13 August 2009

Seminari Tinggi Providentia Dei

Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ini benar-benar arek Suroboyo. Berani, ceplas-ceplos, selalu bikin keputusan dengan cepat. Banyak umat Katolik, yang sebagian berlatar belakang Jawa kulonan, mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan karakter Bapa Uskup.

Maklum, selama bertahun-tahun Uskup Surabaya dipegang imam-imam asal Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat yang karakternya kulonan. "Mgr. Sutikno ini punya kemampuan membuat gebrakan,' kata seorang teman yang aktivis gereja.

Gebrakan besar Mgr. Sutikno, menurut saya, adalah mendirikan seminari tinggi. Selasa 4 Agustus 2009 beliau memimpin misa pembukaan sekaligus meresmikan Seminari Tinggi Providentia Dei keuskupan Surabaya. Sebelum itu, terkait rencana bikin seminari tinggi, Mgr. Sutikno menarik semua frater asal Keuskupan Surabaya yang sedang belajar di Seminari Tinggi Interdiosesan di Malang.

Para frater itu dipindahkan ke Sasana Krida, Jatijejer, pusat pembinaan rohani milik Keuskupan Surabaya di kawasan pegunungan Trawas, Mojokerto. Mereka digembleng secara khusus. Pola pembinaan disesuaikan dengan kebutuhan umat Katolik di Surabaya. Sejak agama Katolik masuk ke Surabaya pada 1805, kalau tidak salah, Surabaya memang tidak punya seminari tinggi. Sekolah dianggap kota dagang yang sibuk. Kurang cocok untuk pembinaan para calon imam.

Maka, para frater asal Surabaya pun "dititipkan" di Malang, Jogjakarta, dan beberapa daerah lagi, termasuk luar negeri. Sejak dulu Keuskupan Malang dianggap "paling ideal" sebagai pusat pendidikan calon pastor di Jawa Timur.

Imej ini melekat bertahun-tahun di kalangan umat Katolik Surabaya. Bahkan, orang-orang Katolik di luar Jawa pun menganggap Malang lebih cocok untuk retret, pembinaan iman, kemping rohani, dan mendalami berbagai hal tentang kekatolikan.

Surabaya?

"Hahahaha..... Itu kan kota bisnis, pelabuhan, bandar udara internasional, bukan kota pendidikan," begitu pendapat yang sering saya dengar di kampung, Flores Timur. "Kuliah atau sekolah di Malang saja, kerja di Surabaya. Retret di Malang. Nuansa kerohanian di Surabaya hampir nggak ada," ujar salah satu paman saya yang memang menempuh pendidikan di Kota Malang yang sejuk dan indah itu.

Imej atau citra ini ternyata tidak belaku untuk Mgr. Sutikno Wisaksono. Begitu menggantikan mendiang Mgr. Johanes Hadiwikarta, yang orang Jawa Tengah, banyak sekali aksi konkret dilakukan Mgr. Sutikno. Yang kecil-kecil misalnya urusan parkir di seputar Gereja Katedral dan keuskupan dipermak habis. Pintu masuk keuskupan diubah.

Kalau dulu, bertahun-tahun, pintu masuk langsung dari jalan raya, sekarang dipindahkan ke samping. Harus lewat pintu masuk katedral. Sehingga, gereja katedral dan keuskupan menjadi satu kesatuan. Tidak terpisah kayak dulu. ini terobosan yang luar biasa. Dan tidak pernah dipikirkan banyak orang selama ini. Salut!

Terobosan paling berani tentulah Seminari Tinggi Providentia Dei. Saya termasuk dekat dengan para aktivis gereja, kenal baik dengan banyak romo dan orang-orang hebat di lingkungan Katolik. Selama 10 tahun menjadi umat di Keuskupan Surabaya, saya belum sekalipun mendengar ide membuat seminari tinggi. Membayangkan saja tidak.

Orang Katolik di Surabaya, setidaknya mayoritas, menganggap pola pembinaan calon romo dengan "menitipkan" ke sana sini, khususnya di Malang, sudah baik. Toh, sudah puluhan tahun polanya seperti itu. Toh, sudah menghasilkan banyak pastor yang menggembala domba-domba di 41 paroki Keuskupan Surabaya. Toh, uskup sekarang, Mgr. Sutikno Wisaksono, juga hasil pembinaan seminari di Malang.

Lha, buat apa capek-capek bikin seminari tinggi sendiri? Kan perlu gedung, tenaga pengajar, uang, siswa, fasilitas ini-itu, dan seterusnya. Kita sudah terjebak dalam "kenikmatan" zona nyaman selama 200-an tahun. Dan orang yang terbiasa hidup di "zona nyaman" memang sulit berpikir "keluar dari kotak"... kemudian bikin aksi.

Puji Tuhan, Mgr. Sutikno Wisaksono bukan tipe uskup yang menikmati zona nyaman. Beliau memikirkan jauh ke depan. Mempersiapkan imam-imam yang sesuai dengan situasi dan kondisi umat Katolik di Keuskupan Surabaya. Maka, lahirlah Seminari Tinggi Providentia Dei. Mgr. Sutikno Wisaksono menulis:

"Dengan berada di wilayah Keuskupan Surabaya, diharapkan para calon imam dapat mengenal situasi keuskupan sejak awal masa pembinaan, lebih mencintai panggilan mereka sebagai calon imam diosesan, dan kelak dapat melayani umat di Keuskupan Surabaya secara lebih efektif.

Dengan berada dekat uskup, diharapkan para calon imam sejak awal masa pembinaan dapat lebih mudah membangun kedekatan hati, pikiran, dan kehendak dengan uskup, dan nantinya dapat memahami, menghayati dan mewujudkan dengan tepat arti ketaatan imamat terhadap uskup selaku gembala keuskupan dalam kesatuan dengan para imam dan umat."



SEMINARI TINGGI PROVIDENTIA DEI

Pendiri : Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono
Tanggal pendirian: 4 Agustus 2009, peringatan Santo Yohanes Maria Vianney
Alamat : Hening Griya, Jl. Jemur Handayani XVII/20 Surabaya
Rencana : Membangun gedung lima lantai di Jl. Dinoyo 54-56 Surabaya.
Rektor : Romo Stephanus Fanny Hure
Telepon : 031 879 2427
E-mail : providentiadei@sby.dnet.id
Rekening: BCA Diponegoro Nomor 258 3560 777 (rupiah), BCA Diponegoro Nomor 258 3568 999 (dolar)

4 comments:

  1. semoga berkembang dan sukses. GBU.

    thomy

    ReplyDelete
  2. Mari kita bekerja sama demi imam masa depan yang berkualitas.

    ReplyDelete
  3. Ada Beberapa yang mungkin tidak sesuai dengan realita yang sebanrnya:

    1. Tidak semua Frater idtarik dari Seminari Tinggi di malang. Bahkan tidak ada yang ditarik dari Seminari Tinggi Malang! Mgr. Sutikno hanya menarik Para Frater yang ada di Tahun Rohani Malang. Sedangkan Para Frater yang di Seminari Tinggi tetap studi di sana sampai Akhir S1 atau S2.

    2. Mgr Sutikno bukan hasil didikan Seminari Tinggi Malang. Beliau Studi di Seminari Tinggi Kenthungan Jogja. Mgr. Sutikno hanya pernah menjabat sebagia rektor di seminari tinggi Malang, sekaligus Dosen di STFT malang

    ReplyDelete