25 August 2009

Selamat Jalan Lim Keng


Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis Lim Keng, yang dijuluki sebagai maestro sketsa, meninggal dunia di RS Darmo dalam usia 75 tahun, Minggu (23/8/2009) sekitar pukul 23.30 WIB.


DALAM empat bulan terakhir, kondisi Lim Keng menurun drastis. Tubuh pria kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, yang sejak dulu memang sudah kurus ini, semakin kurus dan kurus saja. Tinggal kulit pembalut tulang. Ini setelah Lim mendekam di RS Darmo, Jl Raya Darmo Surabaya, dalam waktu cukup lama.

"Bapak sangat sulit makan. Kalaupun makan hanya beberapa suap saja. Selera makannya hampir tidak ada," cerita Lim Ie Waliban, putra kedua Lim Keng, yang khusus datang dari Papua untuk menunggui papanya.

Kepada saya, Waliban sempat bercerita bahwa mula-mula Lim Keng hanya mengalami sakit perut biasa. Ternyata, kondisi tubuhnya yang rapuh--apalagi Lim Keng bertahun-tahun menjalani pola hidup vegetarian--tak mampu mengatasi gangguan yang semula dianggap ringan ini. Lim kemudian diopname di RS Darmo. 

Setelah kondisinya mulai membaik, Lim Keng dibawa pulang ke rumahnya di Undaan Kulon 125 Surabaya. Rumah sederhana di pinggir jalan raya ini sekaligus toko pracangan dan studio Lim. Saya sempat bertemu dan berbincang-bincang cukup lama dengan Lim di kamar tengah. 

"Saya merasa makin baik. Hanya perlu istirahat lagi sampai kondisi saya pulih. Untuk sementara saya nggak bisa buat apa-apa," ujar seniman yang dikenal dermawan ini.

Namun, ternyata kondisi Lim kembali memburuk. Untuk ketiga kalinya, Lim diopname di RS Darmo sekitar dua pekan lalu. Sejumlah seniman, relasi, dan kerabat kembali bergantian mengunjungi Lim di rumah sakit. Ajal tak dapat ditolak, Minggu tengah malam, Lim yang sempat mencicipi pendidikan di Akademi Seni Rupa Jogjakarta, 1964, ini tutup usia. 

"Kita kehilangan seorang maestro, seniman sketsa, yang sulit dicari tandingannya," ujar Herman Handoko, pelukis senior, kepada saya semalam.

Menurut Benk, sapaan akrab Herman Handoko, tidak banyak pelukis di tanah air yang mau menekuni sketsa secara konsisten seperti almarhum Lim Keng. Selain karena karya sketsa dianggap kurang ramah pasar, tingkat kesulitan sketsa sangat tinggi. "Sketsa itu kelihatannya gampang, tapi sangat susah. Harus sekali tarik garis dan langsung jadi," tegas Benk.

Kepada saya, Lim Keng sempat menceritakan proses kreatifnya di dunia seni rupa, khususnya sketsa. Pilihan berkesenian semacam ini jelas-jelas melawan arus utama di kalangan warga Tionghoa. "Waktu masih anak-anak, saya suka sekali menggambar. Saat pelajaran di sekolah pun saya menggambar, menggambar, menggambar," ceritanya.

Melihat ulah Lim Keng kecil yang nyeleneh, ayahnya Lim Ie Swan (almarhum) marah-marah. Lim Keng dihardik habis-habisan. "Jadi pelukis itu cari uang susah, kayak lotre. Lebih baik dagang saja. Kalau lukisan nggak laku, kamu makan apa?" pesan sang ayah.

Tapi Lim Keng tetap asyik dengan lukisan. Sempat kuliah di Asri Jogja selama dua tahun, suami Ernawati ini merasa kian mantap bergelut dengan lukisan. Melukis adalah jalan hidupnya, dan harus ditekuni secara serius. Dia ingin buktikan kepada sang papa bahwa pelukis pun bisa hidup. Tidak susah cari uang. 

"Akhirnya, ya, puluhan tahun saya tetap melukis dan bisa hidup," ujar pria yang paling suka mengenakan kaus kutang itu.

Alumnus SMA Pecindilan 1962 ini mengaku ingin menjadi diri sendiri. Tidak mau meniru gaya pelukis-pelukis lain meskipun nama mereka sudah terkenal. "Nah, saya pilih sketsa karena nggak banyak orang yang menekuni," katanya.

Proses membuat sketsa ala Lim Keng pun sangat unik. Pada 1960-an dia mencoba menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi dia tidak puas. Suatu ketika muncul ide orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup. Dan dari lubang kecil penutup botol itulah Lim mengeluarkan tinta untuk lukisan sketsanya. Sampai akhir hayatnya proses macam ibarat telah menjadi 'hak paten' Lim Keng. 

"Kayaknya di dunia ini hanya Lim Keng yang bisa melakukan. Sketsa sendiri sudah susah, karena hanya mengandalkan kekuatan garis, eh pakai botol cuka lagi? Lim sangat percaya pada kekuatan garis," puji Bambang Haryaji, pelukis senior Sidoarjo, yang juga sahabat Lim Keng.

Berbeda dengan pelukis-pelukis lain yang berkarya di studio, Lim Keng mengaku harus datang langsung ke lapangan. Melukis petani dan sapi, misalnya, dilakukan Lim di Trawas, Mojokerto. Melukis tarian barongsai, ya, dibuat di tengah atraksi barongsai. Karena itu, Lim kerap ditonton ramai-ramai oleh masyarakat. 

Tidak mengganggu konsentrasi? Ternyata tidak. Bagi Lim Keng, semakin ramai orang, sketsanya makin hidup dan semakin cepat rampung. "Saya butuh 15 menit untuk bikin satu sketsa," ujar pelukis yang tidak suka pameran ini.

Gara-gara masuk rumah sakit beberapa kali, sketsa-sketsa Lim pun jatuh ke tangan kolektor baik dari dalam maupun luar negeri. Nilainya sangat tinggi karena nama besar Lim Keng adalah jaminan mutu. Bahkan, menjelang kematiannya pun banyak pengusaha dan kolektor yang memesan sketsanya. "Tapi saya sudah tidak simpan lagi. Sudah laku semua," katanya.

Membuat sketsa baru, yang hanya butuh 15 menit, tentu tidak sulit bagi Lim Keng. Namun, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan ayah dua anak ini membuat sketsa langsung di lapangan. Belum lagi mood-nya yang tidak sebagus dulu. "Sketsa ini saya robek karena nggak pas dengan hati saya," ujar Lim Keng menunjuk sketsa seorang ibu menggendong anaknya.

Kini, peraih sejumlah penghargaan seni, termasuk dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, itu telah pergi. Selamat jalan, Om Lim! (*)

3 comments:

  1. Selamat jalan Lim Keng.... saya pernah ke toko pojok miliknya di jalan undaan itu... orang ini sangat sederhana... Sbenarnya pertama saya mengetahui maestro sketsa ini dari TV... saya lalu penasaran pingin bertemu langsung tetapi gak bisa... saya berpikir kalau Lim Keng ini manusia yang aneh... yang hanya memiliki studio alam....

    ReplyDelete
  2. Nama besar almarhum tetap kan menggema lewat karya2nya.

    ReplyDelete