22 July 2009

Buku Beneran dan Buku-bukuan

Setiap hari kita bekerja dengan komputer. Ada yang bawa laptop ke mana-mana. Simbol orang sibuk, berpendidikan, mungkin juga sukses. Kalau ada pertemuan atau "cangkrukan" [istilah Surabaya], orang suka membahas tipe laptop, harga laptop terbaru, fitur-fitur, kapasitas, dan sebagainya. Bukan main!

Pertanyaannya: sudah berapa banyak buku atau artikel [serius] yang kita tulis? Hehehe.... Yah, mesin ketik, komputer, laptop, atau apa pun namanya ternyata tidak berbanding lurus dengan kemampuan menulis buku.

Pramoedya Ananta Tour, almarhum, tidak pernah menulis pakai komputer. Sastrawan besar ini hanya mengandalkan mesin ketik manual tempo doeloe. Tak-tik-tak-tik-tok! Tapi, kita tahu, karya-karya Pramoedya "seng ada lawan" sampai hari ini. Semasa hidupnya Pak Pram belum kenal apa yang namanya laptop, communicator, dan tetek-bengeknya.

Dan, jangan lupa, karya-karya puncak Pramoedya Ananta Tour, master piece, justru dikerjakan di dalam penjara. Tepatnya Pulau Madura. Pada 1970-an itu belum ada komputer. Juga tidak ada mesin ketik manual. "Kertas pun tidak ada," cerita Oei Hiem Hwie, mantan wartawan Trompet Masjarakat, yang ikut dibuang ke Pulau Buru.

Oei menjadi "tangan kanan" Pramoedya semasa di pulau pengasingan tahanan dan terpidana politik rezim Orde Baru itu. Di Buru Pramoedya bersama ribuan tahanan dipaksa jadi petani dan nelayan. Kerja keras membuka sawah, bercocok tanam, beternak, memancing ikan, untuk kebutuhan sehari-hari. Nah, Pak Oei ini bertugas mencari kertas zak [bungkus] semen agar Pramoedya, yang pada 1960-an sudah sangat terkenal, bisa menulis.

"Zak semen itu kan berlapis-lapis. Kertas itu saya potong-potong agar bisa dipakai Pak Pram menulis. Ya, menulis biasa, tulisan tangan," kenang Pak Oei saat saya temui di Perpustakaan Medayu Agung, kawasan Rungkut Surabaya, belum lama ini. Di perpustakaan ini kita masih bisa menikmati manuskrip atau tulisan tangan Pramoedya di atas kertas bungkus semen.

"Novel tetralogi Pulau Buru itu dibuat Pak Pram dalam kondisi serbakekurangan. Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ikut menemani Pak Pram di Pulau Buru," kata Pak Oei yang ramah dan murah senyum ini.

Sejak 1990-an saya juga sering membaca buku-buku karya Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan [almarhum]. Profesor kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, ini sangat produktif menulis buku-buku tentang Bahasa Indonesia. Pada 1988 saja Pak Henry sudah menghasilkan 45 buku. Empat puluh lima!

Dalam setahun Pak Henry bisa menerbitkan empat sampai lima, bahkan tujuh, buku teks ilmiah tentang bahasa. Bisa diperkirakan sudah berapa banyak buku yang dikerjakan Pak Henry dengan sangat serius. Dan, ingat, buku karya Prof. Henry Guntur Tarigan bukanlah "buku-bukuan" seperti yang banyak ditemukan di toko-toko buku sekarang.

"Buku-bukuan" itu kumpulan artikel lepas di koran, majalah, artikel makalah... kemudian dibukukan. Dus, buku semu. Bukan buku yang sejak semula memang diniati menjadi buku bermutu. Bukan pula "buku instan" yang hanya sekadar copy-paste naskah diinternet, kemudian dihimpun, dicetak jadi buku. Prof. Henry, sekali lagi menulis, buku-buku bahasa dengan sangat serius.

Untuk menulis satu bab, Prof. Henry menggunakan 30-50 buku rujukan. Dan 95 persen referensi berbahasa Inggris. Taruhlah satu buku lima bab [contoh: PENGAJARAN PEMEROLEHAN BAHASA], sudah berapa referensi dipakai Prof. Henry? Tentu saja, ada beberapa bab menggunakan referensi yang sama. Luar biasa memang orang Batak Karo yang dosen IKIP Bandung [sekarang Universitas Negeri Bandung] ini.

Dan, yang membuat saya terkagum-kagum sampai hari ini, Prof. Henry menulis semua naskah bukunya dengan TULISAN TANGAN. Menulis dalam arti sebenarnya. Menurut editor Penerbit Angkasa, yang selama ini menerbitkan puluhan buku Prof. Henry, tulisan tangan ayah enam anak itu sangat rapi, tanpa ada corat-coret sedikit pun. Bahkan, ditulis dengan tinta berwarna-warni.

Bagi Prof. Henry Tarigan:

"Sekali jadi tetap berarti. Kalau diulang-tulis takkan seindah yang pertama ini."

Lagi-lagi, saya terpukau dengan ketekunan dan keunikan Prof. Henry Tarigan dalam menulis buku-buku teks Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi di tanah air. Terima kasih banyak, Pak! Horas! Semoga Tuhan memberkati Profesor sekeluarga!

Artikel sederhana ini saya tulis setelah saya kecewa berat membaca buku tentang Prabowo Subianto yang saya beli di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, 19 Juli 2009. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit yang punya nama. Penulisnya perempuan, bekerja di tabloid KONTAN di Jakarta. Pernah menulis beberapa buku "best seller", begitu promo di sampul.

Setelah membaca, sebagai teman perjalanan dari Solo ke Surabaya, tahulah saya bahwa buku ini "buku-bukuan". Penulis hanya sekadar perajin, tukang, yang menghimpun begitu banyak artikel dari internet. Otak-atik sana-sini, maka jadilah "buku". Dan itu sudah menjadi penyakit orang Indonesia yang semakin kronis dalam 10 tahun terakhir. Buku yang benar-benar buku bisa dihitung dengan jari tangan.

"Saya sudah terbitkan lima buku lho. Coba Anda cek di Gramedia," ujar seorang aktivis yang produktif menulis artikel di beberapa media nasional.
"Budayawan" [perlu tanda petik] ini sangat bangga karena, kata dia, buku itu lambang intelektualitas. Barangsiapa yang sudah menerbitkan buku berarti dia masuk jajaran intelektual.

"Anda itu bukan intelektual. Anda kan belum bisa menulis buku. Bisanya cuma menulis blog. Kalau sekadar jadi blogger, ya, semua orang juga bisa," komentar kenalan sekaligus teman saya ini.

Tidak salah! Saya memang bukan intelektual. Saya belum bisa menulis buku dengan referensi segudang, persiapan serius, bermutu, ala Prof. Henry Tarigan atau Prof. Gorys Keraf. Lha, kalau sekadar bikin "buku-bukuan", menghimpun artikel-artikel lepas, buat apa, Bung? Hehehe....

Yang jelas, "buku-bukuan" tentang Prabowo yang Rp 25.000 itu langsung saya hibahkan ke seorang mahasiswa di Surabaya. Hanya bikin sesak rak buku kalau dikoleksi. Begitu juga buku karya "budayawan" itu tidak pernah saya baca karena isinya hanya repetisi-repetisi. Bahkan, saya dengar "budayawan" ini pernah disanksi media massa karena suka mengirim artikel yang sama ke beberapa koran.

Indonesia membutuhkan pemikir, budayawan, penulis, kreator... orang-orang serius macam Henry Guntur Tarigan, Gorys Keraf, Kuntjaraningrat, Soedjatmoko, Sutan Takdir Alisjabana, W.J.S. Poerwadarminta, Franz-Magnis Suseno, Ignas Kleden, Josef Glinka, J.S. Badudu, Andrea Hirata, Goenawan Mohamad.

Bagaimana pendapat Anda?

3 comments:

  1. Jadi, menurut teman bang Hurek itu, yang dikerjakan blogger itu apa ya? Masak-masak barangkali ya, bang. Hehehehe..
    Buku menarik memang selalu punya penggemar. Tak perduli kalau ditulis dengan tangan ataupun dengan komputer. Kalau memang punya bakat menulis, ya pasti hasilnya bagus saja.

    Sebaliknya juga, kalau orang tidak punya bakat menulis, ya tetap saja akan kehilangan maknanya. Iya nggak, bang?

    Untunglah zaman sekarang, teknologi sudah membantu manusia. Hingga tidak perlu lagi berkorban jari lecet, demi menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Ya, seperti blog bang Hurek ini. Bagus semua isinya..

    Ngomong-ngomong, kok nama blognya jadi pakai "wong", bang? Itu diambil dari bahasa Jawa ya? ^_^

    ReplyDelete
  2. gak usah diliat kita intelektual apa tidak, yang terpenting tulisan kita murni dari tangan kita sendiri gak perlu copas sana-sini. itu saja sudah cukup bagiku.

    ReplyDelete
  3. satu hal lagi yang dibutuhkan seorang penulis adalah penerbit. :D

    ReplyDelete