17 May 2009

Djaja Laksana dan Bendungan Bernoulli




Semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, genap berusia tiga tahun pada 29 Mei mendatang. Sudah berbagai upaya untuk menghentikan semburan, tapi hasilnya nihil. Ir Djaja Laksana bersama Tim ITS Surabaya justru sangat optimistis mampu menutup semburan itu dengan metode Bernoulli.

Mengapa Djaja Laksana begitu yakin dengan teori Bernoulli? Mengapa pula metode belum diterima pemerintah dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)? Berikut petikan wawancara khusus Radar Surabaya dengan Ir Djaja Laksana di rumahnya.


Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Anda kontraktor. Tapi kok bisa sangat menguasai teori-teori fisika seperti Bernoulli?

Saya kebetulan jadi desainer mesin-mesin. Itu ada banyak rumus yang sangat diingat. Rumus-rumus yang didapat saat kuliah di ITS itu ndak akan hilang. Maka, setelah kejadian (semburan lumpur) di Porong tanggal 29 Mei 2006, saya langsung ingat pompa.

Itu jelas teori mekanika fluida. Tapi saya tunggu dulu setelah mereka (Timnas Penanggulangan Lumpur, Red) kalang kabut. Hehehe... Sampai bulan Juli 2006, saya lihat ini kacau, itu kacau.. lalu saya beranikan diri ke LPPM ITS. Saya menghadap, omong-omong tentang metode Bernoulli.

Prinsipnya bagaimana?

Orang teknik pasti tahu teori Bernoulli. Teori ini bisa diterapkan untuk menentukan total head. Total head itu apa? Di dalam suatu pompa, ketinggian maksimum dari cairan yang dicapai bisa dihitung dengan rumus Bernoulli.

Kalau pompa air kita jalankan, lalu kita pasangkan selang, pada suatu ketinggian air masih bisa keluar. Tapi, kalau selang itu kita angkat tinggi, air tidak akan keluar lagi. Ketinggian di mana air tidak keluar lagi itu namanya total head. Air pasti berhenti. Sebab, tekanan dari atas sudah sama dengan tekanan dari bawah. Seimbang. Diam.

Lantas, Anda menguji coba teori ini untuk menutup semburan-semburan kecil (bubble)?

Ya. Saya coba pertama di Desa Mindi, rumahnya Bapak Ahmad Duha. Kemudian di Pasar Buah Jatirejo. Teori Bernoulli juga diterapkan di Lengowangi, Gresik. Itu ada semburan lumpur di Petro-China. Dengan teori Bernoulli berhenti juga. Yang keempat, staf saya sudah akan berangkat ke Kalimantan Selatan, di daerah transmigrasi.

Staf saya sudah pesan tiket pesawat, saya sudah siapkan alat, macam-macam, tapi batal. Sebab, katanya, sudah dijual perusahaan asing sehingga tidak perlu ditutup. Jadi, teori Bernoulli ini bisa berlaku di segala medan.

Teori ini sudah lama sekali, cuma belum ada yang menerapkan untuk menghentikan lumpur. Yang menangani lumpur di Porong ini kan semua rata-rata geolog. Mereka pakai teori side tracking, snubbing unit, relief well, bola beton, hingga kepala kerbau.

Semua sudah diterapkan, ternyata gagal. Mereka lupa bahwa teori Bernoulli bisa. Saya menemukan teori ini 19 September 2006.

Mengapa tidak segera diterapkan metode Bernoulli?

Waktu itu banyak sekali teori-teori, tenaga-tenaga asing, semua mengajukan teorinya. Sehingga, Bernoulli ini tenggelam. Tapi saya tetap kontinyu memberikan informasi kepada semua pihak, baik itu Timnas, BPLS. BPLS ini mungkin sudah bosan lihat saya, saya pun bosan lihat dia. Karena apa?

Dia selalu menolak teori Bernoulli. Saya tidak mengerti kenapa menolak. Kalau ini salah, salahnya di mana? Saya sudah persentasikan di Dewan Riset Nasional (DRN) di Jakarta. Saya diundang bicara di hadapan 60 pakar, profesor-profesor. Tidak ada seorang pun yang menyanggah. Di ITS, kita simposiumkan, seminarkan... tidak ada seorang pun yang menyalahkan.

Apa karena biayanya terlalu mahal?

Begini. Di Porong ini kan banyak semburan. Yang paling mudah, ya, seluruh semburan dikaver dalam satu bendungan. Luasan bendungan sekitar 750 hektare. Dibuat bendungan tinggi. Dindingnya bisa kita buat perumahan rakyat. Itu biayanya mahal, sekitar Rp 40 triliun. Tapi mudah menyelesaikan.

Lalu, saya buat lagi teori kedua: di tiap-tiap semburan kita buat bendungan dari pipa. Pada suatu ketinggian, semburan berhenti. Di sebelahnya keluar, kita buat lagi.

Berarti bendungannya banyak sekali, Pak?

Banyak. Tapi yang besar kan hanya satu. Nah, ini agak repot, tapi biaya murah. Sekitar Rp 2 triliun.

Mana yang lebih dulu ditutup: semburan besar atau yang kecil-kecil?

Yang besar dulu. Yang besar ini yang sulit. Yang kecil-kecil jauh lebih mudah. Kalau mau tahu tinggi total head, kita harus tahu tekanannya. Poinnya cuma di sana. Sangat mudah. Sangat simpel. Setelah saya utarakan pada bulan 2006 tidak ada tanggapan ya sudah.

Tiba-tiba Takashi Okamura dari Jepang, kira-kira bulan Mei, datang ke Istana dibawa Menteri Pekerjaan Umum (Joko Kirmanto). Dia mengatakan harus buat dinding ini, ini... Wartawan teriak-teriak: itu teorinya Pak Djaja Laksana dari Surabaya. Persis.

Menteri PU kaget, kontak BPLS, untuk panggil saya. Ketika Pak Menteri datang ke Surabaya, kita presentasikan. Dia bawa staf PU, BPLS, saya bawa staf dari ITS. Pak Joko bilang teori ini sangat masuk akal. Tapi tidak ada kelanjutan.

Mungkin Menteri PU dan BPLS meragukan metode Anda?

Bukan itu. Pertama, soal biaya. Kedua, saya khawatir, kalau semburan berhenti, ada sebagian orang yang susah karena jobnya hilang, penghasilan habis. Saya hanya khawatir itu. Lainnya ndak ada.

Anda kok optimistis menghentikan semburan, padahal sudah banyak insinyur yang gagal?

Saya sangat optimis. Pasti bisa. Tanggal 10 Maret lalu, Bapak Josef Tupamahu, ahli drilling, konsultan asing, saya undang ke ITS untuk mendengar pesentasi. Pak Josef sangat mendukung. Kami ajak dia ke lapangan, lihat semburan di Porong. Pak Josef bilang (semburan) sudah pasti berhenti dengan Bernoulli. Dia malah optimis dengan ketinggian 30 meter saja sudah stop.

Pada tahun 2006, saya ambil safe saja dengan mengatakan, pada ketinggian total head 50 meter berhenti. Dalam sebuah seminar di Hotel Shangri-La, saya katakan, kalau saya diperkenankan, biaya penutupan saya tanggung sendiri. Saya perkirakan, saat itu hanya Rp 200 juta. Masih sangat kecil.

Tapi usulan Anda ditolak?

Bukan hanya ditolak, saya malah diolok-olok. Kita ini memang sering kurang menghargai karya anak bangsa sendiri.

Sekarang ini rupanya BPLS membuat bendungan besar. Apa bisa menutup semburan?

Saya kira belum bisa karena sirtu nggak kuat. Menurut saya, harus buat dulu dinding pipa. Lumpur naik ke suatu ketinggian, kalau sudah berhenti, kita suntikkan semen untuk menutup seluruh celah-celah yang ada retakannya. Dalam waktu 2 x 24 jam semen sudah kering. Nah, teori penyemenan itu Pak Josef Tupamahu ahlinya.

Kalau dinding besi sudah terbentuk, lumpur itu sudah mencapai total head, langkah berikutnya adalah seluruh lumpur yang ada di luar, kita masukkan kembali ke dalam bendungan. Jadi, masuk kembali ke perut bumi. Itu sangat masuk akal. Seperti prinsip timbangan. Kalau atas bawah sudah sama, yang atas you tambah beban, maka akan masuk ke bawah.

Apa masih bisa distop dengan kondisi sekarang?

Bisa. Kejadian di Porong ini sangat beda dengan tsunami, banjir, Situ Gintung, gempa bumi. Kalau semua bencana itu penanganan sosialnya langsung bisa dihitung, diselesaikan. Jangka waktunya pendek. Tapi, kalau lumpur terus keluar, penanganan model apa yang bisa diselesaikan? You pindahkan warga, di sana ada land subsidence, ada daerah yang terdampak lagi. Tidak akan selesai-selesai.

Jadi, lumpur ini harus distop. Dan ini obatnya: Bernoulli! Tidak ada obat lain. Saya terlalu optimis dengan ini. Kenapa? Yang lain sudah dijalankan dan ternyata gagal.

Bagaimana dengan open channel?

Open channel itu saya sama sekali tidak setuju. Saya juga tidak setuju lumpur dibuang ke Kali Porong. Rakyat menolak pembuangan ke Kali Porong dengan alasan timbul sedimentasi, banjir ke lingkungan mereka.

Jadi, Perpres 14/2007 itu harus dicabut. Pemerintah daerah harus memberikan masukan yang benar ke pemerintah pusat dong. Kalau nggak ada masukan dari daerah, ya, kondisinya seperti sekarang. (*)

DJAJA LAKSANA

Lahir: Singaraja, Bali, 15 Juli 1952
Istri: Maya
Anak: Renny Djaja Putri dan Rendra Djaja Putra
Agama: Katolik

Hobi: Tenis, golf, fitness
Pekerjaan: Kontraktor, desainer mesin
Alamat: Pucang Jajar Tengah 55 Surabaya
E-mail: djajalaksana@yahoo.com

Pendidikan:
-SMAN Singaraja
-Fakultas Teknik Mesin ITS Surabaya

Temuan: Bendungan Bernoulli Setempat untuk Stop Semburan Lumpur (nomor paten P.00200700135)

8 comments:

  1. Ini artikel yang sangat baik. Yang diwawancarai bisa menerangkan konsep ilmiah dengan baik, dan yang mewawancari mencatat dengan akurat.

    Sayang sekali badan2 pemerintah yang bertanggung jawab tidak kunjung mampu bertindak mengatasi persoalan, baik secara teknis maupun hukum dan sosial.

    Padahal sudah jelas siapa yang bersalah (baca hasil penyelidikan profesor dari Berkeley http://us.ft.com/ftgateway/superpage.ft?news_id=fto060320081551393073)
    dan ada alternatif penyelesaian teknis yang masuk akal, seperti yang dipaparkan di wawancara ini.

    ReplyDelete
  2. salut juga sama teori pak djaja, tapi kayaknya pemerintah trauma. dah byk metode kagak bisa nutup. apa ada jaminan keluar duit triliunan bisa nutup?????

    ReplyDelete
  3. SAYA RASA KITA PERLU MENCOBA SEMUA CARA DAN ITU TERMASUK BERNOULLI, JANGAN KITA BIARKAN RAKYAT MENDERITA TERUS, MARI KITA COBA KARENA BERNOULLI SESUAI UNTUK DITERAPKAN DALAM MASALAH INI, SAYA SALUT N SETUJU MA IDE PAK DJAJA......

    ReplyDelete
  4. Wow, bagus sekali paparan Hukum Bernoulli Pak Djaja Laksana ini. Senang Denaya membacanya...

    Selanjutnya saya infokan Bernoulli versi lainnya, yach barangkali bisa diterapkan untuk hal lainnya Pak Djaja.

    Di http://rohedi.com/content/view/34/1/, ada integral Bernoulli versi papa saya Pak Rohedi (Dosen Jurusan Fisika FMIPA-ITS) yang bisa nge-create sebagian besar rumus integral (Integral Formula) yang tertera dalam Tabel Integtal.

    Begitu pula dengan yang di http://rohedi.com/content/view/25/26/, ada Stable Modulation Technique (disebut SMT), Smart Solver ODE (Ordinary Differential Equation) yang tidak saja dapat menyelesaikan PD (Persamaan Diferensial) Umum Bernoulli dengan Smart, tetapi untuk PD biasa orde 1 lainnya, seperti PD arctan (arctangent Defferential Equation), PD Chini, bahkan PD Abel.

    Jangan lupa pula untuk menengok kolom komentar kedua artikel tersebut. Di sana ada rumus eksak angka pi (pi number) yang bisa ngeluarin rumus smart keliling dan luas lingkaran (smart formula for circumference and area of a circle).Yach siapa tahu kelak bisa untuk lebih memajukan Bangsa Indonesia.


    Terima Kasih….
    Salam kenal dari Saya
    Denaya Lesa.

    ReplyDelete
  5. Moga-moga Pak Djaja Laksana sempat membaca komentar-komentar ini. Dan, yang paling penting, semburan lumpur di Porong itu bisa dihentikan, apa pun metodenya.

    Terima kasih atas komentar kawan-kawan.

    ReplyDelete
  6. semoga pemerintah cepat sadar... abis pemilu ini, maju lagi pak..jgn menyerah! GBU.

    ReplyDelete
  7. Trimakasih atas komentar2 dari rekan2 sekalian,dan trimakasih untuk rekan Hurek yg telah memasukan tulisan atau wwcr ke blog ini.
    Sekedar informasi,tgl 14 juli 2009,saya dipanggil oleh Menteri ESDM melalui stafnya, untuk persentasi di Kantor ESDM jln Gatot Subroto jkt.Peserta yg hadir 26 orang.Saya persentasikan Bernoulli,pada sesi tanya jawab,banyak pertanyaan2 yg timbul,semua bisa saya jawab dengan baik.Semoga ini persentasi saya yg terakhir,dan Bernoulli bisa menyelesaikan lumpur sidoarjo,kita tunggu perintah dari Presiden setelah pelantikan.Salam Djaja Laksana

    ReplyDelete
  8. Terima kasih banyak buat Pak Djaja Laksana dan teman-teman yang sudah berkomentar di sini. Moga-moga segera ada solusi. Orang Sidoarjo kayak saya tidak peduli pakai metode Bernouli atau metode apa pun.

    Yang penting, semburan lumpur di Porong ini bisa dihentikan. Sulit dibayangkan kalau semburan itu bertahan selama 31 tahun. Salam damai!!!

    ReplyDelete