26 August 2009

Malaysia Krisis Budaya


Malaysia, negara tetangga yang suka menyebut kita (Indonesia) "saudara serumpun", itu memang benar-benar bejat. Nihil etika, tidak punya budaya. Main klaim saja kesenian Indonesia. Dipakai sebagai ikon promosi pariwisatanya. Lagu Rasa Sayang,reog ponorogo, tradisi batik tulis, lagu keroncong, sekarang tari pendet.

Dan... entah apa lagi mengingat kita biasanya reaktif alias terlambat tahu dan terlambat tanggap.

Ada apa dengan Malaysia?

Apa gerangan yang sedang melanda pemerintah dan rakyat Malaysia?

Rupanya, negara jiran itu sudah mengalami krisis kebudayaan yang kronis. Merdeka dari Inggris pada 1957--bukan hasil perjuangan tapi hadiah kolonial--Malaysia berusaha membangun jati diri sebagai bangsa. 


Tiga kebudayaan besar, Melayu, India, Tionghoa, coba dikolaborasikan. Tapi Melayu yang 60 persen itu harus nomor satu. India dan Tionghoa jadi warga negara kelas dua. Melayu Malaysia yang memang terbatas kreativitas budayanya linglung ketika negaranya mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi. Cara termudah adalah mendaku kesenian dan kebudayaan negara tetangga, Indonesia.

"Ah, tenang saja, Indonesia itu kan negara serumpun. Negara pengirim babu-babu dan pekerja kasar. Negara yang suka bertengkar, sulit maju. Tak usah takutlah awak," kira-kira begitulah pertimbangan pihak-pihak di Malaysia yang selama ini mencuri seni budaya Indonesia. 

Toh, sebagai negara yang pandai bersilat kata, Malaysia--yang didukung kekuatan jahat neoimperialis--biasanya mampu "menemukan" bukti-bukti tertulis untuk memperkuat klaimnya. Kalaupun maju di mahkamah alias pengadilan, Malaysia selalu diuntungkan dan menang. Ingat kasus dua pulau, Sipadan dan Ligitan, yang berhasil dicolong Malaysia lewat mahkamah internasional.

Andai saja kesenian-kesenian kita yang diklaim Malaysia ini macam reog, pendet, batik dibawa ke mahkamah, kita senantiasa kesulitan mengajukan bukti-bukti tertulis. Yah, kita memang bangsa yang hidup dengan tradisi lisan, budaya omong, bukan budaya tulis. Dan kaum imperialis tahu benar hal itu. Maka, jangan heran berbagai dokumen dan arsip tentang Indonesia disimpan rapi oleh kolonialis di Belanda.

Kita, bangsa Indonesia, sudah terlalu sering diremehkan oleh negara tetangga, Malaysia. Sudah berapa banyak TKI (tenaga kerja Indonesia) disiksa, didera, diperlakukan layaknya binatang? Tapi ya tuan-tuan di Malaysia itu merasa berhak melakukannya karena mereka punya posisi sangat kuat. Sebagai majikan, kapitalis, pemilik uang, encik-encik itu merasa berhak menginjak-injak martabat manusia Indonesia.

Kita, juga pemerintah, pun tak bisa apa-apa selain marah, berteriak, kecam sana sini. Kenapa? Sejak merdeka 64 tahun lalu, negara belum mampu menyediakan lapangan kerja untuk semua rakyatnya. Alam kita luas, alam kita (katanya) kaya-raya, tanah subur, banyak mineral, samudera luas... tapi gagal dikelola dengan baik oleh pemerintahan Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Enam presiden ini gagal membuat negara kita maju, sejahtera, dan bermartabat.

Maka, klaim-klaim Malaysia atas kesenian dan kebudayaan kita, tak bisa dihentikan hanya dengan diplomasi alias musyawarah ala Melayu. Rayuan "saudara serumpun" jangan dihiraukan. Yang paling utama adalah membangun kekuatan ekonomi. Bagaimana membuat Indonesia, yang luas dengan 220 juta penduduk ini, maju, punya lapangan kerja untuk rakyatnya. Selama jutaan TKI masih mengemis-ngemis riggit di Malaysia, selama itu pula akan ada gerakan sistematis untuk mengacaukan Indonesia. 

Azahari Husen dan Noordin Mohammad Top, Ingat, dua raja teroris yang membuat kacau Indonesia selama 10 tahun terakhir, itu orang mana? Bukankah Azahari dan Noordin sudah membuat nama Malaysia tersohor di seluruh dunia? Kenapa pula harus mengklaim reog ponorogo, pendet bali, batik tulis, dan kebudayaan Indonesia? 

5 comments:

  1. Alow Ama... bukan bermaksud menyerang pihak lain tapi setelah goe baca trus baca ditambah baca2 koran, kesimpulan goen sebenarnya hama noon moen ama : Malaysia memang mengalami krisis budaya, karenanya merka mencaplok kebudayaan kita terang-terangan.

    ReplyDelete
  2. Kalau Indonesia krisis ekonomi berkepanjangan, maka Malaysia krisis budaya, hahahaha. Bisa saja, bung! Sebenarnya orang Indonesia harus kepala dingin menanggapi tindak-tanduk industri pariwisata Malaysia dalam upaya mereka memasarkan negeri mereka.

    Banyak yang harus disyukuri di Indonesia: pers yang terbuka, demokrasi langsung, tidak-adanya UU Subversi (yang di Malaysia masih ada berupa Internal Security Act atau ISA).

    Sebaliknya kita harus simpati terhadap negeri jiran yang tiap tahun selalu kita kirimi asap dari penebangan dan pembakaran hutan liar di Kalimantan. Mereka toh tidak menuntut kita walaupun kita bikin sesak nafas dengan tingkah polah oknum tak bertanggung jawab di Indonesia.

    Kalau mereka kreatif atas marketing mereka, Indonesia juga harus balas dengan kampanye iklan dan public relations dong, jangan dengan demonstrasi yang mengancam, dan tulisan-tulisan yang memprovokasi. Itu malah merugikan imej Indonesia sendiri di dunia internasional.

    ReplyDelete
  3. saya orang malaysia, saya malas nak ambil tahu pasal semua nie...... pasal budaya ke... apa benda ke... yang penting bagi saya kita orang islam kena bersatu... budaya tidak penting... fahami islam dengan lebih mendalam itu lebih bermakna.

    saya punya ramai kawan2 dari indonesia dan saya selalu pergi kesana.... yang menimbulkan pertelingkahan ialah media indonesia itu sendiri yang mengapi-apikan kemarahan rakyat untuk mendapat publisiti,begitu juga dgn pemerintah sepatutnya kena bertindak tegas..... apa2 pun saya tetap berbangga dgn negara indonesia kerana semangat rakyatnya memang bersatu..... tidak boleh dilawan berbanding rakyat di malaysia.

    ReplyDelete
  4. Semoga pemerintah cepat tanggap karena perlu tanggap darurat ya, mialnya dengan memperbanyak usulan ke UNESCO agar diakuri sebagai warusan budaya dunia seperti halnya batik keris dan angklung. Biar tidak diklaim sama negara tetangga lagi :)

    ReplyDelete
  5. askum , sy org malaysia , sy ada ramai kawan2 dari indonesia di malaysia , kawan2 di indonesia semuanya berkata , sepatutnya kita sebagai umat islam harus bersatu , bukanya melancarkan perang sesama kita , tidak cukupkah apa yg kita lihat bencana yg malanda di negara malaysia dan indonesia terutama tsunami dan gempa bumi .. itu satu petanda yg allah swt memberi amaran pada kita supaya umat2 islam harus bersatu .. sy berbangga dengan rakyat indonesia kerana masyarakatnya yg memang bersatu .. sy akui memang ade kelemahan di malaysia terutama tentang kebudayaan , jika ade sebarang masaalah haruslah kite duduk semeja dan berbincang dengan elok .. itu lebih mulia ..

    ReplyDelete