28 July 2009

Noordin M. Top horonga




Polisi seba teroris setengah mati. Hopan!

Tun pulo kae, seba Noordin M. Top, raja teroris Malaysia lewun, ro bisa hala. Noordin pelae, geka, latih ana buah.... bom Jakarta, Hotel JW Marriott nong Ritz-Carlton, 17 Juli 2009.

Tite wekekake rehgite. Bom nepe musti Noordin Top! Heku muri? Doktor Azhari mataya kae, polisi pasako teti Batu, Malang, November 2005. Noordin nong ana buah naen musti tula huru-hara te Jakarta.

Noordin pe heku? Atadiken le menaka, suanggi? Polisi sebaro tun pulo, foto naen aya-aya, sayembara berhadiah... ro topek bisa hala? Waduh, Noordin memang hebat. Na mehaka bisa lawan polisi Indonesia, Sabang sampe Merauke, Ngingas sampe Rote....

Go basa koran KOMPAS Selasa 28 Juli 2009. Irjen (Pur) Ansyaad Mbai bahas jaringan teroris, kelompok Noordin Mohammad Top. Puken aku polisi roiro hala? "Masyarakat Indonesia permisif terhadap para teroris dan ideologi mereka," Ama Ansyad Mbaimaring.

Permisif! Kayak ayaken pi Jawa, Sumatera, Kalimantan... persaya terorisme hala. Mio peten Imam Samudra, Amrozi, Muchlas [Ali Gufron]? Tun waiken ia teroris telo nepi dieksekusi mati. Polisi pasako teti Nusakambangan. Ata diken ayaken anggap ra nepi "pahlawan". Padahal, Amrozi cs nei pasak bom lau Denpasar, Bali, atadiken ayaken mataya.

Noordin bisa selamat, aman, teika Jawa, tegal masyarakat PERMISIF. Lewo alawen lapor polisi hala. Malah Noordin nepe kawen nong kebarek lau Cilacap, nong anaken. Leron kae na pana geler Tanah Jawa, macam-macam....

"Sikap permisif semacam itu tidak terjadi di negara lain, termasuk Malaysia. Ketika gembong teroris Dr. Azahari ditetapkan sebagai buronan, keluarganya harus berpindah-pindah tempat karena tidak diterima oleh lingkungan setempat," kata Ansyad Mbai, kepala desk koordinasi pemberantasan teroris.

Yah, yah, yah....

Go kai Malaysia kae. Go dahang Malaysia alawen tentang terorisme, Noordin M. Top, Azahari, raja teroris warga negara Malaysia. Ra nepe onena berekeng-berekeng, onena punak-punak, dengan Noordin nong Azahari narana.

"Teroris heloka Noordin Mat Top, Azahari... ulin take te Malaysia. Na beto tepi, polisi topeko, diadili, masoro penjara. Kame, warga negara Malaysia, moi ketun-ketun nomor telepon polisi. Kame bisa langsung lapor," amak tou naranen Muhammad Nasaruddin maring go.

Go dahang ata ahan di jawaban raen hama hena. Warga Malaysia onena punak rong teroris. Pemerintah letu sekolah-sekolah, asrama, lango... teroris raen nolo. Ana-ana sekolah, rehak nolo dore ideologi teroris dibina oleh pemerintah. Otak raen nepe nalan, sesat. Ajaran Noordin Top nong Azhari nepe nalan 100 persen.

Teroris maring meri belo atadiken, pasak atadiken, pasak bom... maso surga? Ana ahan, buraken alawen, nepe kafir, maso neraka? Otak mengong, ideologi radikal, ekstrem, nepe wajib dilawan. Kalo tite warga Indonesia kompak hala, permisif, bantu polisi hala, waduh... go onek sot.

Noordin pelae, geka, horonga.... seba ana buah, ajar tula bom balik. Beng erem pira tite bisa lile Manchester United gelaha bal lali Jakarta? Ina, ama, kaka, ari, reu... pai tite hama-hama bantu bapa-bapa polisi!

Teroris nepe ulin take tepi Indonesia!

SUMBER FOTO:
http://news.yahoo.com/nphotos/slideshow/photo//090722/photos_wl_afp/99153b6ffbddfec1cac190f6758219bd/

27 July 2009

Mbah Surip Hahahahaha.....




Saya ingin sekali bertemu Mbah Surip, tapi susah banget. Penyanyi nyentrik ini sibuk bukan main. Pekan lalu, Mbah Surip alias Urip Aryanto manggung selama tiga hari di Surabaya, dari kafe ke kafe. Setengah jam di Kafe Rasa Sayang A, pindah ke Rasa Sayang B, Rasa Sayang C..... Di Surabaya memang banyak sekali kafe bernama Rasa Sayang.

"Kapan saya bisa ketemu, Mbah?" tanya saya via SMS.

"Kapan saja bisa. Sekarang saya lagi ngamen hahahaha.... I Love You Full!" balas Mbah Surip.

Hahaha... memang ciri khas simbah yang satu ini. Lagu-lagunya yang sederhana, lirik dibolak-balik, nyanyi polos-polosan, rambut gimbal [keramas pakai sampo kucing] membuat Mbah Surip beda dengan penyanyi lain. Mbah Surip seperti menertawakan artis-artis kemayu, wangi, dengan nyanyian dan aransemen musik yang nyaris seragam.

Mbah Surip bikin gebrakan dan kita semua terhenyak. Lha, kok bisa ya, wong kayak Mbah Surip bisa kondang. Bisa menggebrak jagat industri musik kita yang makin tak jelas orientasinya. Mbah Surip, maaf, sering dianggap gendeng, edan, gila... tapi dia tenang-tenang saja. Hahahaha.... I Love You Full!

"Salam damai Hurek," begitu SMS Mbah Surip yang masuk ke ponsel saya, 26 Juli 2009. "Kapan-kapan kita ketemu di Mojokerto. Hahahaha...."

Kapan-kapan itu kapan? Mbah Surip ini makin misterius saja. Lha, kalau ketemu ketika sampean sudah tidak kondang lagi, ya, di mana nilai beritanya? Tapi tidak apa-apa.

Sekaranglah saatnya Mbah Surip panen raya. Orang Mojokerto--yang mengaku pernah kerja di perusahaan tambang di Amerika Serikat, tapi lupa bahasa Inggris, lupa bahasa Jawa krama--ini sudah bekerja keras selama puluhan tahun. Jadi pengamen, bikin lagu, figuran, hidup apa adanya ala seniman jalanan.

"Mbah, sampean kok kayaknya sedang santai ya?" kata saya via ponsel pertengahan Juli 2009. Sebelum sangat kondang ponsel Mbah Surip memang sangat mudah dihubungi. Nada sambung pribadinya: "Tak Gendong ke Mana-Mana.... Enak To".

Itu dulu. Sekarang, karena tiap hari "ngamen" di mana-mana, si Mbah sangat sulit diajak bicara langsung. Yang terima biasanya perempuan. "Sopo to Mbah? Hahahaha....."

Celakanya, si perempuan ini terkesan kurang suka kalau kita mengajak bicara Mbah Surip. "Anda siapa ya? Kok saya gak kenal? Suara Anda putus-putus.... Bisa hubungi lagi ya?" Tak ada suara ceria, ramah, hahahaha... ala Mbah Surip.

Dan ponsel pun ditutup oleh si perempuan. Asem tenan!

Begitulah. Sejak dulu yang namanya pengawal, sekuriti, body guard, watch dog, atau apa pun namanya, selalu lebih galak daripada majikannya. Sing temping.... eh sing penting, kita tak boleh kehilangan kebahagiaan seperti Mbah Surip.

Hahahaha....

I Love You Full!

26 July 2009

Semanggi Suroboyo



Selama tiga dekade lebih Sarpik melestarikan sayur semanggi. Meski tanaman semanggi sudah langka, hanya dijumpai di kawasan Benowo, perempuan 34 tahun ini tak ingin jajanan khas Surabaya itu musnah.


Tidak mudah mencari tanaman semanggi atau dalam bahasa ilmiah disebut Hydrocotyle sibthorpioides. Seiring pertumbuhan Surabaya sebagai kota metopolitan, areal persawahan menyusut drastis. Dan itu membuat semanggi, tumbuhan menjalar, dengan daun berbentuk empat bulatan di atas satu tangkai, ini pun makin terpinggir.

Tak heran, orang Surabaya sendiri pun banyak yang belum pernah melihat tanaman semanggi. "Wong adanya di daerah pinggiran, khususnya Benowo. Saya tiap hari kita ambil daun semanggi dari sana. Kebetulan kita menanam sendiri karena nggak mungkin mengandalkan pasokan dari orang lain," ujar Sarpik, pedagang sayur semanggi terkenal, kepada saya.

Berbeda dengan pedagang semanggi tradisional, Sarpik tak perlu masuk-keluar kampung untuk menjajakan semanggi. Sebab, dia punya konter khusus di Jalan Dempo 19 Surabaya. Masih termasuk kawasan Petemon, yang dikenal sebagai pusat penjualan semanggi sejak dulu.

"Sebelum jualan di sini, ya, jualan keliling di Petemon Timur. Ibu saya memang ikut merintis usaha ini," papar Sarpik.

Melihat ketekunan ibunda Sarpik, dan semangginya sangat disukai konsumen, pemilik rumah di Jalan Dempo 19 mengajaknya berjualan secara menetap. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu susah-susah mencari masakan kesukaannya. "Alhamdulillah, dept ini bertahan sejak tahun 1970-an," ujar perempuan yang ramah ini.

Rumah makan, yang buka setiap hari, kecuali Senin ini, memiliki omzet cukup besar. Setiap hari Sarpik mampu menjual sedikitnya 150 porsi. Kalau Sabtu dan Minggu, atau tanggal merah, Semanggi Dempo 19 mampu menjual 300 hingga 400 porsi. Harga setiap porsi Rp 8.000.

Kerupuk puli, camilan pelengkap sayur semanggi, diperoleh Sarpik dari seorang pedagang di Benowo. "Yang jual kerupuk puli itu cuman satu orang, ya, di daerah Benowo juga. Setiap kilonya Rp 45 ribu. Jadi, saya nggak buat sendiri," jelas Sarpik.

Dalam sehari, Sarpik bisa menghabiskan empat kilogram kerupuk puli. Satu porsi semanggi standar terdiri atas daun semanggi, kerupuk puli, dan bumbu ketela, garam, gula, dan kacang tanah. "Ada tambahan kecambah karena biasanya pengunjung di sini meminta tambahan kecambah," urainya.

Upaya Sarpik melestarikan semanggi suroboyo beroleh apresiasi dari berbagai pihak. Ini bisa dilihat dari banyaknya undangan untuk mengisi food festival baik yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya maupun lembaga swasta seperti hotel berbintang. Dalam festival makanan yang digelar sebuah merek kecap, misalnya, stan semanggi selalu menjadi favorit pengunjung.

"Saya juga sudah beberapa kali masuk televisi. Bahkan, Pak Bondan Winarno pernah meliput usaha saya. Alhamdulillah, Semanggi Dempo 19 menjadi semakin dikenal masyarakat," katanya.

Kini, Sarpik sudah membuka tiga cabang di Surabaya. Yakni, di ITC Lantai 3, Food Court Galaxy Mall, dan Café Sera Jemursari.

Nasrullah Pameran di Le Nyamuk, Swiss




Dulunya Nasrullah hanya pelukis sederhana yang sekali-sekali berpameran di Surabaya dan Sidoarjo bersama teman-temannya. Tapi suratan jodoh mempertemukan Roel, sapaan akrabnya, dengan Christine Rod, warga negara Swiss. Kini, Roel tengah menggelar pameran di Jenewa.


Oleh LAMBERTUS HUREK


"Insya Allah, Agustus 2009 aku pulang ke Indonesia. Aku ada rencana pameran di Surabaya bersama teman-teman pelukis yang lain," ujar Nasrullah kepada saya kemarin.

Selama dua bulan penuh, sejak Mei lalu, Roel memamerkan sejumlah lukisannya di Le Nyamuk, sebuah galeri plus kafe ternama di Jenewa. Galeri ini milik orang Swiss yang kerap jalan-jalan ke Asia, khususnya Malaysia dan Indonesia.

"Dia selalu ingat kata 'nyamuk' karena memang sering digigit nyamuk. Pulang ke Jenewa, dia bikin galeri. Selain untuk ajang apresiasi seni, juga tempat diskusi, kongkow-kongkow, warga negara Indonesia di Swiss," tutur pria asal Desa Ketapang, Tanggulangin, Sidoarjo, ini.

Aktivitas kesenian Roel di Swiss tak lepas dari jasa istrinya, Christine Rod. Guru matematika dan pencinta lukisan itu punya vila warisan keluarganya di sebuah daerah pegunungan. Selama bertahun-tahun vila itu jarang ditempati. "Kalau pas liburan, baru kami ke sana," cerita Christine yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Nah, setelah berhasil 'memboyong' Roel ke negaranya--mereka menikah pada 28 Juli 2006--vila tersebut dijadikan tempat kerja alias studio suaminya. Roel diberi kebebasan untuk berkarya di situ. Sebelumnya, Roel diajak mengenal alam Swiss dengan pegunungan yang hijau, peternakan sapi, kota yang tertib, dan tetek-bengeknya.

"Jadi, dia bisa mengambil inspirasi dari sini. Jangan membuat lukisan seperti yang pernah dibuat di Indonesia," ungkap Christine.

Sistem kerja macam ini awalnya tidak mudah diikuti Roel yang terbiasa hidup 'tanpa aturan' di Sidoarjo. Namun, lama-kelamaan dia bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. "Apalagi, aku juga sering diskusi sama sejumlah seniman Indonesia seperti Eddie Hara," katanya.

Meski sudah 'dikarantina' selama berbulan-bulan, Roel mengaku tak bisa menghilangkan begitu saja karakter lukisannya yang bernuansa Indonesia. Alam pedesaan di tanah air, orang-orang kampung yang sederhana, persoalan sosial, selalu diangkat ke kanvas. "Saya memang berada di Swiss, tapi pikiran saya masih melayang-layang ke Indonesia," katanya.

Sebelum pameran di Le Nyamuk, Roel sempat menggelar karya-karyanya di Attelier Anette Forestier dan Cranve Sales Prancis. Dari sini, Roel mengaku semakin terbiasa berinteraksi dengan seniman-seniman Eropa dan negara-negara Asia lain. Sebab, Jenewa merupakan kota internasional yang dihuni oleh penduduk dari berbagai negara. "Orang Indonesia saja ada 500-an," katanya.

Menurut Roel, seniman-seniman Eropa memiliki disiplin kerja, manajemen, dan agenda yang lebih mantap dibandingkan seniman-seniman kita. Mereka selalu bekerja dengan perencanaan dan target yang jelas. Tidak bisa semau gue. "Tapi kita diberi ruang untuk berekspresi. Dan, bagusnya, segala macam aliran lukis punya pasar di Eropa," pungkasnya.

22 July 2009

Buku Beneran dan Buku-bukuan

Setiap hari kita bekerja dengan komputer. Ada yang bawa laptop ke mana-mana. Simbol orang sibuk, berpendidikan, mungkin juga sukses. Kalau ada pertemuan atau "cangkrukan" [istilah Surabaya], orang suka membahas tipe laptop, harga laptop terbaru, fitur-fitur, kapasitas, dan sebagainya. Bukan main!

Pertanyaannya: sudah berapa banyak buku atau artikel [serius] yang kita tulis? Hehehe.... Yah, mesin ketik, komputer, laptop, atau apa pun namanya ternyata tidak berbanding lurus dengan kemampuan menulis buku.

Pramoedya Ananta Tour, almarhum, tidak pernah menulis pakai komputer. Sastrawan besar ini hanya mengandalkan mesin ketik manual tempo doeloe. Tak-tik-tak-tik-tok! Tapi, kita tahu, karya-karya Pramoedya "seng ada lawan" sampai hari ini. Semasa hidupnya Pak Pram belum kenal apa yang namanya laptop, communicator, dan tetek-bengeknya.

Dan, jangan lupa, karya-karya puncak Pramoedya Ananta Tour, master piece, justru dikerjakan di dalam penjara. Tepatnya Pulau Madura. Pada 1970-an itu belum ada komputer. Juga tidak ada mesin ketik manual. "Kertas pun tidak ada," cerita Oei Hiem Hwie, mantan wartawan Trompet Masjarakat, yang ikut dibuang ke Pulau Buru.

Oei menjadi "tangan kanan" Pramoedya semasa di pulau pengasingan tahanan dan terpidana politik rezim Orde Baru itu. Di Buru Pramoedya bersama ribuan tahanan dipaksa jadi petani dan nelayan. Kerja keras membuka sawah, bercocok tanam, beternak, memancing ikan, untuk kebutuhan sehari-hari. Nah, Pak Oei ini bertugas mencari kertas zak [bungkus] semen agar Pramoedya, yang pada 1960-an sudah sangat terkenal, bisa menulis.

"Zak semen itu kan berlapis-lapis. Kertas itu saya potong-potong agar bisa dipakai Pak Pram menulis. Ya, menulis biasa, tulisan tangan," kenang Pak Oei saat saya temui di Perpustakaan Medayu Agung, kawasan Rungkut Surabaya, belum lama ini. Di perpustakaan ini kita masih bisa menikmati manuskrip atau tulisan tangan Pramoedya di atas kertas bungkus semen.

"Novel tetralogi Pulau Buru itu dibuat Pak Pram dalam kondisi serbakekurangan. Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ikut menemani Pak Pram di Pulau Buru," kata Pak Oei yang ramah dan murah senyum ini.

Sejak 1990-an saya juga sering membaca buku-buku karya Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan [almarhum]. Profesor kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, ini sangat produktif menulis buku-buku tentang Bahasa Indonesia. Pada 1988 saja Pak Henry sudah menghasilkan 45 buku. Empat puluh lima!

Dalam setahun Pak Henry bisa menerbitkan empat sampai lima, bahkan tujuh, buku teks ilmiah tentang bahasa. Bisa diperkirakan sudah berapa banyak buku yang dikerjakan Pak Henry dengan sangat serius. Dan, ingat, buku karya Prof. Henry Guntur Tarigan bukanlah "buku-bukuan" seperti yang banyak ditemukan di toko-toko buku sekarang.

"Buku-bukuan" itu kumpulan artikel lepas di koran, majalah, artikel makalah... kemudian dibukukan. Dus, buku semu. Bukan buku yang sejak semula memang diniati menjadi buku bermutu. Bukan pula "buku instan" yang hanya sekadar copy-paste naskah diinternet, kemudian dihimpun, dicetak jadi buku. Prof. Henry, sekali lagi menulis, buku-buku bahasa dengan sangat serius.

Untuk menulis satu bab, Prof. Henry menggunakan 30-50 buku rujukan. Dan 95 persen referensi berbahasa Inggris. Taruhlah satu buku lima bab [contoh: PENGAJARAN PEMEROLEHAN BAHASA], sudah berapa referensi dipakai Prof. Henry? Tentu saja, ada beberapa bab menggunakan referensi yang sama. Luar biasa memang orang Batak Karo yang dosen IKIP Bandung [sekarang Universitas Negeri Bandung] ini.

Dan, yang membuat saya terkagum-kagum sampai hari ini, Prof. Henry menulis semua naskah bukunya dengan TULISAN TANGAN. Menulis dalam arti sebenarnya. Menurut editor Penerbit Angkasa, yang selama ini menerbitkan puluhan buku Prof. Henry, tulisan tangan ayah enam anak itu sangat rapi, tanpa ada corat-coret sedikit pun. Bahkan, ditulis dengan tinta berwarna-warni.

Bagi Prof. Henry Tarigan:

"Sekali jadi tetap berarti. Kalau diulang-tulis takkan seindah yang pertama ini."

Lagi-lagi, saya terpukau dengan ketekunan dan keunikan Prof. Henry Tarigan dalam menulis buku-buku teks Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi di tanah air. Terima kasih banyak, Pak! Horas! Semoga Tuhan memberkati Profesor sekeluarga!

Artikel sederhana ini saya tulis setelah saya kecewa berat membaca buku tentang Prabowo Subianto yang saya beli di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, 19 Juli 2009. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit yang punya nama. Penulisnya perempuan, bekerja di tabloid KONTAN di Jakarta. Pernah menulis beberapa buku "best seller", begitu promo di sampul.

Setelah membaca, sebagai teman perjalanan dari Solo ke Surabaya, tahulah saya bahwa buku ini "buku-bukuan". Penulis hanya sekadar perajin, tukang, yang menghimpun begitu banyak artikel dari internet. Otak-atik sana-sini, maka jadilah "buku". Dan itu sudah menjadi penyakit orang Indonesia yang semakin kronis dalam 10 tahun terakhir. Buku yang benar-benar buku bisa dihitung dengan jari tangan.

"Saya sudah terbitkan lima buku lho. Coba Anda cek di Gramedia," ujar seorang aktivis yang produktif menulis artikel di beberapa media nasional.
"Budayawan" [perlu tanda petik] ini sangat bangga karena, kata dia, buku itu lambang intelektualitas. Barangsiapa yang sudah menerbitkan buku berarti dia masuk jajaran intelektual.

"Anda itu bukan intelektual. Anda kan belum bisa menulis buku. Bisanya cuma menulis blog. Kalau sekadar jadi blogger, ya, semua orang juga bisa," komentar kenalan sekaligus teman saya ini.

Tidak salah! Saya memang bukan intelektual. Saya belum bisa menulis buku dengan referensi segudang, persiapan serius, bermutu, ala Prof. Henry Tarigan atau Prof. Gorys Keraf. Lha, kalau sekadar bikin "buku-bukuan", menghimpun artikel-artikel lepas, buat apa, Bung? Hehehe....

Yang jelas, "buku-bukuan" tentang Prabowo yang Rp 25.000 itu langsung saya hibahkan ke seorang mahasiswa di Surabaya. Hanya bikin sesak rak buku kalau dikoleksi. Begitu juga buku karya "budayawan" itu tidak pernah saya baca karena isinya hanya repetisi-repetisi. Bahkan, saya dengar "budayawan" ini pernah disanksi media massa karena suka mengirim artikel yang sama ke beberapa koran.

Indonesia membutuhkan pemikir, budayawan, penulis, kreator... orang-orang serius macam Henry Guntur Tarigan, Gorys Keraf, Kuntjaraningrat, Soedjatmoko, Sutan Takdir Alisjabana, W.J.S. Poerwadarminta, Franz-Magnis Suseno, Ignas Kleden, Josef Glinka, J.S. Badudu, Andrea Hirata, Goenawan Mohamad.

Bagaimana pendapat Anda?

Erik Hurek Nikah di Solo



"...AND THE TWO SHALL BECOME ONE FLESH;
so they are no longer two, but one flesh." Mark 10:8


Berapa lama masa pacaran yang ideal? Relatif.

Ada yang cepat, sangat cepat, lama, sangat lama. Ada yang tidak pernah pacaran, tahu-tahu menikah. Banyak pula orang yang punya prinsip: "Baru berpacaran setelah menikah."

Terserahlah! Yang pasti, Gabriel D.B. Hurek [sapaannya Erik] melakoni masa pacaran selama 13 tahun sebelum menikahi Endang Puasepten. Tiga belas tahun! Saya belum sempat bertanya apa saja yang dilakukan Erik, adik sepupu saya, dan Endang yang asli Karanganyar, Surakarta, ini. Diskusi, bahas karir masing-masing, berbagi cerita, rekreasi....?

Pastor Yohanes Suyadi, yang memimpin misa pemberkatan nikah di Gereja Santo Pius X Karanganyar, Solo, Sabtu (19/7/2009), tampak kaget mendengar pengakuan Erik dan Endang. Keluarga kedua mempelai, Paduan Suara Santa Caecilia yang beranggotakan 60-an ibu-ibu [hampir semua lansia], jemaat yang hadir, pun terkejut. Banyak yang senyam-senyum.

Hari gini... ketika dunia anak muda diwarnai kisah cinta yang putus, nyambung, putus, nyambung, putus lagi, selingkuh... Erik dan Endang mampu merawat hubungan mereka selama 13 tahun di Maumere, Flores. Mereka berkenalan, saling jatuh hati, kemudian sepakat menikah. Mereka juga sepakat diberkati Pastor Suyadi di Solo, kota asal, tempat tinggal orang tua dan keluarga besarnya.

"Kalian berdua punya masa lalu, masa pacaran selama 13 tahun. Mudah-mudahan ini bisa menjadi modal dalam perjalanan panjang menatap masa depan," begitu antara lain khotbah Romo Suyadi. Khotbahnya tak banyak bumbu, layaknya romo-romo diosesan di Keuskupan Agung Semarang, tapi sarat dengan muatan teologi dan filsafat. Layak direnungkan oleh pasutri baru... dan kita semua.

Orang hidup itu, kata romo, tidak selalu mulus. Ada kalinya berat, menanjak, ibarat mendaki gunung atau naik tangga. Tapi, jangan khawatir, itu berarti kita sedang "naik". "Kalau hidup Anda enak terus, jangan-jangan Anda nggak naik," kata Romo Suyadi, pastor paroki Santo Pius X Karanganyar. Benar juga!

Sabtu, 19 Juli 2009.

Saya secara khusus datang ke Karanganyar, sekitar 30 menit dari Kota Solo, untuk menghadiri pernikahan Erik Hurek. Sangat janggal bila saya tak hadir karena saya tinggal di Jawa. Sama-sama Hurek, dus satu keluarga inti, kami berkewajiban untuk hadir. Erik sendiri pun sudah mengirim pemberitahuan sekaligus undangan via SMS.

Perjalanan lima jam lebih Surabaya-Solo dengan bus memang bikin capek. Tapi, begitu melihat Erik dan Endang yang berbahagia, juga sejumlah keluarga datang dari berbagai kota: Jakarta, Kupang, Flores... kelelahan langsung hilang. Suasana santai, penuh canda, ala budaya Lamaholot.

"Ah, andai kata misa pemberkatan Erik-Endang dilakukan di kampung (Flores), wah, pasti ramai sekali. Pasti gereja penuh, bahkan meluber sampai keluar," batin saya.

Tapi tidak apa-apa. Seremoni pernikahan di Jawa jauh lebih efisien, ringkas, padat, tidak bertele-tele. Sangat berbeda dengan di Flores yang panjang, boros, dan tak jelas pangkal ujungnya. Suasana di gereja pun lebih emosional. Mama Bernadette, mamanya Erik, sempat menangis keras-keras ketika disungkemi Erik dan menantunya, Endang.

"Go tani nepe go peten Guru Thomas," kata Mama Dete. [Saya menangis karena ingat Guru Thomas.]

Ayah kandung Erik, Thomas T. Hurek, memang sudah meninggal dunia. Sehingga, begitulah, ketika sang anak meminta restu orang tua untuk membina rumah tangga baru, selalu terjadi adegan emosional di dalam gereja. Kami, keluarga dekat, pun ikut terharu melihat adegan Mama Dete menangis.

Ah, andaikan Bapa Thomas masih hidup! Dia tentu ikut berbahagia melihat anaknya, Erik, menyunting sang putri Solo, Endang, di Karanganyar! Tapi, sudahlah, ini sudah menjadi takdir yang digariskan Tuhan. Manusia hanya bisa menerima dan menjalani skenario besar dari Sang Pencipta.



Minggu, 20 Juli 2009.

Resepsi digelar di Gedung Putri Duyung, Karangpandan, masih di Kabupaten Karanganyar, Solo. Kawasan sejuk di dekat objek wisata Tawangmangu dan Astana Giribangun, kompleks makam mantan Presiden Soeharto dan Ibu Tin Soeharto. Cenderung sepi, banyak sawah di pinggir jalan raya yang siap panen.

Gedung Putri Duyung sendiri dikelilingi sawah. "Dulu ada kolam pancing, tapi nggak laku. Makanya, disewakan untuk resepsi mantenan, reuni, pertemuan, dan sebagainya," ujar seorang ibu di dekat SPBU Karangpandan kepada saya.

Acara ngunduh mantu menggunakan adat Surakarta (Solo). Suasana Jawa sangat kental seperti juga di gereja. Erik Hurek menggunakan busana tradisional Solo. Lengkap dengan keris di bagian bokong sebelah kanan. Kalau ada yang coba-coba mengganggu Endang, barangkali keris itu bermanfaat. Hehehe....

Kalau Erik terlihat kaku, maklum orang Flores yang baru merasakan suasana mantenan ala Jawa, Endang sangat luwes. Tak henti-hentinya nona manis ini melempar senyum. Apalagi, dia kenal banyak tamu yang memang sesama orang kampungnya sendiri. Ini berbeda dengan Erik yang cenderung "asing" di tanah orang.

Kejutan terjadi ketika beberapa mahasiswa Adonara, Flores Timur, membawakan Tarian Hedung. Semacam tari perang ala suku Lamaholot. Mereka membawa parang panjang dan tajam. Dengan semangat, anak-anak muda ini memperlihatkan karakter laki-laki Adonara yang sangat berani di medan perang.

Tarian Hedung ini pula yang mengantar Endang, si putri Solo, ke pelaminan. Sebaliknya, Erik diantar dengan tarian Solo yang lemah gemulai. Sebuah kombinasi menarik antara Solo dan Flores. Yah, cinta itu memang punya kekuatan yang sangat dahsyat. Cinta bisa mempertemukan dua sejoli yang sangat berbeda karakter, tradisi, budaya, di pelaminan.

Ritual demi ritual, proses lepas prosesi, pesta pun usai. Erik dan Endang pun harus segera balik ke Maumere untuk bekerja. Mengutip pesan Pastor Suyadi, modal pacaran selama 13, berkat Sakramen Pernikahan Suci, dan dukungan dari keluarga besar, semoga menguatkan Erik-Endang dalam meniti kehidupan yang baru.

20 July 2009

Amir Mahmud: Bahasa Madura pun Terancam Punah





Amir Mahmud baru saja merilis hasil penelitiannya tentang kondisi bahasa Madura saat ini. Menurut kepala Balai Bahasa Surabaya itu, jumlah penutur bahasa Madura menurun tajam dari waktu ke waktu. Jika tren ini dibiarkan, bukan tidak mungkin salah satu bahasa besar di Jawa Timur itu akan punah.

Nasib serupa juga menimpa bahasa-bahasa daerah lain di tanah air. Berikut petikan wartawan saya dengan Amir Mahmud di Balai Bahasa, Jumat (17/7/2009), tentang fenomena merosotnya bahasa daerah serta kajian-kajian Balai Bahasa Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK



Mengapa Anda sangat serius meneliti bahasa Madura?

Bahasa Madura itu hampir punah. Dulu, penuturnya sekitar 15 juta orang, sekarang di bawah 10 juta. Data yang terakhir malah menyebutkan 6 juta. Dari 1981 sampai sekarang berarti sudah turun 9 juta penutur. Itu pun tidak semuanya aktif berbahasa Madura. Penutur yang aktif tinggal 6 juta. Kalau ini tidak ditangani, nanti akan semakin hilang.

Nah, Balai Bahasa itu punya tanggung jawab terhadap kebahasaan. (Penelitian) Bahasa Indonesia itu wewenang pusat, bahasa daerah ditangani Balai Bahasa. Maka, kami sebagai pemegang kebijakan, memilih mengadakan penelitian tentang perkembangan bahasa Madura di Jawa Timur.

Mengapa penutur bahasa Madura menurun drastis?


Pertama, tidak ada jurusan Bahasa Madura di perguruan tinggi. Akhirnya, pengajaran Bahasa Madura di sekolah-sekolah itu dilakukan oleh para praktisi. Praktisi itu bisa orang Madura, bisa orang Jawa. Orang Jawa, yang bisa berbahasa Madura sedikit-sedikit, mengajar Bahasa Madura karena tidak ada pengajar lain. Akhirnya, bahasa daerah hanya hafalan saja.

Memang ada muatan lokal Bahasa Madura, tapi tidak diajarkan oleh orang yang berlatar belakang akademisi. Sebab, tidak ada jurusan itu. Di Madura ada empat perguruan tinggi--satu negeri, empat swasta--tapi tidak mendirikan jurusan Bahasa Madura.

Faktor kedua, gengsi. Anak muda sekarang itu merasa lebih bergengsi berbahasa Indonesia daripada berbahasa daerah. Yang ketiga, gerakan cinta bahasa Indonesia itu berhasil. Akhirnya, bahasa Indonesia menggeser bahasa daerah dan bahasa asing (Inggris, Red) menggeser bahasa Indonesia. Kenyataan di lapangan seperti itu.

Nah, sekarang ada undang-undang kebahasaan yang mengatur bagaimana kita memelihara, mengembangkan, dan membina tiga bahasa di Indonesia. Bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa asing. Nah, tiga-tiganya ini tidak boleh ada yang didiskriminasikan. Harus seimbang. Bahasa asing ditinggalkan tidak mungkin karena kita harus menjadi warga dunia. Itu harus seimbang.

Balai Bahasa sudah menyusun buku pedoman pembakuan ejaan bahasa Madura, tata bahasa Madura, kamus bahasa Madura. Buku-bukunya sudah dicetak dan diedarkan. Tetapi, masalahnya itu tadi, pengajarnya tidak ada yang berlatar belakang akademisi. Tahun lalu, Desember, kami juga melaksanakan Kongres I Bahasa Madura di Pamekasan.

Anda ini orang Solo. Kok berminat sekali meneliti bahasa Madura?

Saya di Pusat Bahasa 17 tahun. Terus saya dikirim ke sini untuk menghidupkan tiga bahasa itu di Jawa Timur. Karena bahasa Jawa sudah ditangani Balai Bahasa Semarang, Jogjakarta, maka kami nomor satu bahasa Madura, baru nomor dua bahasa Jawa. Dua bahasa ini yang terbesar di Jawa Timur.

Sastra bahasa Madura juga kesulitan. Sejak dulu ada, tapi tidak berkembang. Padahal, kunci utama pelestarian bahasa itu terletak pada pengembangan penulisan sastranya. Orang kalau membaca cerita bahasa Madura, lama-lama dia akan berkembang. Maka, kami juga menerbitkan majalah berbahasa Madura. Namanya Jokotole. Kami edarkan dengan gratis. Di dalamnya ada puisi, cerpen, berbahasa Madura.

Apakah usaha ini bisa mengembangkan bahasa Madura?


Ya, ini tinggal masyarakat Madura. Kami kan hanya fasilitator. Sekarang masyarakat Madura mau nggak? Tapi ternyata di Madura ada gerakan berbahasa Madura di sekolah-sekolah sehari dalam seminggu.

Mengapa bahasa daerah masih dianggap penting oleh Balai Bahasa?

Sebab, berhubungan erat dengan jati diri kita. Kalau orang Jawa, orang Madura, ingin mempertahankan jati diri, ya, pakailah bahasa Jawa, bahasa Madura. Jati diri kita harus dipertahankan. Bahasa Indonesia juga demikian. Jati diri nasional kita sebagai bangsa Indonesia, ya, di bahasa Indonesia. Nah, iklan-iklan di televisi itu ternyata terbalik. Bahasa Inggris dulu baru bahasa Indonesia. Mestinya bahasa Indonesia yang besar baru di bawahnya bahasa asing.

Di Indonesia itu ada 746 bahasa daerah. Yang sudah dipetakan 442 bahasa daerah. Di Jawa Timur ada empat bahasa: Jawa, Madura, Bajo, dan Bali. Bajo itu di kepulauan, kemudian Bali digunakan salah satu daerah di Banyuwangi.

Bahasa Osing dan Bawean kok tidak masuk?


Bawean itu bahasa Madura meskipun mereka tidak mau bahasanya disebut bahasa Madura. Padahal, itu murni 90 persen Madura. Hehehe... Kasusnya sama dengan Osing di Banyuwangi. Itu juga 90 persen bahasa Jawa. Tapi mereka tidak mau disebut Jawa karena struktur budaya Osing memang agak berbeda dengan orang Jawa. Termasuk Surabaya ini menyebut bahasanya bahasa Suroboyoan.

Program Java Day di Surabaya itu dikritik karena mereka menganggap di Surabaya tidak ada bahasa Jawa. Yang ada, ya, bahasa Suroboyoan. Padahal, bahasa Suroboyoan itu 98 persen bahasa Jawa. Dikatakan bahasa tersendiri jika 85 persen berbeda dengan bahasa induknya. Kalau orang Surabaya ngomong, orang Jawa masih nangkap, ya, itu bukan bahasa tersendiri.

Selain memimpin Balai Bahasa, apa kegiatan Anda sehari-hari?


Setiap pagi saya mengamati perkembangan bahasa di media massa seperti koran, majalah, buku-buku ilmiah, dan menulis hasil penelitian dan makalah. Selama dua tahun terakhir saya juga melakukan inventarisasi cerita rakyat.

Apa motivasi Anda bergelut di bidang bahasa?


Dulu, saya sempat menjadi mahasiswa pendidikan guru agama, tetapi itu hanya tiga bulan saja. Yang dipelajari hanya agama terus. Akhirnya, saya mengambil Sastra Jawa di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Setelah masuk sastra, ternyata banyak ilmu yang masuk ke dalam diri saya seperti ilmu bahasa, sosial, dan budaya. Saya merasa cocok dengan sastra.

Setelah semester tiga, saya mengetahui ada ilmu linguistik dan sastra. Nah, mulai saat itu saya menekuni bidang kebahasaan. Saya tidak ada pemikiran untuk menjadi pegawai negeri. Cita-cita saya dulu ingin menjadi penulis, wartawan, dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan ilmu sastra. Bisa dibilang, saya memotivasi diri sendiri untuk menekuni bidang kebahasaan dan kesusastraan.

Lalu, perjalanan karir menjadi pegawai negeri?

Setelah lulus kuliah, iseng-iseng saya melamar lewat pos karena bacaan saya pada saat kuliah dulu adalah buku-buku terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa, Red) di Jakarta. Setelah melamar, saya dipanggil untuk mengikuti tes pada 1987.

Saya harus mengikuti sembilan kali tes. Tesnya menggunakan sistem gugur karena persyaratan untuk masuk ke Pusat Bahasa sangat ketat. Bahkan, skripsi saya diujikan di Pusat Bahasa. Mulai saat itu saya bingung karena ilmu yang saya peroleh selama berada di bangku kuliah berbeda dengan di Pusat Bahasa. Sebab, yang dipakai adalah bahasa praktis. Alhamdulillah, saya salah satu dari pelamar yang diterima.

Sebagai kepala Balai Bahasa, apa saja suka dan duka yang Anda alami?

Saya senang mempunyai banyak teman, rekan, bisa berjumpa bupati atau wali kota untuk membicarakan masalah kebahasaaan. Saya juga harus berusaha agar sarjana bahasa yang ada di Balai Bahasa bisa memahami bahasa yang baik dan benar. Kenapa? Sebab, sarjana bahasa yang masuk ke Balai Bahasa itu bagaikan memasuki hutan rimba. Masih banyak yang belum memahami penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Harapan Anda untuk Bahasa Indonesia?

Cita-cita saya adalah mengangkat bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, paling tidak untuk Asia Tenggara. Kita tidak boleh kalah dari negara-negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia dengan Bahasa Melayu. Kita harus bangga punya bahasa Indonesia. (*)


AMIR MAHMUD

Lahir: Boyolali, 1 Januari 1960
Istri: Haryanti
Anak: Vrisa Rivera dan Nuvaris Rivera Bengawan
Alamat: Balai Bahasa Surabaya, Buduran, Sidoarjo

Pendidikan
Pendidikan Guru Agama (PGA) Boyolali
Universitas Sebelas Maret, Solo
Universitas Negeri Jakarta

Karir
Pusat Bahasa, Jakarta, 1988-2005
Balai Bahasa Surabaya, 2005-sekarang

Karya Tulis (beberapa)
Tata Bahasa Madura
Pendidikan di Indonesia 1920-1945
Masyarakat Betawi dalam Novel 'Si Doel Anak Sekolahan'

Penghargaan
Satyalencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI, 26 April 2004.

15 July 2009

Bahasa Mandarin Olive TKW



Olive laoshi, ni hao ma? Wo hen lei. Hehehe....

Sebagian besar orang dunia, termasuk saya, menganggap bahasa Mandarin, sangat sulit. Bahasa paling ruwet, paling kompleks, di dunia. Aksaranya, wuih, minta ampun ruwetnya. Dan, yang sangat penting untuk komunikasi, BUNYI-nya.

Sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, "Bahasa paling sederhana di dunia," kata Alan Bishop, produser musik asal Amerika Serikat.

Alan sudah berkeliling ke puluhan negara di dunia untuk mencari piringan hitam, kaset, CD/VCD/DVD lagu-lagu khas negara itu. Indonesia jadi salah satu target buruannya. Alan Bishop ini beberapa kali diskusi dengan saya tentang perkembangan musik (industri) Indonesia sejak era 1950-an sampai sekarang. "Saya dengar orang Indonesia omong, dan saya bisa paham meskipun sedikit," kata Alan.

Bahasa Indonesia memang sangat simpel. Bunyi, aksen, tekanan, sama sekali tidak mengubah arti. Justru dari bunyi, fonologi, inilah kita langsung tahu si Ucok asal Batak. Frans dari Papua. Umbu dari Sumba. Nurhaliza dari Riau. Yusril dari Padang. Kalaupun salah membunyikan "e" pepet dan "e" benar, orang tetap paham.

Kemudahan-kemudahan ini yang tak kita jumpai ketika belajar bahasa Mandarin. "Coba ulangi: QING CUO!" perintah Olive. Saya pun mengulangi "Qing zuo" berkali-kali. Baca: CHING CUO yang artinya "silakan duduk".

"Salah!" kata Olive. "Masih salah!" katanya lagi. "Tetap salah! Ucapannya bukan CHING CUO dalam bahasa Indonesia! Kalau Mas ngomong kayak gitu, nggak akan ada orang yang paham. Coba ulangi lagi!" perintah si Olive.

Saya pun mengulang puluhan kali, bisa 50 kali, dan hasilnya... tetap salah. "Lihat mulut saya, posisi bibir, lidah.... Lemaskah! CUO itu kelihatannya ada O, tapi vokal O tidak dibunyikan!" jelas nona manis ini. Saya tambah bingung dan pening. Kursus dasar bahasa Mandarin saya gagal total.

Begitu banyak bunyi yang mirip (bahkan sama) menurut kuping Indonesia, tapi berbeda tajam di Tiongkok. Seperti SI, SHI, ZI, ZHI, CHI, CHI, JI, QI. Bunyi SI, menurut Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group yang belajar bahasa Mandarin langsung di Tiongkok, ada 144 buah. Seratus empat puluh empat! Bagaimana bisa menghafalnya? Mengucapkan QING COU (silakan duduk) saja saya tidak mampu, padahal sudah kursus delapan hari. Hehehe...

Hebatnya, Olive laoshi ini mengucapkannya dengan enak. Gadis Madiun ini, usianya 21 tahun, juga sangat fasih ketika bercakap-cakap dengan orang Taiwan dan Zhungguo (Tiongkok) di Surabaya. Termasuk bercanda dalam bahasa Mandarin. "Padahal, saya ini nggak bisa baca tulisannya. Hehehe," kata Olive.

Nama asli Olive: SITI MUALIMAH, tinggal dua tahun di Taiwan, kerja di sana. Istilahnya TKW: tenaga kerja wanita. Di Taiwan Siti ini disapa MEIMEI.

Dia bilang kerja serabutan di restoran, kantor, hingga rumah tangga. Karena usinya muda, lepas SMA langsung ke Taiwan, Olive mengaku tidak sulit menyerap bunyi-bunyi bahasa Mandarin.

"Awalnya sih sulit. Tapi, karena sering dipakai, selalu dengar orang ngomong itu tiap hari, tiap menit, ya, lama-lama bisa," ujar Olive laoshi membuka kiat belajar bahasa asing. "Yang penting, jangan malu. Kalau salah, ya, dibenerin."

Siti alias Olive alias Meimei benar. Bahasa apa pun adalah alat komunikasi. Tak bisa lepas dari masyarakat pemakainya. Belajar bahasa di kursus, apalagi belajar sendiri (otodidak), pasti beda dengan menyelam langsung ke masyarakat pengguna bahasa tersebut. TKW di Taiwan macam Olive pasti sangat mudah menyerap bahasa baru ketimbang kita yang tinggal di Surabaya, misalnya.

Saya sendiri bisa berbahasa Jawa dan Madura, juga bukan hasil kursus. Tahu-tahu bisa karena berada di lingkungan Jawa dan Madura. Orang Indonesia tidak fasih berbahasa Inggris meskipun sejak SMP ada pelajaran bahasa Inggris? Sangat wajar.

Sebab, lingkungan tempat tinggal kita tidak berbahasa Inggris. Tapi TKW di Hongkong, Singapura, Australia... pasti lebih lancar cas-cis-cus dalam bahasa internasional itu. Belum lagi masalah ejaan yang memang khas. Sama-sama pakai A, B, C... sampai Z, tapi cara baca ala Indonesia, Malaysia, Inggris, Belanda, Spanyol, Tiongkok berbeda total.

Tiongkok (nama yang benar: ZHONGGUO) mengadopsi ejaan Latin alias romanisasi yang disebut Ejaan HANYU PINYIN. Ada 25 aksara yang dipakai, kecuali V, dan semuanya kita kenal dalam bahasa Indonesia. Tapi cara membaca, bunyinya, wuih-wuih... berbeda sama sekali.

Maka, kalau orang Indonesia sangat sulit membaca teks dalam bahasa Inggris, saya sekarang SANGAT-SANGAT mengerti. Sebab, saya pun SANGAT-SANGAT kesulitan mengucapkan kata-kata Mandarin dalam ejaan PINYIN. Contohnya QING CUO itu tadi.

"Ayo, kita lanjutkan pelajaran! BUBI KEQI, NI YAO HE SHENME?" (Tidak perlu sungkan. Kamu mau minum apa?) Bacanya: PUPI KHECI, NI YAO HE SEME.

"Hehehe.... Lagumu itu gak pas blas! Indonesia banget! Flores banget! Sekarang perhatikan ucapanku lalu tirukan!" Wuih, ucapan si Olive ini benar-benar kayak penutur asli, orang Taiwan atau Beijing (Baca: PEI-CHING). Saya pun terdiam, seakan tak percaya dengan gadis eks TKW yang sangat fasih Mandarin.

"Olive laoshi, kayaknya saya baru bisa bahasa Mandarin setelah jadi TKI di Taiwan atau Hongkong. Kalau begini terus, saya bisa stres. XIEXIE, MINGTIAN JIAN (Terima kasih. Sampai ketemu besok)."

"Hehehe... Ucapannya bukan MINGTIAN kayak bahasa Indonesia, tapi MINGTHIEN," kata Olive yang tak bosan-bosannya meralat pengucapanku yang memang payah.

Yuyun Kho - Eng An Bio Bangkalan



Sejak kecil Yuyun Kho berada di lingkungan klenteng alias tempat ibadat Tridharma (TITD). Kini, di usia 65 tahun pun Yuyun tak bisa dilepaskan dari klenteng.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Saya menemui Yuyun Kho di TITD Eng An Bio, Jalan Panglima Sudirman Bangkalan, Selasa (14/7/2009). Sekalian menjajal Jembatan Suramadu. Yuyun Kho sibuk meracik kertas untuk keperluan ritual ala Tionghoa. Meski sendirian, dia tampak sangat menikmati pekerjaannya. Rutinitas selama puluhan tahun.

"Yah, bagi saya, hidup itu mengalir saja. Saya sendiri nggak nyangka kalau bertugas di Madura. Dulu, membayangkan saja tidak," ujar perempuan kelahiran Salatiga 27 April 1944 ini.

Sebagai putri seorang seniman Tionghoa, Kho Pek Sun alias Bejo Sugiono (alm), Yuyun memang akrab dengan segala sesuatu yang berbau tradisi Tionghoa. Sang ayahanda seniman serbabisa di Salatiga. Pandai melukis figur-figur Tridharma (Konghuchu, Buddha, Tao), membuat patung, bikin barongsai dan liang liong, dan sebagainya.

Yuyun cilik selalu mengamati kerja ayahnya. "Lama-lama saya bisa membuat karya seni seperti Papa meskipun nggak pernah diajari," kenangnya seraya tersenyum. Yuyun pun giat membantu membuat karya seni rupa di Hok Tek Bio, klenteng terkenal di Salatiga.

Kerja seni religius Tionghoa ini semakin membuat Yuyun kerasan dengan kehidupan di klenteng. Berbeda dengan masyarakat umum yang suka mengejar materi, cari kekayaan, Yuyun merasa sudah "kaya" secara rohani. "Apa sih yang kita cari di dunia ini? Saya sendiri sudah merasa cukup: bisa makan, minum, membeli kebutuhan pokok," katanya.

Pada 1980-an, tak disangka-sangka, Yuyun diminta seorang tokoh Tridharma, yang juga pengelola sejumlah klenteng di Jawa Timur, untuk mengurus klenteng di Lawang, Kabupaten Malang. Rumah ibadat di dekat Kebun Raya Purwodadi itu membutuhkan orang yang tak hanya tahu agama dan tradisi Tionghoa, juga punya kemampuan seni. Maka, sejak 1984 Yuyun hijrah dari Salatiga ke Lawang.

Di situ bakat seni rupanya makin terasah. Setiap hari, selain sibuk menangani keperluan sembahyang jemaat, Yuyun juga membuat lukisan dinding. Bidang-bidang kosong diisi dengan gambar dewa-dewi serta figur penting dalam tradisi Tionghoa. "Kalau Anda ke Malang, silakan mampir. Karya saya masih ada di Lawang," ujarnya dalam bahasa campuran Indonesia dan Jawa.

Setelah delapan tahun bertugas di Lawang, pada 1992 Yuyun Kho kembali mendapat tugas dari petinggi Tridharma untuk mengurus Eng An Bio di Bangkalan. Klenteng yang terletak di tengah kota ini sudah berumur 200-an tahun. Ia juga menandai kehadiran warga keturunan Tionghoa di pulau garam itu.

"Saya, ya, ikut saja karena memang itu sudah menjadi panggilan hidup saya," kenangnya. Pulau Madura, meski bertetangga dengan Jawa, boleh dikata masih asing bagi Yuyun. Dia tak menguasai bahasa Madura, bahkan sampai sekarang pun tetap kesulitan. Tapi, karena ini tugas keagamaan, Yuyun melakoni tugas itu dengan ikhlas.

Pada awalnya Yuyun mengaku cukup sulit beradaptasi dengan kehidupan baru di Bangkalan. Sebagai orang Jawa Tengah, yang terbiasa berbahasa Jawa krama, dia harus berhadapan dengan masyarakat yang bahasanya sangat berbeda. Begitu juga dengan tradisi, budaya, dan sebagainya.

Tak lama di Madura, menjelang kejatuhan rezim Orde Baru, sempat terjadi aksi kekerasan berbau SARA (suku, agama, ras, antargolongan). Yuyun pun sempat menjadi saksi mata peristiwa tak mengenakkan ini. Syukurlah, situasi bisa segera diatasi. "Sampai sekarang aman-aman saja," katanya tersenyum.

Wajah Klenteng Eng An Bio bahkan tampak lebih segar, lapang, dengan aneka aksesoris khas Tionghoa yang sangat menarik. Aulanya luas. Juga ada pagoda mini di bagian belakang. Angin segar selalu masuk ke kompleks klenteng, dan itu membuat Yuyun semakin betah.

"Jemaat juga senang bersembahyang di sini setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa. Cuma, karena Bangkalan ini dekat Surabaya, ya, banyak jemaat yang pergi ke Surabaya atau Malang," kata anak kedua dari delapan bersaudara ini.

Pekan lalu, Yuyun berlibur di kampung halamannya, Salatiga. Famili serta keluarga besar TITD Hok Tek Bio heran lantaran Yuyun sudah bertugas selama 17 tahun di Madura. Dan Yuyun sangat menikmati panggilannya sebagai pelayan umat Tridharma selama puluhan tahun.

"Saya sendiri juga kaget, kok sudah lama banget ya kerja di Madura," kata Yuyun lantas tertawa kecil.

Di usia senjanya, Yuyun Kho masih punya obsesi mengabdikan hidupnya secara total kepada Sang Pencipta dengan menjadi bhikkuni. Keinginan ini sudah dibicarakan dengan beberapa petinggi klenteng. Tapi ada kendala justru dari keluarganya di Salatiga.

"Khawatirnya saya tidak bisa ketemu mereka setiap saat. Nah, kalau ada hambatan macam ini, ya, nggak bisa," katanya.

13 July 2009

Semoga Megawati Kapok




Pemilihan presiden (pilpres) berlangsung aman, lancar, dan tak ada kejutan. Susilo Bambang Yudhoyono, berdasar hitung telak, menang telak 60-an persen. Suara Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla sangat sedikit. Dus, pilpres cukup satu putaran.

Kita tak perlu jadi pengamat politik untuk menganalisis pilpres di Indonesia. Peta kekuatan sangat mudah diketahui. "SBY seng ada lawan!" SBY itu berpasangan dengan siapa saja pasti menang.

"Dengan kucing atau sandal jepit pun tetap menang di atas 50 persen," begitu guyonan banyak orang pada April 2009 silam. Dan hasilnya terbukti benar.

Ibarat pertandingan bola, SBY berhadapan dengan dua lawan yang tidak sepadan. Ibarat Divisi Utama lawan Divisi I. Megawati adalah politikus yang kalah. Tahun 2004 Megawati sudah kalah telak melawan SBY. Selama lima tahun Megawati "jothakan" sama SBY karena kecewa.

Setelah pilpres 2004, PDI Perjuangan bikin kongres di Bali. Salah satu putusannya: Megawati harus maju lagi dalam pilpres 2004. "Suara yang kurang" -- Mega tak pernah mengaku kalah -- harus direbut kembali. Sikap yang emosional, terlalu percaya diri, dan agak ngawur.

Tanpa berhitung soal konstelasi politik yang berubah dengan cepat. Tanpa mempertimbangkan popularitas Megawati dan lawan-lawan politik pada 2008-2009. Tanpa melihat hasil pemilu legislatif 9 April 2009. Tanpa membaca hasil suvei, meski hampir semua lembaga survei di Indonesia bekerja atas dasar pesanan atau dibayar.

Mama Mega punya ambisi besar untuk jadi presiden lagi. Anak Bung Karno ini berpikir dia masih disukai rakyat. Lha, kalau rakyat itu anggota PDI Perjuangan, ya, bisa benar. Tapi, ingat, PDIP hanya beroleh 14 persen suara pada pemilu legislatif. Jauh lebih banyak yang tidak mendukung Mega. Orang sudah tahu siapa Mega, kinerjanya, gayanya di depan publik, dan sebagainya.

Maka, semoga hasil pilpres kemarin ini menjadi bahan introspeksi Megawati dan PDIP. Megawati harus sadar bahwa zaman sudah berubah. Karier politiknya, maaf saja, sudah tamat. Harus ada kader-kader baru, darah segar dan cerdas, dari PDIP yang muncul untuk kompetisi 2014. Dan kader baru itu bukan anaknya, Puan Maharani. Sebab, kalau Puan dipaksakan, ya, hasilnya akan kalah dan kalah lagi.

Petinggi-petinggi PDIP pun harus lebih kritis, cerdas, bisa membaca angin politik. Bukan kader-kader ABS: Asal Bunda Senang! Kader PDIP yang berani mengatakan kepada Megawati bahwa elektabilitasnya sangat rendah dalam pilpres. Bukan kader yang gelap mata, menjerumuskan Megawati, dengan kalkulasi politik yang ABS.

Bagaimana dengan Jusuf Kalla?

Dia sudah tahu bakal kalah. Dan dia tetap saudagar kaya. Politik sejatinya bukan habitat JK. Politik mungkin hanya hobi. Dan Golkar, partai yang dipimpin JK, tak punya ideologi yang jelas, selain konsisten memelihara oportunisme atas nama "kekaryaan".

Mudah ditebak, beberapa hari ke depan Golkar akan bergolak. JK dilengserkan dan para politisi Golkar rame-rame merapat ke SBY agar kebagian kursi di kabinet baru. Sejak lahir pada 1964 Golkar tak punya bakat oposan. Golkar selama 40 tahun lebih menimati zone nyaman kekuasaan.

Kita berterima kasih kepada Jusuf Kalla yang telah berjasa memberikan warna baru pada pilpres kali ini. Juga Prabowo Subianto yang berani "tampil beda" dengan pilihan ideologi yang sangat jelas.

Selamat bekerja untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono! Lanjutkan!

KREDIT FOTO:
http://news.yahoo.com/nphotos/slideshow/photo//090708/481/6893840e40db4105ad03b918e1bced5a/

10 July 2009

Thirzza, Miss Indonesia Favorit 2009



Cantik dan seksi. Tapi juga kreatif. Thirzza Puspita Chandra, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, baru saja terpilih sebagai Miss Indonesia Favorit 2009. Lumayan, dia terbilang unggul di antara 33 finalis yang mewakili 33 provinsi di Indonesia.

Miss Indonesia ini saingannya Putri Indonesia. Sama-sama diselenggarakan perusahaan kosmetik yang juga kompetitor bisnis serupa. Yah, namanya juga hiburan, kontes miss-miss-an atawa putri-putrian ini bagus untuk memelihara kesegaran mata.

Siapa yang tidak suka lihat gadis cantik? Aha, Thirzza Puspita Chandra, lahir di Surakarta 13 Juni 1987, berdarah Tionghoa, memang memenuhi syarat B kedua: beauty. B pertama, brain, boleh juga karena dia kuliah di UK Petra. Kampus Tionghoa yang sangat terkenal di Surabaya.

"Aku ini gak pernah ikut modeling lho. Gak punya basic model sama sekali," aku Thirzza Puspita Chandra sembari tersenyum.

Karena didorong teman-temannya, yang menilai Thirzza molek bestari, fisik bagus, tinggi-berat oke, kuliah di Petra, putri Chandra Harianto ini pun nekat mendaftarkan diri ikut pemilihan Miss Indonesia 2009. Karena itu, dia mengaku sempat minder menghadapi 32 finalis yang rata-rata berlatar model.

Di Miss Indonesia, semua finalis "direkayasa" agar mewakili salah satu provinsi. Thirzza disuruh mewakili Kalimantan Barat. Padahal, lebih afdal kalau dia mewakili Jawa Timur atawa Jawa Tengah, kota kelahirannya. Gadis Jakarta, misalnya, bisa saja menjadi wakil Papua meskipun tidak pernah ke Papua dan tidak punya ikatan emosional atau apa pun dengan provinsi tersebut.

Thirzza tentu saja kelabakan karena buta Kalimantan Barat. "Untung, ada saudara saya yang tahu budaya Kalimantan Barat," akunya. Juga untung karena di era internet ini informasi apa pun bisa diakses hanya dengan masuk ke Google dan mesin-mesin pencari lainnya.

Di final, Thirzza Puspita Chandra dapat gelar Miss Indonesia Favorit. Sebuah kejutan yang luar biasa, katanya. "Saya ini orangnya easy going. Mau menang atau kalah no problem. Puji Tuhan, saya terpilih sebagai Miss Indonesia Favorit," ujar mahasiswa marketing ini.

Tiket untuk masuk ke dunia hiburan sudah ada di tangan Thirzza. Akses dengan televisi, RCTI, penyelenggara Miss Indonesia, pun sudah di tangan. Namun, Thirzza ingin fokus kuliah. "Saya ingin kuliah cepat selesai. Saya mau fokus di marketing," tegas sulung dari dua bersaudara ini.

Thirzza xiaojie, wo gongxi nin!

PTN Minded




Minat lulusan SMA untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) masih tetap tinggi. Seperti diberitakan Radar Surabaya (28 Juni 2009), jumlah pendaftar Seleksi Nasional Masuk PTN di Unesa Ketintang mencapai 30 ribu orang. Belum lagi peserta yang mendaftar di kampus-kampus lain.

Angka ini nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun. Ketika SNMPT masih bernama UMPTN, Sipenmaru, atau Skalu, hampir semua lulusan SLTA memang menempatkan PTN sebagai pilihan pertama dan utama. Kalau tidak lulus SNMPTN, barulah mereka berpaling ke berbagai perguruan tinggi swasta (PTS).

Apakah kualitas PTN selalu lebih unggul daripada PTS? Belum tentu.

PTN lebih murah? Belum tentu juga. Kita tahu, sekarang ini biaya kuliah di PTN semakin mahal dengan adanya kebijakan badan hukum pendidikan.

Apakah lulusan PTN dijamin dapat kerja? Juga belum tentu.

Sudah menjadi rahasia umum setiap tahun jutaan lulusan perguruan tinggi kita, termasuk PTN, menjadi penganggur. Karena itu, membanjirnya peserta SNMPTN juga bisa dibaca sebagai kegagalan kita dalam membaca tren globalisasi. Pasar kerja sekarang sangat menuntut orang-orang kreatif yang bisa kerja.

"Buat apa sarjana kalau nganggur?" gugat Bagus Supomo, direktur Surabaya Hotel School.

Menurut dia, pasar kerja setiap tahun membutuhkan ribuan, bahkan jutaan orang lulusan baru. Syaratnya: punya skill yang spesifik, siap kerja, terampil, kreatif. Dan, kualifikasi itu jarang dimiliki lulusan S-1.

"Sayang, paradigma berpikir masyarakat kita belum banyak berubah," kata Bagus.

Pengamat politik Pater J. Drost SJ pada 1990-an pernah mengatakan, sejak dulu peserta seleksi masuk PTN itu hanya 10 persen saja yang benar-benar lulus. Hanya 10 persen inilah yang memenuhi syarat kecakapan intelektual untuk menyerap materi perkuliahan. "Yang 90 persen itu sengaja diluluskan karena ada tempat," kata Drost.

Karena itu, seharusnya fokus utama kita adalah memperbanyak kampus-kampus 'siap kerja' seperti politeknik, akademi, sekolah perhotelan, modelling school, IT, dan sebagainya. Bukan malah mengondisikan lulusan SLTA untuk ramai-ramai ke universitas, kemudian lulus, dan setelah itu menganggur.

07 July 2009

Ervinna di Zona 80




Ervinna 1970-an.


Lama tak terdengar kabarnya, Ervinna tiba-tiba muncul di Zona 80 sebuah stasiun televisi nasional. Penyanyi asli Surabaya ini membawakan dua lagu nostalgia ciptaan A. Riyanto: Lari Pagi dan Jangan Parkir Sembarangan.

Suaranya Ervinna masih melengking, meski gerakannya tak selincah pada 1980-an. "Saya diminta mengisi Zona 80. Kebetulan temanya olahraga, khususnya bulutangkis. Dan saya punya banyak lagu bertema olahraga," tutur Ervinna yang saya hubungi via ponsel kemarin.

Pemilik 200-an album ini mengaku tidak melakukan latihan khusus. Dia cuma memutar kembali dua lagu itu untuk mengingat-ingat syairnya. Latihan vokal khusus?

"Nggak perlulah. Sebab, saya kan masih nyanyi sampai sekarang," akunya.

Ervinna memang tidak mundur 100 persen dari dunia musik dan nyanyi. Sebagai ketua Bunda Kudus Keuskupan Surabaya, Ervinna kerap menyanyi di persekutuan doa, kebaktian kebangunan rohani (KKR), atau misa di gereja. Tentu saja, dia membawakan gospel songs, bukan lagu-lagu pop yang pernah membesarkan namanya.

"Tapi sekali-sekali saya diajak menyanyi pop di acara musik nostalgia televisi. Ya, kayak Zona 80 di Metro TV itulah," ujar perempuan bernama lengkap Theodora Monika Ervin ini.

Bagi pengamat dan kolektor musik 1980-an, Ervinna dikenal sebagai penyanyi serbabisa. Segala jenis musik, lirik dalam berbagai bahasa, bisa dibawakannya dengan baik. Termasuk puluhan album pop Mandarin.

"Album rohani saya yang terakhir juga berbahasa Mandarin. Sekarang sudah tersebar di mana-mana lho," katanya. (rek)



Ervinna, 2008

02 July 2009

TKI Flores di Malaysia (1)



NIRMALA BONAT, TKW asal NTT yang dianiaya di Malaysia.

Sudah biasa tenaga kerja wanita (TKW) disiksa di Malaysia. Dan, untuk kesekian kalinya, orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang jadi tumbal devisa. Modesta Rengga Kaka, 26 tahun, asal Sumba Barat, disiksa majikan bernama Choo Pelling, Malaysia. Kasus Modesta terungkap akhir Juni 2009.

Wanita NTT ini disiksa luar biasa. Sekujur badannya luka. Telinganya tuli alias rusak permanen. Dihukum berdiri di tengah hujan deras, tengah malam. "Beta dipukul pake kayu dan rotan na," cerita Modesta yang asli Wewera Utara, Sumba Barat. Dia sudah kerja di Choo Pelling selama sembilan bulan.

"Beta pu gaji sonde dibayar. Jadi, beta tahan sa meskipun disiksa. Beta tunggu sampe beta pu gaji su dibayar," kata Modesta dengan logat khas Sumba.

Sebelumnya, Mei 2004, tragedi TKW menimpa Nirmala Bonat, juga kita pu orang. Orang NTT. Kulit Nirmala lebam, penuh bekas luka. Badannya diseterika sama tauke. "Beta su mau mati sa, tapi Tuhan masih kasih beta hidup. Dorang siksa beta macam binatang sa. Padahal, binatang sa belum tentu ketong pukul," kata Nirmala.

Kasus Nirmala Bonat dan Modesta Rengga Kaka, dua perempuan NTT, menjadi berita besar di Indonesia. Terakhir, Juni 2009 pemerintah "terpaksa" menhentikan sementara pengiriman TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Malaysia. Padahal, Malaysia butuh TKI dan kita (justru) lebih membutuhkan Malaysia untuk menampung orang-orang Indonesia yang mengangur.

Indonesia, maaf saja, hanya bisa besar mulut, tapi tidak mampu menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Malaysia, terlepas dari segelintir majikan yang gila dan kurang ajar, berhasil mencetak lapangan kerja yang luar biasa.

"Pekerjaan di Malaysia itu berlebih, sementara orang Malaysia sendiri sonde mau kerja di sektor informal. Nah, itu yang diisi oleh kita punya orang," kata teman saya, Daniel Rohi, orang NTT yang pernah menjadi dosen (pensyarah) di Universiti Putra Malaysia.

***

Mengapa TKW yang disika itu kebanyakan orang Flores, Sumba, Timor alias Flobamora alias NTT?

"Ceritanya panjang banget, Bung," jawab saya kepada teman orang Jawa di Surabaya. "Kalau saya tulis, bisa jadi buku tebal berjilid-jilid. Mau nulis pakai angle apa saja bisa."

Orang Flores [NTT umumnya] memang punya "hubungan khusus" dengan Malaysia. Gelombang perantauan itu, menurut cerita bapak-bapak di kampung saya, Lembata, Flores Timur, sudah berlangsung sebelum Malaysia merdeka pada 31 Agustus 1957. Maka, di kampung saya kakek-kakek sering menyebut Malaysia dengan PTM: Persekutuan Tanah Melayu.

"Melarat lau PTM pe mela-mela. Tite bisa tao doi. Tula lango. Nato tang lewo tai," begitu kata-kata sakti di kampung. Artinya: "Merantau di Malaysia itu sangat bagus. Kita bisa menabung. Buat rumah. Kirim uang ke kampung."

Ajaran para sesepuh, eks perantauan PTM ini, sangat berbekas di Flores. Diingat benar dari generasi ke generasi. Maka, merantau atau MELARAT [bahasa Flores Timur] ke Malaysia menjadi obsesi hampir semua pemuda di kampung. Orang yang merantau punya nilai lebih. Sebab, ada harapan dia bisa membuat rumah bagus, kirim barang-barang berharga, membantu biaya kuliah atau sekolah adik-adiknya.

Para perantau pun lebih mudah menemukan jodoh ketimbang pemuda yang hanya "jaga kampung". "Leron kae koda kiring, kerian take, mo pao ham anakem mang aku?" [Tiap hari bicara ngalor-ngidul, tidak punya kerja, bagaimana engkau bisa memberi makan istri dan anak?]

Maka, orang yang tidak merantau ke Malaysia, padahal tidak melanjutkan sekolah atau kuliah, dianggap punya "kelainan". Dianggap hanya akan membebani keluarga yang memang sudah miskin papa. Kasihan sebenarnya, mereka yang tinggal di kampung itu sebenarnya berjasa membangun kampung. Tapi disindir, dicibir dengan kata-kata tajam... sehingga suatu ketika dia harus ke Malaysia.

Kalau pada era PTM, sebelum 1960, merantau hanyalah "kebiasaan" [habit] orang Flores Timur, sejak 1970-an sudah menjadi BUDAYA. Budaya merantau. Habit yang dilakukan puluhan tahun niscaya menjadi budaya. Bahkan, sudah semacam TRADISI. Tak usah heran, jika berkunjung ke Flores Timur, Anda tidak banyak menyaksikan pemuda-pemuda usia produktif. Hampir semuanya sudah "melarat" ke Malaysia.

Sekitar 90 persen teman saya saat sekolah dasar (SD) berada di Malaysia. Yang 10 persen melanjutkan sekolah, ada yang gila, kemudian meninggal, dan sebagainya. Sebelum 1980-an bahkan semua laki-laki tamatan SD langsung melayang ke Malaysia. Hanya wanita-wanita yang tinggal di desa. Karena itu, sejak dulu kita selalu kesulitan mencari orang yang mau jadi kepala desa, ketua RT/RW, dan sebagainya.

Saat masih anak-anak di kampung, saya lebih "mengenal" Malaysia daripada Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan sebagainya. Meski tidak pernah ke Malaysia Timur, nama-nama kota di Malaysia bisa kita baca tiap hari di kaus-kaus yang dipakai orang kampung: Tawau, Sandakan, Sabah, Keningau, Lahaddato, Kinabalu, Kuching, Kuala Lumpur, Selangor....

Pada 1980-an biasanya dua kali setahun kapal-kapal pengangkut TKI tiba di Pelabuhan Lewoleba atau Larantuka. Ratusan, bahkan ribuan, orang Flores baru datang dari Malaysia. Bawa kopor-kopor besar, barang-barang sangat banyak, baju baru, wangi... singkatnya luar biasa. Lantas, carter oto [mobil] ke kampung. Sampai di kampung, TKI-TKI ini mulai "pamer" kesuksesan.

Tiang bambu tinggi dipasang di depan rumah. Loadspeaker khas desa, TOA, digantung. Lagu-lagu dangdut, pop, selera Malaysia diputar keras-keras. TKI-TKI Malaysia berjasa menyebarluaskan musik dangdut di Flores.

Musik di TOA ini semacam "pengumuman" bahwa si A, B, C, X... baru saja pulang dari Malaysia Timur. Dia pasti membawa uang banyak, baju-baju bagus, oleh-oleh, atau sekadar pamer perhiasan di jari atau leher atau... gigi.

Hehehe.... Zaman dulu perantau Malaysia suka pamer gigi emas simbol kesuksesan.

Setelah lepas kangen, karena 10 tahun tidak ketemu, si TKI [sebelum 1990-an hampir tidak ada wanita yang merantau] mulai belanja bahan-bahan bangunan. Membayar tukang untuk memperbaiki rumah. Lebih tepat: bikin rumah baru. Rumah lama, yang dari bambu atap alang-alang atau daun kelapa, diganti tembok. Atap seng atau asbes atau genteng.

Kalau ringgit tidak cukup, biasanya hanya setengah tembok. Tak lama kemudian stok uang dan sedikit kemewahan ala Malaysia ludes. Lantas? Ya, "melarat" lagi ke Malaysia. Kerja lagi. Kumpulkan uang. Lalu, kembali ke kampung, memperbaiki rumah yang sudah ditembok setengahnya.

Maka, rumah-rumah keluarga yang punya TKI di Flores pasti bagus-bagus. Sering jauh lebih bagus ketimbang rumah pejabat macam camat atau bupati. Yah, terlepas dari berbagai kelemahannya, harus diakui bahwa TKI-TKI inilah yang mengubah wajah kampung kami di Flores sejak era 1960-an. TKI-TKI itu ibarat mesin ekonomi yang luar biasa. Ketika musim paceklik tiba, dan kelaparan datang, uang tabungan dari TKI ini bisa dipakai untuk membeli bahan makanan.

Malaysia -- khususnya negara bagian Sabah dan Serawak di Malaysia Timur -- sudah lama menjadi kampung kedua orang-orang Flores. TKI-TKI itu seperti "memindahkan" tradisi dan budaya Lamaholot [Flores Timur] ke Malaysia. Di sana ada tua-tua adat, kepala suku, pengurus gereja, hingga sistem adat Lamaholot yang sangat dipelihara.

Adat GEMOHING atau gotong-royong ala Lamaholot justru makin kental setelah berada di Malaysia. Jadi, siapa pun yang ingin kerja di Malaysia Timur, silakan ke sana. Pasti dapat kerja asalkan mau kerja. Tidak pakai syarat-syarat macam ijazah, keterampilan, penguasaan bahasa, dan sebagainya.

"Sabah dan Sandakan itu macam kitorang punya kampung sendiri le," kata teman saya.

Begitulah. Hampir setiap hari anak-anak SD di Flores Timur [TK belum ada, hehehe...] menyimak dengan saksama kisah sukses para TKI. Berikut begitu banyak bumbu penyedap, hiburan, makanan enak, gadis cantik... yang hanya bisa dinikmati di Malaysia. Merantau dipercaya sebagai cara paling efektif dan cepat untuk mengubah nasib. Bukan melanjutkan sekolah, kuliah, dan sebagainya.

Maka, cita-cita anak SD di kampung kami sederhana saja: Jadi TKI! "Melarat" di Malaysia!

Debat Capres ala USA



Pelajar SD, SMP, SMA zaman dulu mengenal PMP, Pelajaran Moral Pancasila. Ada juga penataran P4, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Saya masih ingat betul ajaran-ajaran Pancasila yang diindoktrinasi oleh rezim Orde Baru.

Di PMP itu terasa sekali betapa anak-anak Indonesia dikondisikan untuk membenci demokrasi liberal ala USA dan paham sosialis-komunis. "Demokrasi USA itu gontok-gontokkan. Free figh liberalism. Yang punya uang yang menang. Debat-debatan saling menjelekkan. Pokoknya, jangan mencontoh Barat yang keparat itu!"

Lalu, mana yang terbaik? Bapak-bapak guru--kebetulan guru PMP saya dari SD sampai SMA, kemudian Kewiraan dan P4 di universitas laki-laki--menjawab tegas: "Demokrasi Pancasila!"

Semua yang buruk di Blok Barat, semua yang buruk di Blok Timur, tidak dikenal di Indonesia. Demokrasi kita itu unik. Kecap nomor satu! Demikian indoktrinasi ala Pak Guru! Hehehe....

Menjelang pemilihan presiden 2009 ini, semua ajaran PMP tempo dulu hancur berantakan. Demokrasi liberal ala USA, yang dulu dimaki-maki, kini dipuja-puji. Bahkan, tim sukses SBY-Boediono mengadopsi mentah-mentah pola kampanye ala Barack Obama. Iklan alias "jual kecap politik" di televisi meniru USA. Juga harus ada debat kandidat seperti di USA sana.

"Kok Indonesia ini makin mirip USA ya? Jangan-jangan kita sudah jadi negara bagian kesekian dari USA?" komentar saya. Beberapa seniman tua di Sidoarjo, yang saya tahu pengagum Bung Karno, tertawa kecil.

"Kita memang sudah lama kehilangan jatidiri, Mas! Seakan-akan semua yang dari Barat, dari Amerika, itu bagus. Setelah reformasi (1998) ini, waduh, kita ini Amerika banget deh," tukas Pak Bambang, pelukis yang pernah bekerja selama tujuh tahun di Hamburg, Jerman.

Kampanye atau debat capres-cawapres itu tak lebih dari "ngecap". Semua kandidat "dipaksa" oleh sistem pemilu presiden ala USA untuk menyampaikan program, visi-misi, dan sebagainya. Banyak pengamat komentar di koran, televisi, internet bahwa debat kandidat kita ini kurang tajam, datar, normatif, dan sebagainya.

Lha, kalau debatnya bagus, pintar ngomong, bla-bla-bla... lantas Indonesia bisa makmur? Maju pesat? Tidak ada jaminan. Kita, karena mau mencontoh 100 persen sistem USA, terpaksa bikin program debat capres-cawapres.

Kita lebih mementingkan kemasan, bukan substansi. Seakan-akan dengan meniru habis-habisan sistem demokrasi liberal USA, Indonesia akan cepat maju seperti USA. Saya setuju dengan Kwik Kian Gie yang sejak awal kritis terhadap pola pikir begitu banyak intelektual dan politisi kita yang sangat USA. Malah lebih USA ketimbang orang USA sendiri.

Setiap negara itu unik. Ia punya sejarah, budaya, spiritualitas, sistem nilai sendiri. Tidak bisa main copy-paste begitu saja. Termasuk sistem politik, sistem ekonomi, cara "menemukan" pemimpin, dan sebagainya.

Tak usah jauh-jauh. Malaysia tidak mencontek USA. Mahathir Mohammad bahkan dulu sangat anti-USA. Namun, kita tahu, Malaysia berhasil mencetak sekian juta lapangan kerja untuk rakyatnya. Malaysia justru kekurangan tenaga kerja. Sehingga orang-orang kita bisa bekerja, mencari nafkah, menghidupi keluarganya di Malaysia.

Orang Malaysia juga rata-rata tidak suka debat politik. Saya pernah "memancing" seorang politikus muda Malaysia, aktivis UMNO, saat berada di Surabaya untuk debat tentang Anwar Ibrahim, tenaga kerja Indonesia, sengketa perbatasan. Eh, ternyata si Malaysia itu tidak berminat. "Ayo, kita makan dululah. Tak usah banyak bincanglah," katanya.

Hehehe... Benar juga. Salah satu kelebihan kita adalah "pandai berbincang", tapi kurang cakap bekerja. Pengamat sepakbola, komentator bola, kita paling banyak. Tapi prestasi sepakbola kita?

Tetangga kita Singapura pun mirip Malaysia. Demokrasinya lain dengan USA. Tak ada debat. Bahkan, (hampir) tidak ada partai politik. Penduduknya paling malas bicara politik. Mereka kerja, kerja, kerja... dan dapat uang banyak. Kesejahteraan warganya terjamin. Orang Indonesia banyak yang kerja di Singapura, termasuk jadi pembantu rumah tangga.

Bagaimana dengan Tiongkok alias China alias Zhongguo? Negara berpenduduk 1,5 miliar ini jelas-jelas tidak meniru sistem politik USA. Zhongguo punya karakter kuat. Sistem ekonomi-politik Zhongguo lain dari lain.

Tidak ada kampanye ala Barack Obama atau George Bush. Tidak ada debat capres. Tidak ada jargon pilres satu putaran, pilpres dua putaran. Tapi, kita tahu, Zhongguo sudah menjadi raksasa ekonomi dunia. Tiongkok maju luar biasa di segala bidang. Tahun lalu Zhongguo jadi juara olimpiade dengan perolehan medali jauh melebihi USA.

Lha, kok banyak orang Indonesia yang bangga jadi antek USA!

Michael Jackson, Ingat Kaset Bad



Michael Jakson [50 tahun] meninggal dunia. Media-media Barat memberitakan besar-besaran. Internet penuh dengan Jacko. Cerita-cerita lama diuleg lagi. Digali habis-habisan demi mengenang sang raja pop.

Legenda musik kulit hitam, yang berkali-kali operasi plastik, ini memang layak dikenang. Jacko punya pengaruh luar bisa di jagat musik pop. Termasuk kita di Indonesia.

Saya penggemar penyanyi-penyanyi hitam USA, tapi bukan Michael Jackson. Tapi saya pernah menguras tabungan, ketika masih remaja, untuk membeli kaset Jacko bertajuk BAD. Saya putar berkali-kali kaset itu untuk mengenal karakter suara dan musik Jacko.

Saya masih ingat salah satu refrein lagu di kaset itu:

Because I'm Bad, I'm Bad-
Come On
(Bad Bad-Really, Really Bad)
You Know I'm Bad, I'm Bad-
You Know It
(Bad Bad-Really, Really Bad)
You Know I'm Bad, I'm Bad-
Come On, You Know
(Bad Bad-Really, Really Bad)
And The Whole World Has To
Answer Right Now
Just To Tell You Once Again,
Who's Bad . . .


Akhirnya, saya bosan mendengar musiknya Michael Jackson. Terlalu teknologis, kayak mesin. Kaya sekali dengan bunyi-bunyian unik, tapi jadinya, ya, tidak alamiah. Suara Jacko oke: tipis, jernih, enak, tajam menembus rangkaian musik.

Kalau bernyanyi bersama penyanyi-penyanyi lain, kita sangat mudah mengenali suara si Jacko. Contoh paling jelas di "We are The World". Kelebihan karakter suara Jacko ini terasa menonjol ketika membawakan bridge lagu.

Salut untuk Jacko yang sukses menggerakkan para superstar untuk proyek USA Lived Aid for Africa. Miliaran dolar terkumpul untuk menyelamatkan warga Afrika yang terancam mati kelaparan. Terlepas dari segala kekurangan dan kontroversi hidupnya, Jacko punya sisi kemanusiaan yang luar biasa. Karena itulah, kematiannya membuat jutaan orang di muka bumi ini ikut menundukkan kepala.

BAD merupakan satu-satunya album Michael Jackson yang saya koleksi. Itu pun tak bertahan lama. Ada teman yang pinjam dan tak pernah dikembalikan. "Sudahlah, aku kasihkan kamu saja. Aku gak suka Michael Jackson. Aku lebih suka George Benson atau Whitney Houston," kata saya kepada teman itu.

Melihat siaran televisi yang memutar lagu-lagu Michael Jackson -- beberapa di antaranya dipetik dari album BAD -- saya pun teringat kaset lama saya. "Saya paling suka lagu-lagu Michael Jackson di album BAD," ujar "Michael Jackson" palsu di TVOne.

Si Jacko asal Jakarta itu kemudian menirukan tarian moonwalk ala Michael Jackson. Mirip banget. Saya tertawa sendiri. Juancuuuk tenan!