27 August 2009

Seriosa Masuk Museum


Lagu seriosa rupanya sudah masuk museum. Orang Indonesia, apalagi yang muda-muda, sudah tak kenal jenis musik vokal klasik ala Indonesia ini. Sebab, televisi-televisi swasta yang begitu banyak itu ternyata tidak pernah menyajikan program musik yang bersifat apresiasi. Semuanya musik pop, hiburan, ben-ben anak muda, dengan sajian yang nyaris seragam.


Nasib seriosa lebih parah daripada keroncong. Musik keroncong juga sudah dekat dengan museum, tapi napasnya masih panjang. Masih ada gebyar keroncong di televisi dan radio. Orkes keroncong masih ada meskipun sangat sedikit dan pemusiknya tua-tua. 

Seriosa memang bukan lagu biasa. Tingkat kesulitan tinggi. Berbeda dengan pop yang renyah, gampang, mudah dinyanyikan hanya dengan meniru, seriosa perlu dipelajari. Si penyanyi setidaknya bisa membaca not, paham struktur lagu, dan berbagai elemen musik vokal. Karena itu, sejak 1950-an seriosa dijadikan musik pendidikan. Musik klasik versi Indonesia.

Belum lama ini Christopher Abimanyu, juara bintang radio dan televisi jenis seriosa era 1980-an dan 1990-an, menyanyi di Surabaya. Dia menemani Tantowi Yahya, presenter dan penyanyi country. Suara Abimanyu yang tenor dan dahsyat memang khas seriosa. Hanya saja, malam itu pria Bandung ini membawakan musik country. Duet dengan Tantowi.

Penonton senang karena bisa menikmati sajian yang unik. Tantowi yang biasa-biasa berduet dengan Abimanyu yang luar biasa di bidang olah vokal klasik. Tapi, aneh, karena komposisinya tidak cocok. Vokal seriosa dipaksakan di country atau pop. 

Jomplang! Sama dengan orang jalan-jalan ke pantai pakai setelan jas lengkap. Keren, elite, tapi bukan tempatnya. Tantowi memang sengaja mengundang Abimanyu sekadar memberi kejutan. Meramaikan konser ucapan syukur atas keberhasilannya di dunia hiburan selama 20 tahun. Bukan konser apresiasi musik!

Akhirnya, saya bisa menikmati nyanyian seriosa -- benar-benar seriosa Indonesia -- di Surabaya pada 18 Agustus 2009. Dewi Endrawati [foto], guru vokal dan asisten direktur Yayasan Pendidikan Gloria Surabaya, menyanyikan lagu KARAM karya Iskandar (almarhum). Konser kemerdekaan Surabaya Symphony Orchestra memang kerap menyisipkan satu dua nomor seriosa.

Suara si Dewi ini sebetulnya bagus. Tapi malam itu syair lagu tidak bisa ditangkap penonton di ballroom Hotel Shangri-La dengan jelas. Iringan musik orkestra menutupi vokalnya. Dan itu selalu menjadi persoalan dalam berbagai konser musik klasik di Indonesia. Suara manusia cenderung tenggelam.

"Iku lagu opo? Kok gak jelas ya?" begitu komentar seorang wartawan muda.

Musik seriosa memang sebaiknya dipentaskan di ruangan yang tidak terlalu luas. Cukup dengan iringan piano. Akustik ruangan harus bagus, sehingga tidak perlu pengeras suara, mikrofon, sound system, dan sebagainya. Hanya dengan begitu, audiens bisa menemukan keindahan musik vokal klasik ala Indonesia itu.

Celakanya, gedung konser macam itu belum ada di Surabaya. Yo opo maneh Cak!

3 comments:

  1. Lho, kok bung masih menyebut musik ini dengan nama seriosa? Padahal bung pernah menulis bahwa sebutan tsb. tidak tepat, seperti yang diuraikan dalam blog http://hurek.blogspot.com/2006/09/seriosa-versi-solomon-tong.html

    Di luar negeri memang tidak pernah aku dengar seriosa. Yang dekat-dekat ya musik opera, di mana di dalam kategori itu sendiri ada macam-macam ragamnya.

    Walaupun bukan penggemar serius musik jenis ini, aku beruntung pernah masuk gedung opera di Wien (Vienna), Austria. Gedungnya muat mungkin seribu orang, tetapi panggung bisa terlihat jelas sekali dari berbagai sudut. Walaupun aku berdiri di kelas kambing paling belakang, suara penyanyinya, apalagi yang tenor dan soprano, terdengar jelas tanpa pengeras suara.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Mas Boen. Istilah2 di Indonesia memang sudah banyak yang salah kaprah, sehingga menjadi sangat umum. Karena dipakai terus-menerus, ya, akhirnya jadi paten dari generasi ke generasi. Padahal, kalau ditinjau dari berbagai segi sih kurang pas. Yah, seperti di artikel yang pernah saya tulis berdasar keterangan Pak Tong.

    Istilah SERIOSA makin umum dan selalu dipakai di semua media massa di Indonesia. Kalau kita pakai istilah lain, meskipun benar, dianggap aneh atau nyeleneh sendiri. Kira-kira begitu.

    Salam damai!

    ReplyDelete
  3. Tapi masyarakat kita mungkin kebanyakan memang belum dapat menikmati seriosa dalam arti umum.

    ReplyDelete