01 May 2009

Halim, Bio Kung Kelenteng Hon An Kiong



Oleh Ririn dan Woro
Mahasiswa UPN Veteran Surabaya
(Magang di Radar Surabaya)

Orang Dayak ini "kesasar" di Kelenteng Hok An Kiong, Jalan Coklat 2 Surabaya. Nama lengkapnya MADA GAZKI, akrab disapa Pak HALIM. Usianya 73 tahun, tapi masih sangat energetik.

"Saya sudah 51 tahun di Surabaya," kata bio kung alias juru kunci Kelenteng Hok An Kiong itu.

Yang menonjol dari Pak Halim adalah kepandaiannya dalam meramal nasib ala Tiongkok, ciam sie. Selain membaca banyak buku, dia mengaku mendapat kelebihan dari Tuhan. "Tuhan memberi saya indra keenam," ujar bapak seorang putra dan kakek dua cucu ini.

Halim masuk Kelenteng Hok An Kiong atau Sukhaloka pada 2001. Setiap hari ia berada di kelenteng tertua di Surabaya itu. Dari pukul 05.00 sampai 20.00. "Lebih dari 12 jam saya mengurus kelenteng," katanya.

Walaupun pendapatan kecil, lulusan SMP ini tetap melayani para tamu dengan senang. Biasanya, mereka meminta ramalan. Setap tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa, pengunjung berkisar 50 sampai 75 orang. "Tapi tidak semuanya minta diramal ciam sie," ujar warga Peneleh ini.

Sebelum mengabdi di kelenteng, Halim berkelana dari kota ke kota. Jakarta, Malang, Surabaya, dan kota-kota kecil di Jawa Timur. Dia pernah menjadi sopir percetakan dan pabrik roti di Malang dan Surabaya.

"Saya tidak tamat SMP karena tahun 1942 Jepang datang dan kami lari ke hutan-hutan untuk sembunyi. Tidak sempat memikirkan sekolah. Yang ada hanya bagaimana menyelamatkan diri," ujarnya.

Subani, 31 tahun, yang juga bekerja di kelenteng menilai Pak Halim mudah bergaul dengan siapa saja. Dia tidak menganggap dirinya lebih tahu meskipun sudah senior. "Umur saya dan Pak Halim beda jauh, tapi kami sudah seperti teman. Tidak ada jarak," tuturnya.

Memang. Pak Halim tidak membatasi siapa saja yang ingin menemuinya. Siapa pun, agama apa pun, dia terima.

No comments:

Post a Comment