15 July 2009

Bahasa Mandarin Olive TKW



Olive laoshi, ni hao ma? Wo hen lei. Hehehe....

Sebagian besar orang dunia, termasuk saya, menganggap bahasa Mandarin, sangat sulit. Bahasa paling ruwet, paling kompleks, di dunia. Aksaranya, wuih, minta ampun ruwetnya. Dan, yang sangat penting untuk komunikasi, BUNYI-nya.

Sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, "Bahasa paling sederhana di dunia," kata Alan Bishop, produser musik asal Amerika Serikat.

Alan sudah berkeliling ke puluhan negara di dunia untuk mencari piringan hitam, kaset, CD/VCD/DVD lagu-lagu khas negara itu. Indonesia jadi salah satu target buruannya. Alan Bishop ini beberapa kali diskusi dengan saya tentang perkembangan musik (industri) Indonesia sejak era 1950-an sampai sekarang. "Saya dengar orang Indonesia omong, dan saya bisa paham meskipun sedikit," kata Alan.

Bahasa Indonesia memang sangat simpel. Bunyi, aksen, tekanan, sama sekali tidak mengubah arti. Justru dari bunyi, fonologi, inilah kita langsung tahu si Ucok asal Batak. Frans dari Papua. Umbu dari Sumba. Nurhaliza dari Riau. Yusril dari Padang. Kalaupun salah membunyikan "e" pepet dan "e" benar, orang tetap paham.

Kemudahan-kemudahan ini yang tak kita jumpai ketika belajar bahasa Mandarin. "Coba ulangi: QING CUO!" perintah Olive. Saya pun mengulangi "Qing zuo" berkali-kali. Baca: CHING CUO yang artinya "silakan duduk".

"Salah!" kata Olive. "Masih salah!" katanya lagi. "Tetap salah! Ucapannya bukan CHING CUO dalam bahasa Indonesia! Kalau Mas ngomong kayak gitu, nggak akan ada orang yang paham. Coba ulangi lagi!" perintah si Olive.

Saya pun mengulang puluhan kali, bisa 50 kali, dan hasilnya... tetap salah. "Lihat mulut saya, posisi bibir, lidah.... Lemaskah! CUO itu kelihatannya ada O, tapi vokal O tidak dibunyikan!" jelas nona manis ini. Saya tambah bingung dan pening. Kursus dasar bahasa Mandarin saya gagal total.

Begitu banyak bunyi yang mirip (bahkan sama) menurut kuping Indonesia, tapi berbeda tajam di Tiongkok. Seperti SI, SHI, ZI, ZHI, CHI, CHI, JI, QI. Bunyi SI, menurut Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group yang belajar bahasa Mandarin langsung di Tiongkok, ada 144 buah. Seratus empat puluh empat! Bagaimana bisa menghafalnya? Mengucapkan QING COU (silakan duduk) saja saya tidak mampu, padahal sudah kursus delapan hari. Hehehe...

Hebatnya, Olive laoshi ini mengucapkannya dengan enak. Gadis Madiun ini, usianya 21 tahun, juga sangat fasih ketika bercakap-cakap dengan orang Taiwan dan Zhungguo (Tiongkok) di Surabaya. Termasuk bercanda dalam bahasa Mandarin. "Padahal, saya ini nggak bisa baca tulisannya. Hehehe," kata Olive.

Nama asli Olive: SITI MUALIMAH, tinggal dua tahun di Taiwan, kerja di sana. Istilahnya TKW: tenaga kerja wanita. Di Taiwan Siti ini disapa MEIMEI.

Dia bilang kerja serabutan di restoran, kantor, hingga rumah tangga. Karena usinya muda, lepas SMA langsung ke Taiwan, Olive mengaku tidak sulit menyerap bunyi-bunyi bahasa Mandarin.

"Awalnya sih sulit. Tapi, karena sering dipakai, selalu dengar orang ngomong itu tiap hari, tiap menit, ya, lama-lama bisa," ujar Olive laoshi membuka kiat belajar bahasa asing. "Yang penting, jangan malu. Kalau salah, ya, dibenerin."

Siti alias Olive alias Meimei benar. Bahasa apa pun adalah alat komunikasi. Tak bisa lepas dari masyarakat pemakainya. Belajar bahasa di kursus, apalagi belajar sendiri (otodidak), pasti beda dengan menyelam langsung ke masyarakat pengguna bahasa tersebut. TKW di Taiwan macam Olive pasti sangat mudah menyerap bahasa baru ketimbang kita yang tinggal di Surabaya, misalnya.

Saya sendiri bisa berbahasa Jawa dan Madura, juga bukan hasil kursus. Tahu-tahu bisa karena berada di lingkungan Jawa dan Madura. Orang Indonesia tidak fasih berbahasa Inggris meskipun sejak SMP ada pelajaran bahasa Inggris? Sangat wajar.

Sebab, lingkungan tempat tinggal kita tidak berbahasa Inggris. Tapi TKW di Hongkong, Singapura, Australia... pasti lebih lancar cas-cis-cus dalam bahasa internasional itu. Belum lagi masalah ejaan yang memang khas. Sama-sama pakai A, B, C... sampai Z, tapi cara baca ala Indonesia, Malaysia, Inggris, Belanda, Spanyol, Tiongkok berbeda total.

Tiongkok (nama yang benar: ZHONGGUO) mengadopsi ejaan Latin alias romanisasi yang disebut Ejaan HANYU PINYIN. Ada 25 aksara yang dipakai, kecuali V, dan semuanya kita kenal dalam bahasa Indonesia. Tapi cara membaca, bunyinya, wuih-wuih... berbeda sama sekali.

Maka, kalau orang Indonesia sangat sulit membaca teks dalam bahasa Inggris, saya sekarang SANGAT-SANGAT mengerti. Sebab, saya pun SANGAT-SANGAT kesulitan mengucapkan kata-kata Mandarin dalam ejaan PINYIN. Contohnya QING CUO itu tadi.

"Ayo, kita lanjutkan pelajaran! BUBI KEQI, NI YAO HE SHENME?" (Tidak perlu sungkan. Kamu mau minum apa?) Bacanya: PUPI KHECI, NI YAO HE SEME.

"Hehehe.... Lagumu itu gak pas blas! Indonesia banget! Flores banget! Sekarang perhatikan ucapanku lalu tirukan!" Wuih, ucapan si Olive ini benar-benar kayak penutur asli, orang Taiwan atau Beijing (Baca: PEI-CHING). Saya pun terdiam, seakan tak percaya dengan gadis eks TKW yang sangat fasih Mandarin.

"Olive laoshi, kayaknya saya baru bisa bahasa Mandarin setelah jadi TKI di Taiwan atau Hongkong. Kalau begini terus, saya bisa stres. XIEXIE, MINGTIAN JIAN (Terima kasih. Sampai ketemu besok)."

"Hehehe... Ucapannya bukan MINGTIAN kayak bahasa Indonesia, tapi MINGTHIEN," kata Olive yang tak bosan-bosannya meralat pengucapanku yang memang payah.

7 comments:

  1. Salut untuk bung Bernie yang mau belajar.

    Sebenarnya orang2 tua Tionghoa Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin lafalnya pun tidak standar (biao-zhun). Ini karena pengaruh dua macam: 1) Bahasa ibu mereka - juga guru2 yang mengajar di sekolah Tionghoa jaman dulu - itu kebanyakan bahasa2 selatan, yaitu Hokkian selatan (min-nan), Hokkian utara (min-bei), Kanton (yue), 2) Bahasa daerah, jadi orang Tionghoa di Jawa berbahasa Mandarin dengan logat Jawa, misalnya "sudah tua" diucapkan "lau lek" padahal yang standar "lao le". Orang Tionghoa di Mataram suka menghilangkan double-vowel, jadi "da bian" (=buang air besar, maaf) jadi "ta pen", "na-bian" (di sana), jadi (na-pen), hahahaha. Orang Tionghoa di Makassar suka menghilangkan bunyi sengau di belakang, jiankang (sehat) jadi jiankan (yang bisa berarti temu-lihat).

    Jadi, jangan kuatir kalau pengucapan tidak sempurna, orang Tionghoa sendiri pun pengucapannya kalau didengarkan oleh penutur asli dari utara (Beijing) pun amburadul. Penutur dari Taiwan pun logatnya tidak standar kalau dibandingkan dengan penutur asli dari Beijing, karena orang Taiwan itu bahasa aslinya ialah bahasa Hokkian selatan (min-nan).

    ReplyDelete
  2. Cak Wens di USA,
    Terima kasih atas komentarmu yang selalu segar dan dalam. Sangat memperkaya tulisan ringan di blog ini.

    Saya baru sekadar "pemanasan" bicara Tionghoa sama si eks TKW, tapi belum ikut kursus beneran. Saya masih cari waktu kosong agar lebih berhasil. Soalnya, menurut sebuah artikel yang saya baca, 95 persen peserta kursus bahasa Tionghoa drop out.

    Sekali lagi, terima kasih.

    ReplyDelete
  3. susah juga yah belajar bahasa mandarin

    ReplyDelete
  4. yankin dan percaya akan kemampuan kita,klau kita pasti bisa dan ALLAH SELALU MEMBERIKAN HASIL YG BAIK UNTUK UMAT NYA YG SELALU BERUSAHA. itulah kunci kesuksesan kita. trimakasih ya sangat menambah wawasan saya

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Secara harafiah sih: Xiawu-an. Tetapi hampir tidak pernah diucapkan. Kalau pagi, orang bilang Zao-an. Kalau malam, Wan-an (sebelum berpisah). Tetapi kalau siang, biasanya orang hanya bilang Ni hao (apa kabar), atau Ni chi fan le meiyou? (kowe wis mangan?)

      Delete
    2. Kalau lebih formalnya: zaoshang hao, xiawu hao, wanshang hao.

      Delete