20 August 2009

Hokkian, Hokchia, Hinghua, Hakka





Oleh Wens Gerdyman
Arek Tionghoa Surabaya, tinggal di Amerika Serikat


Kebanyakan imigran Tionghoa di Asia Tenggara – dan karena itu di Indonesia – berasal dari dua propinsi di Tiongkok bagian selatan: Kanton (Mandarin: Guangdong) dan Hokkian (Mandarin: Fujian). Di Indonesia pada khususnya, lebih banyak yang berasal dari propinsi Hokkian dibandingkan dari Kanton.

Maka di jaman Hindia Belanda bahasa yang digunakan sebagai lingua franca di antara orang Tionghoa ialah bahasa Hokkian. Belakangan setelah gerakan nasionalis tumbuh di Asia, dan gelombang imigrasi baru dari Tiongkok datang di tahun 1930-an ke Asia Tenggara barulah bahasa Mandarin diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa.

Sebenarnya yang disebut bahasa Hokkian itu dituturkan hanya oleh mereka yang tinggal di bagian selatan propinsi Hokkian, karena itu dalam sebutan standar bahasa tersebut disebut bahasa Minnan (Min = bangsa Hokkian, nan = selatan). Bahasa Minnan ini banyak juga variasinya, yang dituturkan di Medan, Penang, Taiwan, Amoy (Xiamen), Tiochiu (Chaozhou), dll., tetapi garis besarnya sama. Kalau seseorang dari Medan bicara bahasa Hokkian menurut dialeknya, orang Taiwan kurang lebih masih bisa mengerti, dan sebaliknya.

Kebanyakan imigran Tionghoa berasal dari dua propinsi di pantai tenggara: Fujian (Hokkian) dan Guangdong (Kanton). Akan tetapi di dua propinsi ini pun orang dan bahasanya tidak seragam.

Yang tidak banyak diketahui orang ialah perkecualiannya. Banyak orang Tionghoa di Indonesia yang berasal dari propinsi Hokkian juga, tapi bagian utara. Mereka ini bahasanya lain, yaitu bahasa Minbei (bei = utara). Penutur bahasa ini yang paling banyak tinggal di kota Fuzhou (baca: fu-chow, atau Hokchiu dalam bahasa Minnan) dan Fuqing (baca: fu-ching, atau Hokchia dalam bahasa Minnan).

Di Indonesia, lebih banyak orang Hokchia daripada Hokchiu. Sedangkan di Malaysia, terutama di Serawak, lebih banyak orang Hokchiu. Dialek Hokchia dan dialek Hokchiu hampir sama, hanya lagu/intonasinya yang berbeda. Karena kota Fuzhou lebih besar, yang lebih diakui lebih standar ialah dialek Hokchiu.

Bahasa Hokchia ini banyak menggunakan bunyi sengau. Misalnya, almarhum kakek saya (lahir sekitar 1910, datang ke Indonesian sekitar tahun 1930) dulu kalau berpura-pura marah suka memanggil saya ngong-ngiang (ngong = bodoh, ngiang = bocah), yang dalam bahasa Minnan/Hokkian kata padanannya mungkin ialah khong kia.

Orang Minnan kalau mau makan bilang cia-peng, orang Minbei bilang sia-mang. Kalau mau pamitan bilang gua seng kia, orang Minbei bilang ngua sieng kiang, yang berarti saya jalan dulu, ya. Dari bunyinya yang mirip-mirip ini kitorang tahu bahasa-bahasa tersebut masih basudara.

Sampai sekarang pun, orang-orang dari sekitar Hokchiu/Hokchia ini masih berdatangan ke mana-mana, sah atau gelap: Jepang, Amerika Serikat, bahkan sampai ke kepulauan kecil di Pasifik yang bernama Mariana Islands. Pernah saya ajak papa saya jalan-jalan ke gunung di dekat taman nasional Yosemite di California, untuk melihat pemandangan salju.

Kita mampir di kota kecil di kaki gunung yang namanya Sonora. Di sana kita mampir makan di dua restoran Chinese pada hari yang berlainan. Yang satu, Great Wall, milik orang Hokchiu. Yang lain, Wok and Sushi, milik orang Hokchia.

Papa saya yang lahir dan besar di Surabaya sampai terkaget-kaget, di kaki gunung terpencil pun, orang Hokchia/Hokchiu bisa sampai ke sana dan jadi pemilik restoran! Karena papa saya (usia di tahun 2009 = 70 tahun) lancar berbahasa Minbei, dia mengajak pelayan restoran Great Wall untuk ngobrol dalam bahasa ibu.

Dia tanya, bisa pesan makanan Hokchiu nggak? Dijawab, nggak bisa, karena di sini mereka masak untuk pelanggan yang kebanyakan orang “hua-ngiang” (dalam bahasa Hokkian “huana”, artinya orang asli), jadi menunya yang umum-umum saja. Papa saya termenung sejenak, lho, kok di Sonora terpencil ini banyak orang Jawa? Akhirnya dia tersenyum sendiri, karena sadar yang disebut oleh pelayan tersebut sebagai orang asli ialah orang kulit putih, bukan orang pribumi dari Jawa!

Kota kecil Sonora di California pun, ada orang Hokchia!


Liem Sioe Liong, almarhum.

Di Indonesia, banyak orang Hokchia yang sukses menjadi pengusaha, misalnya Liem Sioe Liong (Sudono Salim), Tjoa Ing Hwie (pendiri perusahaan rokok Gudang Garam di Kediri dan Rumah Sakit Adi Husada di Surabaya), dan Alim Markus (bos Maspion), semuanya orang Hokchia.

Ada juga yang jadi olahragawan, seperti bekas pemain dan pelatih bulutangkis nasional Thing Hian Houw (Tang Xianhu), yang karena PP 10/1959 pergi ke Tiongkok. Entah kenapa, para pedagang kain di Surabaya pun semua orang keturunan Hokchia.

Orang Hokchia tentu membawa makanannya ke Indonesia. Misalnya roti bundar keras seukuran hamburger yang disebut kompiang (dalam bahasa Mandarin: guang bing. Ada kompiang kosong, dan ada kompiang isi (biasanya daging masak rumput laut).

Kompiang kosong lebih keras, dan paling bagus dimakan kalau masih hangat. Biasanya kompiang ini ditaburi biji wijen, dimakan hangat-hangat, bunyinya kriuk-kriuk, wah… Di Amerika Serikat yang paling dekat dengan kompiang ialah sejenis roti yang dibawa oleh orang Yahudi, yang disebut bagel.

Makanan lain yang disukai oleh orang Hokchia ialah Ote-Ote. Jaman saya masih kecil dulu (tahun 70-an), sebelum ada jalan tol Surabaya-Porong, ada restoran di pinggir jalan raya Porong yang menjual ote-ote yang sangat gurih dan terkenal. Namanya, ya Restoran Porong.

Yang suka makan, orang Tionghoa Surabaya yang dalam perjalanan ke Malang atau Batu untuk berekreasi. Gara-gara jalan tol, restoran tersebut jadi sepi, dan akhirnya dipindahkan ke kota Surabaya. Mungkin ada untungnya juga mereka pindah dari dulu-dulu, kalau tidak sekarang terkena bencana lumpur Lapindo.

Di keluarga saya, ada kombinasi favorit, yaitu kompiang keras, isinya yang lunak dikerok, kemudian dipanggang sampai hangat. Sudah begitu, dalamnya diisi ote-ote tiram goreng … mak nyuss katanya Bondan Winarno.

Makanan Hokchia favorit yang lain ialah bola-bola ikan (hie-wan). Tapi yang istimewa ialah hie-wan yang diisi daging. Bagian luarnya dari ikan terasa padat, bagian dalamnya daging cacah yang lembut, dan begitu digigit ada sedikit kaldu daging yang bocor dan terasa hangat di mulut. Dimakan dengan kuah yang ditaburi bawang hijau iris dan bawang goreng. Wah, sedap.


Acara pertemuan perkumpulan Hakka di Grand City Surabaya.


Selain orang Hokchia, orang Tionghoa dari propinsi Hokkian yang datang ke Indonesia ada juga yang berasal dari sekitar kota Putian, yang memanggil dirinya orang Hinghua (Mandarin: Xinghua). 

Bahasanya masih termasuk kelompok bahasa Min, tapi lain lagi dari bahasa Minbei/Hokchia dan bahasa Minnan/Hokkian, karena kota Putian ini ada di tengah-tengah propinsi antara Xiamen (pusat Hokkian selatan) dan Fuzhou (pusat Hokkian utara).Menurut sahibul hikayat, orang Hinghua ini pada waktu datang di Malaysia dan Indonesia pertama kali menjadi penarik becak atau rickshaw.

Dari situ mereka berkembang menjadi pemilik bengkel sepeda, lalu mempelajari pembuatan onderdil becak dan sepeda, sampai akhirnya menjadi pemilik toko dan pabrik sepeda, hehehe. Tidak percaya? Coba ke jalan Bongkaran di Surabaya, tanyailah pemilik toko sepeda, pasti orang Henghua. Tanya orang Tionghoa pemilik pabrik sepeda, kebanyakan pasti orang Hinghua.

Selama 18 tahun tinggal di Surabaya, jarang sekali saya bertemu dengan orang Kanton yang berbahasa Kanton, hanya ada satu-dua keluarga yang saya tahu. Pendatang dari propinsi Kanton yang paling banyak di Indonesia justru perkecualiannya, yaitu orang Hakka (Mandarin: Kejia).

Orang Khek ini menurut sejarahnya berasal dari Tiongkok utara (Tiongkok secara budaya dan geografis dibagi menjadi utara dan selatan oleh sungai Yang-tze). Kemudian karena perang atau bencana alam berangsur-angsur orang Hakka ini menetap di propinsi Kanton di perbatasan propinsi Hokkian.

Maka itu oleh orang Hokkian dan Kanton asli mereka disebut Khek, artinya tamu atau pendatang. Sudah begitu, keturunannya masih berimigrasi lagi ke Asia Tenggara. Kalau imigran pada umumnya punya reputasi sebagai pengambil risiko yang ulet bekerja, orang Hakka ini imigran kuadrat. Di kalangan orang Tionghoa, mereka mempunyai reputasi bagus sebagai kaum yang sangat menanamkan pentingnya keuletan, pengetahuan, dan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya. Perdana Menteri Singapura yang pertama Lee Kuan Yew ialah orang Hakka.

Karena dulu kebanyakan orang Khek lebih tinggi pendidikan dan ekonominya daripada orang Hokkian kebanyakan, ada prasangka buruk yang berkembang di antara orang Hokkian di Jawa, karena iri hati. Olok-oloknya antara lain: khek-lang, habis nyekek, hilang. Artinya, kalau tidak ada kepentingan ekonomisnya, orang Khek dianggap tidak mau solider dengan orang Tionghoa lain.

Mirip dengan stereotype orang Tionghoa pada umumnya di mata sebagian kalangan orang Indonesia pribumi. Mudah-mudahan sekarang sudah tidak ada lagi prasangka buruk dan salah ini. Karena toh semuanya sudah tidak lancar berbahasa Tionghoa. Mandarin saja sepatah-patah dan amburadul, apalagi Hokkian, Hokchia, Khek, Henghua … forget about it!

Hampir semua keturunan Tionghoa di Jawa mengambil identitas utama sebagai orang Indonesia, dan identitas ke-2 sebagai orang Tionghoa, titik. Ini bagus. Kalau mau belajar bahasa Tionghoa, ya belajar Mandarin saja, yang standar dan dimengerti orang semilyar. Hokkian, Hokchia, dll. Hanya sekedar tahu sajalah, untuk cerita ke anak cucu.

83 comments:

  1. tulisan ini sangat menarik dan bisa membantu kita memahami org2 china di indonesia. thx.

    ReplyDelete
  2. hehe tulisan ini emang bener sih :P.
    orang cina di indo rata2 udah jarang yang pake mandarin. *baru skrg aja gara2 emang di butuhkan, baru dah belajar lagi*.

    Kalo soal orang hakka, itu sebenernya bukan di sirikin sih, tapi pandangannya beda saja ama orang hokchia, hinghua, dll.

    Saya sendiri nikah sama orang Khek, and saya notice rata2 mereka cuek ama orang luar (cuman peduli sama keluarganya saja), and rata2 kalo blon bener2 kenal baeekk bgt mereka itu bisa pelit bgt :P.

    Tapi ini artikel membantu sekali... selama ini saya kalo ada orang nanya hokchia itu dialek apa... saya sering bingung jawabnya hehehe.

    Thank you buat yang nulis, and Lambertus for posting :).

    ReplyDelete
  3. setahu saya orang hokkian dan tiociu suka tinggal didaerah dekat laut atau sungai, sedangkan orang khek rata2 lebih banyak bermukim daerah gunung atau hutan. baik itu ada yg di pulau jawa, kalimantan dan sumatra. buktinya orang hokkian dan tociu lebih banyak yg jadi nelayan/pelaut sedangkan orang khek lebih banyak yg jadi tukang kayu, besi.

    ReplyDelete
  4. saya sendiri adalah orang indonesia (orang tiociu)yang bisa bicara tiociu dengan lancar bahkan bicara hakka pun lancar karena menikah dengan orang hakka dari malaysia. saya sependapat dengan saudara Lambertus, kita harus belajar mandarin karena bahasa inilah yang dimengerti oleh semua orang apakah dia hokkien, tiociu, hakka dan lainnya.

    ReplyDelete
  5. Cool, Thanks for the info.

    ReplyDelete
  6. Suka artikelnya!! Temen-temenku banyak dari Kalimantan orang Tiochiu. Mereka kadang kalo di kelas ngomong Tiochiu jadi kadang ngerasa lagi diomongin sama mereka. Tapi kata mereka, kalo tau sama tau bisa omong bahasa daerah, biasanya canggung buat omong bahasa Indonesia. Kalo dipikir2 iya juga sih.. Kalo temen2ku orang Khek cakep2, kulitnya putih cerah gitu.

    ReplyDelete
  7. Artikelnya ok. Jadi tahu sejarah nenek moyangku.
    Dari mama orang Hok Chia. Papaku orang Khek. Cuma saya tidak bisa ngomong sama sekali. Ini kebetulan bisa dapat teman orang Fuqing, jadi saya ngajar bahasa Indonesia, saya belajar Hok Chia. Hehehe.....

    ReplyDelete
  8. saya sendiri orang hokian kanton generasi ke5, bahasanya amburadul kalo ngomong campur-campur dialeknya (ngisin-ngisini).. kam sya buat Wends and Lambertus jadi dapet pencerahan,, zie zie

    ReplyDelete
    Replies
    1. salah tuh harusnya "xie xie".

      Delete
  9. aq bukan chinese tapi senang baca tulisan kayak gini. informatif banget....

    ReplyDelete
  10. Bagus artikelnya..Jadi inget makanan yang namanya "kompian"lantaran keras bisa buat lempar orang dan di jamin benjol,paling enak makannya dicelup pake susu atau kopi hangat,maknyus tenan..

    ReplyDelete
  11. wah ternyata begitu ya...
    Tapi kalo diMedan (tempat saya sekarang) tu Bahasa nya Hokian apa ya? Soalnya saya ingin belajar bahasa hokian.
    Masyarakat tionghoa di Medan masih menggunakan bahasa Hokian.
    Mohon Pencerahannya

    ReplyDelete
  12. Sdr Mapan. Di Medan bahasa Hokkiannya ya yang di selatan itu, yang disebut Min-nan-hua.

    ReplyDelete
  13. Saya keturunan orang Hokian. Mungkin sudah generasi ke 5 atau 6. Waktu pacaran dengan istri saya tahun 80an, mertua laki (orang Hokian generasi ke 2) tanya saya orang apa. Karena saya bukan orang khek, maka direstui.
    Kemudian saya dapat info dari istri saya bahwa orang tuanya kuatir kalau anaknya dapat orang khek akan disuruh kerja berat. Ini anggpan orang hokian.
    Membaca uraian diatas bahwa orang khek lebih unggul di bidang pendidikan dan status sosial ekonomi maka kekuatiran ini masuk di akal dan mungkin telah terjadi (walaupun tidak selalu).

    ReplyDelete
  14. Waktu masih kecil saya banyak membaca cerita komik, cerita silat dan nonton wayang potehi dimana banyak nama tempat (kota, propinsi, sungai, gunung dan laut) , nama tokoh sejarah dituturkan dalam bahasa hokian. Itu semua yang ada di otak saya. Saya tidak dapat membaca tulisan mandarin.
    Sekarang kalau nonton film seri silat mandarin (mainland China, Hong Kong dll) atau membaca artikel di internet sering bingung karena ditranslate ke mandarin pinyin. Pikiran masih pakai bahasa hokian di masa lalu. Sebagian terpecahkan hubungannya, sebagian tetap tak tahu karena terlalu banyak.

    ReplyDelete
  15. Mengenai Henghua memang benar mereka boss beca, pemilik toko sepeda. Saya tak berpikiran bahwa mereka pernah menjadi penarik beca dan rikshaw. Mereka ulet sekali.
    Waktu kecil (tahun 60an) di Semarang saya sering melihat boss beca ini naik sepeda pakai celana piyama dan kaos oblong keliling mencari becaknya karena penarik beca tak pulang kandang untuk setor. Ia mencari sampai daerah "lampu merah" dimana penarik beca sering ngendon.

    Tahun 70an akhir di Jakarta mereka menjadi boss Bajaj. Ada yang sukses dan menjadi dealer sepeda motor yang kemudian dipercaya untuk buka assembling sepeda motor dari Jepang. Sebagian dari orang Henghua mengikuti jejak orang Hokchia membuka bank. Sebagian berhasil dan sebagian kabur dengan uang nasabah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir, itu keturunan Hinghua. Dia anak juragan beca yang miskin. Ibunya pernah ditimpuk batu sampai berdarah-darah karena menagih iuran dari tukang beca. Baca saja biografi beliau.

      Delete
  16. gak banyak org indonesia, termasuk tionghoa, yg tahu sejarah kayak gini. salut buat bung wens...

    ReplyDelete
  17. Itu khan pandangan orang cina jawa bu, kami orang cina totok yang dari Sumatra masih menganggap kami orang cina dulu baru orang indo. dan kami cina totok yang dari sumatra masih bisa berbahasa mandarin sampai sekarang meskipun saya dibesarkan di jakarta.saya dari suku konghu dan saya juga bisa berbahasa konghu dan hokkian. karena seumur hidup orang cina gak akan pernah bisa jadi warga negara indonesia.Yusri isra mahendra pernah bilang bahwa orang cina di indonesia gak akan pernah bisa jadi warga negara indonesia karena statement dari Presiden cina yang dulu Mao ce tung bilang seluruh keturunan cina yang lahir di luar cina tetap dianggap orang cina. itu perbedaan pandangan diantara kita bu yang dari sumatra dan cina yang ada di jawa. saya sgt beruntung karena orang tua saya sangat keras dalam mendidik saya terutama dalam berbahasa mandanrin karena bahsa mandarin adalah identitas kita sebagai orang cina, sekarang saya hidup di luar negri dan teman2 saya yang dari cina daratan dan taiwan sangat respect sama saya dan menganggap saya sama seperti sodara mereka sendiri karena saya bisa berbahsa mandarin yang standar. orang cina singapore dan cina malaysia gak bisa pandang remeh cina indonesia karena meraka sudah lihat bukti bahwa gak semua cina indonesia gak bisa berbahasa mandarin yang standar...banggalah menjadi keturunan cina bu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. komentar anda sangat buruk n rasis. bikin tambah masalah dan tdk mencerminkan pandangan org tionghoa di indonesia

      Delete
    2. statement mao itu sdh kuno n gak masuk akal. anda ini katanya tinggal di luar negeri tapi kacau banget pikiranmu. kapan yusril bilang gitu? beginilah, org china sendiri masih byk yg belum tercerahkan..

      Delete
    3. "seumur hidup orang cina gak akan pernah bisa jadi warga negara indonesia"

      PERNYATAAN YG SANGAT NGAWUR.

      Delete
    4. Meskipun saya setuju soal orang Cina daratan akan menganggap keturunan Cina yang ada di Indonesia sebagai saudara klo kita bisa bahasa Mandarin (yep, pengalaman pribadi saya sebagai keturunan tionghoa yang bisa mandarin lancar. Saya juga dari Sumatera dan orangtua mendidik ketat untuk bisa Mandarin, not meaning to be racist and offensive, I'm not from Medan and Chinese Medan are somewhat racists), tapi saya gak setuju dengan komentar Anda bahwa orang Cina tidak dapat menjadi Warga Negara Indonesia. Lho klo gak bisa jadi WNI, saya gak punya passport dong? :P Mungkin maksudmu menjadi Orang Indonesia seutuhnya (non passport related)?? Well, orangtua saya juga menganggap diri selalu orang Cina tapi bukan berarti mereka mengatakan diri mereka bukan Warga Negara Indonesia.
      Emang orang Cina walau lahir di luar negeri dianggap orang Cina tapi Indonesia dan Cina sudah sepakat soal kewarganegaraan. Sedih emang karena masih didiskriminasi kadang2 dibilang "Dasar Cina!" tapi saya selalu dengan bangga mengatakan "Atas dasar apa Anda bilang saya Cina? Saya Warga Negara Indonesia, artinya saya juga orang Indonesia." dan jika ditanya, "Anda orang apa?", saya selalu menjawab, "I am an Indonesian." Hey even a Chinese American would say that she/he's an American. They would never say themselves as Chinese though they aware that they are of Chinese descent.
      Untuk ukuran orang yang tinggal di luar negeri, pemikiran Anda sempit sekali. Jika tidak mau jadi orang Indonesia, bagaimana kalau Anda ganti warga negara jadi warga RRC dan pindah selamanya ke RRC saja?

      Delete
    5. Wah komentar Cina totok dari Sumatra ini kurang tepat tentang kewarganegaraan. Memang kebijakan pemerintah RRT dulu ialah orang Cina di luar daratan dianggap (di-claim) sebagai WN RRT. Inilah yang menjadi salah satu alasan oleh pemerintah Sukarno di tahun 1959 mengeluarkan PP10, yang dasarnya sebenarnya mau mengalihkan sarana ekonomi (baca: toko dan distribusi) di desa2 ke pribumi. Lalu dibuat PP itu, dengan mengambil alih orang tionghoa dari pelosok (bukan kota besar) yang tidak mau menjadi WN Indonesia saja.

      Setelah lewat PP10, orang Tionghoa yang memilih tinggal di Indonesia ya hanya memiliki kewarganegaraan Indonesia saja. Pemerintah RRT juga sudah melepaskan klaimnya, berkat perjanjian bersama antara RRT - RI di kemudian hari untuk menuntaskan problem ini. Jadi persoalan ini sudah jelas, tidak perlu dipermasalahkan lagi.

      Mengenai soal identitas, bila anda merasa nomer satu orang Cina, baru nomer 2 Indonesia, itu sah2 saja. Tapi aku kira pandangan tersebut tidak tepat. Paling tidak kita mengembangkan identitas2 kita, menguasai bahasa Cina dengan baik, bahasa Indonesia dengan baik. Berbudaya Indonesia sekaligus mengerti budaya Cina. Yang satu memperkaya yang lain, bukan menentangkan.

      Delete
    6. mungkin maksudnya gak bisa jadi orang indonesia. kalau wn bisa gonta ganti. termasuk orang indonesia jadi wn belanda atau jerman. yordan. tetapi orang atau ras mana bisa ganti walau operasi plastik. ini yg suka rancu

      Delete
    7. sok nasionalis lu pada..sewaktu2 perang paling kabur semua lu

      Delete
    8. Main main lah ketanjungpinang, biar bisa liat etnis chines dari beberapa suku berbeda hidup bersama dengan orang keturunan indonesia asli, sekolah, kuliah, kumpul, jalan itu sering dilakukan bersama, saya sendiri orang dari suku sunda yang berdomisili di tanjungpinang sekarang sudah bertunangan dengan chines khek/hakka dari bagan si apiapi yang kini sudah menjadi mualaf, bahkan saya diajarin bahasa khek oleh keluarganya, kita dibawah satu bendera berarti kita sama, buang sifat dan fikiran anda yang jelek ya, kalau ada orang yang berdomisili diwilayah indonesia dan masih menyudutkan satu sama lain harap pindah keluar negri biar saya bantu prosesnya, perkaya budaya diindonesia, bukan sok nasionalis tapi apa salahnya menyampaikan sesuatu yang berdampak positif. Diterima syukur gak diterima ya coba sekolahnya yang rajin ya biar tambah pinter kepalanya

      Delete
    9. Kalau perang yang ga punya senjata ya mengungsi lah. Kalau dijadikan sasaran amukan massa ya lari lah, masakan kita mau mati konyol.

      Yang ikut perang seperti Laksamana John Lie ya perang lah. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional atas perjuangannya menyelusup di antara kepungan armada Belanda dan menyelundupkan senjata untuk revolusi kemerdekaan.

      Pd era reformasi, yang ikut demo sampai mati, ada Hendriawan Sie (mahasiswa Trisakti) yang ikut berdemo pd Mei 1998 menuntut turunnya Suharto; lalu 1999 Yap Yun Hap (mahasiswa UI, ditembak di kampus Atma Jaya krn berdemo menentang RUU darurat militer). Di mana anda bilang kalau ada perang, Cina lari. Justru Cina ikut berjuang, lebih dari persentasenya sbg WN Indonesia, yang sangat kecil.

      Delete
  18. Saya lahir dan besar di Singkawang, mayoritas orang Singkawang adalah orang Hakka(khek) hampir semua orang hakka bisa bahasa hakka, dan sebagian besar bisa bahasa mandarin. di Singkawang, bahkan ada sekolah khusus untuk belajar bahasa mandarin. di SD, SMP, SMA, juga ada pelajaran bahasa mandarin. kalau dibandingkan di pulau jawa, di sana budayanya masih kental sekali, pas perayaan imlek, dan cap goh meh di rayakan secara besar besaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, teman saya di Facebook ada yang baru pasang foto2 dari perayaan capgomeh. Seru, ada tatung, ada jailangkung, hahahaha. Bagus, bahkan di Tiongkok daratan mungkin ga ada krn di sini ada akulturasi dengan budaya lokal setelah beratus tahun menetap di Singkawang. Pertahankan untuk keunikan dan keberagaman Indonesia!

      Delete
  19. Orang Khek itu sebenarnya adalah perantau dari utara sungai Yang Tse, sehingga sifat-sifatnya yang dianggap buruk oleh kalangan lain hanyanya untuk proteksi diri dan ini sudah turun temurun. Orang Khek terkenal sebagai seorang pekerja keras karena mereka merupakan perantau dan harus bertahan hidup di daerah orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lihat juga "SEJARAH ASAL USUL ORANG HAKKA (HAK NYIN)"

      Delete
  20. istri sy orang cina keturunan tp sama sekali satu kata pun ga bisa bahasa mandarin..pdhal kakeknya asli imigran dari

    ReplyDelete
  21. Artikel keren (y) saya sekarang tahu asal muasal orang tiong hoa yang ada di indo, kalo ngomong soal ngong, saya inget papa saya suka ngomong tere ngong alias super b*g* hehe, baca tulisan ini jado ketawa ketawa sendiri, ditunggu tulisan selanjutnya

    ReplyDelete
  22. Baca tulisan di ata saya jadi inget papa saya suka ngomong tere ngong alias super b*g* sambil bercanda hehe, bikin ketawa ketawa sendiri, artikel yang bagus, bikin saya mengerti asal leluhur dan saudara saudara tiong hoa yang lain, ditunggu tlisan lanjutnya

    ReplyDelete
  23. ITULAH BEDANYA CINA YANG LAHIR DAN TUMBUH DI JAWA BERBEDA DENGAN MEREKA YANG BERASAL BUKAN DARI JAWA.
    DI JAWA CINA LEBIH MUDAH MEMBAUR, DI SUMATERA MEREKA MENCIPTAKAN KAMPUNG SENDIRI YANG TERPISAH. SAYA BESAR DI PALEMBANG, DAN SAYA PUNYA PENGALAMAN BERGAUL DENGAN CINA JAWA DAN DARI SUMATERA. LEBIH MANUSIAWI DENGAN CINA JAWA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak setuju. Waktu saya di Jogja, Chinese Jogja dan sekitar rada rasis terutama dari SEMARANG, maaf ya, no offense klo gak merasa. Saya dari Sumatera tapi gak rasis tuh. Di sekolah yang 97% orang Chinese aja, kami memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di sekolah kami diajarkan untuk berbahasa Indonesia baik dan benar dan tidak dianjurkan memakai bahasa Cina.

      Delete
    2. Kalo ada beberapa Tionghoa yg masih menutup diri, harus nya kalian2 yg ngaku pribumi sadar, Selama 31 tahun itu ngapain aja? Mulai dari thun 67...
      Atau minimal searching di youtube lah..
      ga ush thun2 90 an ke bawa searching ada video yg 2014 an..

      Delete
    3. Org Tionghoa bersikap sesuai dengan masyarakat di sekitarnya. Hal ini manusiawi, pengaruh pergaulan dgn teman dan masyarakat....

      Di Jawa org Tionghoa membaur, karena budaya Jawa komunal, tidak suka mengkotak-kotakkan orang. Jadi org Tionghoanya ikut2an membaur.

      Di Sumatra dan Malaysia org Melayu punya identitas agama & etnis yg kuat, jadi mereka tidak mau nyampur2. Org Tionghoanya jadi ikut2an bikin identitas agama & etnis yg kuat, tidak nyampur2.

      Di Bali etnis Balinya komunal dan religius, terutama agama Hindu. Org Tionghoa Bali jadi ikut2an komunal dan religius. Vihara2 dan gereja2 di Bali jadi penuh org Tionghoa, sama halnya pura2 penuh org Bali.

      Di Tegal dialek bahasa Jawanya lucu2. Org Tionghoanya jadi ikut2an ngomong Jawa yg lucu2 ^_^

      Di Surabaya etnis Madura & Jawa punya sikap bondho nekad dan bolo-boloan (suka berkelompok). Org Tionghoa Surabaya jadi ikut2an suka bondho nekad dan bolo-boloan. Org Tionghoa Sby berani bikin usaha tanpa modal, dan ikatan komunitasnya kuat, kebanyakan guyub dalam gereja (bolo dhewe).

      Di Jawa bag. Tengah, terutama Jogja dan Solo org Jawanya suka nonton wayang dan bicara Jawa Kromo. Org Tionghoanya jadi ikut2an suka nonton wayang (wayang Jawa & wayang Potehi), dan suka berbahasa Jawa Kromo.

      Pengaruh teman adalah yg paling kuat, jadi dengan siapa seorang manusia bergaul, maka dia akan bersikap dan berpikir seperti temannya tersebut....

      Delete
    4. Tetapi, mengapa di Solo justru menjadi lahan kerusuhan rasial pd waktu 1998? Pdhal Tionghoanya sudah membaur dan gunakan bahasa Kromo? Apakah ada hubungannya dengan fakta bhw Solo (tepatnya, Ngruki) menjadi pusat pendidikan agama garis keras?

      Delete
    5. Semua kerusuhan SARA itu ada dalangnya. Gak bisa dikaitkan dengan tionghoa krama inggil di solo yg membaur dsb. Kerusuhan 98 itu api politik yg dimainkan dengan sentimen rasial. Kalo si Ngruki itu lebih ke kelompok radikal yg sedikit tapi militan dan mengarah ke terorisme. Kalau aparat mau, kelompok2 kayak Ngruki itu gampang saja dihabisi. Tapi dalam politik, manusia2 super fanatik itu biasa dipelihara agar bisa digunakan sewaktu2.

      Delete
    6. Kalau FPI dan konco-konconya, yg memelihara itu partai-partai tertentu atau petinggi-petinggi dulunya?

      Delete
    7. Dengan pilkada DKI, jadi jelas siapa yang memelihara mahluk2 ajaib bernama PKI itu, dan jelas jawaban Cak Lambertus di atas.

      Delete
  24. jangan digubris komen cina medan itu. peace n indonesia first

    ReplyDelete
  25. komen cina medan itu emang ngawur n kacau... org cina yg benar2 bukan indonesia....

    ReplyDelete
  26. Tulisan yang menarik. Sekedar informasi, di China, tidak semua orang bisa berbahasa Mandarin. Yang bisa berbahasa Mandarin, klo tinggalnya di kampung itu hanya yang keluarganya kaya dan bisa nyekolahin. Hal ini saya ketahui dari paman saya, kakak Papi, yg tinggal di Cina sedari kecil. Lahir di Indonesia, dibawa pulang sama engkong-nya pulang ke Meizhou (Provinsi Guangdong, kampung orang Hakka). Tinggalnya di kampung. Istrinya SAMA SEKALI TIDAK BISA berbahasa Mandarin dan hanya bisa HAKKA saja jadi menurut saya orang tua tetap perlu mengajarkan dialek. :)

    ReplyDelete
  27. Humanis Sekuler2:54 AM, July 14, 2012

    Saya baru pulang dari perjalanan 3 minggu ke Tiongkok daratan: Guilin, Yunnan, Chengdu (Sichuan), Beijing, dan Shanghai. Di sana saya selalu berbahasa Mandarin sedikit2. Penduduk sana sangat menghargai sebagai angkatan / generasi ke-3 kelahiran Indonesia, saya masih bisa ngomong sedikit. Tetapi, mereka bilang saya bukan orang Tiongkok, tapi orang Tionghoa (hua-yi atau hua-ren). Saya setuju.

    Memang benar, orang2 di daerah selatan Tiongkok jaman dulu, seperti kakek saya yang dari Hokchia, tidak bisa berbahasa Mandarin, kecuali kalau sekolah tinggi sampai SMP atau SMA. Selatan maksudnya ya Fujian, Guangdong, Guangxi, Sichuan, Yunnan, dst. pokoknya yang jauh dari Beijing. Mereka punya BAHASA (bukan dialek) sendiri. Tapi jaman sekarang tahun 2012 sudah lain. Semua orang wajib belajar. Sopir taksi pun lulusan SMP. Semua, termasuk anak2 muda dari etnis minoritas Bai, Nakhi, Tibet pun (banyak di propinsi Yunnan) bisa berbahasa Mandarin dengan lancar, walaupun ada logat daerah yang kental. Sama dengan kita yang berbahasa Indonesia dengan logat Jawa Timur atau logat Ambon atau Makassar.

    Di abad ke-21 ini, kita semua wajib menjadi warga negara yang baik di tanah di mana kita tinggal, mencari makan, dan berkeluarga. Berbahagialah jika kita mempunyai berbagai identitas, misalnya: sebagai orang Indonesia, Jawa, dan Tionghoa, karena manusia yang multi-kultur itu wawasannya lebih luas. Saya sekarang tinggal di Amerika, jadi identitas saya sejak lahir selalu bertambah: Tionghoa ketika lahir, Jawa ketika bergaul dengan teman2, Indonesia ketika mulai sekolah dasar, dan Amerika ketika menetap di USA.

    Saya kira di abad ke-21 itu rasa superioritas hanya karena kita tergolong ras tertentu (Cina, Melayu, dll.) atau dari daerah tertentu (Sumatera, Medan, Semarang) sudah bukan jamannya lagi. Superioritas yang ada hanyalah karena kemampuan kita sendiri, yang didapat dari pendidikan, kerja keras, dan karakter yang jujur dan tidak mudah menyerah.

    Selamat bekerja! Terima kasih kpd Bung Hurek yang sudah menyediakan kolom blognya untuk diskusi.

    ReplyDelete
  28. saya rasa org tionghoa itu kayak jawa di suriname. identitasnya bisa jawa bisa suriname dan itu sah2 saja di era globalisasi ketika org bisa berpindah2 dg mudah ke mana saja. ternyata tionghoa lbh dulu kenal yg namanya globalisasi sejak ratusan thn lalu.

    ReplyDelete
  29. aku keturunan tionghoa tapi sama sekali ga ngerti asal usulku, yang tak tau cm margaku tan sm dialek hokkian, bhs cina cm bs hitungan 1 smp 10, malah lebih fasih boso Suroboyoan, makasih buat artikelnya, nambah wawasan

    ReplyDelete
  30. belajar bahasa tionghoa itu banyak gunanya, gak ada ruginya. krn bhs tionghoa dipakai secara luas di banyak negara. mungkin orangtua david terpengaruh tekanan rezim orde baru yg memang sangat anti semua yang berbau tionghoa.

    beda dengan bahasa2 di flores yang hanya digunakan di kawasan yg sangat terbatas. bahkan ada bahasa yang hanya dipakai di lingkungan satu kecamatan saja. maka tidak heran kalau banyak keluarga flores di perantauan yang tidak mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya.

    sekarang sih kita semua HARUS belajar bahasa tionghoa selain bahasa inggris, bahasa indonesia, dan bahasa ibu kita.

    terima kasih atas komen2 yang makin ramai, seru... dan panas.

    ReplyDelete
  31. Saya tinggal di Pontianak, Kalbar. Kalau saya melihat fenomena yang berlaku di daerah saya, anak-anak zaman sekarang perlahan-lahan tidak diajarkan bahasa ibu lagi. Di tambah dengan orang tua yang menganggap Bahasa Mandarin dan Inggris lebih unggul. Kemudian ada pula yang beranggapan berbicara bahasa ibu sudah ketinggalan zaman atau kuno. Itulah mengapa orang tua suka berkata, "Nga teng nang boi ta teng ue" (Tiociu: Orang Cina bodoh tak bisa berbahasa Cina).

    ReplyDelete
  32. Berangkat dari cerita Papa saya mengenai asal-usul keluarganya, saya mulai menggali sejarah Cina, dengan menghitung tahun kelahiran kakek dari kakek saya, yang saya perkirakan sekitar 1850-an, atau kurang lebih di sekitar Opium War I/II, dan itu memang cocok dengan cerita Papa saya mengenai kekacauan di Cina sekitar Opium War.
    Kenyataannya adalah, Cina di jaman dulu bukanlah sebuah negara bersatu yang bisa kita panggil dengan sebuah sebutan yang konsisten, yang cukup mewakili masyarakat yang kita sebut sebagai negara Cina. Mereka sendiri di dalam negeri memiliki sebutan yang berubah-ubah sesuai dengan nama Dinasti yang sedang berkuasa. Jadi kalau pada jaman Dinasti Han, mereka menjadi orang 'Han', pada jaman Dinasti Tang mereka adalah orang Tang, dst. Batas2 wilayah dinasti2 ini pun berbeda2. Sebutan "The Chinese", atau "Overseas Chinese", atau "Orang Cina" itu sendiri justru datangnya dari pihak barat (Eropa), yang tidak dapat membedakan bahkan keturunan Mongol dengan seorang petani dari daerah Fujian dengan baik, atau jangan-jangan seorang Korea pun (yang di jaman sebelum masehi memang masih terkait dengan para penduduk dari sekitar Manchuria) dilihat sama dengan seorang penduduk "pribumi" Kanton (Guangdong di dunia modern). Kita di Indonesia mewarisi istilah "Orang Cina" ini justru dari orang-orang Eropa yang pernah menjajah kita, dan mereka memang sengaja memakai politik "Devide et impera" untuk tujuan2 mereka sendiri. Fakta yang ada sekarang adalah, di dalam negeri Republik Rakyat Cina sendiri ada lebih dari 50 suku bangsa dengan daerah mereka masing2, dan akibat sebuah ketidakadilan politik salah satu suku akan berkeberatan unuk disebut sebagai "Orang Cina" (misalnya, suku Uyghur yang mengalami diskriminasi agama, atau Manchu yang dianggap pernah "menjajah"). Beberapa diantaranya bahkan menginginkan sebuah wilayah merdeka untuk suku mereka, tentunya juga ingin membentuk pemerintahannya sendiri. Seorang teman yang saya dapat dari sebuah forum yang membahas sejarah Cina, terang2an beranggapan bahwa dirinya adalah seorang Manchu, dan tidak termasuk bangsa Cina. Padahal kalau melihat foto2 Aisin Gioro Puyi (Kaisar Cina terakhir dari Dinasti Qing, Manchuria, 1906 - 1967, foto2 dunia MODERN!), saya langsung berpendapat bahwa beliau cukup mirip dengan ayah saya sendiri. Melihat fakta ini, saya berpendapat istilah "Orang Cina" itu sendiri sebetulnya adalah absurd, karena generasi kita sekarang bahkan tidak dilahirkan di wilayah itu, dan kalau membaca komentar2 yang ada di sini, saya lihat cukup sedikit dari kita yang sungguh2 memahami asal-usul dan sejarah "Nenek Moyang" kita, apalagi menggunakan bahasa mereka.
    Sekarang ini saya melihat diri sendiri mula2 tentu saja adalah seorang Indonesia, Katolik, dan dengan jelas hampir semua orang yang saya temui di Indonesia ini melihat bahwa saya punya keturunan Cina, dan bahkan banyak yang beranggapan bahwa saya adalah "Orang Cina" (dengan istilah tersebut), tetapi anehnya banyak pihak di luar Indonesia, termasuk mereka2 yang berlatarbelakang keturunan Cina, tidak berpendapat demikian. Mereka melihat saya sebagai orang Indonesia "asli", padahal mata saya cukup sipit, meskipun kulit saya tidak terlalu putih :-)
    Republik Indonesia tidak didirikan dengan dasar "Satu Ras" atau "Satu Agama", dan jelas tidak ada batasan untuk mempelajari bahasa atau budaya, atau sejarah mana pun. Dan bahkan kita tidak dilarang untuk menikah dengan warga negara lain yang ada di dunia ini, dan tetap menjadi seorang Indonesia.
    Bagi saya, saya adalah seorang Indonesia asli, meskipun "Bahasa Ibu" (Mother Language) saya adalah Bahasa Jawa Timur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Saya sekarang tinggal di luar negeri (Amerika Serikat). Di Indonesia, saya selalu dipanggil Cino atau Tionghoa atau Tenglang. Walaupun tidak bisa lancar berbahasa Mandarin atau Hokkian (bahasa kakek nenek). Bahasa pertama ialah Bahasa Melayu Pasar (lu bok gitu!) lalu Bahasa Arek (kon jok ngono!) dan barulah Bahasa Indonesia (kamu jangan begitu!). Eh, di sini saya selalu disebut sebagai Orang Indonesia. Sesama orang Indonesia pun kalau bertemu tanya dulu: Orang Indo, ya? (maksudnya bukan Indo Eropa), tanpa mengenal ras atau etnis. Pemersatunya ialah bahasa Indonesia dan sama2 doyan makanan Indonesia.

      Delete
  33. gue chinese dari riau,tepatnya bagansiapiapi kami berbahasa hokkian setiap hari, makanan kami khas chinese ( hokkian tentunya hhehe ) rumah kami masih khas china....hampir sluruh kota penuh rumah khas tionghoa ini....kami juga terkenal dengan jiwa perantauan dan selalu membentuk komunitas dijakarta, medan, bali dll....mari berkunjung ke kota kami...welcome semuanya....

    salam damai


    ReplyDelete
  34. Di mana ada tanah, di mana ada air, di mana ada matahari di tempat itu pula ada Huaren / orang Chinese. orang Chinese merupakan hampir seperempat dari total populasi dunia dan tersebar di semua benua di Dunia. Saya heran kenapa sampai sekarang orang2 masih belum jelas membedakan antara konsep etnis Chinese (yang mencakup Chinese RRC, Taiwan, Hongkong, dan semua keturunannya) dan konsep warga negara (citizenship). Status kita di Indonesia bagi yang punya KTP Indonesia dan berhak bikin passport Indonesia adalah Warga Negara Indonesia dari etnis (suku bangsa) Chinese. jadi kalau secara genetik sebagai etnis Chinese (dari segi struktur DNA orang Han Chinese yg didominasi oleh marker O3) akan selamanya Chinese dalam arti selama kita tidak kawin campur dengan suku lain selain Chinese, kita tetap selamanya mewariskan karakteristik fisik dan DNA Chinese. kalau kawin dengan org bukan Chinese, maka anaknya setengah Chinese, kalau anaknya kawin lagi dengan bukan Chinese maka turunannya seperempat Chinese dan seterusnya. sedangkan kalau dari segi kewarganegaraan bagi orang Chinese di Indonesia yg (mayoritas ) sudah memutuskan masuk menjadi warga negara Indonesia, maka WNI gitu, ntar misalkan bisa anaknya kuliah di Amerika terus setelah lulus kerja di sana hidup lama di sana terus memutuskan masuk warga negara Amerika dan disetujui oleh pemerintah Amerika, maka dia bukan lagi warga negara Indonesia, tapi warga negara Amerika. Gitu aja emang susah dimengerti? jangan kan hanya bicara orang Chinese aja yg merantau. Orang Jawa yg waktu jaman Belanda banyak dibawa ke Suriname di Amerika selatan misalnya yg sekarang sudah hidup sudah berapa generasi di sana jadi warga negara Suriname ya statusnya Warga Negara Suriname etnis Jawa gitu loh.

    ReplyDelete
  35. saya Indonesia keturunan cina-jawa,, engkong saya Cina medan dan hanya bisa ngomong Hokkian saja,,
    menurut saya suku sdh bukan menjadi masalah sekarang ini,,
    sekarang sdh bnyk cina menikah dengan pribumi,, di keluarga mama saya yg keturunan cina hampir semuanya kakak"nya menikah dengan orang jawa,,
    sebaliknya di keluarga papa saya yg orang jawa hampir tidak ada yg menikah dengan orang jawa, kebanyakan menikah dengan orang luar jawa (ambon,padang,betawi,..)
    dari sanalah saya belajar menghargai orang lain,,
    dan saya rasa ini benar" Indonesia..
    last point..
    sekarang ini yang penting itu "pribadi orang itu sendiri",, bukan dari suku/agama yg mereka punya..
    "JUST RESPECT" ^^

    ReplyDelete
  36. saya sih bukan org tionghua tp saya tertarik yg namanya kebudayaan sejarah tionghua dan termasuk bahasanya ,saya orang Batak dari medan marga sya simanjuntak,, dari kelas 1-3 SMA saya bersekolah di swasta yang mayoritas orang tionghua semua,,kebetulan di kota saya itu rata-rata (Hokkian Lang) or orang hokkian ,jd hampir 90 % bisa dikatakan lancar berbahasa hokkian.oh ya medan itu terkenal berbagai macam suku ada jawa,batak,nias,aceh,tionghua,India(tamil)=utk yg satu ini biasanya orng medan sebutnya orang Keling (maklum kulit mereka itam semua)hehe.. :D,melayu,dll....
    (flashback) dulu waktu SMA saya kaget dan terkucilkan entah kenapa saya minder bergaul dengan mereka,maklum sejak kecil saya bersekolah di negeri,,selama di sma kebanyakan dr mereka memakai bhs ibu ,dehal stss sekollah menerapkan pakailah bahasa Indonesia yg baik n benar ,, mungkin karena bg mereka sesama tionghua lebih respect dan nyaman memakai bhs ibu ,sama seperti saya sbg org batak ,,kebanyakn dr mereka or tionghua medan masih terkesan ekslusif !!! tp gk semua kok !!! untung saya punya teman tionghua beberapa di sekolah seiring berjalannya waktu ,yg saya rasakan berteman dngn meraka sngt humoris dan nyaman pertemanan itu kental sekali,lama-kelamaan saya mulai mahir berbasa hokkian termasuk ikut les bahasa Hokkian Medan ==== oh ya mungkin kedengerannya aneh kenapa saya menulis "Hokkian Medan" nah... disini kalau kita berada dimedan khusunya bila hokkian dr surabaya or jakarta berlibur ke medan ,jangan harap memakai bahasa hokkian meskipun sesama org hokkian ,,karena bhs bs saling tabrakan,,karena bg tionghua medan ada kata padanan yg diambil dr kosa kata Indonesia jd tdk termasuk hokkian semua ,,juga tionghua disini sering memakai kata berakhir [ar or lor] contohnya -lu ai ciak hamik ar- (kamu mau makan apa ) tao juga - lu ane kepo lang lor a -(kamu orngnya pengen tau aja) jd dengan kata lain ada perbedaan hokkian itu sendiri diamana kita tinggal berbeda juga kan khek kalimantan sama yang di aceh ,temanku juga bilang gk semua bahasa itu sama hanya saja dimana kita tinggal pasti menjadi kebiasaan itu sendiri.
    salam dari Medan Horas 'kamsia' :D

    ReplyDelete
  37. Saya sangat respek sama artikelnya dan orang" yg ikut brkomentar

    ReplyDelete
  38. Bagus sekali, semua Tionghoa-Indonesia yang berkomentar disini merasa atau menganggap diri mereka sebagai orang Indonesia. Yang sangat saya harapkan adalah bukti2-nyatanya dalam kehidupan se-hari2.
    Pernahkah anda, ketika makan direstoran duduk semeja dengan sopir-anda, yang orang pribumi Indonesia ?
    Sewaktu anda menginap dihotel berbintang, apakah sopir-anda juga menginap dihotel yang sama dan kamar yang sekelas ?
    Padahal seorang sopir adalah sama pentingnya seperti seorang pilot, jiwa majikan dan keluarganya tergantung kepada sopir.
    Kesan saya, Tionghoa-Indonesia hanya ber-koar2 seperti diatas, selama mereka mendapat keuntungan dari Indonesia.
    Tionghoa-Surabaya yang hidup di USA mengutip ; hokkian, hokchia, khek, henghua..... forget about it. Ya, gua setuju hal itu. But what´s about agama ? Di Indonesia zaman sekarang kalau mau kawin, pertanyaan calon mertua selalu : dia Cina ? dia Agama apa ? dia punya gelar S-3 ? dianya kaya, atau bapaknya kaya, mobilnya apa..........?
    Kalau agama-lu Buddha, jangan harap bisa kawin sama cewek agama haleluya. Itulah Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaupun anda bersembunyi di balik Anonymous, dari bahasamu sudah kelihatan anda ini si Tionghoa gaek yang sudah berkelana ke Eropa lalu sekarang pensiun di Tiongkok. Kenapa sih anda begitu sentimen thd Tionghoa di Indonesia? Anda tidak ikut merasakan masa Orde Baru, bisanya menghujat saja.

      Mbok ya komentar yang positif, jangan hanya mengkritik saja. Apa pula hubungannya dengan mengajak sopir tinggal di hotel berbintang, persyaratan pilih mantu. Kesannya cari2 yang tidak ada.

      Delete
  39. tulisan yg bagus. tionghoa jawa lebih cepat jawa banget karena lebih dekat dengan pusat pemerintahan jaman orba. sedangkan di sumatra kalimantan dll masih memegang budaya. saya pribadi lebih suka dengan type berwarganegara diluar jawa seperti juga di malaysia. amerika dan orang jawa di suriname. karena setiap orang punya hak asasi manusia yg tidak boleh dihilangkan kebudayaannya oleh pihak manapun. apalagi indonesia sekarang ini menjunjung tinggi HAM dengan adanya menkumham. cuma kembali lagi terserah bagi mereka yg dari bayi sudah tercuci otaknya oleh orba

    ReplyDelete
  40. sebuah artikel yg luar biasa dg komentar yg juga bagus2, pro kontra, untuk menambah wawasan kita semua. jarang ada pencerahan seperti ini.

    ReplyDelete
  41. Karena dulu kebanyakan orang Khek lebih tinggi pendidikan dan ekonominya daripada orang Hokkian kebanyakan, ada prasangka buruk yang berkembang di antara orang Hokkian di Jawa, karena iri hati. Olok-oloknya antara lain: khek-lang, habis nyekek, hilang. Artinya, kalau tidak ada kepentingan ekonomisnya, orang Khek dianggap tidak mau solider dengan orang Tionghoa lain.<<<<<<

    Gw sebagai keturunan Hakka protes ah, kebalikan nya malah menurut gw..
    Orang hokkian ke indonesia malah banyak yg bawa modal..
    Orang2 Hakka dulu ke indonesia itu kerjaan nya nambang(kerja Kasar), karna orang2 hakka dari dulu itu asal dari tiongkok utara trus migrasi ke selatan dan selalu di ejek orang2 tiongkok selatan terutama perempuan nya karna punya kaki besar karna karna ikut kerja di ladang dan laki-laki nya nambang beda dengan orang hokkian dan orang selatan lain nya..
    Itu bisa di lihat rumah2 orang Hakka macem Tulou sifatnya "Defend" kayak benteng / labirin untuk bertahan.. karna orang2 Hakka ngebangun rumah mereka deket daerah pegunungan..

    Soal solidaritas emang orang hakka lebih care sesama orang hakka, yah karna itu tadi mereka migrasi dr utara ke selatan tiongkok , di anggap miskin orang yg tidak ada rumah dan selalu di ejek maka itu solidaritas mereka tinggi, kata2 orang hakka yg suka di pake "sika nyin ah".(sesama orang kita)..
    Nenek gw aja pas nyokap gw nikah sm bokap gw yg orang tio ciu(bahasa mirip hokkian sm2 Min an) bilang heh tio ciu nang, karna di anggap sial, karna sejarah dl itu pas masih di tiongkok.
    Dari dulu paling di wanti2 gw sm nenek gw hati2 sama hokkian medan dan kejadian dl sempet kerja sm boss nya org hokkian medan, Kejam nya luar biasa Selalu triak2 trus bs maen tangan apalagi sama cewek..
    Beda dengan orang Hakka ngomong ga make triak2 apa lagi maen tangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas koreksinya.

      Delete
  42. Satu artikel yg bagus dan cukup akurat dari Sdr. Wens Gerdyman, terima kasih

    Juga ucapan terima kasih untuk om Bernie, maaf kalau salah eja :)

    Komentarnya juga menarik menarik.

    Artikelnya mengenai kaum Hokkian, Hokchia, Hinghua dan Hakka, komentarnya jadi melebar kemana mana :)

    Menjadi Indonesia tidak harus kehilangan indentitas Tionghoa, Arab, India, Batak, Papua dan sebagainya.:)

    Menjadi Indonesia tidak harus berarti tidak bisa berbahasa Arab, India, atau Mandarin, dll. :)

    Bisa berbahasa Mandarin juga tidak berarti bukan lagi orang Indonesia :)

    Pembauran yg dipaksakan model orde baru dulu itu sungguh tidak masuk akal, bagaimana bisa orang Tionghoa dianjurkan, diharapkan, diajarkan atau apalah namanya, untuk menikah dg non Tionghoa, di lain pihak ada aturan larangan nikah lain agama, jadi kontradiktif sekali, bahkan konyol sekali.

    Lain lagi dg apa yg pernah terjadi di bumi Nusantara di masa yg sudah lama sekali lewat, pernikahan antar agama bukan suatu persoalan, maka di jaman yg sudah lama sekali lewat itu banyak orang Tionghoa yg kawin mawin sama orang orang setempat, ada Tionghoa rasa Jawa, ada Tionghoa rasa Bali, ada Tionghoa rasa Madura dll, kaum Peranakan demikian disebutnya, generasi yg selanjutnya bisa tetap indentik Tionghoa Peranakan, ada yg menjadi lebih mirip totok lagi karena perkawinan dg yg totok, ada juga yang semakin hilang Tionghoanya, seperti yg di Madura, banyak diantara mereka yg tidak menyadari kalau mereka punya nenek moyang Tionghoa. :)

    Orang orang WNI Tionghoa itu di Tiongkok bukanlah Zhongguo Ren, tetapi Yinni Ren atau Yinni Huaren, sama seperti Meiguo Huaren dll.

    Salam Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. itulah masa kekelaman di era orde baru. orang tionghoa dipaksa ganti nama biar kayak wong jowo, sementara warga pribumi jowo malah rame2 pake nama yg berbau timur tengah alias arabian names. sampai sekarang saya masih sering tertawa sendiri kalau ingat kebijakan super konyol bin ngawur ala orde baru itu.

      Delete
    2. Salam, Sdr Wong Tji Lik. Kalau mau diteruskan dialog, silakan lewat jalur pribadi.

      Delete
    3. Salam kenal Sdr. Wens Gerdyman, lama saya tidak berkunjung ke blognya om Hurek, baru hari ini saya tahu ada reply dari anda, ini email saya: tjilikwong@gmail.com

      Delete
  43. Ohh gitu ya.Komen2nya bgus2 ada yg beri masukan,pro kontra & lain2. Saya hokkien medan,lucu baca komen ttg orang hakka dan hokkien :D

    ReplyDelete
  44. Halo, saya mungkin yg paling muda dan paling telat komen ya,
    Hahahaha

    ReplyDelete
  45. Sejarah dan pembagian etnis Tionghoa ke dalam beberapa bahasa Hokkian, Hokchia, Hakka, dll sangat bagus

    ReplyDelete
  46. Aduh sy dari turunan kel thiocai.liong yg sy Thu kakek itu membuat kapal dan aktif di pergerakan Katolik dibawah mgr Albertus sugia pranatha hanya sampai detik ini saya Masih buta knp kakek menyerahkan kedaulatan dibawah mgr Albertus sugia pranatha sya mohon information? Karena kel ini bangkit kembali

    ReplyDelete
  47. sangat menarik, terima kasih bwt artikelnya jd lbh ngerti ttg silsilah gw. gw keturunan hokchia ke-4 dan tinggal di kalimantan, jujur secara fisik gw dah gk keliatan lg aslinya soalnya dominan fisik jawa dari ibu & gk bisa bhs hokchia maklum gk pernah diajarin hehe...salam kenal semuanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang di Kalimantan terutama Pangkalan Bun, Sampit, Banjarmasin, banyak keturunan Hokchia. Kakek saya pd waktu datang ke Indonesia thn 1930 pertamanya lewat kota-kota itu menemui teman-teman sekampung, sebelum akhirnya menetap di Surabaya. Kalau di Sabah dan Serawak, yang banyak keturunan Hokchiu (ibukota propinsi Hokkian), yang bahasanya 95% sama dengan Hokchia. Bedanya, di Malaysia kaum Tionghoa masih mempertahankan adat istiadat leluhur. Kalau di Indonesia, sudah luntur akibat 32 tahun rezim Orde Baru.

      Delete
  48. Menarik sekali. Saya bukan etnis cina walau banyak yg blg saya dan ayah saya seperti cina. Ini sedang melihat acara mata najwa debat cagub putaran dua. Menarik melihat yg satu calonnya dr etnis cina, satunya arab. Kalau ahok itu hakka ya? Saya punya beberapa teman dari bangka dan katanya sukunya khek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang Tionghoa dari Bangka Belitung (Belitong) memang kebanyakan hakka atau khek itu. Termasuk Ahok. Populasi tionghoa di belitung konon mencapai 40 persen... sangat tinggi karena tempo doeloe didatangkan belanda untuk menambang timah. Mereka tionghoa2 pekerja kasar yg terbiasa berbaur dengan masyarakat lokal yg etnis melayu.

      Dengan populasi yg besar, otomatis tionghoa bangka belitung macam bung Ahok ini tidak punya penyakit minoritas yg minder alias kompleks inferior. Makanya tidak heran Ahok selalu bicara blakblakan, apa adanya, tidak kenal basa basi atau unggah unguh krama inggil kaya tionghoa2 di pulau jawa. Omongan Ahok ini kalau dikaji selalu berpijak pada data dan fakta, sangat rasional... tapi bikin kita terkejut karena biasanya tionghoa mainstream itu ngomong bisik2 dan cenderung menghindari politik.

      Ahok ini lain dari lain.

      Kalau Tionghoa di Jawa biasanya suka mengalah meskipun sebetulnya posisinya benar. Ngalah demi harmoni... ini yg namanya unggah ungguh lawas: sing waras ngalah...

      Delete
  49. Oh, bisa jadi begitu ya. Seperti salah satu komentar di atas, kita semua dipengaruhi oleh lingkungan. Saya pribadi sangat menghargai kalau ada teman etnis cina saya yang ceplas-ceplos dan terbuka dengan keetnisannya. Maaf kalau saya masih pakai istilah etnis cina, karena menurut saya tidak ada yang salah dengan itu, dan tidak ada niat saya rasis menggunakan istilah itu. Terima kasih buat artikelnya Bung Hurek.

    ReplyDelete
  50. Oh, bisa jadi begitu ya. Seperti salah satu komentar di atas, kita semua dipengaruhi oleh lingkungan. Saya pribadi sangat menghargai kalau ada teman etnis cina saya yang ceplas-ceplos dan terbuka dengan keetnisannya. Maaf kalau saya masih pakai istilah etnis cina, karena menurut saya tidak ada yang salah dengan itu, dan tidak ada niat saya rasis menggunakan istilah itu. Terima kasih buat artikelnya Bung Hurek.

    ReplyDelete
  51. Terima kasih Bung Wens untuk artikelnya.... Baru kali ini saya baca komentar dari awal sampai akhir di blok.. :):) sangat menarik.

    Jujur melihat kondisi akhir2 ini di Indonesia, saya sangat sedih (walau pun saya dari suku Jawa). Masih banyak masyarakat Indonesia yang sangat mudah diperdaya dengan SARA untuk tujuan tertentu (Politik terutama). Saya sewaktu sekolah juga memiliki teman tionghoa (ma'af kalau salah istilah atau tulis), namun kami cukup akrab dan bisa berinteraksi seperti biasa dengan teman2 lainnya.
    Saya berharap, Semoga kita2 semua tidak terpecah belah dengan permainan2 SARA yang sekarang lagi naik daun dan tetap menjaga tali persaudaraan & menghargai sesama anak bangsa. Karena Bangsa ini bisa berdiri sampai sekarang karena bersatunya suku/etnis yang ada di negara ini.

    ReplyDelete
  52. Makasih artikelnya! Jadi tercerahkan hehe

    Ternyata saya punya temen ya hehe
    Engkong buyut saya asli Cina Daratan (Hokkian) marga Tan. Bermigrasi ke Indonesia dengan perahu untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
    Akhirnya membawa seluruh anggota keluarga kecilnya ke Indonesia. Termasuk kakek saya (anak engkong buyut) yang akhirnya besar di Indonesia. Ia menikah dengan wanita Tionghoa Benteng (kulit coklat). Sudah tidak bisa bahasa Cina lagi, karena keinginan menjadi WNI, berbahasa Indonesia-lah ia.
    Dari sini papa saya lahir, masih dengan marga Tan. Namun kulitnya coklat mengikuti genetik nenek.
    Kemudian papa saya menikahi wanita asli Jawa. Jadilah saya sekarang, yang sangat berciri fisik Jawa, dan tanpa tambahan marga Tan.

    Saya ini sekeluarga bangga jadi WNI. Sekaligus bahagia memiliki latar belakang turunan Tionghoa.
    Tanah air inilah ibu pertiwi kami.
    Mari sama-sama sadar bahwa kita semua WNI yang akan terus berjuang untuk Ibu Pertiwi kita.
    Salam.

    ReplyDelete
  53. keren...sungguh pencerahan..
    kalo bisa ditambahin lagi

    saya ketemu temen tionghoa dari semarang kok lebih lembut dari temen tionghoa dari medan ya..

    ReplyDelete