11 May 2009

Ridho Penerus Rhoma Irama





Oleh Lambertus L. Hurek

Di usia 62 tahun, RHOMA IRAMA masih terus berjuang untuk mempertahankan eksistensi musik dangdut di tanah air. Sebagai 'raja dangdut', Rhoma resah melihat kondisi dangdut yang semakin terpuruk oleh dominasi pop. Situasi ini mirip tahun 1970-an ketika Rhoma baru mengawali karir musiknya.

"Saya melakukan revolusi dangdut, karena waktu itu blantika musik dikuasai rock," ujar Rhoma Irama kepada saya, Sabtu (9/5/2009) di Rumah Makan Tamansari Surabaya.

Nah, agar dangdut tetap menjadi musik rakyat, ketua umum Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) ini merasa perlu ada revolusi dangdut baru. Rhoma mengaku lega karena RIDHO RHOMA (20), putra hasil pernikahan dengan istri ketiganya, Marwah Ali, punya talenta di bidang musik. Ridho mulai eksis bersama Sonet2 Band.

Berikut petikan wawancara saya dengan Rhoma Irama:

Apakah Ridho Rhoma memang dipersiapkan sebagai pengganti Anda?

Itu yang saya maksud dengan Revolusi Dangdut II setelah Soneta. Tahun 1970 kan saya buat revolusi dangdut. Saya mengubah orkes melayu ke dangdut, dengan berbagai aspeknya. Dulu kami bersaing dengan rock. Nah, kali ini dangdut juga harus bisa bersaing dengan pop. Sebab, musik pop ini, katakanlah, sedang mendominasi blantika musik Indonesia. Dangdut harus eksis. Itu kan revolusi jilid dua tadi.

Mengapa Ridho yang dipilih?

Kebetulan dia memiliki persyaratan untuk menjadi ikon baru. Sebagai contoh, dia menguasai teknik vokal dengan baik. Dia juga punya performance. Good looking. Itu sesuatu yang dibutuhkan seorang bintang. Insya Allah, itu ada pada Ridho.

Anda sengaja membentuk karakter Ridho seperti ini?

Yah, saya selaku decision maker. Dia saya beri kebebasan untuk mengembangkan kreasinya.

Tapi kenapa Ridho justru membawakan lagu-lagu ciptaan Anda?

Begini. Untuk gebrakan awal, dia harus punya lagu yang bisa booming. Lagu yang kuat. Di sisi kedua, untuk orang pop, lagu-lagu lama saya itu merupakan lagu baru buat mereka. Sebab, saya ingin, di samping dangdut, Ridho bisa eksis di kalangan penggemar pop.

Anda puas melihat penampilan Ridho?

Kalau mau sukses, ya, jangan pernah merasa puas. Hehehe...

Setelah Ridho melakukan Revolusi Dangdut II, apakah Anda bersama Soneta akan turun panggung?

Saya rasa nggak. Ridho dan Rhoma itu berbeda karakter.

Ngomong-ngomong, apa sebetulnya tujuan Anda ke Surabaya?

Dalam rangka mensosialisasikan RMI, Royalti Musik Indonesia. RMI ini selaku eksekutor dari pemungutan royalti lagu-lagu yang digunakan oleh para user. Contoh: tempat-tempat hiburan, karaoke, restoran. Nah, menurut undang-undang, mereka harus bayar kepada pencipta lagi. PAMMI sudah membuat suatu lembaga sendiri.

Tadinya diberikan kepada KCI (Karya Cipta Indonesia), tapi sekarang sudah ada lembaga sendiri yang bernama RMI. Dengan demikian, kami akan meng-collect royalti, khusus untuk lagu-lagu dangdut. Surabaya adalah wilayah kedua setelah kami sosialisasi di Jakarta. Selanjutnya, akan ke Jawa Tengah, Jawa Barat, dan seluruh Indonesia.

Alasan keluar dari KCI?

Karena PAMMI ini suatu organisasi yang besar ya. Mungkin terbesar di Asia Tenggara. Jadi, sudah layak kami mengurus rumah tangga sendirilah. Kira-kira begitu. Karena apa pun kalau diurus orang tidak akan sebaik kalau kita ngurus sendiri.

6 comments:

  1. Terus terang, menurut saya kualitas vokal Ridho itu tidak bisa dibilang lumayan. Terlalu sengau, dan cengkok dangdutnya kurang pas.
    Masa iya, yang seperti ini mau dijadikan ikon pengganti posisi Rhoma Irama kelak? Kemiripan kemampuan vokal diantara mereka berdua cuma secuil. Kesannya maksa gitu..

    Apalagi kalau mau dijadikan ikon baru. Tampangnya juga nggak cakep-cakep amat ^_^ lebih cenderung kecewek-cewekan gitu ya.. Lebih gagah bang Rhoma. Masa sih, mau disandingkan juga..

    Yah itu sih pendapat saya pribadi. Tapi entah kenapa, Ridho ini sebenarnya terlihat tidak punya karakter khusus yang membuat dia bisa menjadi ikon sejati, kecuali karena ada embel-embel 'Irama'nya di belakang.

    Tapi, saya juga bukan penggemar dangdut sejati kok. Jadi, mungkin saja bagi the real dangduters, dia bisa menggantikan sosok si Raja Dangdut nantinya..

    ReplyDelete
  2. viva dangdut!!!!

    ReplyDelete
  3. menurutku, ridho belum punya karisma, gak kayak bapaknya. musikalitasnya juga perlu diasah lagi lah. kalo bisa jangan terlalu andalkan nama besar rhoma irama. dia kudu punya style sendiri.

    salam dangdut

    fathony, surabaya

    ReplyDelete
  4. Hehehe... Bagus juga komentar Risma. Dibandingkan Rhoma yang berjuang dari bawah, kerja keras 40 tahun, Ridho memang gak ada apa-apanya. Dan di mana-mana anak bintang tidak pernah jadi bintang seterang bapa mamanya. Itu hukum alam lah.

    Tapi bagaimanapun juga ini musik pop. Selalu ada faktor selera massa yang sulit ditebak. Mau suara sengau, cempreng, fals, elek... kalau diterima massa ya ngetop. Dan sebaliknya.

    Salam dangdut!

    ReplyDelete
  5. Waduuh...mas, seru juga bisa mewawancara bang Oma :D

    Ksatria bergitar ini mulai menurunkan aji2annya kpd anaknya ya.

    Maaf nih, belum pernah dengar dik Ridho (hihi...namanya kok mirip sama nama Mr Perfeksionis di rumah) menyanyi, jadi belum bisa memberi komentar ttg kualitas suara dan kharismanya dan gaya panggungnya...!

    Kita lihat ya...setahun ke depan, Ridho makin jaya kah? Masih ada kah? Atau sudah jadi kenangan kah? hehe....

    Jangan lupa posting lagi nanti ya....

    sekarang...goyang dangdut dulu aaah!

    ReplyDelete
  6. salam dangdut
    http://goyangdangdut.co.cc/2009/10/kabar-dan-dosa-lyric-rhoma/

    ReplyDelete