28 June 2009

Menteri Pertanian: Lembata Malu Mara



Musim kampanye pilpres, pertengahan Juni 2009 Menteri Pertanian Anton Apriyantono naik lewo titen, Lembata. Mungkin Ama Anton nepi menteri pertama Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang longet lewo. Na bisa noi langsung tanah ekan, masyarakat, keaadan rae lewo.

Apa pun motivasinya, kampanye SBY, tebar pesona... go terima kasih aya-aya. Moga-moga menteri, pejabat belen ahan, beto teti Lembata, Flores Timur, NTT. Ama Anton nepi mungkin meteri pertama yang longet Lembata, kabupaten pecahan Flores Timur.

Pejabat-pejabat titen tobo mege-mege lau Kupang. Rekan-renu senang-senang, lupang non ina ama kaka ari rae lewo.

Go lile TVRI, baca KOMPAS, Menteri Anton Apriyanto prihatin masyarakat titen malu mara tun getan. Tahan take, wata take, mula aku-aku jadi hala. Mula ekan (wata) tun to moan tou hena, hasil naen juga belum tentu senaren. Panen gagal, ekan malu mara. Tekan tenu jadi hala.

"Go onek tungen nong mio pi Lembata," Ama Anton Apriyanto maring. "Tite harus usaha, kerja keras, Lembata ake malu mara muri. Target goen, tun telu muri Lembata malu mara hala. Pemerentah tepi harus kerja keras, seba cara, ti masyarakat bisa kerian, mula wata, tahan, wulung..."

Go hargai tekad Bapa Menteri. Tapi bagaimana dengan pemerintah daerah? Bapa Menteri koda mela-mela, pejabat teti lewo usaha hala, sia-sia. Percuma! Tite tetap malu mara. Lembata, lewo titen, maso surat kabar bukan karena prestasi, tapi malu mara. Tite miake!

Malu mara nepe koda kiring nolungen teti lewo. Wata teti oring amuken, doi take, uwe maran di gohuka. Ana bai seba uwe teti utan, seba waka (bakau), rekan muko onen.... Pemerentah bantu tahan, bulgur, wata, ro tite tetap malu mara.

Satu-satunya jalan, masyarakat titen melarat rai Malaysia Timur: Sabah, Tawau, Kinabalu, Sandakan, Keningau, Lahaddatu, Malaysia Barat. Go maring meri Malaysia nepe heloka lewo titen. Kayak aya-aya teina Malaysia, khususnya Malaysia Timur, kerian te kebun sawit, piara ewang nawung, belo buko kayu, sopir (dreba), jaga tauke anaken, pembantu...

Kerian sembarang, pokoknya tong pemasukan, dapat ringgit. Doi raingen esi, nato tang lewo nai. Tang ongkos anak sekolah, hope seng, tula lango, hope alelolon, hope wata, tahan, macam-macam. Kalo melarat hala pe tite "melarat" (Bahasa Indonesia: sangat miskin), malu mara terus.

Akhir 1980-an, Bapa Gubernur Ben Mboi longet Lembata. Atadiken ribu ratu mupul rae lapanan dengan pidato Ben Mboi. Gubernur tou nepi onen berekeng tite Lembata, Flores Timur, leron kae melarat tai Malaysia, bangun lewo hala.

"Mio mai Sabah jadi budak tauke-tauke Malaysia. Mio harus ubah mental. Lebih baik jadi tuan di negeri sendiri daripada budak di negeri orang!" Ben Mboi hing ata Lembata.

"Tite melarat, teken tai Sabah hala, beng tekan aku, Ama? Mio pejabat, pegawai negeri wulan kae dapat gaji. Pemerintah neng mio wata tahan. Kame rakyat biasa seba doi nega nai?" Ama Pitang maring nepa.

Bapa-bapa pejabat, Ben Mboi, menteri-menteri, bupati, kepala-kepala dinas... perlu putar otak. Seba laran, tula lapangan kerja, teti Lembata. Kalo lapangan kerja aya-aya, dijamin tite tai Sabah, Sandakan, Tawau, Kuala Lumpur... hala muri.

Dijamin malu mara hala muri. Dijamin Lembata lebih maju heloka tanah ahan lali Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Moga-moga presiden muringen bisa berantas malu mara teti lewo!

SUMBER FOTO:
http://nolanlasar.blog.friendster.com/galeri-foto/

21 June 2009

Kantar INA MARIA, Peten Tuan Lambert





Kai Biara Soverdi, Jalan Polisi Istimewa Surabaya, go onek peten kong Tuan Lambert. Pater Lambertus Paji Seran SVD. Tuan Lambert nepe nolo tugas teti Paroki Ile Ape, Lembata, Flores Timur, lewo kamen. Na termasuk pater perintis, angkatan pertama tuan pribumi, gate tuan-tuan Belanda, Jerman, Cheko, Polandia... alawen.

Go naranek hama nong Tuan Lambert Paji. Soalnya, almarhum nepe yang permandikan go rae lewo, Gereja Atawatung, Ile Ape. Nolo Tuan Lambert nala te lango kamen, lango dinas guru kepala, tete lewo Mawa, watan lolon.

"Mio seba tuak ki. Go onek mara-mara," Tuan Lambert, Adonara lewun, maring nepa. Na tobo, koda kirin, tutu nuan, kame seba tuak rae man (ekan). Amak Tuan tou nepi suka nenu tuak, behing, koda kirin tekan wata nengen (kenaen).

"Mo inam nepe sare-sare," Tuan maring go. RIP! Go inak, Maria Yuliana, mataya kae. Tuan Lambert sempat nala, tutung lilin, berdoa, teti kuburan go inak naen, Dusun Nobolekan, Bungamuda, Ile Ape.

Pi, Tuan Lambert di mataya kae. RIP!

Baik te Soverdi, Surabaya. Nolo go biasa kala te Gudang Buku Nusa Indah, kompleks Soverdi. Pegawai naen Pak Lambert (almarhum), Ende lewun, nong Mbak Yosefina (Surabaya). Go seba buku-buku Nusa Indah, Kanisius, Dioma... tobo koda kiring kong ana bai pegawai Nusa Indah.

Go musti hope "behing": Bir Bintang buli tou. "Ama Lambert, mo mayang Pater Lambert ki," go huda Pak Lambert (almarhum).

Pater Lambert, nang songko mitemen heloka ata watanen, beto. Na mulai koda aya-aya. Alangen belolo, heloka ata berekenga, ro onen sare-sare. "Mo tutu sejarah Paji nong Demon ki, Pater!" go maring.

Lalu, pater titen nepi tutu sejarah lewotanah. Paji nong Demon nepe penguasa Lamaholot tempo dulu. Lewo kamen, Lembata, termasuk wilayah Paji-Demon. Adat-istiadat, tradisi, koda kiring (bahasa) titen hama. Tuan Lambert maring kame ake lupang lewotana. "Kalau mio mong waktu pe, longet ina-ama rae lewo uhe," pesan almarhum Pater Lambert.

Gudang Nusa Indah Surabaya tutup. Mbak Yosefina pensiun. Kantor dibongkar habis. "Buku-buku kame natoro mang Ende nai," Mbak Yosefina maring.

Go benar-benar kehilangan. Kai Soverdi, koi Tuan Lambert hala muri. Kai Soverdi, go peten nyanyian INA MARIA. Keluarga besar Adonara rang kantar nepi, nawo Tuan Lambert, robeko rae Makam Kembang Kuning, Surabaya. Waktu nepe uran bleku-bleku.

"Ina Maria, mo peten Tuan Lambert!
Ina Maria, mo peten go inak, Maria Yuliana!
Ina Maria, mo peten ina-ama rae lewotana!
Ina Maria, mo peten kame, anak melaraten pi Jawa Timur!"

19 June 2009

Welly Sujono Jaga Rumah Abu




Banyak orang takut dengan orang mati, kuburan, dan segala sesuatu yang berbau arwah. Rumah sedapat mungkin jauh dari kuburan. Tidak jalan sendiri di makam. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk Welly Sujono.

Tahun ini, genap 30 tahun, Welly tinggal di Rumah Abu Eka Praya, Jalan Kembang Jepun 21-23 Surabaya.

"Ada ratusan abu jenazah yang tersimpan di Eka Praya. Dan setiap hari--pagi, siang, malam--saya bersama keluarga tinggal di situ untuk merawat," cerita Welly Sujono kepada saya, Minggu (24/6/2009) petang.

Dibangun pada 1814, Eka Praya dikenal sebagai salah satu rumah abu untuk masyarakat umum di Surabaya. Sebab, ada pula rumah abu yang dibangun khusus untuk marga atau keluarga tertentu saja. Pada prinsipnya, menurut Welly, pihaknya menerima abu jenazah dari berbagai kalangan.

Jumlah abu jenazah yang dirawat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Ini karena pada saat-saat tertentu, pihak keluarga memutuskan untuk melarung abu tersebut ke laut atau sungai. Kemudian datang lagi abu jenazah baru setelah kremasi. "Tapi, yang jelas, sejak dulu setiap hai saya ditemani oleh ratusan abu jenazah. Teman saya banyak. Hehehe," kata Welly.

Kalau orang lain takut 'dikelilingi' ratusan arwah, Welly justru mengaku biasa-biasa saja. Pria yang bekerja di Eka Praya sejak 1979 ini juga tidak pernah mendapat penampakan atau penglihatan yang aneh-aneh. "Ada beberapa orang cerita lihat ini-itu, tapi saya kok gak pernah. Kayak tinggal di rumah biasalah," akunya.

Berbeda dengan Welly Sujono, sang istri, Ellyana Putrawijaya, mengaku sering takut ketika seorang diri di Eka Praya. Apalagi pada malam hari. Kalau sudah begitu, Ellyana yang juga aktivis Gereja Kepanjen ini langsung berdoa.

"Saya secara spontan langsung bicara sendiri dengan Tuhan. Oh, Tuhan, tolong dampingi saya," papar Ellyana.

Usai berdoa, dia merasa tenang dan ketakutannya pun hilang. Namun, sebagai orang Tionghoa kelahiran Surabaya, Elly mengaku sering dihantui pikiran-pikiran tertentu tentang dunia orang mati. "Puji Tuhan, kami bisa bertahan selama 30 tahun. Dan aman-aman saja," katanya.

Suatu ketika, cerita Ellyana, pihaknya menerima seorang pembantu dari desa. Rupanya, perempuan itu punya kemampuan melihat 'dimensi lain' dari komunitas arwah di Eka Praya. "Besoknya, dia langsung pamit, minta keluar. Kalau saya sendiri sih nggak pernah lihat sosok yang aneh-aneh di sini," ujar Elly.




Layaknya rumah abu yang lain, Eka Praya mengutip biaya sewa. Tidak mahal, hanya Rp 10 ribu per bulan. Pihak keluarga atau ahli waris harus membayar sewa tahunan. "Itu sudah ada ketentuan dari perkumpulan," tutur Welly Sujono.

Eka Praya, yang berdiri pada 1814 ini, memiliki fasilitas lengkap untuk penyimpanan abu, tempat ritual, aula untuk sembahyang bersama, dan sebagainya. Dari 300-an abu jenazah yang ada sekarang, menurut Welly, tidak semua diperhatikan keluarganya. Dengan kata lain, banyak pula abu jenazah yang ditelantarkan.

"Yang telantar itu, ya, mereka-mereka yang nggak bayar iuran tahunan. Lha, bagaimana mau dirawat kalau dia tidak ikut ketentuan yang sudah dibuat perkumpulan?" tukas Welly Sujono.

Nah, bagi abu jenazah yang telantar, Eka Praya menyediakan ruang khusus. Pihak ahli waris juga dihubungi untuk memperhatikan titipannya. "Tapi, ya, ada saja yang sulit dihubungi karena pindah dan sebagainya," papar pria yang murah senyum ini.

Sesuai dengan ketentuan, pada batas waktu tertentu, petugas akan mengadakan upacara pelarungan di Kembang Kuning. Eka Praya memang punya sumur khusus untuk itu. "Prinsipnya, semua abu jenazah kami perlakukan dengan sebaik-baiknya. Kami lakukan ritual sesuai dengan agama yang bersangkutan," katanya.

Tiga puluh tahun tinggal bersama ratusan 'arwah' di Eka Praya membuat Welly Sujono dan istri, Ellyana Putrawijaya, seakan punya ikatan batin dengan rumah abu terkenal di Jl Kembang Jepun itu. Menurut Ellyana, pihaknya beberapa kali mencari rumah kontrakan untuk persiapan setelah Welly Sujono pensiun dari Eka Praya. Hasilnya?

"Gak pernah dapat. Selalu ada saja halangan," kata Ellyana yang juga aktivis Gereja Kepanjen, Surabaya. "Teman-teman bilang kalau kami ini digandholi arwah-arwah itu supaya tetap bersama mereka. Bayangkan, sudah 30 tahun lho," tukas Ellyana.

Di sisi lain, baik Welly Sujono maupun Ellyana Putrawijaya mengaku mendapat pengalaman rohani yang berharga dengan merawat sekian ribu abu jenazah selama tiga dasawarsa. Mereka lebih mendekatkan diri pada Tuhan, banyak berdoa, dan semakin menyadari bahwa kehidupan di dunia ini sangat fana.

Semua manusia, siapa pun dia, kaya-miskin, apa pun status sosialnya, suatu saat pasti dipanggil oleh Sang Pencipta. "Tinggal di Eka Praya itu, salah satu syaratnya, jangan pernah mempunyai niat jahat," tegas Ellyana.

15 June 2009

Api Abadi di Pamekasan




Tak jauh dari kota Pamekasan, Madura, ada api abadi. Objek wisata alam ini lebih dikenal sebagai "api yang tak kunjung padam". Pada 2000, kalau tidak salah, obor api PON (Pekan Olahraga Nasional) XV mula pertama disulut dari sini.

Saya berkesempatan datang ke sana, Ahad 14 Juni 2009. Sudah ada sekita5 50 pengunjung dari berbagai kota menyaksikan fenomena alam ini. Saya hitung ada 50-an titik api. Siapa saja boleh mengorek-ngorek tanah, menyulut pakai korek api kayu, dan jadilah api.

"Biar hujan sekalipun api tetap menyala. Kalau kena angin keras, hujan deras, baru mati. Tapi, setelah hujan berhenti, ya, hidup lagi, Namanya saja api yang tak kunjung padam," ujar Pak Agus, hansip plus tukang parkir, kepada saya.

Api ini dimanfaatkan beberapa warga setempat untuk membakar jagung. Pengunjung juga boleh membakar sendiri. Ada dua perempuan lokal yang memasak makanan pakai api abadi. Panasnya sudah pasti merata. Tidak perlu minyak tanah, gas, kayu bakar, dan sejenisnya.

Saya meminta dibakarkan jagung bakar dua tongkol. Tak sampai 10 menit sudah matang. Rasanya lumayan enak ketimbang di Surabaya atau Sidoarjo. Akan lebih enak lagi kalau ibu-ibu di Pamekasan ini bikin bumbu agar rasa jagung mudanya lebih wuih. Sayang, di desa ini polos-polos saja.

Juga tidak ada warga yang berinisiatif menambah komoditas jualan. Yah, jangan hanya jagung bakar, tapi bisa ditambah ubi jalar, singkong, ikan laut, dan sebagainya. Bukankah Madura kayak dengan hasil laut? Pemerintah daerah rupanya belum optimal menggarap objek wisata api alam ini. Padahal, Jembatan Suramadu sudah diresmikan pada 10 Juni 2009 lalu.

"Apa kampung ini tidak bahaya? Kan api sewaktu-waktu bisa muncul?" tanya saya.

"Oh, tidak. Api hanya muncul di tempat ini saja. Ada juga di tempat lain, tapi sekitar 300 meter dari sini. Yang lain-lain aman," kata Pak Agus.

Mencoba Jembatan Suramadu




Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Alhamdulillah! Momen ini memang sudah lama ditunggu-tunggu. Akhirnya, cita-cita Bapak HM Noer, sesepuh masyarakat Madura dan gubernur Jawa Timur, pada awal 1970-an terwujud.

Butuh waktu 40-an tahun untuk mewujudkan jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu. Biayanya Rp 4,5 triliun hasil utang sana-sini, pinjam ke sana ke mari. Yang penting, dua pulau bertetangga ini bisa "disatukan".

Selama ini Madura dan Jawa terkesan jauuuh sekali. Memang ada feri yang beroperasi 24 jam, tapi makan waktu terlalu lama. Anda masuk Dermaga Ujung, beli karcis, merapat ke kapal butuh 30 menit. Lantas, 30 menit [bisa 40-50 menit] menunggu jam keberangkatan. Lama perjalanan laut 30 menit.

Antre di Dermaga Kamal, Bangkalan, 30 menit lagi. Belum proses sandar di dermaga yang juga bisa makan waktu 30 menit. Total: 120 menit alias dua jam! Jarak tujuh kilometer Ujung-Kamal makan waktu dua jam. Ini yang bikin orang Jawa malas ke Madura, pulau yang "kalah maju" dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Pada 10 Juni lalu saya "mewawancarai" 10 warga Surabaya. "Selama hidup, Anda sudah berapa kali ke Madura?" tanya saya.

Ternyata, sembilan dari 10 responden belum sekalipun menginjakkan kaki di Pulau Madura. "Saya satu kali, tapi dulu waktu SD," kata Paramita, karyawan berusia 25 tahun. "Madura itu apanya yang menarik. Saya lebih suka ada jembatan Surabaya-Bali. Hehehe," tambah gadis Surabaya ini.

Setelah diresmikan presiden, animo warga Surabaya [dan Jawa Timur lainnya] menjajal Jembatan Suramadu sangat tinggi. Apalagi, digratiskan selama tujuh hari. Namanya barang baru, semua orang ingin tahu kayak apa sih jembatan terpanjang di Asia Tenggara itu. Maka, saya pun ikut terjebak dalam kemacetan panjang di Jembatan Suramadu.

Sampai di Madura, tiang Jembatan Suramadu di Kecamatan Labang, saya makin sadar bahwa pulau garam ini memang berbeda jauh dengan tetangganya, Jawa. Semua serba perawan. Belum ada tanda-tanda pembangunan. Kita kesulitan sekadar mencari makanan dan minuman ringan.

"Sabar, Bung, tidak lama lagi semuanya akan berubah. Investor sudah pasti datang. Katanya, ratusan hektare tanah di daerah Labang ini sudah dibeli investor," kata teman saya, si Dono. Wow!

Dari tiang jembatan di Laban, saya melanjutkan tur ke daratan Madura. Sepanjang 10 kilometer jalan mulus, khas tol, tapi belum ada apa-apa. Ada beberapa petani menggarap sawah atau mengarit rumput. Selanjutnya, kosong melompong. Andai ban sepeda motor atau mobil Anda bocor, saya pastikan Anda akan sangat menderita.

Maka, doa terbaik ketika Anda tur ke Madura adalah "semoga ban tidak gembos selama perjalanan". Doakan juga agar bensin/solar di tangki kendaraan Anda tidak habis di perjalanan.

Di simpang tiga, daerah Burneh, saya berbelok ke kanan [timur]: arah Sampang dan Pamekasan. Ternyata, irama hidup di Madura masih sama dengan dua tahun lalu ketika saya terakhir kali berkunjung ke sana. Kualitas jalan masih sama. Sawah sama. Suasana di desa-desa pun sama.

"Jangan-jangan Jembatan Suramadu itu hanya dipakai mancing. Sebab, sekarang ini sudah banyak lho penggemar mancing yang membahas jenis senar, umpan, dan berbagai teknik untuk memancing di laut dengan kedalaman seperti di Suramadu," komentar Garin Nugroho, budayawan dan pembuat film, dalam sebuah diskusi di Surabaya.

Hush!!! Ojo rame-rame, Cak!

12 June 2009

Keroncong Nan Merana



KREDIT FOTO: www.antara.co.id

Hidup segan, mati tak mau. Itulah kondisi musik keroncong saat ini. Semakin jarang orang, apalagi generasi muda, yang menekuni genre musik yang pernah sangat populer pada era sebelum dan awal kemerdekaan itu.


Sejumlah pemusik senior berkumpul di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, pekan lalu. Ditemani kopi panas dan jajan pasar, mereka membahas perkembangan keroncong saat ini. Hampir semuanya mengeluhkan pasar musik masa kini yang nyaris tidak memberi ruang untuk keroncong.

"Kalau dibilang keroncong mati sih nggak juga. Hanya saja, sudah jarang terlihat di depan umum. Televisi swasta tiap hari menyiarkan band-band anak muda. Musik keroncong sama sekali tidak diberi tempat," ujar Totok Widhiarto, ketua Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa.

Totok tak hanya sekadar mengeluh. Dia membeli semua instrumen musik keroncong--gitar, ukulele, biola, flute, hingga keyboard--untuk latihan di rumahnya, Pondok Mutiara. Teman-temannya yang dianggap bisa menyanyi diajak berlatih keroncong. Sekali-sekali Totok juga mengajak penyanyi keroncong ke rumahnya.

"Awalnya banyak sambutan, tapi sekarang lesu. Makanya, sekarang saya membiasakan diri main keroncong dengan iringan keyboard. Sebab, mencari pemusik lengkap untuk orkes keroncong sekarang ini nggak gampang," ujar pria asal Siring, Porong, yang rumahnya tenggelam oleh lumpur panas Lapindo ini.

Tak hanya Totok, Nurhayati juga berusaha melestarikan keroncong dengan caranya sendiri. Dia sempat membuka kursus vokal keroncong dan campursari untuk anak-anak muda. Hasilnya pun ternyata tidak menggembirakan.

"Ada beberapa siswa yang berlatih, tapi kemudian nggak datang lagi. Katanya, nyanyi keroncong itu nggak gampang," tukasnya.

Menurut Nurhayati, yang pernah memenangi sejumlah lomba keroncong di Surabaya ini, belajar musik keroncong itu memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tidak bisa instan. Sebab, teknik vokalnya membutuhkan cengkok yang khas. "Nah, belajar cengkok itu gampang-gampang susah," ujarnya.

Pekan lalu, Hartono Aje menggelar Festival Musik Keroncong dan Langgam Jawa di Resto Akar Jati, Jalan Lingkar Barat Sidoarjo. Festival ini ternyata mendapat sambutan yang cukup positif dari penggemar musik keroncong di Surabaya dan Sidoarjo.

"Saya tidak ingin musik keroncong mati dan masuk museum. Ini sama dengan tikus yang mati di lumbung padi," kata mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo ini.

Bagaimana dengan respons anak-anak muda?

"Wah, ini yang masih sulit. Harus ada sosialisasi terus-menerus. Kalau nggak pernah dengar musik keroncong, bagaimana bisa suka? Apalagi, ada anggapan kalau keroncong itu musiknya orang tua," tandas Hartono.

10 June 2009

AT Mahmud dan Lagu Anak






Tak sedikit ibu-ibu muda yang resah karena anak-anaknya lebih suka lagu-lagu asmara anak muda ketimbang lagu-lagu anak-anak. Program televisi populer macam IDOLA CILIK menampilkan anak-anak dalam gaya orang dewasa.

Kecil-kecil kok sudah pacaran? Kecil-kecil kok putus cinta? Anak-anak sekarang fasih menyanyikan: "Ingin kubunuh pacarmu...."

Yah, sudah banyak kritik, masukan, kecaman, tapi penyelenggara program "anak-anak" di televisi tutup mata. Yang penting, bagi pengusaha televisi, adalah iklan banyak, uang masuk. Urusan pendidikan anak-anak, pembinaan generasi muda... nomor 47.

Kita, masyarakat biasa, mau bilang apa? "Agamanya" pengusaha televisi memang iklan, rating, dan uang! Dan itu pasti tidak akan pernah ketemu dengan idealisme pendidikan atau urusan character building seperti yang kerap dipidatokan Bung Karno.

Di tengah situasi industri televisi, yang kurang punya misi pendidikan anak, saya terharu menyaksikan profil Bapak AT Mahmud di TVRI, Selasa pagi, 9 Juni 2009. Pak Mahmud ini berkacamata, kumis tebal, rambut memutih, pita suaranya sudah kendor. Sudah sulit membidik nada-nada secara tepat.

Abdullah Totong Mahmud lebih dikenal dengan AT Mahmud. Pada 1970-an dan 1980-an Pak Mahmud sangat akrab dengan anak-anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. TVRI, satu-satunya televisi masa itu, hanya bisa ditangkap dengan pesawat televisi hitam putih.

Anak-anak duduk ramai-ramai di depan TV milik tetangga atau TV umum di balai desa untuk menyaksikan "barang mewah" itu. Di pelosok Flores, kami harus jalan kaki atau naik sepeda onthel sejauh 25 kilometer agar bisa melihat TV hitam putih milik Baba Tionghoa di kota kecil. Sampai sekarang pun desa-desa terpencil di Flores belum bisa dijangkau televisi, kecuali pakai parabola. Hehehe...

Nah, Pak AT Mahmud ini sangat terkenal karena acaranya LAGU PILIHANKU sangat pas dengan jiwa anak-anak. Tampilan acara sangat sederhana. Polos, tidak pakai kemasan yang mewah, ala IDOLA CILIK dan sejenisnya. Juga tak pakai komentator-komentator yang sok pintar itu. Pak AT Mahmud hanya dibantu istrinya, Ibu Mulyani, sebagai pembawa acara.

Lantas, anak-anak TK di Jakarta [tentu sudah dilatih] membawakan lagu anak-anak ciptaan AT Mahmud. Ada cerita singkat tentang latar belakang lagu, proses penulisan, semua dalam bahasa anak-anak. Notasi angka dan balok diperkenalkan. Jadilah melodi dan syair yang enak.

Suasananya mirip pelajaran seni suara di kampung-kampung Flores. Bapak/Ibu Guru mula-mula menulis notasi angka di papan tulis yang hitam, pakai kapur tulis cap "Sarjana" [harapannya agar anak-anak SD di kampung kelak jadi sarjana]. Guru membuat ketukan dengan tongkat. Memperkenalkan solmisasi. Anak-anak membunyikan not sampai benar. Lantas, dibawakan syairnya.

Pak AT Mahmud, seperti disampaikan di TVRI, menulis sekira 500 lagu anak-anak. Lagu paling populer tentulah PELANGI. Siapa sih yang tidak tahu lagu abadi itu? Di era digital ini pun, saya kira, orang tua Indonesia yang paling modern sekalipun pernah mengajarkan buah hatinya lagu pendek nan indah ini.

"Pelangi, pelangi, alangkah indahmu.
Merah kuning hijau di langit yang biru.
Pelukismu agung, siapa gerangan
Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan.


AT Mahmud mengatakan, semua lagu ciptaannya terinspirasi oleh putri tercintanya, Rika Vitriani. Rika kecil melihat pelangi nan indah di langit selepas hujan. "Pak, apa itu?" tanya si kecil.

AT Mahmud kemudian menemukan nada dan syair yang indah. Lain waktu Rika diajak keluar rumah ketika bulan purnama. Rika nyeletuk, "Pak, ambilkan bulan itu!" Lantas, tercipta lagu AMBILKAN BULAN.

Luar biasa, justru dari pengalaman kanak-kanak yang lugu, apa adanya, jujur, biasa-biasa saja, lahir ratusan komposisi nyanyian untuk anak-anak Indonesia. Pak Mahmud mengaku sangat berbahagia karena karya-karyanya telah menemani sekian juta anak Indonesia dalam proses tumbuh kembangnya. Pak Mahmud ini tipe pendidik sejati.

Beliau benar-bena pahlawan anak-anak. Terima kasih, Pak AT Mahmud!

09 June 2009

Prita dan Nasib Blogger



Kasus penahanan Prita Mulyasari gara-gara mengirim e-mail keluhan tentang pelayanan yang dialaminya di Rumah Sakit Omni, Tangerang, sedang menjadi headline media massa. Kita belum tahu ujungnya. Namun, ini merupakan momentum emas untuk menata undang-undang sistem informasi dan elektronika, khususnya internet.

Suka tak suka, internet telah menjadi medium informasi yang luar biasa dahsyat. Semua orang bebas membuat situs, blog, menulis apa saja, memosting apa saja baik itu teks, gambar, suara, dan entah apa lagi. Karakter media online jauh berbeda dengan media konvensional.

Bagaimana dengan pasal kebencian atau penceramaran nama naik, pasal 310 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana? Jujur, kita belum punya aturan yang memadai. Sebab, internet baru berusia 20-an tahun. Perkembangan teknologi informasi yang sangat dahsyat membuat perangkat hukum kita gagap menghadapinya. Dan hukum memang selalu kedodoran.

Ketika semua orang bebas bikin blog, bebas menulis apa saja di internet, bebas memosting, perangkat hukum macam apa, rambu-rambu mana yang harus diikuti? Apakah semua orang bebas pula mengarang informasi fiktif, merusak nama baik orang lain, fitnah, dan sebagainya? Negara dengan segala perangkat aparatur dan ahli-ahlinya harus bisa menantisipasi.

Media massa macam koran, majalah, radio, televisi, situs berita online jelas ranah publik. Kode etik, standar jurnalisme, hukum, undang-undangnya jelas. Tapi bagaimana dengan blog atau situs pribadi? Masuk privat atau publik? Apakah bisa "dijerat" dengan undang-undang yang berlaku untuk media massa?

Dulu, saya menanggap blog itu ranah privat. Ibarat diari atau buku harian. Siapa saja bebas menulis unek-unek, curhat, puisi, memaki-maki pacar, menyanjung kekasih di diari. Tidak ada ketentuan apa-apa untuk menulis di buku harian, bukan?

Karena itu, tulisan di blog pun bebas-bebas saja. Tidak pakai standar jurnalisme, cek-recek, berimbang, objektif, dan sebagainya. Mau menulis dalam bahasa Indonesia yang benar, ejaan sesukanya, bahasa gado-gado... terserah. Dan itulah demokrasi gaya baru yang dikembangkan oleh blogger di seluruh dunia.

Persoalan menjadi lain ketika tulisan-tulisan kita di blog dianggap mencemarkan nama baik seseorang atau kelompok tertentu. Bisakah ditarik ke ranah hukum? Lha, memangnya penulis diari bisa diproses hukum?

"Ingat, blog Anda dibaca juga oleh orang lain. Bukan hanya Anda sendiri yang baca," ujar seorang bapak yang pernah menegur saya. Syukur, tidak sampai disomasi segala. "Blog Anda itu ada di internet. Siapa saja bisa mampir, masuk lewat Google, dan baca," katanya.

"Tapi blog saya itu blog pribadi, bukan media massa. Saya tidak pernah undang orang untuk ramai-ramai mampir ke blog saya. Kalau kebetulan ada orang yang mampir, baca, kemudian sakit hati karena tulisan saya, ya, salah dia sendiri. Siapa suruh dia baca?" pancing saya.

"Lain, Bung! Blog pribadi sekalipun bisa dijerat hukum kalau tidak akurat atau merusak nama baik orang lain," kata bapak tadi.

Yah, daripada debat kusir, ngalor-ngidul gak ketemu, saya pun menghapus artikel yang dianggap bermasalah tersebut. Komentar-komentar blogger, yang kebanyakan anonim, lebih gawat lagi. "Walaupun yang nulis komentar orang lain, Anda tetap bertanggung jawab. Sebab, komentar itu melekat di Anda punya blog!"

Begitulah. Orang Surabaya punya satu prinsip yang saya suka: "Sing waras ngalah!" Yang waras, mengalah saja! Daripada harus capek-capek ke polisi, diinterogasi, ke kejaksaan, disidang di pengadilan, lebih baik menghindar. Capek deh!

Ada orang Belanda marah-marah karena saya men-delete sebuah artikel yang ada hubungan dengan keluarganya. Dia hendak menggunakan artikel itu untuk melayangkan gugatan kepada "musuhnya".

"Lambertus, di mana tanggung jawab Anda sebagai penulis? Kok begitu mudah mencabut postingan di blog?" tulis Tuan Belanda itu.

"Saya tidak ingin tulisan saya menjadi masalah di pengadilan. Niat saya itu hanya membuat profil tentang Tuan X yang pernah sangat terkenal di Surabaya. Sama sekali menyinggung kasus perdata tertentu," jawab saya. Tuan Belanda ini tetap tidak terima.

Wahai teman-teman blogger, hati-hatilah dengan komentar di bawah postingan Anda. Salah satu ciri orang Indonesia, kata almarhum Mochtar Lubis, adalah TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. Berlindung di balik ANONIM, kalaupun ada nama dibuat palsu, dia tidak segan-segan menyerang orang lain yang kita bahas di blog kita.

Maka, saya pun menghapus komentar-komentar ANONIM yang menyerang pihak lain. Sing waras ngalah, Cak! Saya sebetulnya tidak suka menyeleksi komentar pembaca blog. Tapi, setelah beberapa kali kecolongan dengan komentar berbahaya, saya terpaksa "menyensor" komentar-komentar sebelum ditayangkan di blog.

Kasus Maria Eva lain lagi. Penyanyi dangdut asal Sidoarjo ini beberapa waktu lalu terlibat skandal seks dengan Yahya Zaini, anggota DPR RI dari Golkar. Video adegan seks ME dan Yahya tersebar luas. Waktu itu belum banyak orang yang tahu siapa gerangan ME. Saya pun menulis profil ME di blog ini.

Waduh, pengunjung blog melonjak drastis. Semua pengguna Google yang mengetik "Maria Eva" pasti diantar ke blog saya. Lalu, muncullah begitu banyak komentar tentang Maria Eva alias ME ini. 95 persen isi komentar itu menghujat ME. Kata-kata yang dipakai sangat kasar. Saya khawatir ME tersinggung dan memerkarakannya.

"Bang Hurek, aku sudah baca semua tulisanmu tentang aku. Aku juga sudah baca komentar-komentar itu. Silakan mau ngomong apa, terserah. Mereka kan nggak tahu Maria Eva yang sebenarnya. Hehehe," ujar ME. Dia secara khusus mengajak saya makan siang di Hotel Elmi Surabaya untuk membahas kasusnya.

"Menurut Anda, apakah komentar-komentar miring tentang Anda, yang hampir semuanya anonim itu, dihapus saja?"

"Ngapain dihapus? Biarkan saja. Itu menjadi catatan sejarah dalam perjalanan hidup dan karier saya di industri hiburan. Saya justru senang karena ada orang seperti Bang Hurek yang sudah menulis banyak tentang saya," kata ME.

Saya langsung plong. Ah, andai saja semua tokoh seperti Maria Eva, para blogger tidak perlu cemas mendapat somasi atau diperlakukan layaknya Prita Mulyasari.

SUMBER FOTO:
http://foto.detik.com/readfoto/2009/06/04/125937/1142601/157/1/

05 June 2009

Mahasiswa Kok Doyan Tawuran?



Sumber foto: www. detiknews.com

Mahasiswa kok hobi tawuran? Apa tidak ada kegiatan akademis seperti baca buku, bikin makalah (paper), paktikum, studium generale...?

Bukankah banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler di kampus seperti musik, paduan suara, keroncong, seni tradisional, klub bahasa Inggris, pencinta alam, dakwah kampus, majalah/media kampus? Belum lagi unit kegiatan mahasiswa bidang olahraga yang pasti banyak sekali. Baca buku di perpustakaan.

Kok mahasiswa doyan tawuran? Bagaimana bisa menjelaskan? Akal sehatnya di mana?

Semalam, 4 Juni 2009, saya benar-benar terpana di depan televisi. Berita tawuran antarmahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Yayasan Adiministrasi Indonesia (YAI) disiarkan berulang-ulang. Kampus UKI dibakar. Saling lempar batu. Kejar-kejaran!

Waduh, benar-benar primitif! Sebelumnya, di Makassar pun tawuran antarmahasiswa menjadi menu harian. Saya curiga, mahasiswa-mahasiswa penggemar tawuran itu jarang menekuni kegiatan-kegiatan akademis dan lebih sibuk menyusun strategi berkelahi. Susun taktik untuk menghabisi teman-temannya dari kampus lain.

UKI dan YAI ini bertetangga. Satu pagar. Bukankah lebih bagus kalau UKI dan YAI bekerja sama dalam bidang akademik: diskusi, riset bersama, kerja sama untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia.

Oh, Tuhan, apa yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita?

Kalau mahasiswa, tentu saja tidak semua, masih lebih gemar tawuran, saling serang, bahkan saling bunuh... masihkah layak disebut mahasiswa?

Bagaimana pula dengan manajemen kampus? Rektorat? Masihkah Anda layak mengelola kampus kalau anak-anak didik Anda berkarakter preman? Ingat, perguruan tinggi itu bukan tempat mencetak preman-preman berijazah S-1, melainkan intelektual-intelektual berkualitas.

Saya selalu ingat kata-kata Romo Drost, S.J. (Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost, almarhum), tokoh pendidikan yang sangat saya kagumi. Sejak 1980-an Romo Drost berkali-kali menegaskan bahwa sistem pendidikan di Indonesia kurang tepat. Mulai sistem prasekolah dan, khususnya, perguruan tinggi.

Berdasarkan data di Departemen Pendidikan Nasional (dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), setiap tahun hanya 30 persen siswa SMA yang lulus Ujian Nasional, Ujian Akhir Nasional, Evaluasi Belajar Tahan Akhir Nasional, atau apa pun namanya. Yang 30 persen ini pun, menurut Romo Drost, tidak semuanya layak kuliah. Dus, harus disaring lagi.

Hasilnya?

"Hanya 10 persen saja yang sungguh-sungguh lulus. 90 persen yang lain itu sengaja diluluskan karena ADA TEMPAT," tulis Romo Drost di harian KOMPAS edisi 2 Oktober 1993.

Di perguruan tinggi boleh saja ada staf dosen yang amat bermutu, fasilitas berkelas internasional, gedung megah, dan sebagainya. Tapi, menurut Romo Drost:

"Ini semua percuma kalau mahasiswa yang mengikuti kurikulum yang hebat itu tidak mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi. Dan jumlah ini di mana-mana di dunia terbatas.

"Jadi, masalah pokok merosotnya mutu pengajaran kita bukan pada guru dan dosen, bukan fasilitas, bukan kurikulum, melainkan peserta didik yang tidak memiliki kemampuan intelektual yang dituntut."


Nah, dari sini kita bisa memahami mengapa mahasiswa-mahasiswa tertentu, di kampus tertentu yang itu-itu saja, doyan berkelahi. Kita juga bisa paham mengapa mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan kampus-kampus berbobot lainnya tidak berminat sedikit pun untuk tawuran.

Dan, kita semua tahu mahasiswa-mahasisiwa FK itu pun (nyaris) tidak punya waktu untuk pacaran.

Yahoo! 360° Tutup




Dear Yahoo! 360° customer,
We will be officially closing Yahoo! 360° on July 13, 2009.....



Kabar dari manajemen Yahoo ini bikin blogger, yang menggunakan jasa Yahoo! 360°, terkejut bukan kepalang. Saya juga. Sebab, jauh sebelum menggunakan Blogspot, saya menyimpan banyak naskah di Yahoo! 360°. Foto-foto berkapasitas besar pun ada di situ.

Sebelum Blogspot, Wordpress, Multiply, dan sejenisnya populer, Yahoo! 360° menjadi pilihan banyak blogger karena efektif. Cukup membuka akun e-mail di Yahoo, selanjutnya serba mudah. Memosting tulisan plus foto-foto berukuran besar pun sangat mudah dan cepat. Jauh lebih cepat ketimbang Blogspot dan sejenisnya.

Di Yahoo! 360°, ada mekanisme untuk menyembunyikan blog agar tidak terlacak mesin pencari secanggih apa pun. Karena itu, naskah-naskah saya yang masuk kategori "untuk kalangan sendiri", dokumentasi pribadi, berita/artikel yang belum dipublikasikan, diamankan di Yahoo! 360°. Dan itu sudah saya lakukan sejak 2004.

Apa boleh buat, tiba-tiba datang kabar mengejutkan: Yahoo! 360° akan segera tutup! Kita diminta melakukan antisipasi. Waduh, pusing beta punya kepala. Harus repot meng-copy paste naskah-naskah lama, menyelamatkan foto-foto yang masih dianggap perlu diselamatkan. Kalau tidak, ya, bakal lenyap di jagat maya bersama Yahoo! 360°.

Sebelum ini saya--dan jutaan pengguna internet--juga mengalami kasus yang hampir sama. Yakni, ditutupnya akun sejumlah perusahaan penyedia jasa e-mail gratis. Kali pertama mendapat kursus internet pada 1997 oleh Muhammad Said Hafidz [piye kabare Mas Said? Kayake tambah hebat nang Jakarta?], saya diajar membuat e-mail gratis di MAILCITY.COM.

Alamatku: hurek@mailcity.com. Ini e-mail pertama dalam hidup saya.

Namanya juga mendapat "mainan baru" di jagat maya, saya juga mendaftar e-mail gratis di ASTAGA.COM, SATUNET.COM, MUDIKA.COM, dan KOMPASCYBER.COM. Semuanya pakai nama sederhana: hurek@....com.

Karena dulu kapasitas e-mail gratis sangat terbatas, saya memang memanfaatkan banyak e-mail untuk menyimpan arsip tulisan-tulisan dan foto-foto (yang sudah dikecilkan ukurannya). Blog belum ada. Jika membutuhkan naskah-naskah lama sebagai referensi, ya, tinggal membuka beberapa e-mail gratis itu.

Tapi, apa mau dikata, beberapa tahun kemudian, situs-situs e-mail gratis itu tutup. Ada yang pakai pemberitahuan, ada yang tiba-tiba lenyap begitu saja. Sekian banyak artis pun lenyap bagai ditelan bulan. (Biasanya "ditelan bumi", hehehe....).

Pengalaman ini semakin membenarkan adagium "tak ada yang abadi di dunia". YAHOO, ASTAGA, KOMPASCYBER... dan sebagainya tak bisa lepas dengan mekanisme pasar. Kalah bersaing, rugi, ya, tutup. Tidak peduli berapa juta orang yang menggunakan jasanya untuk e-mail gratis, blog, website, dan segala macam.

Kita, pengguna, Blogspot tidak tahu situs ini akan bertahan sampai kapan. Kita tidak tahu berapa banyak kapasitas Blogspot (juga situs-situs penyedia laman gratis lain) mengakomodasi kebutuhan sekian juta blogger di seluruh dunia.

Lantas, bagaimana nasib ratusan atau mungkin ribuan naskah dan foto yang kita posting jika suatu saat Blogspot harus tutup? Wuihh....

Jikapun kabar buruk itu datang dari manajemen Blogspot, saya sendiri tidak akan kaget. Toh, saya sudah berkali-kali mengalami dengan situs lain. Ingat:

"Tak ada yang abadi di dunia ini. Apalagi di jagat maya!"

02 June 2009

Prof. Josef Glinka SVD




Selain menjadi guru besar antropologi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Josef Glinka SVD dikenal sebagai pastor yang poliglot. Pater Glinka -- atau Romo Glinka -- menguasai sembilan bahasa dengan baik (bahasa Polandia, Jerman, Inggris, Ibrani, Latin, Prancis, Belanda, Indonesia, Palue).

Di Surabaya, Pater Glinka terkenal karena sering diminta mendeteksi aliran air di rumah pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak. "Romo Glinka itu paranormal," begitu julukan orang-orang Surabaya. Berikut petikan percakapan saya dengan Prof. Josef Glinka SVD di kamar kerjanya, Biara Soverdi Jalan Polisi Istimewa 9 Surabaya.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Pater masih mengajar di Universitas Airlangga?

Oh iya, saya bantu sana sini kalau diminta. Tapi terutama saya bantu S-3 (pascasarjana FISIP Unair). Kadang-kadang satu dua kali seminggu, tapi kadang-kadang tiga minggu tidak ada tugas.

Masih membimbing dosen-dosen muda antropologi?

Tidak. Mereka sudah cukup pintar. Satu sudah mau jadi profesor lagi. Dia juga baru dapat Kartini Award. Di antara tiga asisten saya dulu, dua sudah doktor.

Setelah Prof Teuku Jacob dari UGM meninggal dunia, siapa lagi profesor antropologi selain Anda?

Ada pengganti Prof Jacob di UGM, namanya Eti Indriati. Dia ini luar biasa cakap dalam segala hal. Bakatnya macam-macam. Dia sebenarnya dari dokter gigi, jadi konsentrasinya pada dental anthropology. Tapi dia menguasai seluruhnya, termasuk forensic anthropology. Itu juga hanya dua di Indonesia, yaitu Eti dan Tutik Kuspadiati di sini, murid saya. Dua-duanya punya ijazah internasional untuk forensic anthropology.

Mereka ini punya bakat dan minat di bidang antropologi?

Saya pilih dari murid-murid saya yang saya rasa cocok. Saya lihat ada minat dan cukup memberi harapan bahwa sampai doktoral. Misalnya, Tutik menyelesaikan doktoralnya pada usia 33 tahun di Jerman.

Pater sendiri?

Tunggu dulu, tunggu dulu.... 37 tahun. Saya studi di satu fakultas dulu, habis itu studi teologi dan antropologi. Saya mulai studi antropologi waktu usia 27 tahun di Polandia.

Dalam rangka tugas perutusan SVD ke Indonesia?

Bukan. Waktu itu tidak ada harapan apa pun. Saya disiapkan untuk kerja di SVD Polandia. Persis saya menyelesaikan studi, datang Romo Yosef Diaz Viera yang pancing orang untuk ke sini. Tahun 1964 dia datang, 1965 kami tiba di Indonesia. Waktu ada 20 orang.

Sekarang tinggal berapa?

Saya kira 13. Kemudian masih datang lagi 24 orang, ada dua yang 'hilang'. Dipulangkan karena tidak cocok untuk Indonesia. Masalahnya, sejauh mana dia mampu beradaptasi. Kalau tidak mampu beradaptasi, ya, lepas dia.

Pater sendiri tidak kesulitan beradaptasi?

Pada awalnya, begitu tiba di Jakarta, panasnya bukan main, tidak tahu bahasa. Makanan jauh berbeda. Itu susah sekali. Yang paling sulit itu kalau tidak bisa berkomunikasi. Dengan orang yang bisa berbahasa asing ya bisa. Saya bisa berbahasa Inggris dan Jerman, tapi ada (teman) yang Inggrisnya sangat terbatas. Susah.

Ada yang di Jakarta langsung mau pulang karena dia merasa tidak akan bisa belajar bahasa macam ini. Karena apa? Bahasa Indonesia sangat berbeda dengan bahasa-bahasa Eropa. Tidak ada deklinasi, tidak ada konyugasi, tidak ada waktu, tidak ada jenis kelamin.

Tapi banyak orang Barat mengatakan bahasa Indonesia paling mudah?

Memang. Tapi dalam kemudahan ada kesulitan. Saya sekarang baca misalnya peta genetis antara monyet dan manusia. Nah, itu kalau saya mau terjemahkan sekarang saya sudah lancar. Tapi dulu istilah-istilah Indonesia bagaimana ini? Sejauh mana sudah ada istilah Indonesia, sejauh mana itu diadaptasi, dan sebagainya. Dan itu tidak selalu gampang.

Lantas Pater bikin istilah sendiri?

Begini. Pada awal habis kursus bahasa, ya saya harus beri biologi dan antropologi (di Ledalero). Ini bagaimana? Tidak ada logat. Jadi, saya beli buku SMA biologi, antropologi, baca-baca dan saya catat istilah-istilah. Saya buat logat menurut abjad dan itu membantu saya.

Kalau sekarang sudah tidak ada masalah. Tapi pada waktu itu, tahun 1966/1967, bukan main sulitnya. Dan saya amat kecewa dapat disertasi seseorang dari UI tentang antropologi budaya. Lucunya, dia tidak pernah menterjemahkan istilah-istilah Belanda. Saya nilai aneh sekali.

Mungkin dia kesulitan menemukan istilah yang pas dalam bahasa Indonesia?

Ya, itulah masalahnya. Di Eropa, misalnya, istilah antropologi itu untuk antropologi ragawi. Tapi di Amerika dibedakan phisycal anthropology dan cultural anthropology. Saya masih ingat terjemahan pertama antropologi fisik. Akhirnya, baru Jacob memberikan bioantropologi. Itu istilah lebih jelas.

Kalau antropologi ragawi dari Anda?

Ya. Antropologi ragawi itu, ya, bioantropologi.

Kalau mau mengajar di sini, ya, harus menguasai bahasa Indonesia. Kalau saya berikan kuliah dalam bahasa Inggris, separo mahasiswa tidak mengerti.

Karena tekun belajar bahasa-bahasa asing setelah ke Indonesia itu, Pater menjadi poliglot?

Dari dulu, karena saya keluarga campuran. Mama saya Jerman, bapak Polandia. Jadi, sejak saya bisa ingat saya bilingual, dua bahasa: Jerman, Polandia. Kami itu presis di perbatasan. Dari rumah ke Jerman itu hanya 800 meter. Hehehe... Batas negara baru dibuat kemudian, tahun 1919.

Jadi, daerah campuran. Di seberang mayoritas Jerman minoritas Polandia, di sini mayoritas Polandia minoritas Jerman. Apalagi, daerah saya itu di selatan dekat dengan Moravia, yang sekarang Cheko dan Slovakia. Jadi, kalau mereka omong bahasa mereka, dari dialek kami itu gampang sekali. Bahasanya hampir sama.

Itu yang membuat Pater punya bakat bahasa?

Bukan bakat, tapi dari awal belajar. Di sekolah menengah tambah Inggris. Di seminari tambah Latin dan Yunani. Habis itu dapat Hibrani, itu bahasa Alkitab. Habis itu datang ke Indonesia, ya, mesti belajar bahasa Indonesia.

Saya lihat begitu banyak publikasi tentang Indonesia dalam bahasa Belanda. Jadi, mau tidak mau, saya harus belajar bahasa Belanda. Kebetulan saya ke rumah sakit di Belanda, saya langsung mempergunakan kesempatan (untuk belajar). Saya tidak dapat satu les pun. Hanya dari omong, hanya dari bicara. Hanya tiga minggu di Belanda, saya sudah sanggup buat misa dalam bahasa Belanda.

Tidak kursus?

Tidak kursus sama sekali. Saya cuma punya buku untuk belajar sendiri, tata bahasa. Kami selalu olok orang Belanda karena bahasa Jerman mereka jelek. Bahasa mereka mirip sekali dengan Jerman. Bisa dikatakan bahwa 80 persen grammar, susunan kalimat.. itu sama. Cuma Belanda sedikit lebih sederhana daripada Jerman. Bahasa Belanda ada banyak sekali pengaruh Prancis. Saya hanya tahu satu bahasa di NTT, sekarang sudah agak lupa, bahasa Palue.

Sudah sekian lama saya tidak ke Palue. Aneh sekali, 10 tahun saya kembali ke Palue, muncul begitu cepat. Pasif tidak ada masalah, tapi aktif ada masalah. Tapi itu pelan-pelan jalan. Saya juga pernah dapat Prancis di universitas. Tapi lama-lama tidak pakai, lupa. Saya menghadiri pertemuan ilmiah di Prancis, hari pertama hari kedua saya goblog. Setelah satu minggu no problem.

Dari mana itu muncul?

Kode. Sudah tersimpan di dalam komputer (memegang dahi). Kalau ada orang berbakat sekali dalam matematika, umumnya kurang bakat untuk bahasa. Kalau menyangkut ucapan, kalau buka mulut langsung tahu oo dia.. orang Belanda, Inggris, Amerika, kita bisa dengar aksennya...

Orang yang sangat musikal, tidak ada masalah untuk adaptasi. Dan saya dengar dari seorang teman, dia berangkat ke Amerika Selatan, jadi musti belajar bahasa Spanyol, dia mulai dari belum tahu apa-apa. Dia pasang radio, nonton televisi, tidak mengerti apa-apa. Ingat bunyinya.

Di Polandia,mahasiswa asing yang belajar bahasa Polandia dimasukkan ke asrama. Dua minggu loudspeaker berbunyi nonstop bahasa Polandia. Lagu, berita, cerita, dan sebagainya. Mereka tidak mengerti apa-apa. Begitu mulai kuliah, bunyinya mereka sudah tahu. Mereka hanya tinggal belajar arti kata-kata. Toh, kita belajar bahasa sebagai anak bukan dari grammar.

Apa yang salah di Indonesia sehingga pelajaran bahasa Inggris sejak SMP, bahkan SD, umumnya kurang berhasil?

Menurut saya, guru. Saya pernah ketemu guru bahasa Jerman. Oh, my God! Hopeless! Kalau guru tidak belajar secara sistematis dan tidak ada bakat, ya, begitu saja.

Bagaimana kemampuan bahasa asing di kalangan pastor-pastor sekarang?

Nah, frater-frater yang sejak SMP ada di seminari, itu pada umumnya bisa bahasa Inggris, Jerman, dan ada yang tahu sedikit-sedikit bahasa Belanda. Tapi yang SMP-nya di luar, wah, bahasa Inggrisnya begitu-begitu saja.

Mengapa?

Di SMP-nya mereka dapat pelajaran bahasa Inggris sembarangan. Setiap vak itu ada metodenya. Kalau guru tidak disiapkan secara metodologis, dan tambah lagi bahasanya asal-asal saja, ya, begitu.

Pater Glinka poliglot, tapi ketika berbahasa Indonesia tidak campur-campur Inggris dan sebagainya. Memang sengaja mengontrol bahasa?

Saya dari awal berusaha. Saya paling jengkel kalau pejabat-pejabat tiba-tiba tidak tahu istilah Indonesia, lantas pakai Inggris. Bodoh! Dia mau tunjuk kehebatannya. Padahal, istilah yang dia pakai salah. Ini paling sering di Indonesia. Saya sering tertawa dengar istilah ad hoc, disebut 'ed hok' karena seluruh dunia omong bahasa Inggris. Padahal, itu dari bahasa Latin.

Saya pernah beri teks Inggris kepada mahasiswa (di Universitas Airlangga). Sekarang coba lihat kata-kata asli Inggris dan yang impor. Ternyata, dalam bahasa ilmiah, minimum 50 persen itu Latin.



Sudah berapa lama tinggal di Surabaya?

Sejak 1985. Sudah 24 tahun. Waktu datang (dari Flores) ada begitu banyak kegiatan di universitas. Awalnya saya harus beri sampai 14 jam kuliah seminggu. Semua kuliah harus disiapkan. Jadi, saya tidak punya banyak waktu lowong. Saya tidak ada mobil. Jadi, kadang-kadang bahkan sampai sekarang, kalau orang undang saya, misalnya periksa rumah, apa ada gangguan radiasi bumi, waduh...

Saya misalnya kenal Jembatan Merah, tapi berapa tahun baru saya masuk ke sana. Berapa lama di Surabaya baru masuk ke sana. Dulu tidak ada taksi. Jadi, saya ke mana-mana kebanyakan dengan becak. Dari sini (Soverdi) ke Unair, Unair ke sini, becak. Tukang becak sering pakai jalan potong. Itu baru saya lihat kampung-kampung yang sebenarnya. Hehehe...

Surabaya yang sebenarnya itu di kampung-kampung itu. Sebab, di jalan raya kita tidak bisa lihat banyak... Saya tiap hari pakai becak. Tidak ada kendaraan lain. Baru kemudian sesudah hampir satu tahun Pak Tandyo (Prof. Soetandyo Wignjosubroto, mantan dekan FISIP Unair) suruh jemput dan antar pakai satu mobil yang jelek bukan main. Itu Romo Pikor selalu tertawa bahwa mobil itu bisa jalan karena catnya masih utuh. Hehehe...

Kemudian waktu FISIP sudah maju, ada kendaraan, tidak ada masalah lagi. Sekarang saya kirim SMS, mereka datang. Juga sekarang taksi sudah banyak sekali. Tahun 1985 belum ada satu pun taksi di Surabaya. Saya tidak ingat 1986 atau 1987 taksi mulai masuk di Surabaya. Pawai keliling kota, memperkenalkan kalau sekarang ada taksi. Zebra, yang paling tua. Hahaha...

Surabaya belum macet?

Oh jelas. Dan becak bisa masuk di mana-mana. Jalan raya juga. Di Jakarta juga baru dibataskan kemudian, waktu makin ramai lalu lintasnya, jadi becak hanya boleh di gang-gang.

Sekarang sudah berubah?

Berubah total. Saya lihat bedanya paling besar, waktu 1965 kami datang, saya sering mengunjungi Pak Adi Sukadana (almarhum, mantan dekan FISIP Universitas Airlangga) rumahnya di Dharmahusada. Itu kompleks dosen Unair. 300 meter dari situ sudah sawah. Sekarang Dharmahusada Indah, Kertajaya Indah... dulu itu sawah. Tahun 1985 mau ke tol lewat Mayjen Sungkono itu desa. Jalannya jelek bukan main. Sekarang sudah perubahan luar biasa.

Saya pernah dua tahun mengajar di Jakarta, di Atmajaya. Tiap kali saya datang.. lho ada sesuatu yang baru. Jakarta mengalami perkembangan waktu Ali Sadikin. Tapi tahu situasi Jakarta sekarang? Sebagian Jakarta dibangun di rawa-rawa. Dan banjir sekarang itu bukan hanya dikirim dari Bogor, tapi Jakarta mulai turun.

Sehingga, diduga, paling lambat tahun 2025 Jakarta nanti satu meter lebih rendah daripada sekarang. Kalau ada pasang, air laut kadang-kadang masuk. Apalagi kalau sekarang ini jatuh, pasti tenggelam. Menurut ahli, itu disebabkan gedung terlalu berat dibangun di atas daerah yang tidak cocok. Antara lain Jalan Sudirman.

Kalau Surabaya?

Dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya sangat hijau. Penghijauan di sini luar biasa. Mana di Jakarta seperti ini? Beton dan semen saja dan aspal. Memang dulu Surabaya tidak begitu. Tapi sekarang bunga, tanaman, pohon, di mana-mana. Itu sesuatu yang luar biasa positif. Dan dijaga, disiram tiap hari.

Adaptasi dengan orang-orang Surabaya bagaimana?

No problem. Pada awalnya susah dalam menyesuaikan diri. Di Flores Katolik semua, di seminari laki-laki melulu. Hahaha... Di sini mentalitas lain.

Dari segi makanan dan bahasa tidak masalah?

Ya, tidak masalah. Tapi kadang-kadang yang membuat saya jengkel, dua orang Jawa tidak peduli orang lain mengerti atau tidak bahasanya. Mereka bicara bahasa Jawa saja. Kalau kami (para pastor) duduk bersama di meja, misalnya, tiga empat orang Polandia omong bahasa Polandia atau bahasa Indonesia supaya yang lain mengerti juga?

Sebaiknya berbahasa Indonesia?

Jelas. Saya juga tegur bruder itu, orang Polandia, dia suka pakai bahasa sana terus. Ada orang lain atau tidak, dia bicara bahasa Polandia. Dulu orang Belanda juga begitu. Pastor-pastor Belanda suka omong bahasa Belanda, tidak peduli di Flores, di Jawa....

Saya beri contoh. Waktu Paus (Yohanes Paulus II) berkunjung ke Indonesia tahun 1989, saya jadi koki di Flores. Saya sempat omong dengan beliau. Ada Mgr Donatus, sekretaris Paus, ada saya... Lalu Paus omong bahasa Polandia. Yang lain tidak mengerti apa-apa. Saya anjurkan, Bapa Suci kita omong Inggris.




Pater Glinka sering diminta melihat rumah orang, mendeteksi aliran air. Itu apa sebetulnya?

Saya selalu tekankan bahwa itu bukan filsafat, bukan kepercayaan, tapi fakta. Cuma tidak setiap orang punya bakat. Ada alat, tapi mahal. Yang saya punya tidak mahal berupa sepotong kawat. Saya bawa dari Jerman. Itu gampang dibuat. Tidak harus logam, kayu pun bisa. (Menunjukkan kawat itu).

Dipakai untuk periksa rumah?

Bukan hanya periksa rumah, tapi cari air, dan macam-macam. Alat itu hanya petunjuk. Yang terima itu saya, bukan alat itu. Kalau Anda pegang dan jalan nggak jalan.

Ia hanya cocok dengan Pater?

Bukan. Itu soal bakat. Tiap orang yang punya bakat pegang, kalau masuk air, krakkk... turun.

Apa hubungan air dengan rumah orang?

Air kalau mengalir itu menyebabkan radiasi elektromagnetik. Extreme lilo frequencies, sehingga sulit dapat diukur. Tapi ada radiasi. Kalau ada pasangan suami-istri tidur di atas jalur air bawah tanah, maka tidak bisa hamil. Dan andai kata hamil langsung gugur. Dulu saya pernah publikasi di Surabaya Post.

Dulu dari mulut ke mulut beberapa orang datang. Tapi setelah publikasi di koran, waduh... sekarang sudah mulai mereda. Tapi satu hari rata-rata dua tiga pasang pasutri sekaligus yang mau diperiksa. Dulu saya masih pergi ke rumah, tapi sekarang saya minta mereka bawa denah rumah. Dari denah, saya juga bisa menentukan.

Tidak pakai kawat?

Tidak. Tapi pakai ini, pendulum. Dan itu saya berkonsentrasi dia gerak atau tidak. Saya putar-putar di denah, dia putar... Habis itu kalau kena (air), dia jalan begini.

Deteksinya paling jauh berapa kilometer?

Sampai Australia, sampai Eropa bisa. No problem. Jarak no problem. Konsentrasi saya yang problem.

Yang konsultasi pasutri-pasutri? Hasilnya bagaimana?

90 persen positif. Jelas kalau ada halangan dari segi medis, itu saya tidak bisa perbaiki. Tapi, kalau tidak ada halangan, 90 persen positif.

Bagaimana tanggapan dokter? Bisa diterangkan secara ilmiah?

Saya baru ketemu seorang dokter belum lama ini. Saya antara lain omong tentang radiasi ini. "Mistik!" dia bilang. Saya jawab: "Kamu, dokter, dan teolog itu orang yang paling sombong. Karena kamu kira kamu sudah tahu segala-galanya tentang manusia? Dan teolog mengira mereka sudah mengerti seluruh dunia karena sudah studi filsafat teologi. Jadi, ilmu alam itu adalah ilmu alam. Saya kebetulan studi filsafat, teologi, tapi juga ilmu alam.

Mengenai infertilitas itu, saya beri di pertemuan internasional, Australian Society for Human Biology. Reaksinya apa? Seems magic! Mereka tidak pernah dengar itu! Bila manusia tidak pernah dengar bahwa ada radiasi bumi! (memukul kepala). Hanya ada satu tamu dari Kanada, seorang ibu, yang langsung tertarik.

Apa tidak ada di literatur ilmiah?

Ada, tapi seperti saya katakan, dokter dan teolog merasa sudah tahu semua, jadi tidak mungkin percaya. Karena dia tidak belajar tentang ini. Di buku medis tidak ada. Dan yang tidak ada di buku medis, ya, dokter tidak tahu.

Sudah berapa pasutri yang Pater bantu?

Wah, saya tidak catat semua, tapi di Surabaya saya sudah punya 30-an 'cucu'. Mungkin sudah lebih karena ada dua tiga anak. Waktu saya di airport ada yang bilang, "Romo, masih ingat saya? Yah, tempo hari kami datang dan sekarang bisa dapat anak." Banyak yang berhasil. Ada istri yang sudah hamil ketiga kalinya.

Pater ikut senang?

Ya, memang. Bayangkan kalau ada orang yang delapan tahun tunggu anak, tidak bisa hamil. Akhirnya istrinya hamil. Saya dapat telepon: "Romo, istri saya hamil." Saya senang bukan main.

Mungkin dengan bakat ini Pater lebih mengenal dunia orang timur?

Bukan itu saja. Saya belajar antropologi budaya. Dan saya hidup di Flores 20 tahun. Saya mengajar tentang hal itu. Saya biasanya beri tugas kepada frater-frater ketika liburan besar. Mereka saya beri tugas bagaimana sistem adat perkawinan di daerah masing-masing. Wah, interesan bukan main! Ada macam-macam daerah di sana: Timor, Flores... bukan main.

Itu diskusinya luar biasa. Dari situ saya dapat banyak informasi, lebih banyak daripada yang ada di buku. Atau saya beri: apakah ideal, cita-cita, orang Flores? Apa yang mereka rindu, apa yang mereka nilai paling tinggi, dan apa yang mereka mau hindari. Interesan sekali. 80 persen orang NTT mau jadi pegawai. Mau jadi pegawai, lain tidak. Kalau gali-gali karena tangannya tidak kotor. Jadi petani itu dianggap hina karena tangannya kotor.


Omong-omong, masih ada keinginan untuk pulang kampung?

Sebenarnya tidak. Kenapa? Alasan pertama, 20 jam di pesawat, pada masa muda itu sport. Sekarang sengsara. Kedua, makin sedikit kenalan yang tinggal (hidup). Di kampung asal waktu saya pulang beberapa tahun lalu, saya jalan di kuburan, lebih banyak kenalan di situ. Lebih banyak kawan di situ.

Dan juga, alasan ketiga, pelan-pelan saya menjadi asing di negara sendiri. Mentalitas mereka berubah, mentalitas saya berubah. Saya lancar bahasa Polandia, tapi saya tidak berani berkhotbah dalam minggu pertama kedua di sana. Karena sudah terjadi bahwa saya khotbahnya dalam bahasa Indonesia. Saya sudah berpikir terus dalam bahasa Indonesia.



JOSEF GLINKA SVD

Lahir: Chrorzow, Polandia, 7 Juni 1932
Tiba di Indonesia: 27 Agustus 1965
Alamat: Biara Soverdi, Jl Polisi Istimewa Surabaya
Hobi: Memasak, membaca, menimati musik

Pendidikan:

Seminari Tinggi SVD di Pieniezno.
Universitas Mickiewicz, Poznan, Polandia (antroplogi)
Universitas Boleslaw Bierut, Wroclaw, Polandia (doktoral).
Universitas Jegiello, Krakow, Polandia (raih doktor biologi)
Universitas Johannes Guttenberg, Mainz, Jerman (doktor habilitatus, setara guru besar)


Pengalaman Kerja

Rohaniwan, sejak ditahbiskan sebagai pastor pada 1957.
Guru biologi dan ilmu tanah di Chludowo, Polandia, 1962-64.
Dosen filsafat alam hidup di Seminari Tinggi SVD di Polandia, 1964-64.
Dosen Seminari Tinggi Ledalero, Flores, 1966-1985.
Dosen tamu Univesitas Nusa Cendana, Kupang, 1972-75.
Guru besar antropologi Unika Atmajaya, Jakarta, 1972-79.
Dosen tamu Universitas Johannes Guttenberg, Mainz, Jerman, 1983.
Guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya, 1985-sekarang.