13 July 2009

Semoga Megawati Kapok




Pemilihan presiden (pilpres) berlangsung aman, lancar, dan tak ada kejutan. Susilo Bambang Yudhoyono, berdasar hitung telak, menang telak 60-an persen. Suara Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla sangat sedikit. Dus, pilpres cukup satu putaran.

Kita tak perlu jadi pengamat politik untuk menganalisis pilpres di Indonesia. Peta kekuatan sangat mudah diketahui. "SBY seng ada lawan!" SBY itu berpasangan dengan siapa saja pasti menang.

"Dengan kucing atau sandal jepit pun tetap menang di atas 50 persen," begitu guyonan banyak orang pada April 2009 silam. Dan hasilnya terbukti benar.

Ibarat pertandingan bola, SBY berhadapan dengan dua lawan yang tidak sepadan. Ibarat Divisi Utama lawan Divisi I. Megawati adalah politikus yang kalah. Tahun 2004 Megawati sudah kalah telak melawan SBY. Selama lima tahun Megawati "jothakan" sama SBY karena kecewa.

Setelah pilpres 2004, PDI Perjuangan bikin kongres di Bali. Salah satu putusannya: Megawati harus maju lagi dalam pilpres 2004. "Suara yang kurang" -- Mega tak pernah mengaku kalah -- harus direbut kembali. Sikap yang emosional, terlalu percaya diri, dan agak ngawur.

Tanpa berhitung soal konstelasi politik yang berubah dengan cepat. Tanpa mempertimbangkan popularitas Megawati dan lawan-lawan politik pada 2008-2009. Tanpa melihat hasil pemilu legislatif 9 April 2009. Tanpa membaca hasil suvei, meski hampir semua lembaga survei di Indonesia bekerja atas dasar pesanan atau dibayar.

Mama Mega punya ambisi besar untuk jadi presiden lagi. Anak Bung Karno ini berpikir dia masih disukai rakyat. Lha, kalau rakyat itu anggota PDI Perjuangan, ya, bisa benar. Tapi, ingat, PDIP hanya beroleh 14 persen suara pada pemilu legislatif. Jauh lebih banyak yang tidak mendukung Mega. Orang sudah tahu siapa Mega, kinerjanya, gayanya di depan publik, dan sebagainya.

Maka, semoga hasil pilpres kemarin ini menjadi bahan introspeksi Megawati dan PDIP. Megawati harus sadar bahwa zaman sudah berubah. Karier politiknya, maaf saja, sudah tamat. Harus ada kader-kader baru, darah segar dan cerdas, dari PDIP yang muncul untuk kompetisi 2014. Dan kader baru itu bukan anaknya, Puan Maharani. Sebab, kalau Puan dipaksakan, ya, hasilnya akan kalah dan kalah lagi.

Petinggi-petinggi PDIP pun harus lebih kritis, cerdas, bisa membaca angin politik. Bukan kader-kader ABS: Asal Bunda Senang! Kader PDIP yang berani mengatakan kepada Megawati bahwa elektabilitasnya sangat rendah dalam pilpres. Bukan kader yang gelap mata, menjerumuskan Megawati, dengan kalkulasi politik yang ABS.

Bagaimana dengan Jusuf Kalla?

Dia sudah tahu bakal kalah. Dan dia tetap saudagar kaya. Politik sejatinya bukan habitat JK. Politik mungkin hanya hobi. Dan Golkar, partai yang dipimpin JK, tak punya ideologi yang jelas, selain konsisten memelihara oportunisme atas nama "kekaryaan".

Mudah ditebak, beberapa hari ke depan Golkar akan bergolak. JK dilengserkan dan para politisi Golkar rame-rame merapat ke SBY agar kebagian kursi di kabinet baru. Sejak lahir pada 1964 Golkar tak punya bakat oposan. Golkar selama 40 tahun lebih menimati zone nyaman kekuasaan.

Kita berterima kasih kepada Jusuf Kalla yang telah berjasa memberikan warna baru pada pilpres kali ini. Juga Prabowo Subianto yang berani "tampil beda" dengan pilihan ideologi yang sangat jelas.

Selamat bekerja untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono! Lanjutkan!

KREDIT FOTO:
http://news.yahoo.com/nphotos/slideshow/photo//090708/481/6893840e40db4105ad03b918e1bced5a/

1 comment: