02 June 2009

Prof. Josef Glinka SVD




Selain menjadi guru besar antropologi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Josef Glinka SVD dikenal sebagai pastor yang poliglot. Pater Glinka -- atau Romo Glinka -- menguasai sembilan bahasa dengan baik (bahasa Polandia, Jerman, Inggris, Ibrani, Latin, Prancis, Belanda, Indonesia, Palue).

Di Surabaya, Pater Glinka terkenal karena sering diminta mendeteksi aliran air di rumah pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak. "Romo Glinka itu paranormal," begitu julukan orang-orang Surabaya. Berikut petikan percakapan saya dengan Prof. Josef Glinka SVD di kamar kerjanya, Biara Soverdi Jalan Polisi Istimewa 9 Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Pater masih mengajar di Universitas Airlangga?

Oh iya, saya bantu sana sini kalau diminta. Tapi terutama saya bantu S-3 (pascasarjana FISIP Unair). Kadang-kadang satu dua kali seminggu, tapi kadang-kadang tiga minggu tidak ada tugas.

Masih membimbing dosen-dosen muda antropologi?

Tidak. Mereka sudah cukup pintar. Satu sudah mau jadi profesor lagi. Dia juga baru dapat Kartini Award. Di antara tiga asisten saya dulu, dua sudah doktor.

Setelah Prof Teuku Jacob dari UGM meninggal dunia, siapa lagi profesor antropologi selain Anda?

Ada pengganti Prof Jacob di UGM, namanya Eti Indriati. Dia ini luar biasa cakap dalam segala hal. Bakatnya macam-macam. Dia sebenarnya dari dokter gigi, jadi konsentrasinya pada dental anthropology. Tapi dia menguasai seluruhnya, termasuk forensic anthropology. Itu juga hanya dua di Indonesia, yaitu Eti dan Tutik Kuspadiati di sini, murid saya. Dua-duanya punya ijazah internasional untuk forensic anthropology.

Mereka ini punya bakat dan minat di bidang antropologi?

Saya pilih dari murid-murid saya yang saya rasa cocok. Saya lihat ada minat dan cukup memberi harapan bahwa sampai doktoral. Misalnya, Tutik menyelesaikan doktoralnya pada usia 33 tahun di Jerman.

Pater sendiri?

Tunggu dulu, tunggu dulu.... 37 tahun. Saya studi di satu fakultas dulu, habis itu studi teologi dan antropologi. Saya mulai studi antropologi waktu usia 27 tahun di Polandia.

Dalam rangka tugas perutusan SVD ke Indonesia?

Bukan. Waktu itu tidak ada harapan apa pun. Saya disiapkan untuk kerja di SVD Polandia. Persis saya menyelesaikan studi, datang Romo Yosef Diaz Viera yang pancing orang untuk ke sini. Tahun 1964 dia datang, 1965 kami tiba di Indonesia. Waktu ada 20 orang.

Sekarang tinggal berapa?

Saya kira 13. Kemudian masih datang lagi 24 orang, ada dua yang 'hilang'. Dipulangkan karena tidak cocok untuk Indonesia. Masalahnya, sejauh mana dia mampu beradaptasi. Kalau tidak mampu beradaptasi, ya, lepas dia.

Pater sendiri tidak kesulitan beradaptasi?

Pada awalnya, begitu tiba di Jakarta, panasnya bukan main, tidak tahu bahasa. Makanan jauh berbeda. Itu susah sekali. Yang paling sulit itu kalau tidak bisa berkomunikasi. Dengan orang yang bisa berbahasa asing ya bisa. Saya bisa berbahasa Inggris dan Jerman, tapi ada (teman) yang Inggrisnya sangat terbatas. Susah.

Ada yang di Jakarta langsung mau pulang karena dia merasa tidak akan bisa belajar bahasa macam ini. Karena apa? Bahasa Indonesia sangat berbeda dengan bahasa-bahasa Eropa. Tidak ada deklinasi, tidak ada konyugasi, tidak ada waktu, tidak ada jenis kelamin.

Tapi banyak orang Barat mengatakan bahasa Indonesia paling mudah?

Memang. Tapi dalam kemudahan ada kesulitan. Saya sekarang baca misalnya peta genetis antara monyet dan manusia. Nah, itu kalau saya mau terjemahkan sekarang saya sudah lancar. Tapi dulu istilah-istilah Indonesia bagaimana ini? Sejauh mana sudah ada istilah Indonesia, sejauh mana itu diadaptasi, dan sebagainya. Dan itu tidak selalu gampang.

Lantas Pater bikin istilah sendiri?

Begini. Pada awal habis kursus bahasa, ya saya harus beri biologi dan antropologi (di Ledalero). Ini bagaimana? Tidak ada logat. Jadi, saya beli buku SMA biologi, antropologi, baca-baca dan saya catat istilah-istilah. Saya buat logat menurut abjad dan itu membantu saya.

Kalau sekarang sudah tidak ada masalah. Tapi pada waktu itu, tahun 1966/1967, bukan main sulitnya. Dan saya amat kecewa dapat disertasi seseorang dari UI tentang antropologi budaya. Lucunya, dia tidak pernah menterjemahkan istilah-istilah Belanda. Saya nilai aneh sekali.

Mungkin dia kesulitan menemukan istilah yang pas dalam bahasa Indonesia?

Ya, itulah masalahnya. Di Eropa, misalnya, istilah antropologi itu untuk antropologi ragawi. Tapi di Amerika dibedakan phisycal anthropology dan cultural anthropology. Saya masih ingat terjemahan pertama antropologi fisik. Akhirnya, baru Jacob memberikan bioantropologi. Itu istilah lebih jelas.

Kalau antropologi ragawi dari Anda?

Ya. Antropologi ragawi itu, ya, bioantropologi.

Kalau mau mengajar di sini, ya, harus menguasai bahasa Indonesia. Kalau saya berikan kuliah dalam bahasa Inggris, separo mahasiswa tidak mengerti.

Karena tekun belajar bahasa-bahasa asing setelah ke Indonesia itu, Pater menjadi poliglot?

Dari dulu, karena saya keluarga campuran. Mama saya Jerman, bapak Polandia. Jadi, sejak saya bisa ingat saya bilingual, dua bahasa: Jerman, Polandia. Kami itu presis di perbatasan. Dari rumah ke Jerman itu hanya 800 meter. Hehehe... Batas negara baru dibuat kemudian, tahun 1919.

Jadi, daerah campuran. Di seberang mayoritas Jerman minoritas Polandia, di sini mayoritas Polandia minoritas Jerman. Apalagi, daerah saya itu di selatan dekat dengan Moravia, yang sekarang Cheko dan Slovakia. Jadi, kalau mereka omong bahasa mereka, dari dialek kami itu gampang sekali. Bahasanya hampir sama.

Itu yang membuat Pater punya bakat bahasa?

Bukan bakat, tapi dari awal belajar. Di sekolah menengah tambah Inggris. Di seminari tambah Latin dan Yunani. Habis itu dapat Hibrani, itu bahasa Alkitab. Habis itu datang ke Indonesia, ya, mesti belajar bahasa Indonesia.

Saya lihat begitu banyak publikasi tentang Indonesia dalam bahasa Belanda. Jadi, mau tidak mau, saya harus belajar bahasa Belanda. Kebetulan saya ke rumah sakit di Belanda, saya langsung mempergunakan kesempatan (untuk belajar). Saya tidak dapat satu les pun. Hanya dari omong, hanya dari bicara. Hanya tiga minggu di Belanda, saya sudah sanggup buat misa dalam bahasa Belanda.

Tidak kursus?

Tidak kursus sama sekali. Saya cuma punya buku untuk belajar sendiri, tata bahasa. Kami selalu olok orang Belanda karena bahasa Jerman mereka jelek. Bahasa mereka mirip sekali dengan Jerman. Bisa dikatakan bahwa 80 persen grammar, susunan kalimat.. itu sama. Cuma Belanda sedikit lebih sederhana daripada Jerman. Bahasa Belanda ada banyak sekali pengaruh Prancis. Saya hanya tahu satu bahasa di NTT, sekarang sudah agak lupa, bahasa Palue.

Sudah sekian lama saya tidak ke Palue. Aneh sekali, 10 tahun saya kembali ke Palue, muncul begitu cepat. Pasif tidak ada masalah, tapi aktif ada masalah. Tapi itu pelan-pelan jalan. Saya juga pernah dapat Prancis di universitas. Tapi lama-lama tidak pakai, lupa. Saya menghadiri pertemuan ilmiah di Prancis, hari pertama hari kedua saya goblog. Setelah satu minggu no problem.

Dari mana itu muncul?

Kode. Sudah tersimpan di dalam komputer (memegang dahi). Kalau ada orang berbakat sekali dalam matematika, umumnya kurang bakat untuk bahasa. Kalau menyangkut ucapan, kalau buka mulut langsung tahu oo dia.. orang Belanda, Inggris, Amerika, kita bisa dengar aksennya...

Orang yang sangat musikal, tidak ada masalah untuk adaptasi. Dan saya dengar dari seorang teman, dia berangkat ke Amerika Selatan, jadi musti belajar bahasa Spanyol, dia mulai dari belum tahu apa-apa. Dia pasang radio, nonton televisi, tidak mengerti apa-apa. Ingat bunyinya.

Di Polandia,mahasiswa asing yang belajar bahasa Polandia dimasukkan ke asrama. Dua minggu loudspeaker berbunyi nonstop bahasa Polandia. Lagu, berita, cerita, dan sebagainya. Mereka tidak mengerti apa-apa. Begitu mulai kuliah, bunyinya mereka sudah tahu. Mereka hanya tinggal belajar arti kata-kata. Toh, kita belajar bahasa sebagai anak bukan dari grammar.

Apa yang salah di Indonesia sehingga pelajaran bahasa Inggris sejak SMP, bahkan SD, umumnya kurang berhasil?

Menurut saya, guru. Saya pernah ketemu guru bahasa Jerman. Oh, my God! Hopeless! Kalau guru tidak belajar secara sistematis dan tidak ada bakat, ya, begitu saja.

Bagaimana kemampuan bahasa asing di kalangan pastor-pastor sekarang?

Nah, frater-frater yang sejak SMP ada di seminari, itu pada umumnya bisa bahasa Inggris, Jerman, dan ada yang tahu sedikit-sedikit bahasa Belanda. Tapi yang SMP-nya di luar, wah, bahasa Inggrisnya begitu-begitu saja.

Mengapa?

Di SMP-nya mereka dapat pelajaran bahasa Inggris sembarangan. Setiap vak itu ada metodenya. Kalau guru tidak disiapkan secara metodologis, dan tambah lagi bahasanya asal-asal saja, ya, begitu.

Pater Glinka poliglot, tapi ketika berbahasa Indonesia tidak campur-campur Inggris dan sebagainya. Memang sengaja mengontrol bahasa?

Saya dari awal berusaha. Saya paling jengkel kalau pejabat-pejabat tiba-tiba tidak tahu istilah Indonesia, lantas pakai Inggris. Bodoh! Dia mau tunjuk kehebatannya. Padahal, istilah yang dia pakai salah. Ini paling sering di Indonesia. Saya sering tertawa dengar istilah ad hoc, disebut 'ed hok' karena seluruh dunia omong bahasa Inggris. Padahal, itu dari bahasa Latin.

Saya pernah beri teks Inggris kepada mahasiswa (di Universitas Airlangga). Sekarang coba lihat kata-kata asli Inggris dan yang impor. Ternyata, dalam bahasa ilmiah, minimum 50 persen itu Latin.



Sudah berapa lama tinggal di Surabaya?

Sejak 1985. Sudah 24 tahun. Waktu datang (dari Flores) ada begitu banyak kegiatan di universitas. Awalnya saya harus beri sampai 14 jam kuliah seminggu. Semua kuliah harus disiapkan. Jadi, saya tidak punya banyak waktu lowong. Saya tidak ada mobil. Jadi, kadang-kadang bahkan sampai sekarang, kalau orang undang saya, misalnya periksa rumah, apa ada gangguan radiasi bumi, waduh...

Saya misalnya kenal Jembatan Merah, tapi berapa tahun baru saya masuk ke sana. Berapa lama di Surabaya baru masuk ke sana. Dulu tidak ada taksi. Jadi, saya ke mana-mana kebanyakan dengan becak. Dari sini (Soverdi) ke Unair, Unair ke sini, becak. Tukang becak sering pakai jalan potong. Itu baru saya lihat kampung-kampung yang sebenarnya. Hehehe...

Surabaya yang sebenarnya itu di kampung-kampung itu. Sebab, di jalan raya kita tidak bisa lihat banyak... Saya tiap hari pakai becak. Tidak ada kendaraan lain. Baru kemudian sesudah hampir satu tahun Pak Tandyo (Prof. Soetandyo Wignjosubroto, mantan dekan FISIP Unair) suruh jemput dan antar pakai satu mobil yang jelek bukan main. Itu Romo Pikor selalu tertawa bahwa mobil itu bisa jalan karena catnya masih utuh. Hehehe...

Kemudian waktu FISIP sudah maju, ada kendaraan, tidak ada masalah lagi. Sekarang saya kirim SMS, mereka datang. Juga sekarang taksi sudah banyak sekali. Tahun 1985 belum ada satu pun taksi di Surabaya. Saya tidak ingat 1986 atau 1987 taksi mulai masuk di Surabaya. Pawai keliling kota, memperkenalkan kalau sekarang ada taksi. Zebra, yang paling tua. Hahaha...

Surabaya belum macet?

Oh jelas. Dan becak bisa masuk di mana-mana. Jalan raya juga. Di Jakarta juga baru dibataskan kemudian, waktu makin ramai lalu lintasnya, jadi becak hanya boleh di gang-gang.

Sekarang sudah berubah?

Berubah total. Saya lihat bedanya paling besar, waktu 1965 kami datang, saya sering mengunjungi Pak Adi Sukadana (almarhum, mantan dekan FISIP Universitas Airlangga) rumahnya di Dharmahusada. Itu kompleks dosen Unair. 300 meter dari situ sudah sawah. Sekarang Dharmahusada Indah, Kertajaya Indah... dulu itu sawah. Tahun 1985 mau ke tol lewat Mayjen Sungkono itu desa. Jalannya jelek bukan main. Sekarang sudah perubahan luar biasa.

Saya pernah dua tahun mengajar di Jakarta, di Atmajaya. Tiap kali saya datang.. lho ada sesuatu yang baru. Jakarta mengalami perkembangan waktu Ali Sadikin. Tapi tahu situasi Jakarta sekarang? Sebagian Jakarta dibangun di rawa-rawa. Dan banjir sekarang itu bukan hanya dikirim dari Bogor, tapi Jakarta mulai turun.

Sehingga, diduga, paling lambat tahun 2025 Jakarta nanti satu meter lebih rendah daripada sekarang. Kalau ada pasang, air laut kadang-kadang masuk. Apalagi kalau sekarang ini jatuh, pasti tenggelam. Menurut ahli, itu disebabkan gedung terlalu berat dibangun di atas daerah yang tidak cocok. Antara lain Jalan Sudirman.

Kalau Surabaya?

Dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya sangat hijau. Penghijauan di sini luar biasa. Mana di Jakarta seperti ini? Beton dan semen saja dan aspal. Memang dulu Surabaya tidak begitu. Tapi sekarang bunga, tanaman, pohon, di mana-mana. Itu sesuatu yang luar biasa positif. Dan dijaga, disiram tiap hari.

Adaptasi dengan orang-orang Surabaya bagaimana?

No problem. Pada awalnya susah dalam menyesuaikan diri. Di Flores Katolik semua, di seminari laki-laki melulu. Hahaha... Di sini mentalitas lain.

Dari segi makanan dan bahasa tidak masalah?

Ya, tidak masalah. Tapi kadang-kadang yang membuat saya jengkel, dua orang Jawa tidak peduli orang lain mengerti atau tidak bahasanya. Mereka bicara bahasa Jawa saja. Kalau kami (para pastor) duduk bersama di meja, misalnya, tiga empat orang Polandia omong bahasa Polandia atau bahasa Indonesia supaya yang lain mengerti juga?

Sebaiknya berbahasa Indonesia?

Jelas. Saya juga tegur bruder itu, orang Polandia, dia suka pakai bahasa sana terus. Ada orang lain atau tidak, dia bicara bahasa Polandia. Dulu orang Belanda juga begitu. Pastor-pastor Belanda suka omong bahasa Belanda, tidak peduli di Flores, di Jawa....

Saya beri contoh. Waktu Paus (Yohanes Paulus II) berkunjung ke Indonesia tahun 1989, saya jadi koki di Flores. Saya sempat omong dengan beliau. Ada Mgr Donatus, sekretaris Paus, ada saya... Lalu Paus omong bahasa Polandia. Yang lain tidak mengerti apa-apa. Saya anjurkan, Bapa Suci kita omong Inggris.




Pater Glinka sering diminta melihat rumah orang, mendeteksi aliran air. Itu apa sebetulnya?

Saya selalu tekankan bahwa itu bukan filsafat, bukan kepercayaan, tapi fakta. Cuma tidak setiap orang punya bakat. Ada alat, tapi mahal. Yang saya punya tidak mahal berupa sepotong kawat. Saya bawa dari Jerman. Itu gampang dibuat. Tidak harus logam, kayu pun bisa. (Menunjukkan kawat itu).

Dipakai untuk periksa rumah?

Bukan hanya periksa rumah, tapi cari air, dan macam-macam. Alat itu hanya petunjuk. Yang terima itu saya, bukan alat itu. Kalau Anda pegang dan jalan nggak jalan.

Ia hanya cocok dengan Pater?

Bukan. Itu soal bakat. Tiap orang yang punya bakat pegang, kalau masuk air, krakkk... turun.

Apa hubungan air dengan rumah orang?

Air kalau mengalir itu menyebabkan radiasi elektromagnetik. Extreme lilo frequencies, sehingga sulit dapat diukur. Tapi ada radiasi. Kalau ada pasangan suami-istri tidur di atas jalur air bawah tanah, maka tidak bisa hamil. Dan andai kata hamil langsung gugur. Dulu saya pernah publikasi di Surabaya Post.

Dulu dari mulut ke mulut beberapa orang datang. Tapi setelah publikasi di koran, waduh... sekarang sudah mulai mereda. Tapi satu hari rata-rata dua tiga pasang pasutri sekaligus yang mau diperiksa. Dulu saya masih pergi ke rumah, tapi sekarang saya minta mereka bawa denah rumah. Dari denah, saya juga bisa menentukan.

Tidak pakai kawat?

Tidak. Tapi pakai ini, pendulum. Dan itu saya berkonsentrasi dia gerak atau tidak. Saya putar-putar di denah, dia putar... Habis itu kalau kena (air), dia jalan begini.

Deteksinya paling jauh berapa kilometer?

Sampai Australia, sampai Eropa bisa. No problem. Jarak no problem. Konsentrasi saya yang problem.

Yang konsultasi pasutri-pasutri? Hasilnya bagaimana?

90 persen positif. Jelas kalau ada halangan dari segi medis, itu saya tidak bisa perbaiki. Tapi, kalau tidak ada halangan, 90 persen positif.

Bagaimana tanggapan dokter? Bisa diterangkan secara ilmiah?

Saya baru ketemu seorang dokter belum lama ini. Saya antara lain omong tentang radiasi ini. "Mistik!" dia bilang. Saya jawab: "Kamu, dokter, dan teolog itu orang yang paling sombong. Karena kamu kira kamu sudah tahu segala-galanya tentang manusia? Dan teolog mengira mereka sudah mengerti seluruh dunia karena sudah studi filsafat teologi. Jadi, ilmu alam itu adalah ilmu alam. Saya kebetulan studi filsafat, teologi, tapi juga ilmu alam.

Mengenai infertilitas itu, saya beri di pertemuan internasional, Australian Society for Human Biology. Reaksinya apa? Seems magic! Mereka tidak pernah dengar itu! Bila manusia tidak pernah dengar bahwa ada radiasi bumi! (memukul kepala). Hanya ada satu tamu dari Kanada, seorang ibu, yang langsung tertarik.

Apa tidak ada di literatur ilmiah?

Ada, tapi seperti saya katakan, dokter dan teolog merasa sudah tahu semua, jadi tidak mungkin percaya. Karena dia tidak belajar tentang ini. Di buku medis tidak ada. Dan yang tidak ada di buku medis, ya, dokter tidak tahu.

Sudah berapa pasutri yang Pater bantu?

Wah, saya tidak catat semua, tapi di Surabaya saya sudah punya 30-an 'cucu'. Mungkin sudah lebih karena ada dua tiga anak. Waktu saya di airport ada yang bilang, "Romo, masih ingat saya? Yah, tempo hari kami datang dan sekarang bisa dapat anak." Banyak yang berhasil. Ada istri yang sudah hamil ketiga kalinya.

Pater ikut senang?

Ya, memang. Bayangkan kalau ada orang yang delapan tahun tunggu anak, tidak bisa hamil. Akhirnya istrinya hamil. Saya dapat telepon: "Romo, istri saya hamil." Saya senang bukan main.

Mungkin dengan bakat ini Pater lebih mengenal dunia orang timur?

Bukan itu saja. Saya belajar antropologi budaya. Dan saya hidup di Flores 20 tahun. Saya mengajar tentang hal itu. Saya biasanya beri tugas kepada frater-frater ketika liburan besar. Mereka saya beri tugas bagaimana sistem adat perkawinan di daerah masing-masing. Wah, interesan bukan main! Ada macam-macam daerah di sana: Timor, Flores... bukan main.

Itu diskusinya luar biasa. Dari situ saya dapat banyak informasi, lebih banyak daripada yang ada di buku. Atau saya beri: apakah ideal, cita-cita, orang Flores? Apa yang mereka rindu, apa yang mereka nilai paling tinggi, dan apa yang mereka mau hindari. Interesan sekali. 80 persen orang NTT mau jadi pegawai. Mau jadi pegawai, lain tidak. Kalau gali-gali karena tangannya tidak kotor. Jadi petani itu dianggap hina karena tangannya kotor.


Omong-omong, masih ada keinginan untuk pulang kampung?

Sebenarnya tidak. Kenapa? Alasan pertama, 20 jam di pesawat, pada masa muda itu sport. Sekarang sengsara. Kedua, makin sedikit kenalan yang tinggal (hidup). Di kampung asal waktu saya pulang beberapa tahun lalu, saya jalan di kuburan, lebih banyak kenalan di situ. Lebih banyak kawan di situ.

Dan juga, alasan ketiga, pelan-pelan saya menjadi asing di negara sendiri. Mentalitas mereka berubah, mentalitas saya berubah. Saya lancar bahasa Polandia, tapi saya tidak berani berkhotbah dalam minggu pertama kedua di sana. Karena sudah terjadi bahwa saya khotbahnya dalam bahasa Indonesia. Saya sudah berpikir terus dalam bahasa Indonesia.



JOSEF GLINKA SVD

Lahir: Chrorzow, Polandia, 7 Juni 1932
Tiba di Indonesia: 27 Agustus 1965
Alamat: Biara Soverdi, Jl Polisi Istimewa Surabaya
Hobi: Memasak, membaca, menimati musik

Pendidikan:

Seminari Tinggi SVD di Pieniezno.
Universitas Mickiewicz, Poznan, Polandia (antroplogi)
Universitas Boleslaw Bierut, Wroclaw, Polandia (doktoral).
Universitas Jegiello, Krakow, Polandia (raih doktor biologi)
Universitas Johannes Guttenberg, Mainz, Jerman (doktor habilitatus, setara guru besar)


Pengalaman Kerja

Rohaniwan, sejak ditahbiskan sebagai pastor pada 1957.
Guru biologi dan ilmu tanah di Chludowo, Polandia, 1962-64.
Dosen filsafat alam hidup di Seminari Tinggi SVD di Polandia, 1964-64.
Dosen Seminari Tinggi Ledalero, Flores, 1966-1985.
Dosen tamu Univesitas Nusa Cendana, Kupang, 1972-75.
Guru besar antropologi Unika Atmajaya, Jakarta, 1972-79.
Dosen tamu Universitas Johannes Guttenberg, Mainz, Jerman, 1983.
Guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya, 1985-sekarang.

16 comments:

  1. salut sama rm. glinka. moga2 sehat n tetap membantu sesama yg membutuhkan.

    ReplyDelete
  2. Selamat,
    Kami dari Spanyol, nama kami Arturo dan Lìdia. Kami akan pergi que Indonesia bulan agustus yang akan datang. Kami mau ke Pulau Sumba, Pulau Alor dan Pulau Lembata.

    Anda bisa bantu kami?

    Kami perjalanan naik sepeda. Apa jalan-jalan di Lembata baik? Boleh kami akan membeli peta yang baik disana atau lebih mudah di Jakarta?

    Kami tahu ada pesta-pesta kacang di Lembata bulan agustus, tapi, tanggal berapa? ke, kampung apa?

    Kami perlu daftar jam perjalanan di kapal Pelni, anda tahu dimana boleh kami mendapat?
    Kami sudah cek “web page” di Pelni, tapi tidak kerja. Kami akan senang sekali kalau anda menjawab.

    Terima kasih banyak

    Arturo dan Lìdia

    Barcelona-Spanyol

    ReplyDelete
  3. Dear ARTURO dan LIDIA

    Selamat untuk kemenangan Barcelona atas Machester United. Hehehe... Selamat datang ke Indonesia, khususnya ke Flores, Alor, Lembata, Sumba (Nusa Tenggara Timur, NTT). Jalan raya di Lembata dan NTT umumnya tidak sebagus di Pulau Jawa. Belum semuanya diaspal, banyak lubang, dan batu-batu. Bersepeda bisa saja, tapi di beberapa ruas jalan Anda terpaksa menuntut sepedamu. Toh, sepeda onthel tidak berat, bukan? Sebagian besar jalan di Lembata bisa dijangkau dengan sepeda motor, sepeda biasa. Akses untuk mobil masih terbatas untuk kawasan tertentu saja.

    Beli peta sebaiknya di Jakarta saja. Di Lembata bahkan hampir tidak ada peta. Anda bisa menginap di Hotel Rejeki, Lewoleba, yang sudah bertahun-tahun melayani turis Barat. Saya percaya Anda mendapat banyak informasi di situ. Anda juga bisa menginap di rumah saya di kampung, GRATIS!!! Saya senang karena Anda bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, dan itu sangat membantu ketika jalan-jalan di Lembata.

    Pesta kacang di Kecamatan Ile Ape, sekitar 20 sampai 30 km dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata. Tanggal atau jadwalnya tidak pasti, disesuaikan dengan situasi dan kesepakatan para pemuka adat. Sekali lagi, Anda bisa minta informasi ke Hotel Rejeki Lewoleba.

    Jadwal kapal Pelni bisa dicek di Jakarta atau Surabaya. Kalau kurang jelas, silakan kontak saya melalui email.

    HOTEL DI LEMBATA (hanya 3):

    Rejeki Hotel
    Jln. Lewoleba, Lembata
    +62-383-41028

    Lewoleba Hotel
    Jln. Awalolong 15, Lewoleba, Lembata
    +62-383-41012

    Rahmat Losmen
    Jln. Rayuan Kelapa, Lewoleba
    +62-383-41048

    ReplyDelete
  4. apakah Bapak punya email & telp Pastor Josef Glinka? Tks

    ReplyDelete
  5. yth. Bp. Lambertus, apakah Bapak memiliki email Pastor Yosef Galinka, antropolog? Terima kasih.

    ReplyDelete
  6. Saya tahu, tapi belum minta izin beliau untuk mencantumkan HP dan email di internet. Tidak semua orang suka. Salam.

    ReplyDelete
  7. senang sekali baca tulisan anda mas, saya alumni FISIP UNAIR tapi bukan jurusan antropologi. dulu saya sering berpapasan dengan Prof. Glinka tapi tidak tahu sedikitpun tentang beliau. Hari ini setelah 6 tahun saya lulus saya dengar ulasan sedikit tentang beliau. saya googling dan menemukan ulasan lengkap tentang beliau di blog anda. telat sekali ya.
    hal yang paling suka dari postingan ini adalah saya jadi tahu lebih banyak tentang mantan kampus saya, misalnya ada ruangan yang dinamakan Ruang Adi Sukadana dan saya baru tahu namanya diambil dari dekan pertama FISIP sesuai keterangan dari wawancara anda dan Prof. Glinka.
    terima kasih dan sukses selalu ya mas

    ReplyDelete
  8. Saya kenal Pak Glinka 27 tahun yang lalu, ketika saya mengikuti pelatihan penelitian PLPIIS (Pusat Latihan Penelitian Ilmu IIlmu Sosial) di Unair tahun 1985. Saat itu dia ngajarkan Statistik. Beliau sangat mahir dibidang tersebut. Saya juga secara khusus diajarkan cara mencari air dan arah aliran air dengan menggunakan bandul.Kesan saya sangat mendalam terhadap beliau. Salam untuk beliau. Syamsul Alam Paturusi. Teknik Arsitektur Universitas Udayana, Denpasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo pa, Apakah ilmu menggunakan pendulum bisa ditularkan? kami di Semarang. Tks

      Delete
  9. Malam Pak Lambertus, klw boleh sy minta alamat emailnya Prof. Glinka. Sy mau email denah rumah sy, krn sdh 8 tahun menikah blm punya anak jg. Terima kasih sebelumnya Pak.

    ReplyDelete
  10. Untuk saudari Mel Manori. Infertilitas, Sterilitas atau kemandulan pasutri, bisa primer dan sekunder sebabnya. Harap periksa kedokter Gynaekolog dan Androlog. Yang dilakukan oleh Prof. Glinka adalah pendeln atau wuenschelruten. Coba pindahkan ranjang anda ketempat lain atau tidurlah dikamar lainnya.
    Paling baik berbulanmadu-lah keduakalinya ke Bajawa-Flores untuk waktu selama 30 hari. Lupakan teman2 dan pekerjaan. Hindari cekcok dan stress. Kalian harus ber-senang2 selama 30x24 jam. Kalau semuanya tak berhasil, harus menerima nasib. Peliharalah seekor anjing, berilah kesayangan kepada binatang tsb. Niscaya kalian berdua tak akan dikecewakan.
    Anjing lebih setia dan jujur daripada mahluk yang disebut manusia.

    ReplyDelete
  11. Sdr Hurek, setahu saya alm. Adi Sukadana itu keturunan Tionghoa. Mungkin menarik kalau digali sejarah dan perjalanan pribadi beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul... Bapak Adi Sukadana itu nama Tionghoanya Lie Gwan Liong. Menurut Prof Glinka, Pak Adi itulah yang merintis jurusan antropologi di Fisip Unair. "Karena Gwan Liong juga akhirnya saya sampai di Unair,” kata Glinka dalam sebuah wawancara.

      Delete
    2. Wawancara itu ada di sini http://news.unair.ac.id/en/2016/06/20/prof-h-j-glinka-philanthropist-of-unair-anthropology/

      Terjemahan bahasa Inggrisnya agak belepotan. Yang "bersih" hanya ucapannya Romo Glinka saja.

      Delete
  12. Salam paskah, bagus sekali. lebih banyak orang kenal beliau. Tidak banyak profesor yang mau turunkan ilmunya kepada yang lebih muda usianya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ama Alo. Prof Glinka ini memang sejak awal merintis jurusan antropologi di unair sekaligus mengader mahasiswa2 yg dia nilai berbakat untuk mengikuti jejaknya di ladang antropologi. Ilmunya yg banyak itu dibagi2 bukan disimpan sendiri. Itu yg membuat prof glinka paling banyak menghasilkan antropolog2 baru di indonesia.

      Kalau alat untuk deteksi sumber air itu yg sulit ditularkan kepada orang lain. Oh ya... mungkin pater glinka bisa mendeteksi sumber air bawah tanah di Lembata khususnya Ile Ape hehe....

      Selamat paskah juga untuk ama Alo sekeluarga.

      Delete