20 August 2009

Hokkian, Hokchia, Hinghua, Hakka




Oleh Wens Gerdyman
Arek Surabaya, tinggal di USA


Kebanyakan imigran Tionghoa di Asia Tenggara – dan karena itu di Indonesia – berasal dari dua propinsi di Tiongkok bagian selatan: Kanton (Mandarin: Guangdong) dan Hokkian (Mandarin: Fujian). Di Indonesia pada khususnya, lebih banyak yang berasal dari propinsi Hokkian dibandingkan dari Kanton.

Maka di jaman Hindia Belanda bahasa yang digunakan sebagai lingua franca di antara orang Tionghoa ialah bahasa Hokkian. Belakangan setelah gerakan nasionalis tumbuh di Asia, dan gelombang imigrasi baru dari Tiongkok datang di tahun 1930-an ke Asia Tenggara barulah bahasa Mandarin diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa.

Sebenarnya yang disebut bahasa Hokkian itu dituturkan hanya oleh mereka yang tinggal di bagian selatan propinsi Hokkian, karena itu dalam sebutan standar bahasa tersebut disebut bahasa Minnan (Min = bangsa Hokkian, nan = selatan). Bahasa Minnan ini banyak juga variasinya, yang dituturkan di Medan, Penang, Taiwan, Amoy (Xiamen), Tiochiu (Chaozhou), dll., tetapi garis besarnya sama. Kalau seseorang dari Medan bicara bahasa Hokkian menurut dialeknya, orang Taiwan kurang lebih masih bisa mengerti, dan sebaliknya.

Kebanyakan imigran Tionghoa berasal dari dua propinsi di pantai tenggara: Fujian (Hokkian) dan Guangdong (Kanton). Akan tetapi di dua propinsi ini pun orang dan bahasanya tidak seragam.

Yang tidak banyak diketahui orang ialah perkecualiannya. Banyak orang Tionghoa di Indonesia yang berasal dari propinsi Hokkian juga, tapi bagian utara. Mereka ini bahasanya lain, yaitu bahasa Minbei (bei = utara). Penutur bahasa ini yang paling banyak tinggal di kota Fuzhou (baca: fu-chow, atau Hokchiu dalam bahasa Minnan) dan Fuqing (baca: fu-ching, atau Hokchia dalam bahasa Minnan).

Di Indonesia, lebih banyak orang Hokchia daripada Hokchiu. Sedangkan di Malaysia, terutama di Serawak, lebih banyak orang Hokchiu. Dialek Hokchia dan dialek Hokchiu hampir sama, hanya lagu/intonasinya yang berbeda. Karena kota Fuzhou lebih besar, yang lebih diakui lebih standar ialah dialek Hokchiu.

Bahasa Hokchia ini banyak menggunakan bunyi sengau. Misalnya, almarhum kakek saya (lahir sekitar 1910, datang ke Indonesian sekitar tahun 1930) dulu kalau berpura-pura marah suka memanggil saya ngong-ngiang (ngong = bodoh, ngiang = bocah), yang dalam bahasa Minnan/Hokkian kata padanannya mungkin ialah khong kia.

Orang Minnan kalau mau makan bilang cia-peng, orang Minbei bilang sia-mang. Kalau mau pamitan bilang gua seng kia, orang Minbei bilang ngua sieng kiang, yang berarti saya jalan dulu, ya. Dari bunyinya yang mirip-mirip ini kitorang tahu bahasa-bahasa tersebut masih basudara.

Sampai sekarang pun, orang-orang dari sekitar Hokchiu/Hokchia ini masih berdatangan ke mana-mana, sah atau gelap: Jepang, Amerika Serikat, bahkan sampai ke kepulauan kecil di Pasifik yang bernama Mariana Islands. Pernah saya ajak papa saya jalan-jalan ke gunung di dekat taman nasional Yosemite di California, untuk melihat pemandangan salju.

Kita mampir di kota kecil di kaki gunung yang namanya Sonora. Di sana kita mampir makan di dua restoran Chinese pada hari yang berlainan. Yang satu, Great Wall, milik orang Hokchiu. Yang lain, Wok and Sushi, milik orang Hokchia.

Papa saya yang lahir dan besar di Surabaya sampai terkaget-kaget, di kaki gunung terpencil pun, orang Hokchia/Hokchiu bisa sampai ke sana dan jadi pemilik restoran! Karena papa saya (usia di tahun 2009 = 70 tahun) lancar berbahasa Minbei, dia mengajak pelayan restoran Great Wall untuk ngobrol dalam bahasa ibu.

Dia tanya, bisa pesan makanan Hokchiu nggak? Dijawab, nggak bisa, karena di sini mereka masak untuk pelanggan yang kebanyakan orang “hua-ngiang” (dalam bahasa Hokkian “huana”, artinya orang asli), jadi menunya yang umum-umum saja. Papa saya termenung sejenak, lho, kok di Sonora terpencil ini banyak orang Jawa? Akhirnya dia tersenyum sendiri, karena sadar yang disebut oleh pelayan tersebut sebagai orang asli ialah orang kulit putih, bukan orang pribumi dari Jawa!

Kota kecil Sonora di California pun, ada orang Hokchia!



Di Indonesia, banyak orang Hokchia yang sukses menjadi pengusaha, misalnya Liem Sioe Liong (Sudono Salim), Tjoa Ing Hwie (pendiri perusahaan rokok Gudang Garam di Kediri dan Rumah Sakit Adi Husada di Surabaya), dan Alim Markus (bos Maspion), semuanya orang Hokchia.

Ada juga yang jadi olahragawan, seperti bekas pemain dan pelatih bulutangkis nasional Thing Hian Houw (Tang Xianhu), yang karena PP 10/1959 pergi ke Tiongkok. Entah kenapa, para pedagang kain di Surabaya pun semua orang keturunan Hokchia.

Orang Hokchia tentu membawa makanannya ke Indonesia. Misalnya roti bundar keras seukuran hamburger yang disebut kompiang (dalam bahasa Mandarin: guang bing. Ada kompiang kosong, dan ada kompiang isi (biasanya daging masak rumput laut).

Kompiang kosong lebih keras, dan paling bagus dimakan kalau masih hangat. Biasanya kompiang ini ditaburi biji wijen, dimakan hangat-hangat, bunyinya kriuk-kriuk, wah… Di Amerika Serikat yang paling dekat dengan kompiang ialah sejenis roti yang dibawa oleh orang Yahudi, yang disebut bagel.

Makanan lain yang disukai oleh orang Hokchia ialah Ote-Ote. Jaman saya masih kecil dulu (tahun 70-an), sebelum ada jalan tol Surabaya-Porong, ada restoran di pinggir jalan raya Porong yang menjual ote-ote yang sangat gurih dan terkenal. Namanya, ya Restoran Porong.

Yang suka makan, orang Tionghoa Surabaya yang dalam perjalanan ke Malang atau Batu untuk berekreasi. Gara-gara jalan tol, restoran tersebut jadi sepi, dan akhirnya dipindahkan ke kota Surabaya. Mungkin ada untungnya juga mereka pindah dari dulu-dulu, kalau tidak sekarang terkena bencana lumpur Lapindo.

Di keluarga saya, ada kombinasi favorit, yaitu kompiang keras, isinya yang lunak dikerok, kemudian dipanggang sampai hangat. Sudah begitu, dalamnya diisi ote-ote tiram goreng … mak nyuss katanya Bondan Winarno.


Makanan Hokchia favorit yang lain ialah bola-bola ikan (hie-wan). Tapi yang istimewa ialah hie-wan yang diisi daging. Bagian luarnya dari ikan terasa padat, bagian dalamnya daging cacah yang lembut, dan begitu digigit ada sedikit kaldu daging yang bocor dan terasa hangat di mulut. Dimakan dengan kuah yang ditaburi bawang hijau iris dan bawang goreng. Wah, sedap.


Selain orang Hokchia, orang Tionghoa dari propinsi Hokkian yang datang ke Indonesia ada juga yang berasal dari sekitar kota Putian, yang memanggil dirinya orang Hinghua (Mandarin: Xinghua). Bahasanya masih termasuk kelompok bahasa Min, tapi lain lagi dari bahasa Minbei/Hokchia dan bahasa Minnan/Hokkian, karena kota Putian ini ada di tengah-tengah propinsi antara Xiamen (pusat Hokkian selatan) dan Fuzhou (pusat Hokkian utara).

Menurut sahibul hikayat, orang Hinghua ini pada waktu datang di Malaysia dan Indonesia pertama kali menjadi penarik becak / rickshaw. Dari situ mereka berkembang menjadi pemilik bengkel sepeda, lalu mempelajari pembuatan onderdil becak dan sepeda, sampai akhirnya menjadi pemilik toko dan pabrik sepeda, hehehe. Tidak percaya? Coba ke jalan Bongkaran di Surabaya, tanyailah pemilik toko sepeda, pasti orang Henghua. Tanya orang Tionghoa pemilik pabrik sepeda, kebanyakan pasti orang Hinghua.

Selama 18 tahun tinggal di Surabaya, jarang sekali saya bertemu dengan orang Kanton yang berbahasa Kanton, hanya ada satu-dua keluarga yang saya tahu. Pendatang dari propinsi Kanton yang paling banyak di Indonesia justru perkecualiannya, yaitu orang Hakka (Mandarin: Kejia).

Orang Khek ini menurut sejarahnya berasal dari Tiongkok utara (Tiongkok secara budaya dan geografis dibagi menjadi utara dan selatan oleh sungai Yang-tze). Kemudian karena perang atau bencana alam berangsur-angsur orang Hakka ini menetap di propinsi Kanton di perbatasan propinsi Hokkian.

Maka itu oleh orang Hokkian dan Kanton asli mereka disebut Khek, artinya tamu atau pendatang. Sudah begitu, keturunannya masih berimigrasi lagi ke Asia Tenggara. Kalau imigran pada umumnya punya reputasi sebagai pengambil risiko yang ulet bekerja, orang Hakka ini imigran kuadrat. Di kalangan orang Tionghoa, mereka mempunyai reputasi bagus sebagai kaum yang sangat menanamkan pentingnya keuletan, pengetahuan, dan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya. Perdana Menteri Singapura yang pertama Lee Kuan Yew ialah orang Hakka.

Karena dulu kebanyakan orang Khek lebih tinggi pendidikan dan ekonominya daripada orang Hokkian kebanyakan, ada prasangka buruk yang berkembang di antara orang Hokkian di Jawa, karena iri hati. Olok-oloknya antara lain: khek-lang, habis nyekek, hilang. Artinya, kalau tidak ada kepentingan ekonomisnya, orang Khek dianggap tidak mau solider dengan orang Tionghoa lain.

Mirip dengan stereotype orang Tionghoa pada umumnya di mata sebagian kalangan orang Indonesia pribumi. Mudah-mudahan sekarang sudah tidak ada lagi prasangka buruk dan salah ini. Karena toh semuanya sudah tidak lancar berbahasa Tionghoa. Mandarin saja sepatah-patah dan amburadul, apalagi Hokkian, Hokchia, Khek, Henghua … forget about it!

Hampir semua keturunan Tionghoa di Jawa mengambil identitas utama sebagai orang Indonesia, dan identitas ke-2 sebagai orang Tionghoa, titik. Ini bagus. Kalau mau belajar bahasa Tionghoa, ya belajar Mandarin saja, yang standar dan dimengerti orang semilyar. Hokkian, Hokchia, dll. Hanya sekedar tahu sajalah, untuk cerita ke anak cucu.

24 comments:

  1. tulisan ini sangat menarik dan bisa membantu kita memahami org2 china di indonesia. thx.

    ReplyDelete
  2. hehe tulisan ini emang bener sih :P.
    orang cina di indo rata2 udah jarang yang pake mandarin. *baru skrg aja gara2 emang di butuhkan, baru dah belajar lagi*.

    Kalo soal orang hakka, itu sebenernya bukan di sirikin sih, tapi pandangannya beda saja ama orang hokchia, hinghua, dll.

    Saya sendiri nikah sama orang Khek, and saya notice rata2 mereka cuek ama orang luar (cuman peduli sama keluarganya saja), and rata2 kalo blon bener2 kenal baeekk bgt mereka itu bisa pelit bgt :P.

    Tapi ini artikel membantu sekali... selama ini saya kalo ada orang nanya hokchia itu dialek apa... saya sering bingung jawabnya hehehe.

    Thank you buat yang nulis, and Lambertus for posting :).

    ReplyDelete
  3. setahu saya orang hokkian dan tiociu suka tinggal didaerah dekat laut atau sungai, sedangkan orang khek rata2 lebih banyak bermukim daerah gunung atau hutan. baik itu ada yg di pulau jawa, kalimantan dan sumatra. buktinya orang hokkian dan tociu lebih banyak yg jadi nelayan/pelaut sedangkan orang khek lebih banyak yg jadi tukang kayu, besi.

    ReplyDelete
  4. saya sendiri adalah orang indonesia (orang tiociu)yang bisa bicara tiociu dengan lancar bahkan bicara hakka pun lancar karena menikah dengan orang hakka dari malaysia. saya sependapat dengan saudara Lambertus, kita harus belajar mandarin karena bahasa inilah yang dimengerti oleh semua orang apakah dia hokkien, tiociu, hakka dan lainnya.

    ReplyDelete
  5. Cool, Thanks for the info.

    ReplyDelete
  6. Suka artikelnya!! Temen-temenku banyak dari Kalimantan orang Tiochiu. Mereka kadang kalo di kelas ngomong Tiochiu jadi kadang ngerasa lagi diomongin sama mereka. Tapi kata mereka, kalo tau sama tau bisa omong bahasa daerah, biasanya canggung buat omong bahasa Indonesia. Kalo dipikir2 iya juga sih.. Kalo temen2ku orang Khek cakep2, kulitnya putih cerah gitu.

    ReplyDelete
  7. Artikelnya ok. Jadi tahu sejarah nenek moyangku.
    Dari mama orang Hok Chia. Papaku orang Khek. Cuma saya tidak bisa ngomong sama sekali. Ini kebetulan bisa dapat teman orang Fuqing, jadi saya ngajar bahasa Indonesia, saya belajar Hok Chia. Hehehe.....

    ReplyDelete
  8. saya sendiri orang hokian kanton generasi ke5, bahasanya amburadul kalo ngomong campur-campur dialeknya (ngisin-ngisini).. kam sya buat Wends and Lambertus jadi dapet pencerahan,, zie zie

    ReplyDelete
  9. aq bukan chinese tapi senang baca tulisan kayak gini. informatif banget....

    ReplyDelete
  10. Bagus artikelnya..Jadi inget makanan yang namanya "kompian"lantaran keras bisa buat lempar orang dan di jamin benjol,paling enak makannya dicelup pake susu atau kopi hangat,maknyus tenan..

    ReplyDelete
  11. wah ternyata begitu ya...
    Tapi kalo diMedan (tempat saya sekarang) tu Bahasa nya Hokian apa ya? Soalnya saya ingin belajar bahasa hokian.
    Masyarakat tionghoa di Medan masih menggunakan bahasa Hokian.
    Mohon Pencerahannya

    ReplyDelete
  12. Sdr Mapan. Di Medan bahasa Hokkiannya ya yang di selatan itu, yang disebut Min-nan-hua.

    ReplyDelete
  13. Saya keturunan orang Hokian. Mungkin sudah generasi ke 5 atau 6. Waktu pacaran dengan istri saya tahun 80an, mertua laki (orang Hokian generasi ke 2) tanya saya orang apa. Karena saya bukan orang khek, maka direstui.
    Kemudian saya dapat info dari istri saya bahwa orang tuanya kuatir kalau anaknya dapat orang khek akan disuruh kerja berat. Ini anggpan orang hokian.
    Membaca uraian diatas bahwa orang khek lebih unggul di bidang pendidikan dan status sosial ekonomi maka kekuatiran ini masuk di akal dan mungkin telah terjadi (walaupun tidak selalu).

    ReplyDelete
  14. Waktu masih kecil saya banyak membaca cerita komik, cerita silat dan nonton wayang potehi dimana banyak nama tempat (kota, propinsi, sungai, gunung dan laut) , nama tokoh sejarah dituturkan dalam bahasa hokian. Itu semua yang ada di otak saya. Saya tidak dapat membaca tulisan mandarin.
    Sekarang kalau nonton film seri silat mandarin (mainland China, Hong Kong dll) atau membaca artikel di internet sering bingung karena ditranslate ke mandarin pinyin. Pikiran masih pakai bahasa hokian di masa lalu. Sebagian terpecahkan hubungannya, sebagian tetap tak tahu karena terlalu banyak.

    ReplyDelete
  15. Mengenai Henghua memang benar mereka boss beca, pemilik toko sepeda. Saya tak berpikiran bahwa mereka pernah menjadi penarik beca dan rikshaw. Mereka ulet sekali.
    Waktu kecil (tahun 60an) di Semarang saya sering melihat boss beca ini naik sepeda pakai celana piyama dan kaos oblong keliling mencari becaknya karena penarik beca tak pulang kandang untuk setor. Ia mencari sampai daerah "lampu merah" dimana penarik beca sering ngendon.

    Tahun 70an akhir di Jakarta mereka menjadi boss Bajaj. Ada yang sukses dan menjadi dealer sepeda motor yang kemudian dipercaya untuk buka assembling sepeda motor dari Jepang. Sebagian dari orang Henghua mengikuti jejak orang Hokchia membuka bank. Sebagian berhasil dan sebagian kabur dengan uang nasabah.

    ReplyDelete
  16. gak banyak org indonesia, termasuk tionghoa, yg tahu sejarah kayak gini. salut buat bung wens...

    ReplyDelete
  17. Itu khan pandangan orang cina jawa bu, kami orang cina totok yang dari Sumatra masih menganggap kami orang cina dulu baru orang indo. dan kami cina totok yang dari sumatra masih bisa berbahasa mandarin sampai sekarang meskipun saya dibesarkan di jakarta.saya dari suku konghu dan saya juga bisa berbahasa konghu dan hokkian. karena seumur hidup orang cina gak akan pernah bisa jadi warga negara indonesia.Yusri isra mahendra pernah bilang bahwa orang cina di indonesia gak akan pernah bisa jadi warga negara indonesia karena statement dari Presiden cina yang dulu Mao ce tung bilang seluruh keturunan cina yang lahir di luar cina tetap dianggap orang cina. itu perbedaan pandangan diantara kita bu yang dari sumatra dan cina yang ada di jawa. saya sgt beruntung karena orang tua saya sangat keras dalam mendidik saya terutama dalam berbahasa mandanrin karena bahsa mandarin adalah identitas kita sebagai orang cina, sekarang saya hidup di luar negri dan teman2 saya yang dari cina daratan dan taiwan sangat respect sama saya dan menganggap saya sama seperti sodara mereka sendiri karena saya bisa berbahsa mandarin yang standar. orang cina singapore dan cina malaysia gak bisa pandang remeh cina indonesia karena meraka sudah lihat bukti bahwa gak semua cina indonesia gak bisa berbahasa mandarin yang standar...banggalah menjadi keturunan cina bu.

    ReplyDelete
  18. Saya lahir dan besar di Singkawang, mayoritas orang Singkawang adalah orang Hakka(khek) hampir semua orang hakka bisa bahasa hakka, dan sebagian besar bisa bahasa mandarin. di Singkawang, bahkan ada sekolah khusus untuk belajar bahasa mandarin. di SD, SMP, SMA, juga ada pelajaran bahasa mandarin. kalau dibandingkan di pulau jawa, di sana budayanya masih kental sekali, pas perayaan imlek, dan cap goh meh di rayakan secara besar besaran.

    ReplyDelete
  19. Orang Khek itu sebenarnya adalah perantau dari utara sungai Yang Tse, sehingga sifat-sifatnya yang dianggap buruk oleh kalangan lain hanyanya untuk proteksi diri dan ini sudah turun temurun. Orang Khek terkenal sebagai seorang pekerja keras karena mereka merupakan perantau dan harus bertahan hidup di daerah orang lain.

    ReplyDelete
  20. istri sy orang cina keturunan tp sama sekali satu kata pun ga bisa bahasa mandarin..pdhal kakeknya asli imigran dari

    ReplyDelete
  21. Artikel keren (y) saya sekarang tahu asal muasal orang tiong hoa yang ada di indo, kalo ngomong soal ngong, saya inget papa saya suka ngomong tere ngong alias super b*g* hehe, baca tulisan ini jado ketawa ketawa sendiri, ditunggu tulisan selanjutnya

    ReplyDelete
  22. Baca tulisan di ata saya jadi inget papa saya suka ngomong tere ngong alias super b*g* sambil bercanda hehe, bikin ketawa ketawa sendiri, artikel yang bagus, bikin saya mengerti asal leluhur dan saudara saudara tiong hoa yang lain, ditunggu tlisan lanjutnya

    ReplyDelete
  23. Artikel keren (y) saya sekarang tahu asal muasal orang tiong hoa yang ada di indo, kalo ngomong soal ngong, saya inget papa saya suka ngomong tere ngong alias super b*g* hehe, baca tulisan ini jado ketawa ketawa sendiri, ditunggu tulisan selanjutnya

    ReplyDelete
  24. ITULAH BEDANYA CINA YANG LAHIR DAN TUMBUH DI JAWA BERBEDA DENGAN MEREKA YANG BERASAL BUKAN DARI JAWA.
    DI JAWA CINA LEBIH MUDAH MEMBAUR, DI SUMATERA MEREKA MENCIPTAKAN KAMPUNG SENDIRI YANG TERPISAH. SAYA BESAR DI PALEMBANG, DAN SAYA PUNYA PENGALAMAN BERGAUL DENGAN CINA JAWA DAN DARI SUMATERA. LEBIH MANUSIAWI DENGAN CINA JAWA.

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.