31 August 2009

ST12 Bikin Sakit Perut

Berlibur di kawasan Trawas, Mojokerto, memang asyik. Kita bisa menikmati udara sejuk dengan pemandangan alam yang masih relatif asli. Kita bisa kembali ke desa setelah selama enam hari menikmati kemacetan dan "kepanasan" Surabaya.

Akhir pekan lalu, saya bersama Pak Haryaji mampir ke warungnya Mbak Siti di Trawas. Karena sama-sama tidak puasa, nonmuslim, kami memesan kopi sambil baca koran dan majalah yang dibawa dari Surabaya. Mbak Siti melayani dengan keramahan khas desa. Bikin betah.

Suasana yang tadinya tenang kontan berubah ketika Mbak Siti memutar musik. Astaga, lagu Isabella oleh ST12. Saya langsung tertawa pahit. "Hahaha... kita bisa gila nih," kata saya. Pak Haryaji ikut tertawa ngakak.

Terus terang, perut saya mual setiap kali mendengar ben-ben kayak ST-12, Kangen Band, dan sejenisnya. Penggemarnya memang jutaan orang, termasuk Mbak Siti di pegunungan ini. Tapi tentu saja tidak semua orang suka. Mbak Siti rupanya menganggap kami, yang dari Surabaya, doyan ST12, sehingga memutar lagu-lagu ben asal Bandung itu keras-keras.

"Mbak, sampean suka ST12?" pancing saya.

"Wow, suka sekali. Apalagi anak saya itu, tiap hari mesti dengar ST12."

"Kangen Band suka juga?" 

"Suka. Itu kan ben yang lagi disukai anak muda."

Yah, makin ketahuan kalau selera saya dan Pak Haryaji berbeda dengan Mbak Siti dan para laki-laki yang cangkrukan di warung kopi laris itu. Pak Har tergolong generasi lawas yang suka Genesis, Peter Gabriel, Queen, serta musik country. Ke mana-mana dia membawa harmonika murahan dan memainkan musik country. 

"Saya selalu sakit perut, gak nyaman, kalau mendengar ST12, Kangen Band, dan sejenisnya," kata saya. 

"Namanya juga selera itu kan beda-beda. Kita hormati saja seleranya Mbak Siti, pemilik warung."

Saya kemudian memanggil Mbak Siti. "Mbak, apa gak ada kaset/CD lain? Kok sudah satu jam lebih ST12 terus. Apa gak bosan?"

Mbak Siti yang pakai jilbab ini tertawa. "Aku gak punya kaset lain. Wong anak-anak saya sukanya ini aja."

"Baik. Tapi saya gak nyaman dengan musik itu."

Mbak Siti kaget. Tak menyangka kalau tamunya dari Surabaya ini membuat pernyataan yang mengejutkan. Saya kemudian membayar kopi, makanan, dan membeli sebotol madu asli Trawas. Madu liar. "Saya jamin madu itu paling bagus," katanya. Kecap memang selalu nomor satu!

Begitulah. Selera orang, termasuk jenis musik, memang berbeda dan makin beragam. Setiap generasi punya selera sendiri. Kalau anak muda tidak suka keroncong, langgam, dangdut lawas... ya wajar. Sebaiknya, orang-orang lama pun sulit menerima jenis musik pop masa kini yang sudah jauh berbeda dengan era 1970-an, 1980-an, 1990-an. 

Maka, berbahagialah Anda yang sudah berusia 30 tahun ke atas tapi masih bisa menikmati ben-ben populer macam Kangen Band, ST12, dan sejenisnya. Lebih repot lagi kalau suami dan istri punya perbedaan yang terlalu banyak. 

29 August 2009

Linda Jadi Suster di USA

Bekerja di sejumlah perusahaan di Tulungagung, Surabaya, Jakarta tak membuat Anastasia Lindawati bahagia. Diam-diam perempuan asal Jombang ini berangkat ke Amerika Serikat (AS). Kabar terakhir, Linda telah menjadi biarawati di New York, AS. 


"Suster Anastasia Lindawati baru saja mengucapkan kaul pertama (first vows) dalam sebuah misa khusus di New York, Minggu 9 Agustus 2009, bersama dua suster yang lain," tulis Suster Dolores M Mitch MM, juru bicara Kongregasi Suster-Suster Maryknoll, lewat surat elektronik.

Dua suster baru yang ikut mengucapkan kaul pertama bersama Lindawati adalah Laura A Guledew dan Generosa C Natividad. Keduanya berasal dari Filipina. Mereka bertiga berkenalan satu sama lain ketika mengikuti live-in bersama suster-suster Maryknoll di Quezon City, Filipina, pada 2007.

Setelah itu, menurut Sr Dolores, Linda dan dua temannya mengikuti program formasi di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Selain kuliah di Catholic Theological Union, mereka terlibat dalam pelayanan paro waktu. "Sr Anastasia Lindawati aktif pelayanan di sejumlah tempat. Di antaranya di Bonaventure House, Aid for Women, University of Chicago Hospital, dan Chinese American Service League," sebut Sr Dolores.

Anastasia Birgitta Lindawati, kelahiran Jombang, merupakan putri pasangan suami-istri Hadi Suryaatmajaya dan Kristina Herawati. Linda sebenarnya baru aktif di gereja Paroki Santo Yosef Mojokerto ketika duduk di SMA bersama dua saudarinya. "Saya nggak punya angan-angan bakal menjadi biarawati," kenang gadis yang murah senyum ini.

Linda bahkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lulus pada 1993. Dia kemudian bekerja di sejumlah perusahaan di Surabaya dan Jakarta. Sambil bekerja, Linda bahkan menyelesaikan studi pascasarjana manajemen keuangan di Universitas Narotama Surabaya pada 2006. Karir cemerlang dan ilmu S-2 ternyata tak digunakan Linda yang 'telanjur' mengenal komunitas suster-suster Maryknoll yang berbasis di AS.

"Saya pertama kali mengenal Maryknoll dari Romo Agustinus Surianto di Bogor. Saya juga sempat bertemu Romo Ridwan Amo, yang pernah diajar Sr. Dorothy McGowan, MM di Bandung. Romo Ridwan inilah yang merekomendasikan Maryknoll kepada saya," tutur Linda.

Dia kemudian mengorek informasi tentang BiarawatiMaryknoll melalui situs www.maryknollsisters.org dan mempelajari karya-karya pelayanan mereka di berbagai negara. "Saya tertarik karena merasa cocok. Ini semua merupakan panggilan Tuhan yang sangat istimewa untuk saya," katanya.

Selanjutnya, menurut Sr Dolores, Linda akan ditugaskan ke sebuah negara tertentu. "Dia memilih Filipina dan Tiongkok.

Yah, kita lihat saja beberapa bulan lagi," kata Sr Dolores. (rek)

27 August 2009

Seriosa Masuk Museum


Lagu seriosa rupanya sudah masuk museum. Orang Indonesia, apalagi yang muda-muda, sudah tak kenal jenis musik vokal klasik ala Indonesia ini. Sebab, televisi-televisi swasta yang begitu banyak itu ternyata tidak pernah menyajikan program musik yang bersifat apresiasi. Semuanya musik pop, hiburan, ben-ben anak muda, dengan sajian yang nyaris seragam.


Nasib seriosa lebih parah daripada keroncong. Musik keroncong juga sudah dekat dengan museum, tapi napasnya masih panjang. Masih ada gebyar keroncong di televisi dan radio. Orkes keroncong masih ada meskipun sangat sedikit dan pemusiknya tua-tua. 

Seriosa memang bukan lagu biasa. Tingkat kesulitan tinggi. Berbeda dengan pop yang renyah, gampang, mudah dinyanyikan hanya dengan meniru, seriosa perlu dipelajari. Si penyanyi setidaknya bisa membaca not, paham struktur lagu, dan berbagai elemen musik vokal. Karena itu, sejak 1950-an seriosa dijadikan musik pendidikan. Musik klasik versi Indonesia.

Belum lama ini Christopher Abimanyu, juara bintang radio dan televisi jenis seriosa era 1980-an dan 1990-an, menyanyi di Surabaya. Dia menemani Tantowi Yahya, presenter dan penyanyi country. Suara Abimanyu yang tenor dan dahsyat memang khas seriosa. Hanya saja, malam itu pria Bandung ini membawakan musik country. Duet dengan Tantowi.

Penonton senang karena bisa menikmati sajian yang unik. Tantowi yang biasa-biasa berduet dengan Abimanyu yang luar biasa di bidang olah vokal klasik. Tapi, aneh, karena komposisinya tidak cocok. Vokal seriosa dipaksakan di country atau pop. 

Jomplang! Sama dengan orang jalan-jalan ke pantai pakai setelan jas lengkap. Keren, elite, tapi bukan tempatnya. Tantowi memang sengaja mengundang Abimanyu sekadar memberi kejutan. Meramaikan konser ucapan syukur atas keberhasilannya di dunia hiburan selama 20 tahun. Bukan konser apresiasi musik!

Akhirnya, saya bisa menikmati nyanyian seriosa -- benar-benar seriosa Indonesia -- di Surabaya pada 18 Agustus 2009. Dewi Endrawati [foto], guru vokal dan asisten direktur Yayasan Pendidikan Gloria Surabaya, menyanyikan lagu KARAM karya Iskandar (almarhum). Konser kemerdekaan Surabaya Symphony Orchestra memang kerap menyisipkan satu dua nomor seriosa.

Suara si Dewi ini sebetulnya bagus. Tapi malam itu syair lagu tidak bisa ditangkap penonton di ballroom Hotel Shangri-La dengan jelas. Iringan musik orkestra menutupi vokalnya. Dan itu selalu menjadi persoalan dalam berbagai konser musik klasik di Indonesia. Suara manusia cenderung tenggelam.

"Iku lagu opo? Kok gak jelas ya?" begitu komentar seorang wartawan muda.

Musik seriosa memang sebaiknya dipentaskan di ruangan yang tidak terlalu luas. Cukup dengan iringan piano. Akustik ruangan harus bagus, sehingga tidak perlu pengeras suara, mikrofon, sound system, dan sebagainya. Hanya dengan begitu, audiens bisa menemukan keindahan musik vokal klasik ala Indonesia itu.

Celakanya, gedung konser macam itu belum ada di Surabaya. Yo opo maneh Cak!

26 August 2009

Malaysia Krisis Budaya


Malaysia, negara tetangga yang suka menyebut kita (Indonesia) "saudara serumpun", itu memang benar-benar bejat. Nihil etika, tidak punya budaya. Main klaim saja kesenian Indonesia. Dipakai sebagai ikon promosi pariwisatanya. Lagu Rasa Sayang,reog ponorogo, tradisi batik tulis, lagu keroncong, sekarang tari pendet.

Dan... entah apa lagi mengingat kita biasanya reaktif alias terlambat tahu dan terlambat tanggap.

Ada apa dengan Malaysia?

Apa gerangan yang sedang melanda pemerintah dan rakyat Malaysia?

Rupanya, negara jiran itu sudah mengalami krisis kebudayaan yang kronis. Merdeka dari Inggris pada 1957--bukan hasil perjuangan tapi hadiah kolonial--Malaysia berusaha membangun jati diri sebagai bangsa. 


Tiga kebudayaan besar, Melayu, India, Tionghoa, coba dikolaborasikan. Tapi Melayu yang 60 persen itu harus nomor satu. India dan Tionghoa jadi warga negara kelas dua. Melayu Malaysia yang memang terbatas kreativitas budayanya linglung ketika negaranya mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi. Cara termudah adalah mendaku kesenian dan kebudayaan negara tetangga, Indonesia.

"Ah, tenang saja, Indonesia itu kan negara serumpun. Negara pengirim babu-babu dan pekerja kasar. Negara yang suka bertengkar, sulit maju. Tak usah takutlah awak," kira-kira begitulah pertimbangan pihak-pihak di Malaysia yang selama ini mencuri seni budaya Indonesia. 

Toh, sebagai negara yang pandai bersilat kata, Malaysia--yang didukung kekuatan jahat neoimperialis--biasanya mampu "menemukan" bukti-bukti tertulis untuk memperkuat klaimnya. Kalaupun maju di mahkamah alias pengadilan, Malaysia selalu diuntungkan dan menang. Ingat kasus dua pulau, Sipadan dan Ligitan, yang berhasil dicolong Malaysia lewat mahkamah internasional.

Andai saja kesenian-kesenian kita yang diklaim Malaysia ini macam reog, pendet, batik dibawa ke mahkamah, kita senantiasa kesulitan mengajukan bukti-bukti tertulis. Yah, kita memang bangsa yang hidup dengan tradisi lisan, budaya omong, bukan budaya tulis. Dan kaum imperialis tahu benar hal itu. Maka, jangan heran berbagai dokumen dan arsip tentang Indonesia disimpan rapi oleh kolonialis di Belanda.

Kita, bangsa Indonesia, sudah terlalu sering diremehkan oleh negara tetangga, Malaysia. Sudah berapa banyak TKI (tenaga kerja Indonesia) disiksa, didera, diperlakukan layaknya binatang? Tapi ya tuan-tuan di Malaysia itu merasa berhak melakukannya karena mereka punya posisi sangat kuat. Sebagai majikan, kapitalis, pemilik uang, encik-encik itu merasa berhak menginjak-injak martabat manusia Indonesia.

Kita, juga pemerintah, pun tak bisa apa-apa selain marah, berteriak, kecam sana sini. Kenapa? Sejak merdeka 64 tahun lalu, negara belum mampu menyediakan lapangan kerja untuk semua rakyatnya. Alam kita luas, alam kita (katanya) kaya-raya, tanah subur, banyak mineral, samudera luas... tapi gagal dikelola dengan baik oleh pemerintahan Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Enam presiden ini gagal membuat negara kita maju, sejahtera, dan bermartabat.

Maka, klaim-klaim Malaysia atas kesenian dan kebudayaan kita, tak bisa dihentikan hanya dengan diplomasi alias musyawarah ala Melayu. Rayuan "saudara serumpun" jangan dihiraukan. Yang paling utama adalah membangun kekuatan ekonomi. Bagaimana membuat Indonesia, yang luas dengan 220 juta penduduk ini, maju, punya lapangan kerja untuk rakyatnya. Selama jutaan TKI masih mengemis-ngemis riggit di Malaysia, selama itu pula akan ada gerakan sistematis untuk mengacaukan Indonesia. 

Azahari Husen dan Noordin Mohammad Top, Ingat, dua raja teroris yang membuat kacau Indonesia selama 10 tahun terakhir, itu orang mana? Bukankah Azahari dan Noordin sudah membuat nama Malaysia tersohor di seluruh dunia? Kenapa pula harus mengklaim reog ponorogo, pendet bali, batik tulis, dan kebudayaan Indonesia? 

Tee Boen Liong Dalang Tionghoa



Gebyagan wayang mutikultur mengeti ambalwarsa Republik Indonesia kaing 64 ing tilas Rumah Sakit Mardi Santoso Jalan Bubutan Surabaya dhek 17 Agustus 2009 nyuguhake maneka rupa kesenian. Dalange ana sing Jawa, Tionghoa, Arab,lan sindene Landa.

Dening: ENDANG IROWATI
JAYA BAYA Minggu V Agustus 2009


Dalang telu sing pentas bareng ing lakon LAIRE GATOTKACA yakuwi Ki Enthus Susmono saka Tegal, Ki Tee Boen Liong saka Surabaya, lan Ki Jayus Musa Al-Jambari saka Jember. Ing tengah-tengahe pagelaran wayang diselingi barongsai lan reyog Ponorogo. Sinden manca sing ngramekake wayangan kuwi Elizabeth Karen saka Chicago, Amerika Serikat.

Kulo nyoba nlisik sapa sejatine dhalang keturunan Tionghoa kuwi kanthi wawancara ing studione, Jalan Kedungdoro 167B Surabaya. Wonge ganteng, umure 42, yen nganggo stelan beskap katon luwes senajan isih ketara yen dheweke turunan Tionghoa dideleng saka pakulitane sing kuning resik. 

Ki TEE BOEN LIONG ngono jeneng asline. Jeneng Jawa: Ki SABDHOSUTEJA.

Genaya tresna banget marang wayang?

"Engkongku Djie Siek Poo utawa Pawiro Kandar dhek taun 1960-an duwe grup wayang wong sing jenenge WARGA BUDAYA. Pentase ing gedung Pacarkeling. Wiwit cilik aku dijak dodolan karcis lan nonton nganti bubaran. Dadi kupingku iki wis kulina ngrungokake gending lan crita wayang." 

Saking senenge wayang, yen pentas ing Pacarkeling wis buyar, Boen Liong sing nalika iku isih balita njaluk nonton wayang maneh sing ana ing gedung Jalan kapasari. "Nek gak dituruti aku nangis gero-gero."

Nalika sekolah TK dheweke diblajarake njoget menyang Pardiono, pemain Petruk sing pentas ing gedung Kapasari. Wiwit SD digembleng ing kesenian Jawa. Kerep njoget Gatotkaca nalika pentas kesenian ing sekolahane, SD YPPI Surabaya. 

Kelas 4 SD sinau ndalang menyang Djojo Astino lan Karyono Samsuri. Umur 10 taun wis pentas ing Semut Baru kanthi lakon WAHYU CAKRANINGRAT, senajan anggone mayang mung rong jam. Kelas 2 SMP ngangsu kawruh ndalang menyang Ki Narto Sabdo ing Semarang nganti Ki Narto seda dhek 7 Oktober 1985.

"Jumat nganti Minggu aku budhal menyang Semarang dhewe," kandhane priya sing tau dadi juara siji festival dalang anak-anak tingkat Jawa Timur lan dadi 10 besar ing tingkat nasional kuwi.

Nalika isi sekolah SMP, Boen Liong wis bisa golek dhuwit dhewe kanthi cara main ludruk, wayang wong, lan nyewakake busana wayang lan busana tradisional. Sawise sekolah SMA nganti kuliah ing Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma dheweke kerep nampa tanggapan.

Putra mbarepe Tee Swie Liam lan Tan Gan Nio kuwi tau pentas keliling Indonesia. Sing manjila dheweke tau pentas keliling Indonesia. Sing manjila dheweke tau pentas wayang sing disengkuyung dening 84 seniman, 10 seniman saka 10 negara ing Klenteng Kwan Im Kiong ing Pamekasan, Madura, 8 Agustus 2009.

Pengrawit lan sinden sing nyengkuyung pakelirane ana sing saka Indonesia, Tiongkok, Jepang [wong loro], Hongaria, Inggris, Kamia [Afrika], Slovakia, Argentina, Skotlandia, lan Belanda. 

Sadurunge ngadani pentas sing disengkuyung 10 pemain saka manca negara kuwi Boen Liong dhek sasi Maret 2009 uga ngadani pentas sing disengkuyung dening pemain saka manca negara wong papat. (*)

25 August 2009

Selamat Jalan Lim Keng


Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis Lim Keng, yang dijuluki sebagai maestro sketsa, meninggal dunia di RS Darmo dalam usia 75 tahun, Minggu (23/8/2009) sekitar pukul 23.30 WIB.


DALAM empat bulan terakhir, kondisi Lim Keng menurun drastis. Tubuh pria kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, 9 Maret 1934, yang sejak dulu memang sudah kurus ini, semakin kurus dan kurus saja. Tinggal kulit pembalut tulang. Ini setelah Lim mendekam di RS Darmo, Jl Raya Darmo Surabaya, dalam waktu cukup lama.

"Bapak sangat sulit makan. Kalaupun makan hanya beberapa suap saja. Selera makannya hampir tidak ada," cerita Lim Ie Waliban, putra kedua Lim Keng, yang khusus datang dari Papua untuk menunggui papanya.

Kepada saya, Waliban sempat bercerita bahwa mula-mula Lim Keng hanya mengalami sakit perut biasa. Ternyata, kondisi tubuhnya yang rapuh--apalagi Lim Keng bertahun-tahun menjalani pola hidup vegetarian--tak mampu mengatasi gangguan yang semula dianggap ringan ini. Lim kemudian diopname di RS Darmo. 

Setelah kondisinya mulai membaik, Lim Keng dibawa pulang ke rumahnya di Undaan Kulon 125 Surabaya. Rumah sederhana di pinggir jalan raya ini sekaligus toko pracangan dan studio Lim. Saya sempat bertemu dan berbincang-bincang cukup lama dengan Lim di kamar tengah. 

"Saya merasa makin baik. Hanya perlu istirahat lagi sampai kondisi saya pulih. Untuk sementara saya nggak bisa buat apa-apa," ujar seniman yang dikenal dermawan ini.

Namun, ternyata kondisi Lim kembali memburuk. Untuk ketiga kalinya, Lim diopname di RS Darmo sekitar dua pekan lalu. Sejumlah seniman, relasi, dan kerabat kembali bergantian mengunjungi Lim di rumah sakit. Ajal tak dapat ditolak, Minggu tengah malam, Lim yang sempat mencicipi pendidikan di Akademi Seni Rupa Jogjakarta, 1964, ini tutup usia. 

"Kita kehilangan seorang maestro, seniman sketsa, yang sulit dicari tandingannya," ujar Herman Handoko, pelukis senior, kepada saya semalam.

Menurut Benk, sapaan akrab Herman Handoko, tidak banyak pelukis di tanah air yang mau menekuni sketsa secara konsisten seperti almarhum Lim Keng. Selain karena karya sketsa dianggap kurang ramah pasar, tingkat kesulitan sketsa sangat tinggi. "Sketsa itu kelihatannya gampang, tapi sangat susah. Harus sekali tarik garis dan langsung jadi," tegas Benk.

Kepada saya, Lim Keng sempat menceritakan proses kreatifnya di dunia seni rupa, khususnya sketsa. Pilihan berkesenian semacam ini jelas-jelas melawan arus utama di kalangan warga Tionghoa. "Waktu masih anak-anak, saya suka sekali menggambar. Saat pelajaran di sekolah pun saya menggambar, menggambar, menggambar," ceritanya.

Melihat ulah Lim Keng kecil yang nyeleneh, ayahnya Lim Ie Swan (almarhum) marah-marah. Lim Keng dihardik habis-habisan. "Jadi pelukis itu cari uang susah, kayak lotre. Lebih baik dagang saja. Kalau lukisan nggak laku, kamu makan apa?" pesan sang ayah.

Tapi Lim Keng tetap asyik dengan lukisan. Sempat kuliah di Asri Jogja selama dua tahun, suami Ernawati ini merasa kian mantap bergelut dengan lukisan. Melukis adalah jalan hidupnya, dan harus ditekuni secara serius. Dia ingin buktikan kepada sang papa bahwa pelukis pun bisa hidup. Tidak susah cari uang. 

"Akhirnya, ya, puluhan tahun saya tetap melukis dan bisa hidup," ujar pria yang paling suka mengenakan kaus kutang itu.

Alumnus SMA Pecindilan 1962 ini mengaku ingin menjadi diri sendiri. Tidak mau meniru gaya pelukis-pelukis lain meskipun nama mereka sudah terkenal. "Nah, saya pilih sketsa karena nggak banyak orang yang menekuni," katanya.

Proses membuat sketsa ala Lim Keng pun sangat unik. Pada 1960-an dia mencoba menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi dia tidak puas. Suatu ketika muncul ide orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup. Dan dari lubang kecil penutup botol itulah Lim mengeluarkan tinta untuk lukisan sketsanya. Sampai akhir hayatnya proses macam ibarat telah menjadi 'hak paten' Lim Keng. 

"Kayaknya di dunia ini hanya Lim Keng yang bisa melakukan. Sketsa sendiri sudah susah, karena hanya mengandalkan kekuatan garis, eh pakai botol cuka lagi? Lim sangat percaya pada kekuatan garis," puji Bambang Haryaji, pelukis senior Sidoarjo, yang juga sahabat Lim Keng.

Berbeda dengan pelukis-pelukis lain yang berkarya di studio, Lim Keng mengaku harus datang langsung ke lapangan. Melukis petani dan sapi, misalnya, dilakukan Lim di Trawas, Mojokerto. Melukis tarian barongsai, ya, dibuat di tengah atraksi barongsai. Karena itu, Lim kerap ditonton ramai-ramai oleh masyarakat. 

Tidak mengganggu konsentrasi? Ternyata tidak. Bagi Lim Keng, semakin ramai orang, sketsanya makin hidup dan semakin cepat rampung. "Saya butuh 15 menit untuk bikin satu sketsa," ujar pelukis yang tidak suka pameran ini.

Gara-gara masuk rumah sakit beberapa kali, sketsa-sketsa Lim pun jatuh ke tangan kolektor baik dari dalam maupun luar negeri. Nilainya sangat tinggi karena nama besar Lim Keng adalah jaminan mutu. Bahkan, menjelang kematiannya pun banyak pengusaha dan kolektor yang memesan sketsanya. "Tapi saya sudah tidak simpan lagi. Sudah laku semua," katanya.

Membuat sketsa baru, yang hanya butuh 15 menit, tentu tidak sulit bagi Lim Keng. Namun, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan ayah dua anak ini membuat sketsa langsung di lapangan. Belum lagi mood-nya yang tidak sebagus dulu. "Sketsa ini saya robek karena nggak pas dengan hati saya," ujar Lim Keng menunjuk sketsa seorang ibu menggendong anaknya.

Kini, peraih sejumlah penghargaan seni, termasuk dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, itu telah pergi. Selamat jalan, Om Lim! (*)

24 August 2009

Tanda Salib di Jawa





KONJUK ING ASMA DALEM HYANG RAMA,
SAHA HYANG PUTRA,
TUWIN HYANG ROH SUCI
AMIN


Setelah diskusi ngalor-ngidul membahas kebudayaan di Sidoarjo, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Teman-teman pelukis, pemusik, pengamat, pencinta kesenian, masyarakat umum, yang jumlahnya 70-an orang, dikasih nasi kotak. Lumayan untuk mengganjal perut yang keroncongan dari tadi.

Saya kaget melihat Mas Joko--pelukis, pernah mencetak rekor Muri (Museum Rekor Indonesia)--tidak langsung makan. Matanya terpejam, bikin tanda salib, berdoa... "Wah, rupanya Mas Joko ini orang Katolik yang taat," batin saya.

Pemandangan ini, bagi saya, terbilang langka di Surabaya dan Sidoarjo. Jarang sekali orang Katolik yang membuat tanda salib di tempat umum. Alasannya macam-macam: "Tanda salib dalam hati saja! Gak enak deh dilihat orang! Ntar dibilang apa? kita kan minoritas! Ntar jadi pusat perhatian! Toh, Tuhan tidak butuh simbol-simbol!" Dan sebagainya.

Selain Mas Joko, di acara diskusi ini setahu saya ada empat orang Nasrani (Katolik dua, satu Protestan, satu Pentakosta). Termasuk saya. Tapi hanya Stevanus Joko Lelono seorang yang bikin tanda salib dan berdoa cukup lama sebelum makan. Saya lalu menghampiri Mas Joko yang kelahiran Jogjakarta itu:

"Wah, sampean benar-benar hebat Mas!" sapa saya.

"Hebat apanya?"

"Sampean bikin tanda salib di depan orang banyak yang 99,5 persen non-Katolik! Terus terang, dalam dua tahun terakhir saya baru satu kali ini melihat orang Katolik bikin tanda salib di depan umum. Kalau berdoa, tanda salib di kantin gereja, sih biasa. Rombongan orang Katolik berdoa di tempat umum, tanda salib... sih biasa."

"Hehehe.... Sampean ini bisa saja," kata Mas Joko. "Gak tahu ya, sejak kecil aku memang selalu doa sebelum makan. Dan harus pakai tanda salib, di mana pun. Aku gak peduli itu di rumah, retoran, warung kopi, atau pertemuan publik kayak gini. Sudah kebiasaan sih," demikian pelukis berambut ikal yang tinggal di Perumahan Magersari Sidoarjo itu.

"Gak malu dilihat orang? Gak sungkan?"

"Ora. Lapo isin... Berdoa kok malu. Kalau melakukan kejahatan, nyolong, selingkuh, berkelahi... baru malu. Kalau tanda salib itu kan memang bagian dari cara berdoa menurut Katolik. Ya, saya lakoni. Aku ya gak sungkan dan gak pernah disindir wong," tegas Mas Joko mantap.

"Tapi di Jawa Timur ini kan Katolik itu minoritas. Gak sampai satu persen!" pancing saya sekadar membuat Mas Joko gregetan.

"Orang berdoa itu gak ada urusan dengan mayoritas minoritas. Doa ya doa, titik. Hehehe..."

Lantas, kami pun bicara panjang lebar tentang tradisi tanda salib di kalangan jemaat Katolik. Mengapa saya "menggugat" tanda salib Mas Joko di kumpulan peserta diskusi yang 99 persen Islam?

Karena memang itu tadi, di Pulau Jawa ini--kecuali di sejumlah kantong Katolik di Jogjakarta atau Jawa Tengah--jarang sekali ada orang Katolik yang begitu lugas bikin tanda salib kayak Mas Joko. Biasanya, ngintip sana-sini dulu, katanya lihat "sikon". Kalau dianggap kondusif, baru tanda salib.

Dan, biasanya, "sikon" itu sulit kondusif. Buktinya, saya perhatikan teman-teman, relasi, kenalan yang Katolik jarang sekali bikin tanda salib di depot, kafe, restoran, dan sejenisnya. Hanya berdoa diam-diam, dalam hati, sebelum makan.

Suasananya beda banget dengan di Flores yang Katoliknya mayoritas. Di mana-mana orang buat tanda salib, bahkan terlalu berlebihan tanda salibnya. Sebelum dan sesudah makan. Mau minum air tanda salib. Dapat mangga matang, tanda salib sebelum makan. Panjat pohon tanda salib. Mau belajar tanda salib. Meyakinkan teman atau relasi bahwa ceritanya benar-benar kejadian, bukan bohong, buat tanda salib.

Melihat pertandingan sepakbola atau voli atau apa pun dan pemain kesayangannya bikin gol, tanda salib. Atau, sebaliknya, pemain pujaannya gagal mencetak gol dari titik penalti, tanda salib. Hehehe... Orang Flores itu dalam soal tanda salib mirip orang Amerika Latin, Spanyol, atau Portugis yang sangat doyan bikin tanda salib. Jalan di tempat keramat atau angker, tanda salib dipercaya bisa mengusir setan-setan dan roh halus.

Maka, jangan heran kalau Anda menyaksikan pemain-pemain bola asal Brasil, Argentina, Spanyol, dan Portugis sangat doyan bikin tanda salib. Diego Maradona termasuk sangat ekspresif kalau bikin tanda salib.

Yah, itulah tradisi yang sangat lazim ditemukan di Flores atau Timor Leste. Ingat, agama Katolik di Flores dan Timor Leste memang mula pertama dibawa oleh misionaris asal Portugis pada abad ke-16. Pastor-pastor Ordo Dominikan ini awalnya membuka pusat misi di Pulau Solor, tak jauh dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Misi Solor kemudian dipindahkan ke Larantuka. Bahwa orangnya jarang ke gereja, tidak pernah sembahyang, itu urusan lain. Yang penting "atas nama Bapa" [istilah tanda salib di Flores].

Ada segelintir orang tua di kampung saya, Flores Timur, yang bahkan menganggap bahwa "atas nama Bapa" [di Jawa: "dalam nama Bapa", bahasa Latin: "in nomine Patris", bahasa Jawa: "Konjuk ing asma Dalem"] sudah bisa menggantikan sembahyang alias doa.

Tidak berdoa sebelum makan tidak apa-apa, asalkan bikin "atas nama Bapa". Lupa ke gereja juga tidak apa-apa asalkan tidak lupa "atas nama Bapa" sebelum makan dan minum. Ini pengalaman yang rasakan waktu kecil dulu. Hehehe....

Koyolnya lagi, pencuri yang hendak memanjat pohon kelapa milik orang lain pun tak pernah lupa "atas nama Bapa" alias bikin tanda salib. Kok bisa? "Supaya tidak jatuh. Kalau sudah tanda salib, kita lebih berani di atas pohon," kata teman-teman waktu kecil yang biasa memanjat kelapa orang lain. Hehehe....

Kembali ke Mas Joko, wong Katolik Jowo yang rajin buat tanda salib itu. Obrolan kami kemudian mengarah ke tradisi berdoa rutin. Mas Joko ini menyisihkan waktu cukup banyak untuk berdoa: doa sendiri, doa bersama istri dan anak. Kalau tidak ada kesibukan, dia aktif doa bersama jemaat di lingkungan.

"Doa itu kayak ngomong-ngomong sama Gusti Allah," kata pria yang juga pembuat patung kawakan ini. "Doa itu termasuk salah satu kebutuhan primer manusia."

Mendengar penuturan Mas Joko, saya yang asli Flores Timur, yang mayoritas Katolik, merasa tertohok. Kenapa? Orang-orang Flores yang tinggal di Jawa umumnya "menyesuaikan diri" dengan lingkungan baru. Kebiasaan membuat tanda salib, "atas nama Bapa", di mana pun tidak bisa dipertahankan di Jawa. Tetap rajin ke gereja, tapi membuat tanda salib di kafe, depot, restoran, warung... sudah jadi barang langka.

"Bagaimana ya? Ini Jawa Timur, bukan Flores Timur, Bung! Kita lihat sikonlah. Kalau kita 'atas nama Bapa', lantas kita jadi pusat perhatian, jadi bahan pembicaraan orang.... Yah, tanda salib dalam hati," kata Stefanus, orang Flores yang sudah karatan di Surabaya.

"Apa ada jaminan orang yang rajin tanda salib itu lebih baik?" tambahnya. Yah, gak ada yang bisa menjamin. Wong urusan rohani kok pakai jaminan segala?

Yah, pada akhirnya ya kembali ke masing-masing pribadi. Mau bikin tanda salib di mana pun ala Mas Joko, silakan! Berdoa diam-diam, tanda salib dalam hati, silakan! Tidak berdoa, silakan! Yang jelas, mengutip kata-kata Mas Joko, "Gusti Allah ora sare!"

Tuhan tidak tidur!

22 August 2009

Tong Sin Fu yang Disia-siakan



Oleh M. DINARSA KURNIAWAN
Wartawan Jawa Pos
Foto-foto: Xinhua, kantor berita Tiongkok


Salah satu orang penting di balik keberhasilan Tiongkok menguasai bulu tangkis dunia adalah Tong Sin Fu alias Tang Xianhu. Pelatih kelahiran Lampung itu pernah memoles generasi emas bulu tangkis Indonesia. Dia terpaksa kembali ke Tiongkok karena permohonannya menjadi WNI (warga negara Indonesia) ditolak.

Pria renta itu hampir selalu berada di tepi lapangan setiap kali Lin Dan tampil pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Kepalanya terbungkus topi dan sebuah tas diselempangkan di pundak. Lin Dan, pebulu tangkis tunggal pria andalan Tiongkok, selalu menoleh ke arah pria itu setiap kali lawan berhasil menerobos pertahanannya. Menunggu instruksi.

Lin Dan, yang sejatinya hanya diunggulkan di peringkat kelima, akhirnya berhasil menjadi juara dunia di Gachibowli Indoor Stadium, Hyderabad, 10?16 Agustus lalu. Keberhasilannya, antara lain, berkat instruksi pria tua yang tak lain adalah Tong Sin Fu, pelatih tim nasional (timnas) Tiongkok.

Itu adalah gelar juara dunia ketiga bagi pemain berjuluk Super Dan tersebut, setelah memenanginya pada 2006 dan 2007. Di partai final, Tong tak tampak di pinggir lapangan lagi. Alasannya, mungkin, partai tersebut mempertemukan sesama pemain Tiongkok, Lin Dan v Chen Jin.

Tong adalah sosok yang sangat berjasa bagi kemajuan bulu tangkis di negeri terpadat di dunia itu. Sentuhan magisnya membuat Tiongkok menjadi raksasa bulu tangkis di era modern ini. Para pemain Tiongkok, dalam beberapa tahun terakhir, memang bermain dengan kemampuan jauh di atas pemain mana pun. Tak heran, pada kejuaraan di India itu timnas Tiongkok hanya kehilangan gelar ganda campuran. Empat nomor lain dikuasai pemain Tiongkok. Bahkan, tiga partai final berlangsung antarpemain Tiongkok.

Sebaliknya, Indonesia terpuruk. Nova Widianto/Liliyana Natsir, satu-satunya wakil di final kerjuaraan itu,?dikalahkan duet Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Melatih pemain Tiongkok, kata Tong, tidak terlalu susah. Sebab, mereka sangat berbakat. "Di Tiongkok, para pemandu bakat telah menyediakan pemain-pemain bagus. Kami, para pelatih, tinggal memoles," katanya dengan bahasa Indonesia yang masih fasih.

Tong memang lahir dan besar di Indonesia. Tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. "Di Tiongkok, nama saya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tua saya memberi nama Tong Sin Fu," paparnya kala ditemui di sela Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Ketika masih menangani timnas Indonesia, dia punya nama Fuad Nurhadi.

Tak kurang dari tiga puluh tahun dia menjadi pelatih bulu tangkis. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai gantung raket. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an.

Kemudian pada 1986 Tong melatih di Indonesia. Awalnya, dia tidak menangani pemain Pelatnas Cipayung. Dia melatih di klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Ketika itu dia dikontrak USD 750 per bulan. Setelah itu Tong ditarik untuk menangani pebulu tangkis yang ditempa di Pelatnas Cipayung.

Ketika itu sejumlah pemain legendaris nasional masih di pelatnas. Seperti Liem Swie King di masa-masa akhirnya, Icuk Sugiarto, dan Hastomo Arbi. Kemudian, dia ikut membidani lahirnya para pemain generasi emas, seperti Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi.

Bahkan, Tong mengantarkan Alan meraih medali emas bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992. Waktu itu Susi Susanti juga berhasil meraih emas sehingga dijuluki pengantin emas. "Para pemain Indonesia saat itu memang berbeda dengan yang ada sekarang," katanya.

"Secara kualitas mereka lebih baik. Selain itu, saya lihat mereka punya semangat dan kemauan keras untuk menjadi juara," lanjut pria 68 tahun itu. "Filosofi saya sebagai pelatih adalah bukan pelatih yang harus pandai, melainkan pemain sendiri. Tugas pelatih hanya membantu," sambungnya. Pemain terakhir Indonesia yang ditangani adalah Hendrawan yang juga sempat menyabet juara dunia.

Tong Sin Fu melatih ganda putri Tiongkok Lin Ying dan Wu Dixi tahun 1982. 

Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. "Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama," kata pria yang kini menetap di Fuzhou tersebut. "Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata," katanya.

Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI. "Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut," kata suami Li Qing itu, sembari sesekali membenarkan letak topinya.

Meski begitu, dia belum tahu kapan akan pensiun sebagai pelatih. "Saya menikmati peran saya sekarang. Selama saya masih kuat, saya akan terus melatih. Sebab, di usia ini kalau tidak ada kegiatan, malah tidak enak," paparnya.

Di Tiongkok, Tong tak langsung melatih tim nasional, melainkan menjadi pelatih tim bulu tangkis Provinsi Fujian. Tak lama kemudian, dia melatih timnas Negeri Panda itu. Pada Olimpiade Sydney 2000, dia harus melihat anak didiknya, Xia Xuanze, menyerah di tangan Hendrawan yang pernah dilatihnya.

Namun, Hendrawan hanya meraih perak di Olimpiade itu setelah di final dikalahkan Ji Xinpeng, pemain lain Tiongkok. Salah satu keberhasilan Hendrawan saat itu berkat arahan Tong Sin Fu. Sebaliknya, keberhasilan Ji Xinpeng mengalahkan Hendrawan "yang kini melatih tim Malaysia" juga berkat sentuhan Tong Sin Fu.

Setelah itu Tong ikut membidani lahirnya para pebulu tangkis andalan Tiongkok saat ini. Misalnya, Lin Dan, Chen Jin, Bao Chunlai, dan ganda pria Cai Yun/Fu Haifeng. Nama-nama inilah yang beberapa tahun terakhir mendominasi peta persaingan bulu tangkis dunia. Bahkan, selain mengantarkan Lin Dan hat-trick juara dunia, dia berhasil mengantar Super Dan meraih medali emas Olimpiade Beijing tahun lalu.

Tong merupakan salah satu pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya, Hou Chia Chang, asal Surabaya. "Saya meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis," tutur bapak dua anak itu.

Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta.

Di Tiongkok karir bulu tangkis Tong Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975. Hou Chia Cang juga berhasil. Mereka berdua dijuluki Raksasa Tiongkok karena keperkasaannya.

Sayang, ketika itu pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama mereka berdua tidak begitu dikenal secara internasional. Tapi, pers Barat yang mengendus keberadaan mereka menganggapnya sebagai kekuatan tersembunyi. Tong hanya tampil di Ganefo (Games of The New Emerging Forces) 1963 dan 1966. Dia menjadi juara tunggal pria.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Tong dan Hou mulai menunjukkan kemampuan. Bahkan, di sebuah laga ekshibisi, Tong berhasil menggilas pemain terbaik Eropa saat itu, Erland Kops, dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0. Oleh pers Barat, Tong dijuluki The Thing.

Ketika itu dominasi tunggal pria dunia di tangan Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Tong maupun Hou tidak sempat ditarungkan dengan jagoan Indonesia itu.

Mereka pernah bertemu Iie Sumirat dalam sebuah even antarpemain Asia di Bangkok pada 1976. Iie Sumirat berhasil memecundangi keduanya. Saat dikalahkan Iie Sumirat, usianya sudah 34 tahun. Tak lama kemudian, dia memutuskan gantung raket, dan menjadi pelatih.

Tong mengaku, meski sudah tak tinggal dan melatih di Indonesia, dia terus memperhatikan perkembangan bulu tangkis di negeri kelahirannya ini. Dia tak menampik, saat ini prestasi bulu tangkis nasional memang tak sebaik di era-era sebelumnya. Tapi, dia yakin, Indonesia kembali bangkit. "Hanya masalah waktu menunggu bulu tangkis Indonesia berkibar kembali," ucapnya.

Dia mengaku masih punya banyak sanak-saudara di Indonesia. Sesekali dia pulang ke Indonesia. Kedua anaknya "dia tidak mau menyebutkan namanya" juga dilahirkan di Indonesia.

Tong adalah contoh mutiara berharga yang disia-siakan.

Tong Sin Fu melawan Hou Jiachang. Keduanya pemain top pada masa lalu.

BACA JUGA

PP 10 Mengubah Peta Bulutangkis

21 August 2009

Tak Mau ke NTT



"Buat apa tinggal di NTT? Mau kerja apa di sana? Ijazah S-1 gak kepakai. Percuma. Ruang gerak kita sempit. Kita hanya bisa lihat laut. Mau bikin apa-apa susah...."

Kata-kata ini disampaikan Chen Aifen, gadis Tionghoa, yang ayahnya lahir di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), kepada saya. Dia bicara dengan santai, tenang, tapi rasanya getir. Padahal, si Aifen ini dilahirkan oleh pria keturunan Tionghoa kelahiran Alor, NTT.

Si Aifen pun lahir di Alor. Tapi sejak usia tiga tahun dia sudah hijrah ke Jakarta, kemudian Surabaya. Pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA di Surabaya. Sekarang dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kristen Petra Surabaya.

Kamu pernah ke Alor? "Pernah. Hampir dua minggu saya berada di Alor, di rumah famili," akunya.

Karena terbiasa dengan irama hidup di kota besar yang cepat, luas, serbalengkap, gadis manis ini sulit mengikuti kehidupan masyarakat di kota kecil di Alor. Aifen sangat tidak betah berada di tanah kelahirannya, sekaligus kampung halaman bapaknya.

"Saya nggak ada minat ke sana. Kalau saya tinggal di Alor, apa yang bisa saya kerjakan? Paling buka toko. Itu pun kalau ada modal. Hehehe," ujar gadis yang suka blak-blakan ini.

Lain lagi si Thres, juga keturunan Tionghoa. Beda dengan Aifen, Thres ini asli Tionghoa Jawa Timur, tapi bersuamikan Tionghoa Flores Timur. Baba Tionghoa ini cukup terkenal di kampung halaman kami. "Saya gak ada minat tinggal di Flores. Kalau sekadar libur satu dua hari sih oke, tapi kalau menetap... no way!" katanya pedas.

Karena tiap hari berkumpul dengan orang Flores, baik yang asli maupun Tionghoa, si Thres yang lulusan Ubaya--Universitas Surabaya, kampus yang dominan Tionghoa--mengaku hafal karakter orang Flores. Celakanya, dia main pukul rata. "Ber.... aku malas banget bicara sama orang-orang dari kampungmu itu," katanya.

"Kan kampung suamimu juga!"

"Memang kampung suami saya ya Flores."

"Kenapa dengan orang Flores? Kok kamu suka sama si Flores, kemudian nikah dan punya anak?"

"Orangnya kebanyakan bicara, susah disuruh kerja, suka minum-minum.... Pokoke, aku gak senang."

"Suami juga begitu?"

"Hehehe... suamiku termasuk orang Flores yang baik. Dia gak kayak teman-temanmu itu."

"Yah, diingetin biar jadi orang baik kayak suamimu."

"Wis tak elingno, tapi angel. Sudah tahu salah, tapi ngeyel."

"Hmmm.... kamu kecewa kawin sama orang Flores?"

"Hussh... gak kecewa. Kan sudah jodoh."

Gang Dolly Ikut Puasa



PUASA DULU AH! Habis puasa.... hehehehe lagi. TOMAT: tobat, kumat, tobat... kumat maneh!

Gang Dolly? Ehmmm... Orang Surabaya, bahkan Jawa Timur, akrab dengan nama ini. Di sinilah pusat bisnis lendir nomor satu di Indonesia. Ada larangan resmi lewat peraturan daerah (perda), tapi de facto lokalisasi pelacuran ini eksis sejak 1960-an.

Jumlah pekerja seks di Gang Dolly tidak pernah jelas. Tapi, menurut Mbak Vera, aktivis organisasi nonpemerintah yang mendampingi para pekerja seks di Dolly sejak 1987, jumlah pekerja seks di Gang Dolly plus Jarak, tetangganya Dolly, mencapai 3.000 sampai 4.000.

Kamis, dua hari sebelum bulan puasa Ramadan, Gang Dolly tutup total. Semua wisma dipasang tulisan besar-besar: TUTUP. Setelah puasa, setelah Idulfitri, buka lagi seperti biasa. "Kita ikut aturan pemerintah saja. Dari dulu memang Dolly tutup untuk menghormati bulan puasa. Arek-arek iku kan puasa pisan," ujar Joko, sebut saja begitu, germo Gang Dolly.

Selain Gang Dolly dan Jarak, Surabaya punya beberapa lokalisasi yang "resmi tapi tidak resmi". Sebut saja Moroseneng, Bangunrejo, Kremil alias Wadungasri. Belum ditambah yang "benar-benar tidak resmi". Belum lagi pekerja seks panggilan di hotel-hotel kelas bawah sampai atas. Belum pekerja seks berkedok tukang pijat. Belum pekerja seks impor. Macam-macamlah.

Ribuan pekerja seks ini kerja keras selama 11 bulan. Siap meladeni gempuran macam-macam pistol air. Satu hari seorang pekerja seks di Gang Dolly rata-rata bisa melayani tujuh sampai delapan laki-laki pencari kenikmatan. Cewek yang laris manis, favorit, tentu lebih dari itu.

Capek? Bisa jadi. Karena itu, Ramadan merupakan momentum yang bagus untuk turun mesin. Istirahat sejenak sambil merenung, taubat, membersihkan diri. Kembali ke jalan yang benar. Uang banyak yang sudah diperoleh [ingat, perputaran uang di Gang Dolly luar biasa besar! Sekali tembak paling apes Rp 100.000] diharapkan jadi modal untuk membuka usaha baru.

"Kita sih inginnya setelah Lebaran mereka tidak kembali lagi ke Gang Dolly," ujar seorang pejabat seperti dikutip koran lokal. Dan, memang banyak pekerja seks yang memilih pensiun, taubat nasuha, setelah Idulfitri.

Tapi mengapa Gang Dolly terus hidup, tumbuh, kembang, dan melebar ke mana-mana?

"Waduh, saya sudah capek membahas pertanyaan itu. Kayak lingkaran setan. Setiap saat selalu ada anak baru yang direkrut ke Dolly. Setiap saat ada saja laki-laki yang butuh cewek-cewek muda. Pasokan ada terus. Lha, bagaimana Gang Dolly bisa tutup," tegas Mbak Vera, ketua Yayasan Abdi Asih itu.

Situasi ekonomi kita pun masih sangat buruk. Lapangan kerja terbatas. Cari kerja susah. Ijazah SMA, apalagi SD dan SMP, tidak ada harganya. Maka, gadis-gadis remaja di bawah 25 tahun mudah tergiur rayuan germo-germo Dolly. Ingat, jaringan dan kaki tangan germo-germo Surabaya ini menembus pelosok-pelosok Jawa Timur.

"Yang usianya sudah agak tua, di atas 25 tahun, pindah lagi ke lokalisasi lain. Begitu seterusnya. Dan ini membuat industri seks terus berkembang," kata Mbak Vera.

20 August 2009

Hokkian, Hokchia, Hinghua, Hakka





Oleh Wens Gerdyman
Arek Tionghoa Surabaya, tinggal di Amerika Serikat


Kebanyakan imigran Tionghoa di Asia Tenggara – dan karena itu di Indonesia – berasal dari dua propinsi di Tiongkok bagian selatan: Kanton (Mandarin: Guangdong) dan Hokkian (Mandarin: Fujian). Di Indonesia pada khususnya, lebih banyak yang berasal dari propinsi Hokkian dibandingkan dari Kanton.

Maka di jaman Hindia Belanda bahasa yang digunakan sebagai lingua franca di antara orang Tionghoa ialah bahasa Hokkian. Belakangan setelah gerakan nasionalis tumbuh di Asia, dan gelombang imigrasi baru dari Tiongkok datang di tahun 1930-an ke Asia Tenggara barulah bahasa Mandarin diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa.

Sebenarnya yang disebut bahasa Hokkian itu dituturkan hanya oleh mereka yang tinggal di bagian selatan propinsi Hokkian, karena itu dalam sebutan standar bahasa tersebut disebut bahasa Minnan (Min = bangsa Hokkian, nan = selatan). Bahasa Minnan ini banyak juga variasinya, yang dituturkan di Medan, Penang, Taiwan, Amoy (Xiamen), Tiochiu (Chaozhou), dll., tetapi garis besarnya sama. Kalau seseorang dari Medan bicara bahasa Hokkian menurut dialeknya, orang Taiwan kurang lebih masih bisa mengerti, dan sebaliknya.

Kebanyakan imigran Tionghoa berasal dari dua propinsi di pantai tenggara: Fujian (Hokkian) dan Guangdong (Kanton). Akan tetapi di dua propinsi ini pun orang dan bahasanya tidak seragam.

Yang tidak banyak diketahui orang ialah perkecualiannya. Banyak orang Tionghoa di Indonesia yang berasal dari propinsi Hokkian juga, tapi bagian utara. Mereka ini bahasanya lain, yaitu bahasa Minbei (bei = utara). Penutur bahasa ini yang paling banyak tinggal di kota Fuzhou (baca: fu-chow, atau Hokchiu dalam bahasa Minnan) dan Fuqing (baca: fu-ching, atau Hokchia dalam bahasa Minnan).

Di Indonesia, lebih banyak orang Hokchia daripada Hokchiu. Sedangkan di Malaysia, terutama di Serawak, lebih banyak orang Hokchiu. Dialek Hokchia dan dialek Hokchiu hampir sama, hanya lagu/intonasinya yang berbeda. Karena kota Fuzhou lebih besar, yang lebih diakui lebih standar ialah dialek Hokchiu.

Bahasa Hokchia ini banyak menggunakan bunyi sengau. Misalnya, almarhum kakek saya (lahir sekitar 1910, datang ke Indonesian sekitar tahun 1930) dulu kalau berpura-pura marah suka memanggil saya ngong-ngiang (ngong = bodoh, ngiang = bocah), yang dalam bahasa Minnan/Hokkian kata padanannya mungkin ialah khong kia.

Orang Minnan kalau mau makan bilang cia-peng, orang Minbei bilang sia-mang. Kalau mau pamitan bilang gua seng kia, orang Minbei bilang ngua sieng kiang, yang berarti saya jalan dulu, ya. Dari bunyinya yang mirip-mirip ini kitorang tahu bahasa-bahasa tersebut masih basudara.

Sampai sekarang pun, orang-orang dari sekitar Hokchiu/Hokchia ini masih berdatangan ke mana-mana, sah atau gelap: Jepang, Amerika Serikat, bahkan sampai ke kepulauan kecil di Pasifik yang bernama Mariana Islands. Pernah saya ajak papa saya jalan-jalan ke gunung di dekat taman nasional Yosemite di California, untuk melihat pemandangan salju.

Kita mampir di kota kecil di kaki gunung yang namanya Sonora. Di sana kita mampir makan di dua restoran Chinese pada hari yang berlainan. Yang satu, Great Wall, milik orang Hokchiu. Yang lain, Wok and Sushi, milik orang Hokchia.

Papa saya yang lahir dan besar di Surabaya sampai terkaget-kaget, di kaki gunung terpencil pun, orang Hokchia/Hokchiu bisa sampai ke sana dan jadi pemilik restoran! Karena papa saya (usia di tahun 2009 = 70 tahun) lancar berbahasa Minbei, dia mengajak pelayan restoran Great Wall untuk ngobrol dalam bahasa ibu.

Dia tanya, bisa pesan makanan Hokchiu nggak? Dijawab, nggak bisa, karena di sini mereka masak untuk pelanggan yang kebanyakan orang “hua-ngiang” (dalam bahasa Hokkian “huana”, artinya orang asli), jadi menunya yang umum-umum saja. Papa saya termenung sejenak, lho, kok di Sonora terpencil ini banyak orang Jawa? Akhirnya dia tersenyum sendiri, karena sadar yang disebut oleh pelayan tersebut sebagai orang asli ialah orang kulit putih, bukan orang pribumi dari Jawa!

Kota kecil Sonora di California pun, ada orang Hokchia!


Liem Sioe Liong, almarhum.

Di Indonesia, banyak orang Hokchia yang sukses menjadi pengusaha, misalnya Liem Sioe Liong (Sudono Salim), Tjoa Ing Hwie (pendiri perusahaan rokok Gudang Garam di Kediri dan Rumah Sakit Adi Husada di Surabaya), dan Alim Markus (bos Maspion), semuanya orang Hokchia.

Ada juga yang jadi olahragawan, seperti bekas pemain dan pelatih bulutangkis nasional Thing Hian Houw (Tang Xianhu), yang karena PP 10/1959 pergi ke Tiongkok. Entah kenapa, para pedagang kain di Surabaya pun semua orang keturunan Hokchia.

Orang Hokchia tentu membawa makanannya ke Indonesia. Misalnya roti bundar keras seukuran hamburger yang disebut kompiang (dalam bahasa Mandarin: guang bing. Ada kompiang kosong, dan ada kompiang isi (biasanya daging masak rumput laut).

Kompiang kosong lebih keras, dan paling bagus dimakan kalau masih hangat. Biasanya kompiang ini ditaburi biji wijen, dimakan hangat-hangat, bunyinya kriuk-kriuk, wah… Di Amerika Serikat yang paling dekat dengan kompiang ialah sejenis roti yang dibawa oleh orang Yahudi, yang disebut bagel.

Makanan lain yang disukai oleh orang Hokchia ialah Ote-Ote. Jaman saya masih kecil dulu (tahun 70-an), sebelum ada jalan tol Surabaya-Porong, ada restoran di pinggir jalan raya Porong yang menjual ote-ote yang sangat gurih dan terkenal. Namanya, ya Restoran Porong.

Yang suka makan, orang Tionghoa Surabaya yang dalam perjalanan ke Malang atau Batu untuk berekreasi. Gara-gara jalan tol, restoran tersebut jadi sepi, dan akhirnya dipindahkan ke kota Surabaya. Mungkin ada untungnya juga mereka pindah dari dulu-dulu, kalau tidak sekarang terkena bencana lumpur Lapindo.

Di keluarga saya, ada kombinasi favorit, yaitu kompiang keras, isinya yang lunak dikerok, kemudian dipanggang sampai hangat. Sudah begitu, dalamnya diisi ote-ote tiram goreng … mak nyuss katanya Bondan Winarno.

Makanan Hokchia favorit yang lain ialah bola-bola ikan (hie-wan). Tapi yang istimewa ialah hie-wan yang diisi daging. Bagian luarnya dari ikan terasa padat, bagian dalamnya daging cacah yang lembut, dan begitu digigit ada sedikit kaldu daging yang bocor dan terasa hangat di mulut. Dimakan dengan kuah yang ditaburi bawang hijau iris dan bawang goreng. Wah, sedap.


Acara pertemuan perkumpulan Hakka di Grand City Surabaya.


Selain orang Hokchia, orang Tionghoa dari propinsi Hokkian yang datang ke Indonesia ada juga yang berasal dari sekitar kota Putian, yang memanggil dirinya orang Hinghua (Mandarin: Xinghua). 

Bahasanya masih termasuk kelompok bahasa Min, tapi lain lagi dari bahasa Minbei/Hokchia dan bahasa Minnan/Hokkian, karena kota Putian ini ada di tengah-tengah propinsi antara Xiamen (pusat Hokkian selatan) dan Fuzhou (pusat Hokkian utara).Menurut sahibul hikayat, orang Hinghua ini pada waktu datang di Malaysia dan Indonesia pertama kali menjadi penarik becak atau rickshaw.

Dari situ mereka berkembang menjadi pemilik bengkel sepeda, lalu mempelajari pembuatan onderdil becak dan sepeda, sampai akhirnya menjadi pemilik toko dan pabrik sepeda, hehehe. Tidak percaya? Coba ke jalan Bongkaran di Surabaya, tanyailah pemilik toko sepeda, pasti orang Henghua. Tanya orang Tionghoa pemilik pabrik sepeda, kebanyakan pasti orang Hinghua.

Selama 18 tahun tinggal di Surabaya, jarang sekali saya bertemu dengan orang Kanton yang berbahasa Kanton, hanya ada satu-dua keluarga yang saya tahu. Pendatang dari propinsi Kanton yang paling banyak di Indonesia justru perkecualiannya, yaitu orang Hakka (Mandarin: Kejia).

Orang Khek ini menurut sejarahnya berasal dari Tiongkok utara (Tiongkok secara budaya dan geografis dibagi menjadi utara dan selatan oleh sungai Yang-tze). Kemudian karena perang atau bencana alam berangsur-angsur orang Hakka ini menetap di propinsi Kanton di perbatasan propinsi Hokkian.

Maka itu oleh orang Hokkian dan Kanton asli mereka disebut Khek, artinya tamu atau pendatang. Sudah begitu, keturunannya masih berimigrasi lagi ke Asia Tenggara. Kalau imigran pada umumnya punya reputasi sebagai pengambil risiko yang ulet bekerja, orang Hakka ini imigran kuadrat. Di kalangan orang Tionghoa, mereka mempunyai reputasi bagus sebagai kaum yang sangat menanamkan pentingnya keuletan, pengetahuan, dan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya. Perdana Menteri Singapura yang pertama Lee Kuan Yew ialah orang Hakka.

Karena dulu kebanyakan orang Khek lebih tinggi pendidikan dan ekonominya daripada orang Hokkian kebanyakan, ada prasangka buruk yang berkembang di antara orang Hokkian di Jawa, karena iri hati. Olok-oloknya antara lain: khek-lang, habis nyekek, hilang. Artinya, kalau tidak ada kepentingan ekonomisnya, orang Khek dianggap tidak mau solider dengan orang Tionghoa lain.

Mirip dengan stereotype orang Tionghoa pada umumnya di mata sebagian kalangan orang Indonesia pribumi. Mudah-mudahan sekarang sudah tidak ada lagi prasangka buruk dan salah ini. Karena toh semuanya sudah tidak lancar berbahasa Tionghoa. Mandarin saja sepatah-patah dan amburadul, apalagi Hokkian, Hokchia, Khek, Henghua … forget about it!

Hampir semua keturunan Tionghoa di Jawa mengambil identitas utama sebagai orang Indonesia, dan identitas ke-2 sebagai orang Tionghoa, titik. Ini bagus. Kalau mau belajar bahasa Tionghoa, ya belajar Mandarin saja, yang standar dan dimengerti orang semilyar. Hokkian, Hokchia, dll. Hanya sekedar tahu sajalah, untuk cerita ke anak cucu.

19 August 2009

Syukur karya H. Mutahar (SATB)



Husein Mutahar lahir pada 5 Agustus 1916. Ia tidak pernah mendapat pendidikan musik secara formal. Namun, bakat dan perkenalannya dengan doktor musik asal Polandia, Rudzit, menjadikan beliau dikenang sebagai komponis besar hingga saat ini.

Almarhum banyak menyumbangkan karya yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme generasi muda pada era perjuangan kemerdekaan. Kini, karya-karyanya tidak hanya dipelajari siswa sekolah, namun diperdengarkan pula saat upacara-upacara kenegaraan.

Ia mengecap pendidikan setahun di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada peridoe 1946-1947, setelah tamat dari MULO B (1934) dan AMS A I (1938). Pada tahun 1945, Mutahar bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947).

Jabatan terakhirnya adalah sebagai Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974), setelah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Vatikan (1969-1973).

Di samping himne Syukur, lagu ciptaan pertamanya yang diperkenalkan kepada khalayak pada Januari 1945, Mutahar juga mengarang lagu mars Hari Merdeka (1946). Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Pada 1946-1948, Mutahar menjadi ajudan Presiden Sukarno. Ia adalah penyelamat bendera pusaka Merah Putih saat Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia kala itu, dibombardir Belanda. Mutahar mengamankan bendera tersebut selama tujuh bulan agar tidak jatuh ke tangan Belanda.

H. Mutahar juga terlibat dalam gerakan Pramuka sejak awal lembaga kepanduan itu berdiri. Ia juga pengagas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Kwarnas Pramuka sebenarnya telah berencana untuk mengadakan konser untuk memperdengarkan karya-karya mantan ajudan Bung Karno tersebut. Tercatat 199 lagu menjadi karyanya.

Lelaki yang bisa berbicara dalam 12 bahasa itu dikenal sebagai budayawan yang lemah lembut dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Ia tidak pernah menikah, namun memiliki sembilan anak angkat yang sangat dekat dengannya. Kepada mereka, Mutahar sering berpesan agar menerapkan sifat jujur dan disiplin.

Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 9 Juni 2004, pukul 16.30, dalam usia 88 tahun. Pada detik-detik kematiannya, Pak Mut berpesan untuk dimakamkan di Taman Permakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta.

SUMBER NASKAH:
http://yulian.firdaus.or.id/2007/08/17/h-mutahar/

SUMBER PARTITUR:
Paduan Suara Mahasiswa Universitas Jember.

15 August 2009

Api Kemerdekaan (SATB - Acapella)




Menjelang Hari Kemerdekaan, Kodim Sidoarjo menggelar lomba paduan suara antarpelajar di Kabupaten Sidoarjo. Para petinggi tentara alias Kodim ini prihatin karena makin lama anak-anak muda tidak tertarik pada lagu-lagu nasional.

Jangankan lagu-lagu nasional yang masuk kategori "sulit", yang biasa dibawakan paduan suara mahasiswa, lagu-lagu nasional biasa saja banyak yang tidak hafal. Sebut saja Garuda Pancasila, Berkibarlah Benderaku, Dari Sabang sampai Merauke, Maju Tak Gentar, Hari Merdeka.... Bahkan, ini yang merisaukan, banyak anak muda yang tidak hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Hehehe.... Siapa yang salah? Apakah guru-guru di sekolah tidak pernah mengajarkan? Bisa jadi. Sekolah-sekolah kita memang lebih fokus ke mata pelajar yang diujikan di ujian nasional. Selain itu, di Jawa Timur ini banyak sekolah tidak punya guru yang bisa mengajar lagu-lagu kepada siswa. Alih-alih paduan suara.

Maka, lomba paduan suara di Sidoarjo itu kurang ramai. Peserta yang ikut tidak sesuai dengan harapan. Tak, apa pun juga, upaya Kodim Sidoarjo layak diapresiasi. Ketika budaya pop merajalela, ketika televisi begitu banyak, dan sebagian besar programnya hiburan, tak akan ada tempat bagi lagu-lagu nasional.

Hiburan itu penting dan selalu akan ada di setiap zaman. Namun, kalau kita sudah lupa bendera sendiri, lagu kebangsaan, lagu-lagu nasional, wah-wah... bagaimana nasib Indonesia ke depan? Nasionalisme? Patriotisme? Ah, hare gini ngomong nasionalisme.

Berikut saya perkenalkan lagu nasional API KEMERDEKAAN karya Joko Lelono dan Hartono. Lagu ini biasa dibawakan dalam lomba paduan suara pelajar dan mahasiswa. Aransemen acapella disusun oleh Nortier Simanungkalit, bapak paduan suara, guru musik klasik dan paduan suara yang luar biasa.

Komposisinya pendek saja, tapi tingkat kesulitan cukup tinggi. Butuh latihan tiga empat kali dengan penekanan pada produksi suara. Dirigen atau pelatih harus sangat memperhatikan teknik olah vokal mengingat ambitus atau rentang nada yang cukup lebar.

Lagu API MERDEKA harus dibawakan CON SPIRITO, penuh semangat. Bayangkan api yang membakar, berkobar-kobar. Namun, ada kontras di bagian kedua, AIR MATA BERLINANG SEGERA... dengan DOLOROSA: sedih, berduka, mengenang para pahlawan yang gugur di medan perang.

Nada dasar yang semula As berubah. "Do" tadi jadi "la" sekarang. Suasana ceria, berkobar ada tangga nada mayor berubah murung karena menggunakan tangga nada minor. Sopran, alto, tenor, bas seakan berjalan sendiri-sendiri alias polifonik. Dirigen harus bisa mengontrol penyanyinya, SATB, agar harmonisasi tetap terjaga.

Selamat mencoba!

Lupa Indonesia Raya




Sekadar mengingatkan tuan-tuan wakil rakyat, berikut saya tayangkan notasi lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman yang saya tulis berdasarkan ingatan. Mohon maaf kalau dirasa kurang tepat. Ampuuun pemerintah! Ampuuuun Pahlawan!

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia [DPR RI] di Senayan, Jakarta, lupa lagu Indonesia Raya? Haaa... haaaa... haaahaaa..... Juancuuuuk tenan!

Parlemen, yang dipimpin Agung Laksono, politikus Golkar, justru terjadi pada acara pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat 14 Agustus 2009. Mungkin anggota parlemen sudah pikun, maklum sudah tua-tua, atau terlalu asyik ber-POLITICKING, stres karena tidak terpilih lagi, atau memang SENGAJA.

Barangkali tuan-tuan di parlemen berpikir: "Buat apa nasionalisme simbolistik macam lagu kebangsaan, bendera merah-putih, lagu-lagu nasional, bahasa nasional... ketika gelombang globalisasi sudah begitu dahsyat. Memutar kaset lagu kebangsaan di DPR RI -- karena anggota parlemen kita, saya lihat, jarang menyanyikan Indonesia Raya -- toh tak akan serta-merta bikin negara maju, rakyat makmur toh?"

"Ha...ha... ha.... I love you full," kata Mbak Surip!

Ampun pemerintah! Ampuuuunnnn!!!!

Malam sebelum saya menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola di televisi: Argentina, yang dilatih mahabintang Diego Maradona, lawan tuan rumah Rusia, yang dilatih Guus Hidink. Meskipun hanya uji coba, pertandingan persahabatan, waduh... permainan kedua tim luar biasa. Argentina bagus, Rusia bagus. Penonton di Rusia senang, kita yang melekan juga tidak merasa rugi.

Terkait dengan Hari Kemerdekaan dan "Indonesia Raya yang terlupakan", sebelum laga bola digelar, lagu kebangsaan kedua negara dinyanyikan. Para pemain menyanyi, semua penonton berdiri, menghormati simbol kebangsaan negara sahabat.

Ketika giliran lagu kebangsaan Rusia dinyanyikan, wuiih... penonton yang 99 persen warga negara Rusia bernyanyi bersama. Negara-negara komunis, sosialis, atau bekas komunis-sosialis memang paling semangat dalam urusan menyanyikan lagu kebangsaan mereka.

Semangat luar biasa! Akhirnya, para pemain bola Rusia pun menyanyi keras-keras sambil berpelukan satu sama lain. Bangga bisa mewakili Rusia dalam pertandingan bola kelas dunia.

Tak hanya Rusia, pemain-pemain Jerman selalu menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh semangat. Pemain Italia suka menyanyikan keras-keras.... sehingga suara yang fals terdengar jelas di televisi.
Pemain Amerika Serikat menyanyi lagu kebangsaan dengan gaya orang Kristen Protestan berdoa: tangan kanan ditaruh di dada kiri (jantung), pandangan mengarah ke bendera Amerika Serikat.

Pemain Belanda dan Inggris, yang lagu kebangsaannya doa bagi sang ratu [kebetulan kepala negara Inggris dan Belanda perempuan], menyanyi dengan takzim. Indonesia bagaimana? Tuan-tuan wakil rakyat di Senayan, orang-orang hebat itu, lupa Indonesia Raya. Dan merasa tidak perlu ada Indonesia Raya.... barangkali!

"Ampuuuuun pemerintah! Ha ha ha....," kata Mbah Surip.

"Juancuuuuk!" kata arek-arek Surabaya.

14 August 2009

Konser ke-60 SSO


















Surabaya Symphony Orchestra (SSO) bakal menggelar Konser Kemerdekaan pada Selasa (18/8/2009) mendatang. Konser ke-60 satu-satunya orkes simfoni di Surabaya ini bakal dimeriahkan dengan sejumlah penyanyi dan musisi negara-negara sahabat.


Menurut rencana, konser yang berlangsung di ballroom Hotel Shangri-La, Jl Mayjen Sungkono 120 Surabaya, ini menampilkan Yang Yi Juen asal Tiongkok. Penyanyi, yang juga guru musik tradisional Tiongkok itu, membawakan lagu rakyat dari Xinjiang, kawasan otonomi khusus di Tiongkok.

"Judul lagunya: Pai Mi Er Wo Te Jia Xiang Duo Me Mei. Intinya, cerita tentang alam di Xinjiang yang sangat indah dan mempesona," jelas Solomon Tong, konduktor SSO, kepada saya.

Xinjiang, yang belakangan ini mencuat ke dunia internasional gara-gara kerusuhan rasial di Urumqi, menurut Tong, punya sejarah sangat panjang. Kawasan ini sejak dulu memang dikaruniai alam yang subur dan padang rumput yang sangat luas. Sehingga, sejak dulu Xinjiang dikenal sebagai pusat peternakan di Tiongkok.

"Lagu-lagu dari Xinjiang pun bagus-bagus. Nah, nanti yang penyanyinya langsung dari Tiongkok, sehingga interpretasinya lebih mantap," kata Solomon Tong yang lahir di Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939, itu.

Tak hanya bintang tamu dari Tiongkok. Dalam konser kali ini, SSO kedatangan bintang tamu dari Amerika Serikat. Mereka terdiri dari Aryo Wicaksono (piano), Kathryn Mueller (sopran), dan Nathan Krueger (bariton). Swara Sonora Trio ini tampil sekitar 20 menit. "Kebetulan salah satu anggotanya, Aryo, dulu murid sekolah musik di SSO. Mereka berkeliling ke berbagai negara membawa misi Unicef," papar Tong.

Namanya juga Konser Kemerdekaan, tentu saja lagu-lagu perjuangan tetap menjadi sajian utama. Sedikitnya ada lima komposisi yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Yakni, Melati di Tapal Batas (ciptaan Ismail Marzuki), Karam (Iskandar), Nun Dia di Mana (Ismail Marzuki), Kudengar Suaramu (PJ Leiwakabessy), dan Balada Kalimas (Yuana Arifien).

"Balada Kalimas itu sangat familier dengan orang Surabaya," ujar Tong menyebut lagu pop yang sangat terkenal pada tahun 1970-an itu. SSO juga mengajak paduan suara gabungan SDN Petemon 2, SMPN 12 Surabaya, dan SMA Trimurti untuk membawakan Balada Kalimas.

"Kita ingin tunjukkan bahwa konser kali ini bisa merangkul berbagai pihak baik dari dalam maupun luar negeri," pungkas Tong. (*)

13 August 2009

Seminari Tinggi Providentia Dei

Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ini benar-benar arek Suroboyo. Berani, ceplas-ceplos, selalu bikin keputusan dengan cepat. Banyak umat Katolik, yang sebagian berlatar belakang Jawa kulonan, mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan karakter Bapa Uskup.

Maklum, selama bertahun-tahun Uskup Surabaya dipegang imam-imam asal Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat yang karakternya kulonan. "Mgr. Sutikno ini punya kemampuan membuat gebrakan,' kata seorang teman yang aktivis gereja.

Gebrakan besar Mgr. Sutikno, menurut saya, adalah mendirikan seminari tinggi. Selasa 4 Agustus 2009 beliau memimpin misa pembukaan sekaligus meresmikan Seminari Tinggi Providentia Dei keuskupan Surabaya. Sebelum itu, terkait rencana bikin seminari tinggi, Mgr. Sutikno menarik semua frater asal Keuskupan Surabaya yang sedang belajar di Seminari Tinggi Interdiosesan di Malang.

Para frater itu dipindahkan ke Sasana Krida, Jatijejer, pusat pembinaan rohani milik Keuskupan Surabaya di kawasan pegunungan Trawas, Mojokerto. Mereka digembleng secara khusus. Pola pembinaan disesuaikan dengan kebutuhan umat Katolik di Surabaya. Sejak agama Katolik masuk ke Surabaya pada 1805, kalau tidak salah, Surabaya memang tidak punya seminari tinggi. Sekolah dianggap kota dagang yang sibuk. Kurang cocok untuk pembinaan para calon imam.

Maka, para frater asal Surabaya pun "dititipkan" di Malang, Jogjakarta, dan beberapa daerah lagi, termasuk luar negeri. Sejak dulu Keuskupan Malang dianggap "paling ideal" sebagai pusat pendidikan calon pastor di Jawa Timur.

Imej ini melekat bertahun-tahun di kalangan umat Katolik Surabaya. Bahkan, orang-orang Katolik di luar Jawa pun menganggap Malang lebih cocok untuk retret, pembinaan iman, kemping rohani, dan mendalami berbagai hal tentang kekatolikan.

Surabaya?

"Hahahaha..... Itu kan kota bisnis, pelabuhan, bandar udara internasional, bukan kota pendidikan," begitu pendapat yang sering saya dengar di kampung, Flores Timur. "Kuliah atau sekolah di Malang saja, kerja di Surabaya. Retret di Malang. Nuansa kerohanian di Surabaya hampir nggak ada," ujar salah satu paman saya yang memang menempuh pendidikan di Kota Malang yang sejuk dan indah itu.

Imej atau citra ini ternyata tidak belaku untuk Mgr. Sutikno Wisaksono. Begitu menggantikan mendiang Mgr. Johanes Hadiwikarta, yang orang Jawa Tengah, banyak sekali aksi konkret dilakukan Mgr. Sutikno. Yang kecil-kecil misalnya urusan parkir di seputar Gereja Katedral dan keuskupan dipermak habis. Pintu masuk keuskupan diubah.

Kalau dulu, bertahun-tahun, pintu masuk langsung dari jalan raya, sekarang dipindahkan ke samping. Harus lewat pintu masuk katedral. Sehingga, gereja katedral dan keuskupan menjadi satu kesatuan. Tidak terpisah kayak dulu. ini terobosan yang luar biasa. Dan tidak pernah dipikirkan banyak orang selama ini. Salut!

Terobosan paling berani tentulah Seminari Tinggi Providentia Dei. Saya termasuk dekat dengan para aktivis gereja, kenal baik dengan banyak romo dan orang-orang hebat di lingkungan Katolik. Selama 10 tahun menjadi umat di Keuskupan Surabaya, saya belum sekalipun mendengar ide membuat seminari tinggi. Membayangkan saja tidak.

Orang Katolik di Surabaya, setidaknya mayoritas, menganggap pola pembinaan calon romo dengan "menitipkan" ke sana sini, khususnya di Malang, sudah baik. Toh, sudah puluhan tahun polanya seperti itu. Toh, sudah menghasilkan banyak pastor yang menggembala domba-domba di 41 paroki Keuskupan Surabaya. Toh, uskup sekarang, Mgr. Sutikno Wisaksono, juga hasil pembinaan seminari di Malang.

Lha, buat apa capek-capek bikin seminari tinggi sendiri? Kan perlu gedung, tenaga pengajar, uang, siswa, fasilitas ini-itu, dan seterusnya. Kita sudah terjebak dalam "kenikmatan" zona nyaman selama 200-an tahun. Dan orang yang terbiasa hidup di "zona nyaman" memang sulit berpikir "keluar dari kotak"... kemudian bikin aksi.

Puji Tuhan, Mgr. Sutikno Wisaksono bukan tipe uskup yang menikmati zona nyaman. Beliau memikirkan jauh ke depan. Mempersiapkan imam-imam yang sesuai dengan situasi dan kondisi umat Katolik di Keuskupan Surabaya. Maka, lahirlah Seminari Tinggi Providentia Dei. Mgr. Sutikno Wisaksono menulis:

"Dengan berada di wilayah Keuskupan Surabaya, diharapkan para calon imam dapat mengenal situasi keuskupan sejak awal masa pembinaan, lebih mencintai panggilan mereka sebagai calon imam diosesan, dan kelak dapat melayani umat di Keuskupan Surabaya secara lebih efektif.

Dengan berada dekat uskup, diharapkan para calon imam sejak awal masa pembinaan dapat lebih mudah membangun kedekatan hati, pikiran, dan kehendak dengan uskup, dan nantinya dapat memahami, menghayati dan mewujudkan dengan tepat arti ketaatan imamat terhadap uskup selaku gembala keuskupan dalam kesatuan dengan para imam dan umat."



SEMINARI TINGGI PROVIDENTIA DEI

Pendiri : Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono
Tanggal pendirian: 4 Agustus 2009, peringatan Santo Yohanes Maria Vianney
Alamat : Hening Griya, Jl. Jemur Handayani XVII/20 Surabaya
Rencana : Membangun gedung lima lantai di Jl. Dinoyo 54-56 Surabaya.
Rektor : Romo Stephanus Fanny Hure
Telepon : 031 879 2427
E-mail : providentiadei@sby.dnet.id
Rekening: BCA Diponegoro Nomor 258 3560 777 (rupiah), BCA Diponegoro Nomor 258 3568 999 (dolar)

09 August 2009

TVOne vs Metro TV Memburu Noordin M. Top

Menyaksikan siaran langsung penyerangan yang dilakukan polisi terhadap rumah yang dihuni buron teroris kakap Noordin M. Top di Desa Beji, Temanggung, Jumat sore sampai Sabtu siang kemarin, perasaan saya campur aduk: mula-mula tegang, lalu menjengkelkan, berkembang ke rasa bangga, dan berakhir agak kecewa.

Oleh DAHLAN ISKAN

Sumber: Jawa Pos Minggu, 09 Agustus 2009

Mula-mula, Jumat sore, saya pindah-pindah saluran antara TV One dan Metro TV. Agak malam, saya terus-menerus melihat Metro TV. Terasa sekali, dua stasiun TV itu bersaing dalam menyajikan peliputan terbaik. Dan Metro TV saya nilai menang tipis malam itu. Hanya sesekali saya mengecek ke saluran TV One, terutama kalau di Metro TV lagi siaran iklan.

Mengingat sampai pukul 00.00 belum ada tanda-tanda akan ada penyelesaian, saya memutuskan untuk tidur. Hari itu (7/8), saya baru memperingati tepat dua tahun menjalani transplantasi hati. Masih harus menjaga diri agar jangan tidak tidur semalam suntuk. Saya menduga, penyerangan finalnya baru dilakukan pukul 03.00 atau 04.00. Sebagai orang yang pernah lama jadi wartawan, saya hafal: polisi sering melakukan penyergapan penting pada dini hari.

Tapi, saya tidak bisa tidur nyenyak. Pesawat TV memang tidak saya matikan. Mata saya menutup, tapi telinga membuka. Pukul 04.00 kurang, mata saya kalah dengan telinga. Saya ingin segera tahu apa hasil penyerangan final yang saya perkirakan sudah selesai dilakukan. Saya lirikkan mata yang masih mengantuk itu ke layar TV. Ternyata masih sama dengan sebelum saya tidur.

Metro TV hanya menampilkan wawancara kurang menarik dengan pengamat intelijen. Mata sudah telanjur melek. Iseng-iseng saya coba pindah ke TV One. Terbelalak. TV One menyajikan gambar dari jarak dekat. Bahkan, tak lama kemudian, TV One mereportasekan adanya robot yang disuruh keluar-masuk ke rumah persembunyian Noordin M. Top itu.

Kian jelas TV One mulai menang terhadap Metro TV. Bahkan, menang telak. Sesekali saya pindah ke Metro TV, masih meneruskan wawancara kurang menarik itu. Saya kian tidak mau lagi pindah dari TV One. Saya sangat memuji kegigihan TV One dalam ''membalas" kekalahan tipisnya menjadi kemenangan telak itu. Penjelasan mengenai dilibatkannya robot dalam operasi tersebut sangat menarik. Meski saat itu gambar robotnya belum terlihat, penyebutan dikerahkannya robot dalam operasi tersebut sangat membangunkan saya.

Terus terang, saya belum pernah melihat robot polisi atau polisi robot yang disebut-sebut oleh penyiar TV One itu. Apalagi penyiar TV One tidak pernah mendeskripsikan seperti apa bentuk robot polisi tersebut. Sambil memperhatikan gambar di layar, saya terus membayangkan dengan imajinasi saya sendiri mengenai bentuk robot yang dimaksud. Yakni, sebuah robot seperti boneka kecil yang matanya adalah kamera. Lama sekali saya membayangkan robot seperti itu karena di layar memang belum pernah terlihat bentuk robot yang dimaksud.

Baru pada pukul 05.30 tepat, terlihatlah robot yang dimaksud di layar TV One. Ternyata seperti tank dalam bentuk lebih kecil. Yakni, berukuran panjang sekitar satu meter. Tangan-tangannya berada di atas kendaraan kecil itu. Tangan itulah yang membawa kamera dan benda-benda yang diperlukan untuk diletakkan di tempat sasaran.

Dari sinilah saya lantas menarik kesimpulan: rupanya, penyerangan tidak dilakukan dini hari tersebut karena masih menunggu datangnya robot dari Jakarta. Kehadiran robot tersebut amat penting sebagai langkah hati-hati. Jangan sampai ada petugas yang jadi korban. Sebab, berbagai pertanyaan mengenai apa saja yang ada di dalam rumah di sebelah bukit itu memang masih belum terjawab. Misalnya, berapa orang sebenarnya yang ada di dalam rumah itu. Ada berapa senjata dan jenis apa saja. Adakah bom tersimpan di sana dan seberapa besar.

Pengintaian yang terbaik dan paling tidak membawa risiko adalah pengintaian cara modern dengan robot. Tapi, saya tidak pernah menduga bahwa Densus 88 dilengkapi robot! Mendengar digunakannya robot tersebut dan kemudian melihat di layar kaca mengenai bentuknya, saya benar-benar bangga kepada polisi Indonesia. Tidak sejelek yang banyak dikatakan orang.

Dengan melihat robot itu, kejengkelan saya mengenai lamanya proses pengepungan tersebut hilang sama sekali. Semula saya bertanya-tanya mengapa proses itu begitu lama? Sebegitu kuatkah Noordin M. Top? Kurang merasa kuatkah Densus 88? Tapi dengan munculnya robot di pagi buta itu, saya mengakui bahwa polisi memang perlu menggunakan adagium ''lebih cepat lebih baik".

Menunggu datangnya robot bisa dibilang ''lambat tapi tepat". Untuk apa juga cepat-cepat tapi ceroboh. Toh, sang buron tidak akan bisa lolos lagi. Pengepungan sudah dilakukan secara tepung-gelang. Posisi rumah ''itu" juga sangat ''enak" untuk dikepung. Bahkan, banyak wartawan saya yang dengan guyon mengatakan ''lebih baik pengepungan dilakukan satu minggu". Lebih dramatik.

Menjelang fajar itu, perkembangan memang sangat dramatis. Untuk memasukkan robot, pintu depan harus diledakkan dulu agar terbuka. Lalu, robot masuk. Wartawan TV One, kelihatannya, berhasil mengambil posisi bersama polisi yang membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu, wartawan TV One bisa melaporkan mengenai keadaan di bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. ''Mata" robot lantas bisa melihat ada pintu tertutup yang menghubungkan bagian depan dan bagian belakang rumah itu. Maka, robot ditarik kembali ke luar.

Tugas robot rupanya masih panjang. Dia harus masuk lagi ke rumah tersebut dengan membawa bahan peledak. Yakni, untuk ditempatkan di dekat pintu tertutup itu. Asumsinya, para teroris sudah pindah ke bagian belakang rumah. Mungkin, sejak diledakkannya pintu depan. Bukankah sebelum itu masih ada perlawanan dari dalam rumah bagian depan? Yakni, berupa tembakan beberapa kali, terutama antara pukul 21.00 sampai 01.00?

Tugas meletakkan bom kecil di dekat pintu tertutup tersebut, rupanya, berhasil dilakukan robot dalam waktu cepat. Robot lantas ditarik keluar. Tak lama kemudian: blaaar! Ledakan berskala sedang terdengar. Jendela-jendela tergetar dan mengeluarkan percikan debu serta pecahan kaca. Itu pertanda pintu yang dimaksud mestinya sudah terbuka. Sang robot kembali ditugaskan melakukan pengintaian. Masuk ke bagian belakang rumah tersebut. ''Mata" robot melihat ke sana kemari, tapi tidak ada apa-apa. Kecuali barang yang berantakan. Berarti, tidak ada kemungkinan lain kecuali satu ini: sang buron menyingkir ke kamar mandi. Apalagi, jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Saatnya semua orang menunaikan hajat....

Apakah robot ditugaskan kembali untuk meledakkan pintu kamar mandi? Ataukah ditugaskan kembali membuka pintu belakang rumah itu? Ternyata tidak. Hasil perhitungan polisi tentu sudah final: Noordin M. Top terpojok. Lebih gampang menyergapnya.

Tugas membuka pintu belakang, rupanya, diserahkan kepada juru tembak yang ada di bukit di belakang rumah tersebut. Puluhan polisi memang sudah bertengger di bukit yang hanya sedikit lebih tinggi daripada atap rumah itu. Serentetan tembakan diarahkan tepat mengenai tembok di sekitar kusen pintu belakang tersebut. Rentetan tembakan itu begitu akurat sehingga seluruh dinding di sekitar kusen menganga. Pintu pun roboh beserta kusennya. Karena itulah, meski tidak terlihat di layar TV, saat itu debu tembok bergumpal-gumpal seperti awan di bagian belakang rumah tersebut.

Selanjutnya, penyerbuan dilakukan dari banyak arah. Pemirsa TV One mengharapkan terjadinya klimaks yang dramatik. Pemirsa, seperti saya, berharap inilah untuk kali pertama dalam sejarah liputan langsung peristiwa seperti itu bisa ditonton secara live! Saya membayangkan seperti saat saya berada di AS dulu, yakni TV sedang melakukan siaran langsung pengejaran buron O.J. Simpson yang melarikan mobilnya di sepanjang jalan bebas hambatan No. 5. California. Klimaks pengejaran berjam-jam itu hebat sekali. Kita bisa melihat bagaimana polisi menaklukkan mobil O.J. Simpson, bintang American football yang legendaris itu.

Saya juga bisa berharap mengulangi menyaksikan siaran langsung pembajakan bus sekolah di Florida beberapa tahun kemudian. Berjam-jam kita bisa mengikuti perjalanan bus sekolah yang dibajak itu ke mana-mana sampai pada klimaksnya.

Dalam hal penyerangan rumah teroris di Temanggung kemarin itu, pemirsa tidak mendapatkan klimaks yang diharapkan tersebut. Ketika reporter TV One melaporkan pandangan mata mengenai klimaks itu, yang muncul di layar adalah gambar-gambar yang diambil sebelumnya yang diulang-ulang. Yakni, gambar beberapa polisi memasukkan pipa paralon yang ujungnya diberi pengait itu. Akibatnya, imajinasi pemirsa tidak nyambung.

Klimaks peristiwa itu seperti laporan pandangan mata dari radio. Reporter memberitahukan dengan baik bahwa polisi yang baru saja masuk rumah tersebut sudah kembali keluar lagi dengan memeragakan toast kepada polisi yang lain. Ini pertanda penyerangan telah selesai dan polisi meraih sukses. Klimaks seperti itu bahkan lebih jelak daripada siaran radio.

Di radio, pendengar bisa berimajinasi secara penuh. Di layar TV One kemarin, imajinasi pemirsa terganggu oleh tayangan gambar di layar. Di suara sudah menyebutkan selesainya penyerangan itu, tapi di layar masih menggambarkan upaya keras para polisi memasukkan pipa paralon. Gambar itu "merusak" imajinasi karena pemirsa terpengaruh oleh tulisan "langsung" di layar. Padahal, yang dimaksud "langsung" adalah suaranya. Bukan gambarnya.

Apa pun, TV One harus diacungi jempol. Begitu telaknya kemenangan TV One sampai-sampai reporter Metro TV perlu menyampaikan kepada permirsa bahwa Metro TV hanya bisa mengambil gambar dari jarak jauh karena ingin mematuhi etika peliputan. Maksudnya: TV One telah melakukan pelanggaran.

Saya tidak mengomentari itu pelanggaran atau bukan. Yang jelas, TV One berhasil membina hubungan yang demikian hebat dengan pihak kepolisian sehingga bisa menitipkan juru wartanya bersama tim inti penyerangan yang bersejarah itu.

Dalam posisi Indonesia yang seperti sekarang, saya menilai siaran langsung kemarin membawa dampak yang amat baik. Terutama bagi tumbuhnya kepercayaan diri bahwa bangsa ini selalu mampu keluar dari kesulitan. Asal kita memang sungguh-sungguh. Dunia harus melihat itu. Sedangkan kita harus bertekad untuk lebih sering sungguh-sungguh.

Saya teringat akan kata-kata mantan Dandensus 88 Brigjen Surya Dharma, juga di TV One. "Berilah waktu. Adik-adik saya pasti mampu membongkar ini. Mereka itu hebat-hebat," katanya.

Saya pernah bepergian jauh selama empat hari bersama Brigjen Surya Dharma. Saya tahu kehebatannya. Saya juga tahu komitmennya yang benar-benar I love you full soal pemberantasan terorisme. Termasuk perhatiannya kepada orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Waktu itu saya mendoakan agar dia tidak dipensiun. Saya kaget ketika tahu bahwa masa dinasnya ternyata tidak diperpanjang. Lebih menyesal lagi ketika tak lama kemudian terjadi peledakan bom di Marriott dan Ritz- Carlton. Saya agak ragu apakah "adik-adik saya" sebaik dia.

Ternyata dia benar. "Adik-adik saya" itu sangat membanggakan bangsa Indonesia.

08 August 2009

Slamet A. Sjukur Mengenang Rendra

Oleh SLAMET ABDUL SJUKUR, komponis


Suatu hari dia membawa rekaman CD TROUBLED WATER dan menayangkannya untuk teman-teman di Akademi Jakarta. Pak Kusnadi, ketua AJ waktu itu, juga ikut nonton. Tidak ada tanda-tanda pak Kus akan meninggalkan kita semua minggu depan karena ikut terbakar dalam kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta.

TROUBLED WATER tentang nasib para nelayan Indonesia di perluasan perairan Australia.

Betapa sengsaranya menjadi nelayan yang turun menurun mencari ikan di laut lepas, tiba-tiba ditangkap kapal patroli Australia karena disalahkan memasuki kawasan negaranya. Perahunya ditembaki dan dibakar, para nelayan digiring ke Australia di interogasi, dimasukkan penjara berbulan-bulan.

Rendra sangat prihatin pada masalah kelautan Indonesia. Suatu masalah yang sangat penting. Tapi sayang tenggelam karena hal-hal lain, termasuk hiruk-pikuk pertikaian kepentingan politik kelas kambing.

Rendra juga punya perhatian khusus pada generasi muda yang diyakininya punya potensi luar biasa. Umumnya angkatan tua memandang mereka hanya dengan sebelah mata, karena dipandang tidak punya pengalaman, baru ingusan.

Tapi Rendra dengan penuh semangat mengingatkan tentang Airlangga yang ketika masih usia 11 tahun sudah dipercayai kakeknya untuk mengatasi berbagai kemelut besar di nusantara. Dan terbukti dapat menyelesaikannya dengan arif dan bijaksana dalam waktu yang singkat.

Masyarakat punya anggapan awam sekali terhadap penyair. Mereka membayangkan penyair kerjanya cuma melamun di tempat sepi dan menuliskan ilhamnya menjadi sajak-sajak untuk dimuat di halaman tambahan berbagai surat kabar. Tidak serius. Beda dengan direktur bank atau para menteri.

Sekolah-sekolah juga tidak mengajarkan bahasa Indonesia sebagai kesadaran yang sangat penting peranannya. Orang cenderung memperhitungkan hidup hanya dari kesibukan yang nampak di luar, sebatas jadwal kerja kantor.

Jakarta, 7 Agustus 2009

(7.8.9 = 24 = 6 = yin, perempuan, bumi, penerima).

Subronto Kusumo Atmodjo - Paduan Suara




"Tidak ada paduan suara yang buruk. Yang ada hanyalah pemimpin paduan suara yang buruk." -- KURT THOMAS



Ada beberapa mahasiswa yang memanfaatkan tulisan-tulisan saya tentang paduan suara di blog ini. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan literatur paduan suara di tanah air. Apalagi, bahan-bahan itu dibutuhkan untuk menyusun skripsi atau tugas akhir.

"Anda menulis artikel paduan suara itu pakai sumber apa? Boleh disebutkan buku-bukunya?" begitu antara lain pertanyaan adik-adik mahasiswa. Sikap kritis yang wajar dan harus dilakukan mahasiswa, calon sarjana.

Sebagai bekas aktivis paduan suara mahasiswa, tentu saja saya membaca banyak literatur paduan suara. Juga partitur baik yang sederhana maupun tergolong sulit. Sayang, sebagian besar referensi saya sudah "diwariskan" kepada teman-teman atau adik-adik yang masih aktif di paduan suara.

Saya sendiri sudah 10 tahun lebih "lengser" dari paduan suara. Namun, saya masih tetap "terlibat" dalam paduan suara sebagai penikmat atau pengamat. Pengamat kelas amatiranlah.

Setelah mendapat e-mail dari Bernida, mahasiswa di Jakarta yang hendak menulis skripsi tentang paduan suara, saya mencoba membongkar arsip lama. Yah, akhirnya ketemu buku tipis karya Subronto Kusumo Atmodjo berjudul Panduan Praktis Memimpin Paduan Suara. Buku ini dulu--mungkin juga sampai sekarang--banyak dipakai aktivis paduan suara di lingkungan gereja-gereja Kristen Protestan dalam membina paduan suara gerejawi.

Subronto Kusumo Atmodjo lahir pada 1929 dan meninggal tahun 1982. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk musik vokal, khususnya paduan suara. Ada 11 lagunya dimuat di buku nyanyian rohani KIDUNG JEMAAT. Yang menonjol dari mendiang Subronto adalah sebagian besar komposisinya menggunakan nada-nada pentatonis ala Indonesia atau Timur. Padahal, almarhum adalah komponis lulusan Eropa.

"Subronto Kusumo Atmodjo merupakan salah satu musisi terbaik yang pernah dimiliki negeri ini," tulis J.M. Malesy, editor musik pada Penerbit BPK Gunung Mulia. "Subronto itu selama 30 tahun lebih berpengalaman dalam membina paduan suara di tanah air."

Berbagai jenis paduan suara pernah ditangani Subronto Kusumo Atmodjo. Paduan suara gerejawi, non-gerejawi, anak-anak, wanita, pria, paduan suara amatir hingga yang kelas wahid. Salah satu komposisi Subronto Kusumo Atmodjo yang sangat berbobot adalah BINTANG BETLEHEM, kantata Natal dalam modus pentatonik Jawa. Kantata dengan iringan orkestrasi lengkap ini ditampilkan ada 1981.

"Itu pergelaran terakhir dari beliau," kata Malesy yang juga komposer musik gerejawi.

Dalam bukunya, Subronto K. Atmodjo sangat menekankan peran sentral seorang dirigen alias konduktor alias pengaba dalam paduan suara. Dirigen, kata Subronto, harus punya bakat atau kecakapan bawaan. Punya pendengaran yang baik. Bisa bicara dengan enak di depan para penyanyi. Harus bisa mengorganisasi anggota.

"Syarat terpenting: sikap tenang dan sabar.... Seorang dirigen tak boleh gugup dalam situasi yang paling pelik sekalipun," tulis Subronto Kusumo Atmodjo.

Dirigen juga harus punya pendidikan musik. Harus tahu seluk-beluk atau lika-liku musik. Dia harus bisa mendidik anggota agar bisa menyanyi dengan baik. "Seseorang hanya bisa menjadi pemimpin paduan suara yang baik apabila ia sendiri juga dapat berfungsi sebagai penyanyi paduan suara yang baik," tegas Subronto.

Dia mengingatkan, para solis yang bersuara indah belum tentu mampu bernyanyi dengan baik dalam paduan suara. Bisa jadi, mereka malah merusak paduan suara. Subronto menunjuk contoh bagaimana para jawara bintang radio menyanyi bersama usai perlombaan. "Kita pasti menderita sekali karena komposisi warna suara mereka berantakan," tulis Subronto.

Subronto Kusumo Atmodjo juga sangat cermat dalam diksi. Syair atau lirik yang digunakan tidak sembarangan. Menurut dia, banyak sekali komponis kita yang belum menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Maka, tak jarang lagu-lagu Indonesia sulit dipahami maknanya akibat lirik yang "asal tempel".

Subronto memberi contoh lagu RAYUAN PULAU KELAPA karya Ismail Marzuki yang terkenal itu. Ada kalimat: ... berbisik-bisik raja kelana...

"Apa yang dimaksud dengan 'raja kelana'? Mengapa 'berbisik-bisik'? Apa hubungan antara 'berbisik-bisik', 'raja kelana', dan 'nyiur di pantai yang melambai'?" gugat Subronto.

Almarhum juga mengkritik syair lagu GARUDA PANCASILA (karya Prohar) yang tekanan kata dan tekanan musiknya tidak pas. Akibatnya, lagu nasional itu sering dipelesetkan dengan "... riba-riba saku", padahal maksudnya "pribadi bangsaku".

"Kita berharap agar komponis-komponis baru kita lebih baik pengetahuan bahasa dan sastra Indonesianya sehingga membantu mengurangi problem-problem para penyanyi dan para pemimpin paduan suara," imbau Subronto Kusumo Atmodjo.


Pada 1980-an dan 1990-an, ketika televisinya hanya satu (TVRI), dan rezim Orde Baru berkuasa, setiap tanggal 17 malam ada acara CINTAKU NEGERIKU setelah DUNIA DALAM BERITA. Selama 30 menit paduan suara mahasiswa (PSM) menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah.

Salah satu karya Subronto Kusumo Atmodjo, BETAPA KITA TIDAK BERSYUKUR, sering diperdengarkan di acara tersebut. Komposisinya sederhana, nada-nada pentatonik, dengan pilihan kata (diksi) yang khas Subronto Kusumo Atmodjo.
Selamat mencoba!


REFERENSI

Subronto Kusumo Atmodjo: Panduan Praktis Memimpin Paduan Suara, 1985, 102 halaman, PT BPK Gunung Mulia Jakarta.

Yayasan Musik Gereja, Jakarta: Kidung Jemaat Empat Suara, 2001, 500 halaman.