05 June 2009

Mahasiswa Kok Doyan Tawuran?



Sumber foto: www. detiknews.com

Mahasiswa kok hobi tawuran? Apa tidak ada kegiatan akademis seperti baca buku, bikin makalah (paper), paktikum, studium generale...?

Bukankah banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler di kampus seperti musik, paduan suara, keroncong, seni tradisional, klub bahasa Inggris, pencinta alam, dakwah kampus, majalah/media kampus? Belum lagi unit kegiatan mahasiswa bidang olahraga yang pasti banyak sekali. Baca buku di perpustakaan.

Kok mahasiswa doyan tawuran? Bagaimana bisa menjelaskan? Akal sehatnya di mana?

Semalam, 4 Juni 2009, saya benar-benar terpana di depan televisi. Berita tawuran antarmahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Yayasan Adiministrasi Indonesia (YAI) disiarkan berulang-ulang. Kampus UKI dibakar. Saling lempar batu. Kejar-kejaran!

Waduh, benar-benar primitif! Sebelumnya, di Makassar pun tawuran antarmahasiswa menjadi menu harian. Saya curiga, mahasiswa-mahasiswa penggemar tawuran itu jarang menekuni kegiatan-kegiatan akademis dan lebih sibuk menyusun strategi berkelahi. Susun taktik untuk menghabisi teman-temannya dari kampus lain.

UKI dan YAI ini bertetangga. Satu pagar. Bukankah lebih bagus kalau UKI dan YAI bekerja sama dalam bidang akademik: diskusi, riset bersama, kerja sama untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia.

Oh, Tuhan, apa yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita?

Kalau mahasiswa, tentu saja tidak semua, masih lebih gemar tawuran, saling serang, bahkan saling bunuh... masihkah layak disebut mahasiswa?

Bagaimana pula dengan manajemen kampus? Rektorat? Masihkah Anda layak mengelola kampus kalau anak-anak didik Anda berkarakter preman? Ingat, perguruan tinggi itu bukan tempat mencetak preman-preman berijazah S-1, melainkan intelektual-intelektual berkualitas.

Saya selalu ingat kata-kata Romo Drost, S.J. (Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost, almarhum), tokoh pendidikan yang sangat saya kagumi. Sejak 1980-an Romo Drost berkali-kali menegaskan bahwa sistem pendidikan di Indonesia kurang tepat. Mulai sistem prasekolah dan, khususnya, perguruan tinggi.

Berdasarkan data di Departemen Pendidikan Nasional (dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), setiap tahun hanya 30 persen siswa SMA yang lulus Ujian Nasional, Ujian Akhir Nasional, Evaluasi Belajar Tahan Akhir Nasional, atau apa pun namanya. Yang 30 persen ini pun, menurut Romo Drost, tidak semuanya layak kuliah. Dus, harus disaring lagi.

Hasilnya?

"Hanya 10 persen saja yang sungguh-sungguh lulus. 90 persen yang lain itu sengaja diluluskan karena ADA TEMPAT," tulis Romo Drost di harian KOMPAS edisi 2 Oktober 1993.

Di perguruan tinggi boleh saja ada staf dosen yang amat bermutu, fasilitas berkelas internasional, gedung megah, dan sebagainya. Tapi, menurut Romo Drost:

"Ini semua percuma kalau mahasiswa yang mengikuti kurikulum yang hebat itu tidak mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Dan jumlah ini di mana-mana di dunia terbatas.

"Jadi, masalah pokok merosotnya mutu pengajaran kita bukan pada guru dan dosen, bukan fasilitas, bukan kurikulum, melainkan peserta didik yang tidak memiliki kemampuan intelektual yang dituntut."


Nah, dari sini kita bisa memahami mengapa mahasiswa-mahasiswa tertentu, di kampus tertentu yang itu-itu saja, doyan berkelahi. Kita juga bisa paham mengapa mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan kampus-kampus berbobot lainnya tidak berminat sedikit pun untuk tawuran.

Dan, kita semua tahu mahasiswa-mahasisiwa FK itu pun (nyaris) tidak punya waktu untuk pacaran.

3 comments:

  1. Bisa jadi juga, karena generasi mahasiswa sekarang kan adalah generasi sekolah menengah yang hobi tawuran dulu, bang Hurek. Mungkin mereka bertemu 'musuh lama' waktu SMU dulu. Jadi, dibuatlah perang yang nggak jelas juntrungannya ini.

    Biasanya yang ikut tawuran itu:
    MAHASISWA BARU yang masih terkena euforia kampus. Merasa hebat karena dia sudah lepas dari seragam sekolahnya. Jadi,berusaha unjuk gigi dengan berkelahi. Dan dengan gampang mereka akan mengikuti ajakan mahasiswa yang lebih senior.

    MAHASISWA ABADI alias yang enggak tamat-tamat atau senior tetua, yang bisa dibilang sudah tidak punya kegiatan akademis lagi. Mata kuliahnya sudah habis, skripsi nggak selesai-selesai. Jadi dia mencari kesibukan dengan membuat kerusuhan.

    Sepertinya peristiwa seperti ini masih akan banyak lagi terjadi, beberapa tahun ke depan.

    ReplyDelete
  2. Aduuuh kok lain sekali dengan jaman saya kuliah dulu.
    Dulu...semangat berorganisasi menggebu-gebu tapi 'direm' paksa dan dipersulit :D

    Lha...sekarang kok seperti ini penyaluran energinya...tanpa dibarengi dg penyaluran intelektual yang sesuai dengan status mereka sebagai mahasiswa...Jelek2 kan mereka adalah siswa yg 'maha' lho! aiiih...buang2 waktu dan tenaga dan uang saja!

    Semoga ada dari mereka yang membaca sentilan bang Bernie ini ya? :D

    ReplyDelete
  3. Xiexie, terima kasih banyak buat Risma dan Dyah yang aktif merespons artikel-artikel ringan saya. Good luck!

    ReplyDelete