20 July 2009

Amir Mahmud: Bahasa Madura pun Terancam Punah





Amir Mahmud baru saja merilis hasil penelitiannya tentang kondisi bahasa Madura saat ini. Menurut kepala Balai Bahasa Surabaya itu, jumlah penutur bahasa Madura menurun tajam dari waktu ke waktu. Jika tren ini dibiarkan, bukan tidak mungkin salah satu bahasa besar di Jawa Timur itu akan punah.

Nasib serupa juga menimpa bahasa-bahasa daerah lain di tanah air. Berikut petikan wartawan saya dengan Amir Mahmud di Balai Bahasa, Jumat (17/7/2009), tentang fenomena merosotnya bahasa daerah serta kajian-kajian Balai Bahasa Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK



Mengapa Anda sangat serius meneliti bahasa Madura?

Bahasa Madura itu hampir punah. Dulu, penuturnya sekitar 15 juta orang, sekarang di bawah 10 juta. Data yang terakhir malah menyebutkan 6 juta. Dari 1981 sampai sekarang berarti sudah turun 9 juta penutur. Itu pun tidak semuanya aktif berbahasa Madura. Penutur yang aktif tinggal 6 juta. Kalau ini tidak ditangani, nanti akan semakin hilang.

Nah, Balai Bahasa itu punya tanggung jawab terhadap kebahasaan. (Penelitian) Bahasa Indonesia itu wewenang pusat, bahasa daerah ditangani Balai Bahasa. Maka, kami sebagai pemegang kebijakan, memilih mengadakan penelitian tentang perkembangan bahasa Madura di Jawa Timur.

Mengapa penutur bahasa Madura menurun drastis?


Pertama, tidak ada jurusan Bahasa Madura di perguruan tinggi. Akhirnya, pengajaran Bahasa Madura di sekolah-sekolah itu dilakukan oleh para praktisi. Praktisi itu bisa orang Madura, bisa orang Jawa. Orang Jawa, yang bisa berbahasa Madura sedikit-sedikit, mengajar Bahasa Madura karena tidak ada pengajar lain. Akhirnya, bahasa daerah hanya hafalan saja.

Memang ada muatan lokal Bahasa Madura, tapi tidak diajarkan oleh orang yang berlatar belakang akademisi. Sebab, tidak ada jurusan itu. Di Madura ada empat perguruan tinggi--satu negeri, empat swasta--tapi tidak mendirikan jurusan Bahasa Madura.

Faktor kedua, gengsi. Anak muda sekarang itu merasa lebih bergengsi berbahasa Indonesia daripada berbahasa daerah. Yang ketiga, gerakan cinta bahasa Indonesia itu berhasil. Akhirnya, bahasa Indonesia menggeser bahasa daerah dan bahasa asing (Inggris, Red) menggeser bahasa Indonesia. Kenyataan di lapangan seperti itu.

Nah, sekarang ada undang-undang kebahasaan yang mengatur bagaimana kita memelihara, mengembangkan, dan membina tiga bahasa di Indonesia. Bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa asing. Nah, tiga-tiganya ini tidak boleh ada yang didiskriminasikan. Harus seimbang. Bahasa asing ditinggalkan tidak mungkin karena kita harus menjadi warga dunia. Itu harus seimbang.

Balai Bahasa sudah menyusun buku pedoman pembakuan ejaan bahasa Madura, tata bahasa Madura, kamus bahasa Madura. Buku-bukunya sudah dicetak dan diedarkan. Tetapi, masalahnya itu tadi, pengajarnya tidak ada yang berlatar belakang akademisi. Tahun lalu, Desember, kami juga melaksanakan Kongres I Bahasa Madura di Pamekasan.

Anda ini orang Solo. Kok berminat sekali meneliti bahasa Madura?

Saya di Pusat Bahasa 17 tahun. Terus saya dikirim ke sini untuk menghidupkan tiga bahasa itu di Jawa Timur. Karena bahasa Jawa sudah ditangani Balai Bahasa Semarang, Jogjakarta, maka kami nomor satu bahasa Madura, baru nomor dua bahasa Jawa. Dua bahasa ini yang terbesar di Jawa Timur.

Sastra bahasa Madura juga kesulitan. Sejak dulu ada, tapi tidak berkembang. Padahal, kunci utama pelestarian bahasa itu terletak pada pengembangan penulisan sastranya. Orang kalau membaca cerita bahasa Madura, lama-lama dia akan berkembang. Maka, kami juga menerbitkan majalah berbahasa Madura. Namanya Jokotole. Kami edarkan dengan gratis. Di dalamnya ada puisi, cerpen, berbahasa Madura.

Apakah usaha ini bisa mengembangkan bahasa Madura?


Ya, ini tinggal masyarakat Madura. Kami kan hanya fasilitator. Sekarang masyarakat Madura mau nggak? Tapi ternyata di Madura ada gerakan berbahasa Madura di sekolah-sekolah sehari dalam seminggu.

Mengapa bahasa daerah masih dianggap penting oleh Balai Bahasa?

Sebab, berhubungan erat dengan jati diri kita. Kalau orang Jawa, orang Madura, ingin mempertahankan jati diri, ya, pakailah bahasa Jawa, bahasa Madura. Jati diri kita harus dipertahankan. Bahasa Indonesia juga demikian. Jati diri nasional kita sebagai bangsa Indonesia, ya, di bahasa Indonesia. Nah, iklan-iklan di televisi itu ternyata terbalik. Bahasa Inggris dulu baru bahasa Indonesia. Mestinya bahasa Indonesia yang besar baru di bawahnya bahasa asing.

Di Indonesia itu ada 746 bahasa daerah. Yang sudah dipetakan 442 bahasa daerah. Di Jawa Timur ada empat bahasa: Jawa, Madura, Bajo, dan Bali. Bajo itu di kepulauan, kemudian Bali digunakan salah satu daerah di Banyuwangi.

Bahasa Osing dan Bawean kok tidak masuk?


Bawean itu bahasa Madura meskipun mereka tidak mau bahasanya disebut bahasa Madura. Padahal, itu murni 90 persen Madura. Hehehe... Kasusnya sama dengan Osing di Banyuwangi. Itu juga 90 persen bahasa Jawa. Tapi mereka tidak mau disebut Jawa karena struktur budaya Osing memang agak berbeda dengan orang Jawa. Termasuk Surabaya ini menyebut bahasanya bahasa Suroboyoan.

Program Java Day di Surabaya itu dikritik karena mereka menganggap di Surabaya tidak ada bahasa Jawa. Yang ada, ya, bahasa Suroboyoan. Padahal, bahasa Suroboyoan itu 98 persen bahasa Jawa. Dikatakan bahasa tersendiri jika 85 persen berbeda dengan bahasa induknya. Kalau orang Surabaya ngomong, orang Jawa masih nangkap, ya, itu bukan bahasa tersendiri.

Selain memimpin Balai Bahasa, apa kegiatan Anda sehari-hari?


Setiap pagi saya mengamati perkembangan bahasa di media massa seperti koran, majalah, buku-buku ilmiah, dan menulis hasil penelitian dan makalah. Selama dua tahun terakhir saya juga melakukan inventarisasi cerita rakyat.

Apa motivasi Anda bergelut di bidang bahasa?


Dulu, saya sempat menjadi mahasiswa pendidikan guru agama, tetapi itu hanya tiga bulan saja. Yang dipelajari hanya agama terus. Akhirnya, saya mengambil Sastra Jawa di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Setelah masuk sastra, ternyata banyak ilmu yang masuk ke dalam diri saya seperti ilmu bahasa, sosial, dan budaya. Saya merasa cocok dengan sastra.

Setelah semester tiga, saya mengetahui ada ilmu linguistik dan sastra. Nah, mulai saat itu saya menekuni bidang kebahasaan. Saya tidak ada pemikiran untuk menjadi pegawai negeri. Cita-cita saya dulu ingin menjadi penulis, wartawan, dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan ilmu sastra. Bisa dibilang, saya memotivasi diri sendiri untuk menekuni bidang kebahasaan dan kesusastraan.

Lalu, perjalanan karir menjadi pegawai negeri?

Setelah lulus kuliah, iseng-iseng saya melamar lewat pos karena bacaan saya pada saat kuliah dulu adalah buku-buku terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa, Red) di Jakarta. Setelah melamar, saya dipanggil untuk mengikuti tes pada 1987.

Saya harus mengikuti sembilan kali tes. Tesnya menggunakan sistem gugur karena persyaratan untuk masuk ke Pusat Bahasa sangat ketat. Bahkan, skripsi saya diujikan di Pusat Bahasa. Mulai saat itu saya bingung karena ilmu yang saya peroleh selama berada di bangku kuliah berbeda dengan di Pusat Bahasa. Sebab, yang dipakai adalah bahasa praktis. Alhamdulillah, saya salah satu dari pelamar yang diterima.

Sebagai kepala Balai Bahasa, apa saja suka dan duka yang Anda alami?

Saya senang mempunyai banyak teman, rekan, bisa berjumpa bupati atau wali kota untuk membicarakan masalah kebahasaaan. Saya juga harus berusaha agar sarjana bahasa yang ada di Balai Bahasa bisa memahami bahasa yang baik dan benar. Kenapa? Sebab, sarjana bahasa yang masuk ke Balai Bahasa itu bagaikan memasuki hutan rimba. Masih banyak yang belum memahami penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Harapan Anda untuk Bahasa Indonesia?

Cita-cita saya adalah mengangkat bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, paling tidak untuk Asia Tenggara. Kita tidak boleh kalah dari negara-negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia dengan Bahasa Melayu. Kita harus bangga punya bahasa Indonesia. (*)


AMIR MAHMUD

Lahir: Boyolali, 1 Januari 1960
Istri: Haryanti
Anak: Vrisa Rivera dan Nuvaris Rivera Bengawan
Alamat: Balai Bahasa Surabaya, Buduran, Sidoarjo

Pendidikan
Pendidikan Guru Agama (PGA) Boyolali
Universitas Sebelas Maret, Solo
Universitas Negeri Jakarta

Karir
Pusat Bahasa, Jakarta, 1988-2005
Balai Bahasa Surabaya, 2005-sekarang

Karya Tulis (beberapa)
Tata Bahasa Madura
Pendidikan di Indonesia 1920-1945
Masyarakat Betawi dalam Novel 'Si Doel Anak Sekolahan'

Penghargaan
Satyalencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI, 26 April 2004.

6 comments:

  1. pak, kalau boleh saya tanya? apa juga dalam buku tersebut terdapat tata pengucapan, vokal/ consonant dan sebagainya. saya salah satu mahasiswa yang tertarik untuk meneliti bahasa madura terutama kajian fonologis dan fonetisnya. bagaimana saya bisa mengakses buku tersebut.mohon kalau ada informasi tentang buku tersebut, kirimkan kemail saya di hafitwahyu@yahoo.com. mohon bantuannya pak. terimakasih

    ReplyDelete
  2. Silakan hubungi Balai Bahasa. Saya kurang paham itu.

    ReplyDelete
  3. Assalamu alaikum wr. wb. Kang, nderek tepang. Nami kula ngAbdul Rahman, alumni PGA Boyolali tahun 78/9. Niki email kawula: ar_boy0lali@yahoo.com. Kapan iso kangen-kangenan.
    Wassalam.

    ReplyDelete
  4. saya orang madura dan saya juga merasa prihatin terhadap bahasa madura. saya juga pernah membaca majalah joko tole dan merasa sangat tertarik. Bahasa madura memang butuh orang-orang seperti Amir Mahmud. Semangat pak Amir. dan terima kasih buat mas hureknya.

    ReplyDelete
  5. sedikit tentang madura:
    http://lontarmadura.co.cc
    http://okaramadura.blogspot.com
    http://publiksastra.co.cc

    Kunungi saja, untuk melengkapi komentar Pak Mahmud

    ReplyDelete
  6. udah gak usah kawatir,, selama masih ada PKL di jamin aman bahasa madura... apalagi di sono noh di DTC surabaya.. banyak banget deh.!!

    ReplyDelete