19 June 2009

Welly Sujono Jaga Rumah Abu




Banyak orang takut dengan orang mati, kuburan, dan segala sesuatu yang berbau arwah. Rumah sedapat mungkin jauh dari kuburan. Tidak jalan sendiri di makam. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk Welly Sujono.

Tahun ini, genap 30 tahun, Welly tinggal di Rumah Abu Eka Praya, Jalan Kembang Jepun 21-23 Surabaya.

"Ada ratusan abu jenazah yang tersimpan di Eka Praya. Dan setiap hari--pagi, siang, malam--saya bersama keluarga tinggal di situ untuk merawat," cerita Welly Sujono kepada saya, Minggu (24/6/2009) petang.

Dibangun pada 1814, Eka Praya dikenal sebagai salah satu rumah abu untuk masyarakat umum di Surabaya. Sebab, ada pula rumah abu yang dibangun khusus untuk marga atau keluarga tertentu saja. Pada prinsipnya, menurut Welly, pihaknya menerima abu jenazah dari berbagai kalangan.

Jumlah abu jenazah yang dirawat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Ini karena pada saat-saat tertentu, pihak keluarga memutuskan untuk melarung abu tersebut ke laut atau sungai. Kemudian datang lagi abu jenazah baru setelah kremasi. "Tapi, yang jelas, sejak dulu setiap hai saya ditemani oleh ratusan abu jenazah. Teman saya banyak. Hehehe," kata Welly.

Kalau orang lain takut 'dikelilingi' ratusan arwah, Welly justru mengaku biasa-biasa saja. Pria yang bekerja di Eka Praya sejak 1979 ini juga tidak pernah mendapat penampakan atau penglihatan yang aneh-aneh. "Ada beberapa orang cerita lihat ini-itu, tapi saya kok gak pernah. Kayak tinggal di rumah biasalah," akunya.

Berbeda dengan Welly Sujono, sang istri, Ellyana Putrawijaya, mengaku sering takut ketika seorang diri di Eka Praya. Apalagi pada malam hari. Kalau sudah begitu, Ellyana yang juga aktivis Gereja Kepanjen ini langsung berdoa.

"Saya secara spontan langsung bicara sendiri dengan Tuhan. Oh, Tuhan, tolong dampingi saya," papar Ellyana.

Usai berdoa, dia merasa tenang dan ketakutannya pun hilang. Namun, sebagai orang Tionghoa kelahiran Surabaya, Elly mengaku sering dihantui pikiran-pikiran tertentu tentang dunia orang mati. "Puji Tuhan, kami bisa bertahan selama 30 tahun. Dan aman-aman saja," katanya.

Suatu ketika, cerita Ellyana, pihaknya menerima seorang pembantu dari desa. Rupanya, perempuan itu punya kemampuan melihat 'dimensi lain' dari komunitas arwah di Eka Praya. "Besoknya, dia langsung pamit, minta keluar. Kalau saya sendiri sih nggak pernah lihat sosok yang aneh-aneh di sini," ujar Elly.




Layaknya rumah abu yang lain, Eka Praya mengutip biaya sewa. Tidak mahal, hanya Rp 10 ribu per bulan. Pihak keluarga atau ahli waris harus membayar sewa tahunan. "Itu sudah ada ketentuan dari perkumpulan," tutur Welly Sujono.

Eka Praya, yang berdiri pada 1814 ini, memiliki fasilitas lengkap untuk penyimpanan abu, tempat ritual, aula untuk sembahyang bersama, dan sebagainya. Dari 300-an abu jenazah yang ada sekarang, menurut Welly, tidak semua diperhatikan keluarganya. Dengan kata lain, banyak pula abu jenazah yang ditelantarkan.

"Yang telantar itu, ya, mereka-mereka yang nggak bayar iuran tahunan. Lha, bagaimana mau dirawat kalau dia tidak ikut ketentuan yang sudah dibuat perkumpulan?" tukas Welly Sujono.

Nah, bagi abu jenazah yang telantar, Eka Praya menyediakan ruang khusus. Pihak ahli waris juga dihubungi untuk memperhatikan titipannya. "Tapi, ya, ada saja yang sulit dihubungi karena pindah dan sebagainya," papar pria yang murah senyum ini.

Sesuai dengan ketentuan, pada batas waktu tertentu, petugas akan mengadakan upacara pelarungan di Kembang Kuning. Eka Praya memang punya sumur khusus untuk itu. "Prinsipnya, semua abu jenazah kami perlakukan dengan sebaik-baiknya. Kami lakukan ritual sesuai dengan agama yang bersangkutan," katanya.

Tiga puluh tahun tinggal bersama ratusan 'arwah' di Eka Praya membuat Welly Sujono dan istri, Ellyana Putrawijaya, seakan punya ikatan batin dengan rumah abu terkenal di Jl Kembang Jepun itu. Menurut Ellyana, pihaknya beberapa kali mencari rumah kontrakan untuk persiapan setelah Welly Sujono pensiun dari Eka Praya. Hasilnya?

"Gak pernah dapat. Selalu ada saja halangan," kata Ellyana yang juga aktivis Gereja Kepanjen, Surabaya. "Teman-teman bilang kalau kami ini digandholi arwah-arwah itu supaya tetap bersama mereka. Bayangkan, sudah 30 tahun lho," tukas Ellyana.

Di sisi lain, baik Welly Sujono maupun Ellyana Putrawijaya mengaku mendapat pengalaman rohani yang berharga dengan merawat sekian ribu abu jenazah selama tiga dasawarsa. Mereka lebih mendekatkan diri pada Tuhan, banyak berdoa, dan semakin menyadari bahwa kehidupan di dunia ini sangat fana.

Semua manusia, siapa pun dia, kaya-miskin, apa pun status sosialnya, suatu saat pasti dipanggil oleh Sang Pencipta. "Tinggal di Eka Praya itu, salah satu syaratnya, jangan pernah mempunyai niat jahat," tegas Ellyana.

6 comments:

  1. Waduh, rumah abu ini kok jadi berbau klenik seperti itu ya. Memang sepertinya etnis Tionghoa ini lebih terbuka dan lebih menerima keberadaan roh-roh yang memiliki peran dalam kehidupan manusia yang masih hidup. kadang roh itu diterima kadang ditolak. Makanya ada yang bisa bilang kalau Pak Welly dan Bu Elly sudah diganduli sama roh. (dalam hati: hhhiiiiii.....)

    Tapi, kalau makin dipikir-pikir, tinggal dengan abu jenazah dari sekian ribu orang selama 30 tahun, lengkap dengan segala ritualnya, pasti memang mengerikan. Terlepas dari soal hantu ataupun tidak.

    Kalau sekedar melihat, atau melayat, atau mempelajari di laboratorium, yah masih tidak seberapa dibandingkan dengan tinggal dengan jenazah-jenazah itu kan? Meskipun sudah berbentuk abu..

    ReplyDelete
  2. Di sini sebagian besar masyarakatnya akan diperabukan jika sudah tiasa. Hanya orang muslim ( dan kristen?) saja yg dimakamkan. Tanahemang mahal di sini ya.

    Ohya bang, Sebentar lagi bulan agustus, ada perayaan bulan hantu tidak bang di Surabaya? Setiap tahun di sini nanyak orang masih merayakan bulan hantu lapar.

    Pegiriman bekal dan makanan untuk para arwah n spirit yg gentayangan dilakukan di mana-mana. Bukannya kurang toleransi, tp saya paling khawatir dg asap pembakaran sesaji ini, krn anak saya suka kumat gejala asmanya! Waaah... Mohon maaf kalo komentar kurang berkenan ya bang. Silakan diedit kalau begitu ;)

    ReplyDelete
  3. Hehehe... menarik sekali komentar dari dua kawan ini: Risma dan Mbak Dyah. Orang Tionghoa memang punya tradisi ribuan tahun, dan masih dipelihara dengan baik, termasuk bagaimana memperlakukan jenazah keluarga yang meninggal. Ada yang dikubur, ada yang dikremasi.

    Setelah dikremasi (diperabukan), ada yang langsung dilarung ke laut (atau sungai), tapi ada yang disimpan di rumah sendiri atau rumah abu macam Eka Praya. Rumah abu Eka Praya ini terletak di Kembang Jepun, pusatnya pecinan, China Town, Kota Surabaya.

    Saya kenal baik Bu Ellyana, aktivis gereja, kemudian suaminya, Pak Welly. Saya juga sering diajak makan nasi goreng malam-malam di Kembang Jepun. Lalu, saya ajak bercanda: "Puluhan tahun Bu Elly dan Pak Welly tinggal di rumah abu, jaga begitu banyak jenazah, yo opo rasane? Apa gak takut? Kalau takut, bagaimana menghilangkan rasa takut?"

    Di Flores tidak ada tradisi kremasi atau pembakaran mayat. Maka, kami di Flores sangat heran mayat kok dibakar? Tapi, begitulah, adat dan tradisi orang memang berbeda-beda.

    Salam damai untuk semua!

    ReplyDelete
  4. hmm mas hurek, emangnya skrg hungry ghost festival emang di celebrate di surabaya yah?? dulu perasaan gak ada??

    also just replying to your comment about membakar jenazah sih itu kayaknya keputusan masing2 keluarga.. kalo saya liatin sih yang memlih kremasi itu rata2 yang gak mengikutin tradisi Ching bing ato bersih2 makam keluarga tiap taon...

    keluarga besar saya gak ada yang ngikutin ching bing, jadi kalo ada ayang meninggal rata2 di kremasikan, terus di larung di pantai and waktu ching bing pergi ke pantai.

    keluarga teman2 saya yang masih mengikutin tradisi ching bing, kalo ada yang meninggal di makamkan, and tiap kali Ching Bing pasti dateng ke makam sekalipun itu di luar kota/pulau/negeri.

    Hopefully this helps to explain a lil bit.

    ReplyDelete
  5. Kalau sudah ditabur di laut atau Cheng beng, kita bisa Cheng Beng atau nyekar dimana saja.....Kebanyakan di Indonesia dan di China, abu jenazah dilabuh di laut atau sungai. Hanya sebagian kecil di taruh di Columbarium.

    ReplyDelete
  6. Kalau sudah ditabur di laut atau Cheng beng, kita bisa Cheng Beng atau nyekar dimana saja.....Kebanyakan di Indonesia dan di China, abu jenazah dilabuh di laut atau sungai. Hanya sebagian kecil di taruh di Columbarium.

    ReplyDelete