22 July 2009

Erik Hurek Nikah di Solo



"...AND THE TWO SHALL BECOME ONE FLESH;
so they are no longer two, but one flesh." Mark 10:8


Berapa lama masa pacaran yang ideal? Relatif.

Ada yang cepat, sangat cepat, lama, sangat lama. Ada yang tidak pernah pacaran, tahu-tahu menikah. Banyak pula orang yang punya prinsip: "Baru berpacaran setelah menikah."

Terserahlah! Yang pasti, Gabriel D.B. Hurek [sapaannya Erik] melakoni masa pacaran selama 13 tahun sebelum menikahi Endang Puasepten. Tiga belas tahun! Saya belum sempat bertanya apa saja yang dilakukan Erik, adik sepupu saya, dan Endang yang asli Karanganyar, Surakarta, ini. Diskusi, bahas karir masing-masing, berbagi cerita, rekreasi....?

Pastor Yohanes Suyadi, yang memimpin misa pemberkatan nikah di Gereja Santo Pius X Karanganyar, Solo, Sabtu (19/7/2009), tampak kaget mendengar pengakuan Erik dan Endang. Keluarga kedua mempelai, Paduan Suara Santa Caecilia yang beranggotakan 60-an ibu-ibu [hampir semua lansia], jemaat yang hadir, pun terkejut. Banyak yang senyam-senyum.

Hari gini... ketika dunia anak muda diwarnai kisah cinta yang putus, nyambung, putus, nyambung, putus lagi, selingkuh... Erik dan Endang mampu merawat hubungan mereka selama 13 tahun di Maumere, Flores. Mereka berkenalan, saling jatuh hati, kemudian sepakat menikah. Mereka juga sepakat diberkati Pastor Suyadi di Solo, kota asal, tempat tinggal orang tua dan keluarga besarnya.

"Kalian berdua punya masa lalu, masa pacaran selama 13 tahun. Mudah-mudahan ini bisa menjadi modal dalam perjalanan panjang menatap masa depan," begitu antara lain khotbah Romo Suyadi. Khotbahnya tak banyak bumbu, layaknya romo-romo diosesan di Keuskupan Agung Semarang, tapi sarat dengan muatan teologi dan filsafat. Layak direnungkan oleh pasutri baru... dan kita semua.

Orang hidup itu, kata romo, tidak selalu mulus. Ada kalinya berat, menanjak, ibarat mendaki gunung atau naik tangga. Tapi, jangan khawatir, itu berarti kita sedang "naik". "Kalau hidup Anda enak terus, jangan-jangan Anda nggak naik," kata Romo Suyadi, pastor paroki Santo Pius X Karanganyar. Benar juga!

Sabtu, 19 Juli 2009.

Saya secara khusus datang ke Karanganyar, sekitar 30 menit dari Kota Solo, untuk menghadiri pernikahan Erik Hurek. Sangat janggal bila saya tak hadir karena saya tinggal di Jawa. Sama-sama Hurek, dus satu keluarga inti, kami berkewajiban untuk hadir. Erik sendiri pun sudah mengirim pemberitahuan sekaligus undangan via SMS.

Perjalanan lima jam lebih Surabaya-Solo dengan bus memang bikin capek. Tapi, begitu melihat Erik dan Endang yang berbahagia, juga sejumlah keluarga datang dari berbagai kota: Jakarta, Kupang, Flores... kelelahan langsung hilang. Suasana santai, penuh canda, ala budaya Lamaholot.

"Ah, andai kata misa pemberkatan Erik-Endang dilakukan di kampung (Flores), wah, pasti ramai sekali. Pasti gereja penuh, bahkan meluber sampai keluar," batin saya.

Tapi tidak apa-apa. Seremoni pernikahan di Jawa jauh lebih efisien, ringkas, padat, tidak bertele-tele. Sangat berbeda dengan di Flores yang panjang, boros, dan tak jelas pangkal ujungnya. Suasana di gereja pun lebih emosional. Mama Bernadette, mamanya Erik, sempat menangis keras-keras ketika disungkemi Erik dan menantunya, Endang.

"Go tani nepe go peten Guru Thomas," kata Mama Dete. [Saya menangis karena ingat Guru Thomas.]

Ayah kandung Erik, Thomas T. Hurek, memang sudah meninggal dunia. Sehingga, begitulah, ketika sang anak meminta restu orang tua untuk membina rumah tangga baru, selalu terjadi adegan emosional di dalam gereja. Kami, keluarga dekat, pun ikut terharu melihat adegan Mama Dete menangis.

Ah, andaikan Bapa Thomas masih hidup! Dia tentu ikut berbahagia melihat anaknya, Erik, menyunting sang putri Solo, Endang, di Karanganyar! Tapi, sudahlah, ini sudah menjadi takdir yang digariskan Tuhan. Manusia hanya bisa menerima dan menjalani skenario besar dari Sang Pencipta.



Minggu, 20 Juli 2009.

Resepsi digelar di Gedung Putri Duyung, Karangpandan, masih di Kabupaten Karanganyar, Solo. Kawasan sejuk di dekat objek wisata Tawangmangu dan Astana Giribangun, kompleks makam mantan Presiden Soeharto dan Ibu Tin Soeharto. Cenderung sepi, banyak sawah di pinggir jalan raya yang siap panen.

Gedung Putri Duyung sendiri dikelilingi sawah. "Dulu ada kolam pancing, tapi nggak laku. Makanya, disewakan untuk resepsi mantenan, reuni, pertemuan, dan sebagainya," ujar seorang ibu di dekat SPBU Karangpandan kepada saya.

Acara ngunduh mantu menggunakan adat Surakarta (Solo). Suasana Jawa sangat kental seperti juga di gereja. Erik Hurek menggunakan busana tradisional Solo. Lengkap dengan keris di bagian bokong sebelah kanan. Kalau ada yang coba-coba mengganggu Endang, barangkali keris itu bermanfaat. Hehehe....

Kalau Erik terlihat kaku, maklum orang Flores yang baru merasakan suasana mantenan ala Jawa, Endang sangat luwes. Tak henti-hentinya nona manis ini melempar senyum. Apalagi, dia kenal banyak tamu yang memang sesama orang kampungnya sendiri. Ini berbeda dengan Erik yang cenderung "asing" di tanah orang.

Kejutan terjadi ketika beberapa mahasiswa Adonara, Flores Timur, membawakan Tarian Hedung. Semacam tari perang ala suku Lamaholot. Mereka membawa parang panjang dan tajam. Dengan semangat, anak-anak muda ini memperlihatkan karakter laki-laki Adonara yang sangat berani di medan perang.

Tarian Hedung ini pula yang mengantar Endang, si putri Solo, ke pelaminan. Sebaliknya, Erik diantar dengan tarian Solo yang lemah gemulai. Sebuah kombinasi menarik antara Solo dan Flores. Yah, cinta itu memang punya kekuatan yang sangat dahsyat. Cinta bisa mempertemukan dua sejoli yang sangat berbeda karakter, tradisi, budaya, di pelaminan.

Ritual demi ritual, proses lepas prosesi, pesta pun usai. Erik dan Endang pun harus segera balik ke Maumere untuk bekerja. Mengutip pesan Pastor Suyadi, modal pacaran selama 13, berkat Sakramen Pernikahan Suci, dan dukungan dari keluarga besar, semoga menguatkan Erik-Endang dalam meniti kehidupan yang baru.

No comments:

Post a Comment