15 June 2009

Mencoba Jembatan Suramadu




Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Alhamdulillah! Momen ini memang sudah lama ditunggu-tunggu. Akhirnya, cita-cita Bapak HM Noer, sesepuh masyarakat Madura dan gubernur Jawa Timur, pada awal 1970-an terwujud.

Butuh waktu 40-an tahun untuk mewujudkan jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu. Biayanya Rp 4,5 triliun hasil utang sana-sini, pinjam ke sana ke mari. Yang penting, dua pulau bertetangga ini bisa "disatukan".

Selama ini Madura dan Jawa terkesan jauuuh sekali. Memang ada feri yang beroperasi 24 jam, tapi makan waktu terlalu lama. Anda masuk Dermaga Ujung, beli karcis, merapat ke kapal butuh 30 menit. Lantas, 30 menit [bisa 40-50 menit] menunggu jam keberangkatan. Lama perjalanan laut 30 menit.

Antre di Dermaga Kamal, Bangkalan, 30 menit lagi. Belum proses sandar di dermaga yang juga bisa makan waktu 30 menit. Total: 120 menit alias dua jam! Jarak tujuh kilometer Ujung-Kamal makan waktu dua jam. Ini yang bikin orang Jawa malas ke Madura, pulau yang "kalah maju" dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Pada 10 Juni lalu saya "mewawancarai" 10 warga Surabaya. "Selama hidup, Anda sudah berapa kali ke Madura?" tanya saya.

Ternyata, sembilan dari 10 responden belum sekalipun menginjakkan kaki di Pulau Madura. "Saya satu kali, tapi dulu waktu SD," kata Paramita, karyawan berusia 25 tahun. "Madura itu apanya yang menarik. Saya lebih suka ada jembatan Surabaya-Bali. Hehehe," tambah gadis Surabaya ini.

Setelah diresmikan presiden, animo warga Surabaya [dan Jawa Timur lainnya] menjajal Jembatan Suramadu sangat tinggi. Apalagi, digratiskan selama tujuh hari. Namanya barang baru, semua orang ingin tahu kayak apa sih jembatan terpanjang di Asia Tenggara itu. Maka, saya pun ikut terjebak dalam kemacetan panjang di Jembatan Suramadu.

Sampai di Madura, tiang Jembatan Suramadu di Kecamatan Labang, saya makin sadar bahwa pulau garam ini memang berbeda jauh dengan tetangganya, Jawa. Semua serba perawan. Belum ada tanda-tanda pembangunan. Kita kesulitan sekadar mencari makanan dan minuman ringan.

"Sabar, Bung, tidak lama lagi semuanya akan berubah. Investor sudah pasti datang. Katanya, ratusan hektare tanah di daerah Labang ini sudah dibeli investor," kata teman saya, si Dono. Wow!

Dari tiang jembatan di Laban, saya melanjutkan tur ke daratan Madura. Sepanjang 10 kilometer jalan mulus, khas tol, tapi belum ada apa-apa. Ada beberapa petani menggarap sawah atau mengarit rumput. Selanjutnya, kosong melompong. Andai ban sepeda motor atau mobil Anda bocor, saya pastikan Anda akan sangat menderita.

Maka, doa terbaik ketika Anda tur ke Madura adalah "semoga ban tidak gembos selama perjalanan". Doakan juga agar bensin/solar di tangki kendaraan Anda tidak habis di perjalanan.

Di simpang tiga, daerah Burneh, saya berbelok ke kanan [timur]: arah Sampang dan Pamekasan. Ternyata, irama hidup di Madura masih sama dengan dua tahun lalu ketika saya terakhir kali berkunjung ke sana. Kualitas jalan masih sama. Sawah sama. Suasana di desa-desa pun sama.

"Jangan-jangan Jembatan Suramadu itu hanya dipakai mancing. Sebab, sekarang ini sudah banyak lho penggemar mancing yang membahas jenis senar, umpan, dan berbagai teknik untuk memancing di laut dengan kedalaman seperti di Suramadu," komentar Garin Nugroho, budayawan dan pembuat film, dalam sebuah diskusi di Surabaya.

Hush!!! Ojo rame-rame, Cak!

4 comments:

  1. wah aku belum kesana minggu lalu macet gak jadi

    ReplyDelete
  2. Masuk list yang harus dicoba tahun ini...........Go..go..Jembatan Suramadu!!

    ReplyDelete
  3. luar biasa!!! akhirnya suramadu jadi juga.

    ReplyDelete
  4. Hari ini mau kesana.. Smoga banku ga gembos atau bocor,, suramadu.. I am coming....

    ReplyDelete