03 August 2009

Bahasa Mandarin "Bahasa Setan"


Oleh: Djoko Pitono

Guinness Book of Records edisi Brasil menyebut Ziad Fazah (57) adalah the greatest living polyglot in the world. Ia memang poliglot terhebat di dunia yang masih hidup. Laki-laki kelahiran Lebanon yang tinggal di Buenos Aires ini menguasai 58 bahasa, 54 bahasa di antaranya telah dikuasainya ketika ia berusia 17 tahun.


Dalam suatu pertemuan internasional di Turki pada 1990-an, para wartawan yang hadir mendapat kesempatan ‘menguji’ Fazah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan bahasa ibu mereka. Terserah, mau pakai bahasa apa. Apakah Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, Mandarin, Arab, Turki, Hongaria, Parsi. Polandia, atau apa? Dan mereka pun terheran-heran pada “setan bahasa” itu. Pasalnya, Fazah dapat menjawab lancar dengan hampir semua bahasa yang digunakan para wartawan di acara tersebut.

Pernah seseorang pernah bertanya pada Ziad Fazah, bahasa apa yang paling sulit dikuasainya? Ia pun menjawab, bahasa China alias Mandarin. Meskipun begitu, ia menceritakan dirinya menguasai bahasa itu setelah belajar selama tiga bulan.

Diceritakannya, saat masih sekolah SMA di Beirut ia datang ke Konsulat Taiwan dan mengatakan ingin mendapat buku-buku pelajaran bahasa Mandarin, majalah dan penerbitan lainnya. Konsul Taiwan yang menemuinya menjawab dengan acuh tak acuh, sepertinya enggan dan tidak percaya pada kemampuan Fazah untuk belajar bahasa tersebut.

Bahasa Mandarin itu sulit, kata sang konsul. Kecewa pada jawaban konsul tersebut, Fazah pulang ke rumah. Tidak dijelaskan bagaimana belajarnya, tiga bulan kemudian Fazah datang lagi menemui pejabat Konsulat Taiwan. Tetapi kali ini ia telah menggunakan bahasa Mandarin. Sang konsul yang terheran-heran kemudian mengundang Fazah untuk berkunjung ke Taiwan. Tetapi undangan itu tidak dapat dipenuhinya karena jadwal sekolahnya tak memungkinkan.

Meskipun bahasa Mandarin sering disebut sebagai ‘bahasa setan’ (beda dengan ‘setan bahasa’) karena saking sulitnya, hal itu tidak menghalangi jutaan orang di luar Tiongkok belajar bahasa Mandarin. Dalam beberapa tahun belakangan ini, para mahasiswa dan pengusaha dari berbagai negara berusaha menaklukkan bahasa ‘paling sulit sejagat’ tersebut.

Mereka mengikuti kursus-kursus bahasa Mandarin, juga kuliah di perguruan tinggi jurusan bahasa Mandarin, termasuk pergi ke Tiongkok atau Taiwan. Di Indonesia, bahasa Mandarin mulai diajarkan pula di sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri.

Meskipun begitu, sebenarnya belum ada lembaga yang mendidik calon-calon guru profesional bahasa Mandarin, walaupun ada universitas swasta yang membuka jurusan pendidikan bahasa dan sastra Tionghoa. Inilah rupanya yang mendorong Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa) untuk membuka Jurusan Bahasa Mandarin. Lewat Seminar Internasional di Surabaya pada 23-25 Juli 2009 lalu, Unesa mendatangkan tiga profesor bahasa Mandarin dari Tiongkok untuk mewujudkan rencananya.

“Ini penting karena faktanya ‘kan belum ada pendidikan profesional guru bahasa Mandarin. Kita sudah siapkan segala sesuatunya, tinggal tunggu keluarnya izin dari Dirjen Dikti,” kata Dekan FBS Unesa Prof Dr Setya Yuwana Sudikan.

Meningkatnya minat belajar bahasa Mandarin utamanya dipicu oleh pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang luar biasa 25 tahun terakhir. Tiongkok sekarang memang telah menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Majalah Time edisi 26 Juni 2006 menurunkan laporan utama tentang fenomena tersebut. Get Ahead! Learn Mandarin!

Dilaporkan media Amerika itu, bagaimana para mahasiswa dan pengusaha Amerika pun makin banyak yang belajar bahasa Mandarin. Majalah itu juga memberikan petunjuk bagaimana langkah-langkah awal belajar bahasa tersebut.

Melihat pentingnya bahasa Mandarin, CEO Jawa Pos Dahlan Iskan juga mulai belajar bahasa Mandarin pada empat tahun lalu. Diawali dengan enam delapan bulan kursus di Surabaya, kemudian dilanjutkan di sebuah kota kecil di Tiongkok. Selama sebulan dia mengikuti kursus intensif bahasa itu. Hasilnya tidak mengecewakan.

Meskipun Dahlan mengaku tidak dapat lancar menulis dengan tulisan tangan, dia dapat melakukannya dengan komputer. Paling penting, katanya, dia dapat berkomumikasi secara lisan, dapat membaca koran-koran berbahasa Mandarin, dapat ber-SMS dengan kawan-kawan sesama pengusaha di Tiongkok. Di berbagai kesempatan, Dahlan terlihat sering berbicara lewat telepon menggunakan bahasa Mandarin.

Apa yang terjadi menyangkut bahasa Mandarin tersebut adalah pembalikan apa yang terjadi sebelumnya. Sesuatu yang menyedihkan, karena belajar bahasa adalah belajar bangsa. Belajar bahasa adalah belajar budaya. Sampai tahun 1965, bahasa Mandarin adalah bahasa yang hidup dengan baik. Bahasa ini kemudian terhambat--untuk tidak mengatakan terhenti--setelah peristiwa G30S pada 1965. Pemerintah RI pun memutuskan hubungan diplomatik dengan Tiongkok karena negeri itu dinilai mendukung kaum komunis.

Pemerintah kemudian sangat membatasi pemelajaran bahasa Mandarin. Sekolah-sekolah berbahasa Mandarin dilarang beroperasi sama sekali. Media berbahasa Mandarin juga sangat dibatasi. Studi tentang China-- termasuk sastra dan bahasanya--hanya diizinkan di lembaga pendidikan tinggi tertentu, yakni Universitas Indonesia. Kemudian menyusul di Universitas Persada Nusantara.
Larangan atau pembatasan itu merupakan kelanjutan dari PP 10 Tahun 1959, yang antara lain melarang sekolah-sekolah berbahasa Mandarin dibuka di kabupaten/kotamadya.

Peristiwa 1965 praktis mematikan pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia. Orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia pun kini umumnya tak bisa berbahasa Mandarin. Keadaan mulai berubah sejak 1990, saat Indonesia menjalin kembali hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Sejak itu kursus-kursus bahasa Mandarin mulai tumbuh, termasuk kursus privat. Guru-guru bahasa Mandarin yang pernah mengajar di sekolah-sekolah Tionghoa seolah dibangunkan kembali. Tentu. sebagian tidak sempat melihat bangkitnya kembali bahasa ini. Mereka mungkin pergi sambil membawa serta pertanyaannya: Mengapa? (*)

SUMBER: Radar Surabaya, 2 Agustus 2009

3 comments:

  1. bahasa setan tapi sangat perlu dipelajari....

    ReplyDelete
  2. saya mahasiswi sastra cina di universitas indonesia.
    dan memang sangat terbukti betapa sulitnya bahasa tersebut. hahaha

    ReplyDelete
  3. Bahasa Mandarin versi baru olahan dari China tulisanya memang agak gampang sebab telah di persingkat, tapi kalau yang asli susah banget tulisanya rumit seperti di Hk, Macao dan Taiwan cuma sekarang mulai banyak mengunakan huruf2 yang baru Taiwan banyak nama2 jalanan mengunakan huruf2 baru.

    ReplyDelete