropa.

"Subronto Kusumo Atmodjo merupakan salah satu musisi terbaik yang pernah dimiliki negeri ini," tulis J.M. Malesy, editor musik pada Penerbit BPK Gunung Mulia. "Subronto itu selama 30 tahun lebih berpengalaman dalam membina paduan suara di tanah air."

Berbagai jenis paduan suara pernah ditangani Subronto Kusumo Atmodjo. Paduan suara gerejawi, non-gerejawi, anak-anak, wanita, pria, paduan suara amatir hingga yang kelas wahid. Salah satu komposisi Subronto Kusumo Atmodjo yang sangat berbobot adalah BINTANG BETLEHEM, kantata Natal dalam modus pentatonik Jawa. Kantata dengan iringan orkestrasi lengkap ini ditampilkan ada 1981.

"Itu pergelaran terakhir dari beliau," kata Malesy yang juga komposer musik gerejawi.

Dalam bukunya, Subronto K. Atmodjo sangat menekankan peran sentral seorang dirigen alias konduktor alias pengaba dalam paduan suara. Dirigen, kata Subronto, harus punya bakat atau kecakapan bawaan. Punya pendengaran yang baik. Bisa bicara dengan enak di depan para penyanyi. Harus bisa mengorganisasi anggota.

"Syarat terpenting: sikap tenang dan sabar.... Seorang dirigen tak boleh gugup dalam situasi yang paling pelik sekalipun," tulis Subronto Kusumo Atmodjo.

Dirigen juga harus punya pendidikan musik. Harus tahu seluk-beluk atau lika-liku musik. Dia harus bisa mendidik anggota agar bisa menyanyi dengan baik. "Seseorang hanya bisa menjadi pemimpin paduan suara yang baik apabila ia sendiri juga dapat berfungsi sebagai penyanyi paduan suara yang baik," tegas Subronto.

Dia mengingatkan, para solis yang bersuara indah belum tentu mampu bernyanyi dengan baik dalam paduan suara. Bisa jadi, mereka malah merusak paduan suara. Subronto menunjuk contoh bagaimana para jawara bintang radio menyanyi bersama usai perlombaan. "Kita pasti menderita sekali karena komposisi warna suara mereka berantakan," tulis Subronto.

Subronto Kusumo Atmodjo juga sangat cermat dalam diksi. Syair atau lirik yang digunakan tidak sembarangan. Menurut dia, banyak sekali komponis kita yang belum menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Maka, tak jarang lagu-lagu Indonesia sulit dipahami maknanya akibat lirik yang "asal tempel".

Subronto memberi contoh lagu RAYUAN PULAU KELAPA karya Ismail Marzuki yang terkenal itu. Ada kalimat: ... berbisik-bisik raja kelana...

"Apa yang dimaksud dengan 'raja kelana'? Mengapa 'berbisik-bisik'? Apa hubungan antara 'berbisik-bisik', 'raja kelana', dan 'nyiur di pantai yang melambai'?" gugat Subronto.

Almarhum juga mengkritik syair lagu GARUDA PANCASILA (karya Prohar) yang tekanan kata dan tekanan musiknya tidak pas. Akibatnya, lagu nasional itu sering dipelesetkan dengan "... riba-riba saku", padahal maksudnya "pribadi bangsaku".

"Kita berharap agar komponis-komponis baru kita lebih baik pengetahuan bahasa dan sastra Indonesianya sehingga membantu mengurangi problem-problem para penyanyi dan para pemimpin paduan suara," imbau Subronto Kusumo Atmodjo.


Pada 1980-an dan 1990-an, ketika televisinya hanya satu (TVRI), dan rezim Orde Baru berkuasa, setiap tanggal 17 malam ada acara CINTAKU NEGERIKU setelah DUNIA DALAM BERITA. Selama 30 menit paduan suara mahasiswa (PSM) menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah.

Salah satu karya Subronto Kusumo Atmodjo, BETAPA KITA TIDAK BERSYUKUR, sering diperdengarkan di acara tersebut. Komposisinya sederhana, nada-nada pentatonik, dengan pilihan kata (diksi) yang khas Subronto Kusumo Atmodjo.
Selamat mencoba!


REFERENSI

Subronto Kusumo Atmodjo: Panduan Praktis Memimpin Paduan Suara, 1985, 102 halaman, PT BPK Gunung Mulia Jakarta.

Yayasan Musik Gereja, Jakarta: Kidung Jemaat Empat Suara, 2001, 500 halaman.

1 comment:

  1. mohon dibongkar juga dengan teks lagu kebangsaan indonesia raya. masih asli kah teks tersebut ?
    jika tidak :
    1. berapa kali perubahan ?
    2. mengapa di rubah ?
    3. teks nya saja kah ?
    4. atau perubahan yg lain misal birama, tempo, dinamik dll.
    terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete