21 August 2009

Gang Dolly Ikut Puasa



PUASA DULU AH! Habis puasa.... hehehehe lagi. TOMAT: tobat, kumat, tobat... kumat maneh!

Gang Dolly? Ehmmm... Orang Surabaya, bahkan Jawa Timur, akrab dengan nama ini. Di sinilah pusat bisnis lendir nomor satu di Indonesia. Ada larangan resmi lewat peraturan daerah (perda), tapi de facto lokalisasi pelacuran ini eksis sejak 1960-an.

Jumlah pekerja seks di Gang Dolly tidak pernah jelas. Tapi, menurut Mbak Vera, aktivis organisasi nonpemerintah yang mendampingi para pekerja seks di Dolly sejak 1987, jumlah pekerja seks di Gang Dolly plus Jarak, tetangganya Dolly, mencapai 3.000 sampai 4.000.

Kamis, dua hari sebelum bulan puasa Ramadan, Gang Dolly tutup total. Semua wisma dipasang tulisan besar-besar: TUTUP. Setelah puasa, setelah Idulfitri, buka lagi seperti biasa. "Kita ikut aturan pemerintah saja. Dari dulu memang Dolly tutup untuk menghormati bulan puasa. Arek-arek iku kan puasa pisan," ujar Joko, sebut saja begitu, germo Gang Dolly.

Selain Gang Dolly dan Jarak, Surabaya punya beberapa lokalisasi yang "resmi tapi tidak resmi". Sebut saja Moroseneng, Bangunrejo, Kremil alias Wadungasri. Belum ditambah yang "benar-benar tidak resmi". Belum lagi pekerja seks panggilan di hotel-hotel kelas bawah sampai atas. Belum pekerja seks berkedok tukang pijat. Belum pekerja seks impor. Macam-macamlah.

Ribuan pekerja seks ini kerja keras selama 11 bulan. Siap meladeni gempuran macam-macam pistol air. Satu hari seorang pekerja seks di Gang Dolly rata-rata bisa melayani tujuh sampai delapan laki-laki pencari kenikmatan. Cewek yang laris manis, favorit, tentu lebih dari itu.

Capek? Bisa jadi. Karena itu, Ramadan merupakan momentum yang bagus untuk turun mesin. Istirahat sejenak sambil merenung, taubat, membersihkan diri. Kembali ke jalan yang benar. Uang banyak yang sudah diperoleh [ingat, perputaran uang di Gang Dolly luar biasa besar! Sekali tembak paling apes Rp 100.000] diharapkan jadi modal untuk membuka usaha baru.

"Kita sih inginnya setelah Lebaran mereka tidak kembali lagi ke Gang Dolly," ujar seorang pejabat seperti dikutip koran lokal. Dan, memang banyak pekerja seks yang memilih pensiun, taubat nasuha, setelah Idulfitri.

Tapi mengapa Gang Dolly terus hidup, tumbuh, kembang, dan melebar ke mana-mana?

"Waduh, saya sudah capek membahas pertanyaan itu. Kayak lingkaran setan. Setiap saat selalu ada anak baru yang direkrut ke Dolly. Setiap saat ada saja laki-laki yang butuh cewek-cewek muda. Pasokan ada terus. Lha, bagaimana Gang Dolly bisa tutup," tegas Mbak Vera, ketua Yayasan Abdi Asih itu.

Situasi ekonomi kita pun masih sangat buruk. Lapangan kerja terbatas. Cari kerja susah. Ijazah SMA, apalagi SD dan SMP, tidak ada harganya. Maka, gadis-gadis remaja di bawah 25 tahun mudah tergiur rayuan germo-germo Dolly. Ingat, jaringan dan kaki tangan germo-germo Surabaya ini menembus pelosok-pelosok Jawa Timur.

"Yang usianya sudah agak tua, di atas 25 tahun, pindah lagi ke lokalisasi lain. Begitu seterusnya. Dan ini membuat industri seks terus berkembang," kata Mbak Vera.

4 comments:

  1. ini kan masalah struktural. pelacuran sulit diberantas meskipun kita harus usahakan terus-menerus....

    ReplyDelete
  2. semua yg enak2 memang dilarang....
    terlalu....

    ReplyDelete
  3. aq no comment aja. kalo bisa sih setelah lebaran, jumlah psk berkurang, nyari kerjaan yg lainlah. tapi di jaman skrg susah juga nyari kerja...

    ReplyDelete
  4. Wong cari nafkah kok di larang

    ReplyDelete