31 August 2009

ST12 Bikin Sakit Perut

Berlibur di kawasan Trawas, Mojokerto, memang asyik. Kita bisa menikmati udara sejuk dengan pemandangan alam yang masih relatif asli. Kita bisa kembali ke desa setelah selama enam hari menikmati kemacetan dan "kepanasan" Surabaya.

Akhir pekan lalu, saya bersama Pak Haryaji mampir ke warungnya Mbak Siti di Trawas. Karena sama-sama tidak puasa, nonmuslim, kami memesan kopi sambil baca koran dan majalah yang dibawa dari Surabaya. Mbak Siti melayani dengan keramahan khas desa. Bikin betah.

Suasana yang tadinya tenang kontan berubah ketika Mbak Siti memutar musik. Astaga, lagu Isabella oleh ST12. Saya langsung tertawa pahit. "Hahaha... kita bisa gila nih," kata saya. Pak Haryaji ikut tertawa ngakak.

Terus terang, perut saya mual setiap kali mendengar ben-ben kayak ST-12, Kangen Band, dan sejenisnya. Penggemarnya memang jutaan orang, termasuk Mbak Siti di pegunungan ini. Tapi tentu saja tidak semua orang suka. Mbak Siti rupanya menganggap kami, yang dari Surabaya, doyan ST12, sehingga memutar lagu-lagu ben asal Bandung itu keras-keras.

"Mbak, sampean suka ST12?" pancing saya.

"Wow, suka sekali. Apalagi anak saya itu, tiap hari mesti dengar ST12."

"Kangen Band suka juga?" 

"Suka. Itu kan ben yang lagi disukai anak muda."

Yah, makin ketahuan kalau selera saya dan Pak Haryaji berbeda dengan Mbak Siti dan para laki-laki yang cangkrukan di warung kopi laris itu. Pak Har tergolong generasi lawas yang suka Genesis, Peter Gabriel, Queen, serta musik country. Ke mana-mana dia membawa harmonika murahan dan memainkan musik country. 

"Saya selalu sakit perut, gak nyaman, kalau mendengar ST12, Kangen Band, dan sejenisnya," kata saya. 

"Namanya juga selera itu kan beda-beda. Kita hormati saja seleranya Mbak Siti, pemilik warung."

Saya kemudian memanggil Mbak Siti. "Mbak, apa gak ada kaset/CD lain? Kok sudah satu jam lebih ST12 terus. Apa gak bosan?"

Mbak Siti yang pakai jilbab ini tertawa. "Aku gak punya kaset lain. Wong anak-anak saya sukanya ini aja."

"Baik. Tapi saya gak nyaman dengan musik itu."

Mbak Siti kaget. Tak menyangka kalau tamunya dari Surabaya ini membuat pernyataan yang mengejutkan. Saya kemudian membayar kopi, makanan, dan membeli sebotol madu asli Trawas. Madu liar. "Saya jamin madu itu paling bagus," katanya. Kecap memang selalu nomor satu!

Begitulah. Selera orang, termasuk jenis musik, memang berbeda dan makin beragam. Setiap generasi punya selera sendiri. Kalau anak muda tidak suka keroncong, langgam, dangdut lawas... ya wajar. Sebaiknya, orang-orang lama pun sulit menerima jenis musik pop masa kini yang sudah jauh berbeda dengan era 1970-an, 1980-an, 1990-an. 

Maka, berbahagialah Anda yang sudah berusia 30 tahun ke atas tapi masih bisa menikmati ben-ben populer macam Kangen Band, ST12, dan sejenisnya. Lebih repot lagi kalau suami dan istri punya perbedaan yang terlalu banyak. 

4 comments:

  1. Mampir jalan-jalan.
    Salam kenal ^_^

    ReplyDelete
  2. Hehehe, bang Hurek..judul postingnya benar-benar lucu ya.. Aku juga tidak suka dengan ben-ben yang sekarang ini sedang heboh-hebohnya dengan aliran "metal" alias melayu total seperti ST12 ini. Tapi, sepertinya pasar memang lagi cinta-cintanya dengan musik yang satu ini

    ReplyDelete
  3. belajar menghargai perbedaan.."

    ReplyDelete
  4. Saya sendiri tidak terlalu suka dgn grup band saat ini,musiknya kurang berbobot dari skill maupun vokalnya. Lagu sekarang umurnya paling lama gak sampe setahun, beda dgn grup jaman dulu.
    Meski dulu alat musik tidak secanggih sekarang tapi mereka bermain dgn skill yang bagus sekali.

    Mohon maaf bila pendapat saya kurang berkenan utk pendengar musik saat ini.

    Bravo Musik Indonesia .... !!!

    ReplyDelete