10 July 2009

PTN Minded




Minat lulusan SMA untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) masih tetap tinggi. Seperti diberitakan Radar Surabaya (28 Juni 2009), jumlah pendaftar Seleksi Nasional Masuk PTN di Unesa Ketintang mencapai 30 ribu orang. Belum lagi peserta yang mendaftar di kampus-kampus lain.

Angka ini nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun. Ketika SNMPT masih bernama UMPTN, Sipenmaru, atau Skalu, hampir semua lulusan SLTA memang menempatkan PTN sebagai pilihan pertama dan utama. Kalau tidak lulus SNMPTN, barulah mereka berpaling ke berbagai perguruan tinggi swasta (PTS).

Apakah kualitas PTN selalu lebih unggul daripada PTS? Belum tentu.

PTN lebih murah? Belum tentu juga. Kita tahu, sekarang ini biaya kuliah di PTN semakin mahal dengan adanya kebijakan badan hukum pendidikan.

Apakah lulusan PTN dijamin dapat kerja? Juga belum tentu.

Sudah menjadi rahasia umum setiap tahun jutaan lulusan perguruan tinggi kita, termasuk PTN, menjadi penganggur. Karena itu, membanjirnya peserta SNMPTN juga bisa dibaca sebagai kegagalan kita dalam membaca tren globalisasi. Pasar kerja sekarang sangat menuntut orang-orang kreatif yang bisa kerja.

"Buat apa sarjana kalau nganggur?" gugat Bagus Supomo, direktur Surabaya Hotel School.

Menurut dia, pasar kerja setiap tahun membutuhkan ribuan, bahkan jutaan orang lulusan baru. Syaratnya: punya skill yang spesifik, siap kerja, terampil, kreatif. Dan, kualifikasi itu jarang dimiliki lulusan S-1.

"Sayang, paradigma berpikir masyarakat kita belum banyak berubah," kata Bagus.

Pengamat politik Pater J. Drost SJ pada 1990-an pernah mengatakan, sejak dulu peserta seleksi masuk PTN itu hanya 10 persen saja yang benar-benar lulus. Hanya 10 persen inilah yang memenuhi syarat kecakapan intelektual untuk menyerap materi perkuliahan. "Yang 90 persen itu sengaja diluluskan karena ada tempat," kata Drost.

Karena itu, seharusnya fokus utama kita adalah memperbanyak kampus-kampus 'siap kerja' seperti politeknik, akademi, sekolah perhotelan, modelling school, IT, dan sebagainya. Bukan malah mengondisikan lulusan SLTA untuk ramai-ramai ke universitas, kemudian lulus, dan setelah itu menganggur.

No comments:

Post a Comment