27 July 2009

Mbah Surip Hahahahaha.....




Saya ingin sekali bertemu Mbah Surip, tapi susah banget. Penyanyi nyentrik ini sibuk bukan main. Pekan lalu, Mbah Surip alias Urip Aryanto manggung selama tiga hari di Surabaya, dari kafe ke kafe. Setengah jam di Kafe Rasa Sayang A, pindah ke Rasa Sayang B, Rasa Sayang C..... Di Surabaya memang banyak sekali kafe bernama Rasa Sayang.

"Kapan saya bisa ketemu, Mbah?" tanya saya via SMS.

"Kapan saja bisa. Sekarang saya lagi ngamen hahahaha.... I Love You Full!" balas Mbah Surip.

Hahaha... memang ciri khas simbah yang satu ini. Lagu-lagunya yang sederhana, lirik dibolak-balik, nyanyi polos-polosan, rambut gimbal [keramas pakai sampo kucing] membuat Mbah Surip beda dengan penyanyi lain. Mbah Surip seperti menertawakan artis-artis kemayu, wangi, dengan nyanyian dan aransemen musik yang nyaris seragam.

Mbah Surip bikin gebrakan dan kita semua terhenyak. Lha, kok bisa ya, wong kayak Mbah Surip bisa kondang. Bisa menggebrak jagat industri musik kita yang makin tak jelas orientasinya. Mbah Surip, maaf, sering dianggap gendeng, edan, gila... tapi dia tenang-tenang saja. Hahahaha.... I Love You Full!

"Salam damai Hurek," begitu SMS Mbah Surip yang masuk ke ponsel saya, 26 Juli 2009. "Kapan-kapan kita ketemu di Mojokerto. Hahahaha...."

Kapan-kapan itu kapan? Mbah Surip ini makin misterius saja. Lha, kalau ketemu ketika sampean sudah tidak kondang lagi, ya, di mana nilai beritanya? Tapi tidak apa-apa.

Sekaranglah saatnya Mbah Surip panen raya. Orang Mojokerto--yang mengaku pernah kerja di perusahaan tambang di Amerika Serikat, tapi lupa bahasa Inggris, lupa bahasa Jawa krama--ini sudah bekerja keras selama puluhan tahun. Jadi pengamen, bikin lagu, figuran, hidup apa adanya ala seniman jalanan.

"Mbah, sampean kok kayaknya sedang santai ya?" kata saya via ponsel pertengahan Juli 2009. Sebelum sangat kondang ponsel Mbah Surip memang sangat mudah dihubungi. Nada sambung pribadinya: "Tak Gendong ke Mana-Mana.... Enak To".

Itu dulu. Sekarang, karena tiap hari "ngamen" di mana-mana, si Mbah sangat sulit diajak bicara langsung. Yang terima biasanya perempuan. "Sopo to Mbah? Hahahaha....."

Celakanya, si perempuan ini terkesan kurang suka kalau kita mengajak bicara Mbah Surip. "Anda siapa ya? Kok saya gak kenal? Suara Anda putus-putus.... Bisa hubungi lagi ya?" Tak ada suara ceria, ramah, hahahaha... ala Mbah Surip.

Dan ponsel pun ditutup oleh si perempuan. Asem tenan!

Begitulah. Sejak dulu yang namanya pengawal, sekuriti, body guard, watch dog, atau apa pun namanya, selalu lebih galak daripada majikannya. Sing temping.... eh sing penting, kita tak boleh kehilangan kebahagiaan seperti Mbah Surip.

Hahahaha....

I Love You Full!

3 comments:

  1. Hihihi.. dimana-mana memang seperti itu, bang. Pegawainya lebih sombong dari owner-nya. Hahaha.. mungkin dia pikir bang Hurek ini penggemar berat yang suka menguntit.. ^_^

    Yah, lagu Mbah Surip itu memang enak didengar, tapi lama kelamaan jadi membosankan juga, bang. Aku bahkan nggak yakin, kalau 'Tak Gendong' itu bisa dikategorikan sebagai lagu... ^_^

    Horas

    ReplyDelete
  2. Selamat pagiii bang Bernie...

    Kayaknya mesti cari lagu2nya si Mbah di youtube spy tahu ya. Penasaran juga lama2 ...teman2 sudah banyak yg suka menyebut nama si Mbah ketika becanda :D

    Jadi sekarang belum berhasil juga mewawancarai Mbah Surip ya bang? hehe. 'Centeng' beliau terdengar cantik tapi galak ya, wartawan kawakan tidak tembus juga! :D

    ReplyDelete
  3. Hehehehe...
    Terima kasih untuk Ning Risma dan Dyah Laoshi. Begitulah. Makin sulit menemui si Mbah ini meskipun HP-nya mudah dihubungi. Sibuk terusssss! Ngamen terus... mumpung lagi laris. Aji mumpunglah!

    Sing penting... tetap bahagia dan hahahaha terus.

    ReplyDelete