08 May 2009

Kendi di Depan Rumah Pak Djaja



Ada pemandangan menarik saat saya melintas di depan rumah Ir Djaja Laksana di Jl Pucang Jajar Tengah 55 Surabaya. Di sebelah kanan pintu masuk setiap hari diletakkan kendi berisi air minum. Tradisi itu sudah dilakoni sejak 1986.

Menurut Djaja, kebiasaan menyediakan air minum untuk orang lain itu terinspirasi dari pengalamannya sebagai putra asli Singaraja, Bali. Di Pulau Dewata itu, khususnya sebelum 1980-an, suasana kekeluargaan sangat terasa. Ketika kita jalan-jalan di desa, dan kebetulan haus, maka siapa saja boleh meminta air minum pada keluarga terdekat.

"Di Bali itu sesuatu yang sangat biasa. You haus, you datang ke rumah siapa saja minta minum. Tuan rumahnya bilang, oh ya, ada air, silakan minum. Wah, di daerah itu kebiasaan seperti ini luar biasa. Itu inspirasinya dari sana. Simpel saja," terang ayah dua anak itu.

Ketika tinggal di kota sebesar Surabaya, Djaja tak ingin tradisi yang familer dan guyub itu hilang begitu saja. Maka, dia pun mengisi kendi di depan rumah itu dengan air minum setiap hari. "Ternyata, tiap hari laris. Tiap pagi diisi, jadi baru terus. Kadang satu hari dua kali ngisi," akunya.

Siapa saja yang minum air itu?

"Siapa saja. Pokoknya, ada orang lewat, merasa haus, ya, minum. Kadang sopir, kadang tukang becak, kadang pemulung. Jadi, sembarang orang minum," ujar Djaja seraya tersenyum.

Penghobi tenis dan golf ini memang sangat peduli sesama. Tiap tahun, seminggu sebelum Lebaran, ribuan orang antre di depan rumah untuk mendapat bingkisan hari raya. "Saya bagi sedekah kepada warga yan tidak mampu. Ini sudah saya jalani selama 25 tahun," ceritanya.

Warga menerima bingkisan berupa beras 5-10 kilogram dan uang senilai Rp 20.000 sampai Rp 50.000.

Aktivitas sosial Djaja Laksana ini menarik mengingat dia beragama Katolik. Pak Djaja jemaat Paroki Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya 1 Surabaya. Pastor parokinya Romo JPH Jelantik yang terkenal dan suka musik klasik itu.

"Saya punya pemahaman bahwa orang beriman itu yang paling penting itu bukan sekadar rajin ke rumah ibadah atau menjalankan ritual agama. Yang diperlukan itu justru kelakuan kita sehari-hari. Terapkan iman itu pada kehidupan saya. Bukan hanya sembahyang," ujar Pak Dajaja.

Saya, jemaat Paroki Santo Paulus Juanda, Sidoarjo, malu karena belum bisa seperti Pak Djaja. Terlalu banyak bicara, menulis, tapi praktiknya jauh dari pesan Alkitab. Saya lantas teringat ayat penting ini:

"Iman tanpa perbuatan adalah mati".

3 comments:

  1. Setuju, bang Hurek..

    Kualitas iman individu tidak bisa dilihat dari seringnya seseorang ke rumah ibadah, atau menyanyikan lagu-lagu religius dengan keras-keras, bahkan sampai mengenakan simbol-simbol keagamaan yang mencolok. Sementara perilakunya bejat. Seperti menipu dan membunuh, dan sering kali dilakukan atas nama agama.

    Semua atribut itu tidak ada artinya kalau hanya dipergunakan sebagai 'topeng' belaka dan menipu diri sendiri. Hanya sebagai simbol yang dipergunakan manusia untuk membenarkan prinsip dan ideologinya. Dan atribut seperti itu bukan pula hal wajib yang diperintahkan oleh Tuhan untuk harus selalu dipraktekkan.

    Dan Tuhan YME tidak bisa ditipu dengan pernak-pernik seperti itu. Buktikan iman dengan kasih kepada sesama dan kasih kepada Tuhan.

    Seperti simbolisasi Salib.

    Bravo untuk Pak Djaja

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah... Betapa mulia hati n perbuatan tulus pak djaja ini ya. Semoga semakin banyak yang mengikuti. Mas bernie, mari kita contoh kebiasaan baik beliau menolong sesama.

    Tentang kendi, saya ingat dulu jaman kuliah pernah ekskursi k daerah nusa tenggara barat. Di desa2 di sana juga ada kebiasaan menaruh gentong air di depan rumah ya... Tapi kalau tidak salah, itu untuk orang cuci kaki :) maklum desanya belum kena aspal, jadi masih sering becek kalau hujan. Benar gak nih mas?

    ReplyDelete
  3. Suatu sharing yang amat menggugah. Ini adalah "air kehidupan" yg diberikan Tata Berni. Tuhan Deo memberkati Tata.

    ReplyDelete