15 July 2009

Yuyun Kho - Eng An Bio Bangkalan



Sejak kecil Yuyun Kho berada di lingkungan klenteng alias tempat ibadat Tridharma (TITD). Kini, di usia 65 tahun pun Yuyun tak bisa dilepaskan dari klenteng.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Saya menemui Yuyun Kho di TITD Eng An Bio, Jalan Panglima Sudirman Bangkalan, Selasa (14/7/2009). Sekalian menjajal Jembatan Suramadu. Yuyun Kho sibuk meracik kertas untuk keperluan ritual ala Tionghoa. Meski sendirian, dia tampak sangat menikmati pekerjaannya. Rutinitas selama puluhan tahun.

"Yah, bagi saya, hidup itu mengalir saja. Saya sendiri nggak nyangka kalau bertugas di Madura. Dulu, membayangkan saja tidak," ujar perempuan kelahiran Salatiga 27 April 1944 ini.

Sebagai putri seorang seniman Tionghoa, Kho Pek Sun alias Bejo Sugiono (alm), Yuyun memang akrab dengan segala sesuatu yang berbau tradisi Tionghoa. Sang ayahanda seniman serbabisa di Salatiga. Pandai melukis figur-figur Tridharma (Konghuchu, Buddha, Tao), membuat patung, bikin barongsai dan liang liong, dan sebagainya.

Yuyun cilik selalu mengamati kerja ayahnya. "Lama-lama saya bisa membuat karya seni seperti Papa meskipun nggak pernah diajari," kenangnya seraya tersenyum. Yuyun pun giat membantu membuat karya seni rupa di Hok Tek Bio, klenteng terkenal di Salatiga.

Kerja seni religius Tionghoa ini semakin membuat Yuyun kerasan dengan kehidupan di klenteng. Berbeda dengan masyarakat umum yang suka mengejar materi, cari kekayaan, Yuyun merasa sudah "kaya" secara rohani. "Apa sih yang kita cari di dunia ini? Saya sendiri sudah merasa cukup: bisa makan, minum, membeli kebutuhan pokok," katanya.

Pada 1980-an, tak disangka-sangka, Yuyun diminta seorang tokoh Tridharma, yang juga pengelola sejumlah klenteng di Jawa Timur, untuk mengurus klenteng di Lawang, Kabupaten Malang. Rumah ibadat di dekat Kebun Raya Purwodadi itu membutuhkan orang yang tak hanya tahu agama dan tradisi Tionghoa, juga punya kemampuan seni. Maka, sejak 1984 Yuyun hijrah dari Salatiga ke Lawang.

Di situ bakat seni rupanya makin terasah. Setiap hari, selain sibuk menangani keperluan sembahyang jemaat, Yuyun juga membuat lukisan dinding. Bidang-bidang kosong diisi dengan gambar dewa-dewi serta figur penting dalam tradisi Tionghoa. "Kalau Anda ke Malang, silakan mampir. Karya saya masih ada di Lawang," ujarnya dalam bahasa campuran Indonesia dan Jawa.

Setelah delapan tahun bertugas di Lawang, pada 1992 Yuyun Kho kembali mendapat tugas dari petinggi Tridharma untuk mengurus Eng An Bio di Bangkalan. Klenteng yang terletak di tengah kota ini sudah berumur 200-an tahun. Ia juga menandai kehadiran warga keturunan Tionghoa di pulau garam itu.

"Saya, ya, ikut saja karena memang itu sudah menjadi panggilan hidup saya," kenangnya. Pulau Madura, meski bertetangga dengan Jawa, boleh dikata masih asing bagi Yuyun. Dia tak menguasai bahasa Madura, bahkan sampai sekarang pun tetap kesulitan. Tapi, karena ini tugas keagamaan, Yuyun melakoni tugas itu dengan ikhlas.

Pada awalnya Yuyun mengaku cukup sulit beradaptasi dengan kehidupan baru di Bangkalan. Sebagai orang Jawa Tengah, yang terbiasa berbahasa Jawa krama, dia harus berhadapan dengan masyarakat yang bahasanya sangat berbeda. Begitu juga dengan tradisi, budaya, dan sebagainya.

Tak lama di Madura, menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, sempat terjadi aksi kekerasan berbau SARA (suku, agama, ras, antargolongan). Yuyun pun sempat menjadi saksi mata peristiwa tak mengenakkan ini. Syukurlah, situasi bisa segera diatasi. "Sampai sekarang aman-aman saja," katanya tersenyum.

Wajah Klenteng Eng An Bio bahkan tampak lebih segar, lapang, dengan aneka aksesoris khas Tionghoa yang sangat menarik. Aulanya luas. Juga ada pagoda mini di bagian belakang. Angin segar selalu masuk ke kompleks klenteng, dan itu membuat Yuyun semakin betah.

"Jemaat juga senang bersembahyang di sini setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa. Cuma, karena Bangkalan ini dekat Surabaya, ya, banyak jemaat yang pergi ke Surabaya atau Malang," kata anak kedua dari delapan bersaudara ini.

Pekan lalu, Yuyun berlibur di kampung halamannya, Salatiga. Famili serta keluarga besar TITD Hok Tek Bio heran lantaran Yuyun sudah bertugas selama 17 tahun di Madura. Dan Yuyun sangat menikmati panggilannya sebagai pelayan umat Tridharma selama puluhan tahun.

"Saya sendiri juga kaget, kok sudah lama banget ya kerja di Madura," kata Yuyun lantas tertawa kecil.

Di usia senjanya, Yuyun Kho masih punya obsesi mengabdikan hidupnya secara total kepada Sang Pencipta dengan menjadi bhikkuni. Keinginan ini sudah dibicarakan dengan beberapa petinggi klenteng. Tapi ada kendala justru dari keluarganya di Salatiga.

"Khawatirnya saya tidak bisa ketemu mereka setiap saat. Nah, kalau ada hambatan macam ini, ya, nggak bisa," katanya.

No comments:

Post a Comment