26 July 2009

Nasrullah Pameran di Le Nyamuk, Swiss




Dulunya Nasrullah hanya pelukis sederhana yang sekali-sekali berpameran di Surabaya dan Sidoarjo bersama teman-temannya. Tapi suratan jodoh mempertemukan Roel, sapaan akrabnya, dengan Christine Rod, warga negara Swiss. Kini, Roel tengah menggelar pameran di Jenewa.


Oleh LAMBERTUS HUREK


"Insya Allah, Agustus 2009 aku pulang ke Indonesia. Aku ada rencana pameran di Surabaya bersama teman-teman pelukis yang lain," ujar Nasrullah kepada saya kemarin.

Selama dua bulan penuh, sejak Mei lalu, Roel memamerkan sejumlah lukisannya di Le Nyamuk, sebuah galeri plus kafe ternama di Jenewa. Galeri ini milik orang Swiss yang kerap jalan-jalan ke Asia, khususnya Malaysia dan Indonesia.

"Dia selalu ingat kata 'nyamuk' karena memang sering digigit nyamuk. Pulang ke Jenewa, dia bikin galeri. Selain untuk ajang apresiasi seni, juga tempat diskusi, kongkow-kongkow, warga negara Indonesia di Swiss," tutur pria asal Desa Ketapang, Tanggulangin, Sidoarjo, ini.

Aktivitas kesenian Roel di Swiss tak lepas dari jasa istrinya, Christine Rod. Guru matematika dan pencinta lukisan itu punya vila warisan keluarganya di sebuah daerah pegunungan. Selama bertahun-tahun vila itu jarang ditempati. "Kalau pas liburan, baru kami ke sana," cerita Christine yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Nah, setelah berhasil 'memboyong' Roel ke negaranya--mereka menikah pada 28 Juli 2006--vila tersebut dijadikan tempat kerja alias studio suaminya. Roel diberi kebebasan untuk berkarya di situ. Sebelumnya, Roel diajak mengenal alam Swiss dengan pegunungan yang hijau, peternakan sapi, kota yang tertib, dan tetek-bengeknya.

"Jadi, dia bisa mengambil inspirasi dari sini. Jangan membuat lukisan seperti yang pernah dibuat di Indonesia," ungkap Christine.

Sistem kerja macam ini awalnya tidak mudah diikuti Roel yang terbiasa hidup 'tanpa aturan' di Sidoarjo. Namun, lama-kelamaan dia bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. "Apalagi, aku juga sering diskusi sama sejumlah seniman Indonesia seperti Eddie Hara," katanya.

Meski sudah 'dikarantina' selama berbulan-bulan, Roel mengaku tak bisa menghilangkan begitu saja karakter lukisannya yang bernuansa Indonesia. Alam pedesaan di tanah air, orang-orang kampung yang sederhana, persoalan sosial, selalu diangkat ke kanvas. "Saya memang berada di Swiss, tapi pikiran saya masih melayang-layang ke Indonesia," katanya.

Sebelum pameran di Le Nyamuk, Roel sempat menggelar karya-karyanya di Attelier Anette Forestier dan Cranve Sales Prancis. Dari sini, Roel mengaku semakin terbiasa berinteraksi dengan seniman-seniman Eropa dan negara-negara Asia lain. Sebab, Jenewa merupakan kota internasional yang dihuni oleh penduduk dari berbagai negara. "Orang Indonesia saja ada 500-an," katanya.

Menurut Roel, seniman-seniman Eropa memiliki disiplin kerja, manajemen, dan agenda yang lebih mantap dibandingkan seniman-seniman kita. Mereka selalu bekerja dengan perencanaan dan target yang jelas. Tidak bisa semau gue. "Tapi kita diberi ruang untuk berekspresi. Dan, bagusnya, segala macam aliran lukis punya pasar di Eropa," pungkasnya.

No comments:

Post a Comment