12 June 2009

Keroncong Nan Merana



KREDIT FOTO: www.antara.co.id

Hidup segan, mati tak mau. Itulah kondisi musik keroncong saat ini. Semakin jarang orang, apalagi generasi muda, yang menekuni genre musik yang pernah sangat populer pada era sebelum dan awal kemerdekaan itu.


Sejumlah pemusik senior berkumpul di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, pekan lalu. Ditemani kopi panas dan jajan pasar, mereka membahas perkembangan keroncong saat ini. Hampir semuanya mengeluhkan pasar musik masa kini yang nyaris tidak memberi ruang untuk keroncong.

"Kalau dibilang keroncong mati sih nggak juga. Hanya saja, sudah jarang terlihat di depan umum. Televisi swasta tiap hari menyiarkan band-band anak muda. Musik keroncong sama sekali tidak diberi tempat," ujar Totok Widhiarto, ketua Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa.

Totok tak hanya sekadar mengeluh. Dia membeli semua instrumen musik keroncong--gitar, ukulele, biola, flute, hingga keyboard--untuk latihan di rumahnya, Pondok Mutiara. Teman-temannya yang dianggap bisa menyanyi diajak berlatih keroncong. Sekali-sekali Totok juga mengajak penyanyi keroncong ke rumahnya.

"Awalnya banyak sambutan, tapi sekarang lesu. Makanya, sekarang saya membiasakan diri main keroncong dengan iringan keyboard. Sebab, mencari pemusik lengkap untuk orkes keroncong sekarang ini nggak gampang," ujar pria asal Siring, Porong, yang rumahnya tenggelam oleh lumpur panas Lapindo ini.

Tak hanya Totok, Nurhayati juga berusaha melestarikan keroncong dengan caranya sendiri. Dia sempat membuka kursus vokal keroncong dan campursari untuk anak-anak muda. Hasilnya pun ternyata tidak menggembirakan.

"Ada beberapa siswa yang berlatih, tapi kemudian nggak datang lagi. Katanya, nyanyi keroncong itu nggak gampang," tukasnya.

Menurut Nurhayati, yang pernah memenangi sejumlah lomba keroncong di Surabaya ini, belajar musik keroncong itu memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tidak bisa instan. Sebab, teknik vokalnya membutuhkan cengkok yang khas. "Nah, belajar cengkok itu gampang-gampang susah," ujarnya.

Pekan lalu, Hartono Aje menggelar Festival Musik Keroncong dan Langgam Jawa di Resto Akar Jati, Jalan Lingkar Barat Sidoarjo. Festival ini ternyata mendapat sambutan yang cukup positif dari penggemar musik keroncong di Surabaya dan Sidoarjo.

"Saya tidak ingin musik keroncong mati dan masuk museum. Ini sama dengan tikus yang mati di lumbung padi," kata mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo ini.

Bagaimana dengan respons anak-anak muda?

"Wah, ini yang masih sulit. Harus ada sosialisasi terus-menerus. Kalau nggak pernah dengar musik keroncong, bagaimana bisa suka? Apalagi, ada anggapan kalau keroncong itu musiknya orang tua," tandas Hartono.

2 comments:

  1. My Blog
    http://www.wretch.cc/blog/markacey
    Thanks for your share
    Nice to meet you

    Hsinchu, Taiwan

    ReplyDelete
  2. musik keroncong asline nikmat loh, buat masukan nih, gimana kalo nerapin kayak dunia barat, di mana instrumental lawas untuk terapi, kerjasama dengan psikolog-psikolog kalau kalah lewat jalur musik, menanglah lewat jalur kesehatan

    ReplyDelete