03 May 2009

Soe Tjen Marching





Lama bermukim di London, Inggris, Dr Soe Tjen Marching baru saja balik ke Surabaya untuk mengampanyekan pentingnya menghargai kebhinnekaan. Selain bertemu dengan berbagai elemen aktivis, Soe Tjen juga merilis jurnal dwibulanan Bhinneka.

Di sela-sela kesibukan melakukan penelitian dan menerima sejumlah tamu, Dr Soe Tjen Marching menerima Radar Surabaya di Sekolah Mandala, Jalan Putroagung II/26 Surabaya, untuk sebuah wawancara khusus. Berikut petikannya:

Oleh LAMBERTUS L. HUREK


Dulu Anda lebih dikenal sebagai pianis, tapi sekarang kok jadi aktivis?

Itu tidak lepas dari pengalaman saya ketika tinggal di Australia dan Inggris. Saya belajar banyak hal dari orang-orang Barat, khususnya tentang keadilan. Mereka itu, misalnya, sangat menghargai pembantu rumah tangga. Tidak ada diskriminasi baik itu soal upah maupun perlakuan lainnya. PRT itu setara dengan profesi lain.

Bagaimana dengan PRT di sini?

Anda sudah tahu sendirilah. Hehehe... Perlakuan terhadap PRT di Indonesia sangat tidak adil. Maaf, sering kali dianggap babu, statusnya lebih rendah daripada majikan. Yang begini-begini ini perlu kita koreksi. Tidak bisa dipertahankan karena memang melanggar asas keadilan.

Di London, misalnya, masyarakat sangat akrab dengan polisi. Merasa dilindungi kalau ada polisi. Sebab, polisi itu dibayar dengan pajak rakyat. Anehnya, kita di Indonesia banyak orang takut kalau ada polisi. Padahal, polisi di Indonesia juga digaji oleh rakyat. Anehnya, orang Barat itu justru memeras orang-orang di dunia ketiga kayak di Freeport, Papua. Saya marah karena itu jelas kurang ajar.

Anda juga sangat kritis terhadap Undang-Undang Pornografi bersama para feminis lain.

Kebetulan saya studi tentang gender di Monash University, Australia. Karena itu, isu-isu seputar UU Pornografi menjadi salah satu fokus perhatian saya. Kita harus ingat bahwa Indonesia ini sangat majemuk, punya kebudayaan yang sangat kaya. Kalau sudah di luar negeri, siapa pun bangga dengan kebhinnekaan di tanah air.

Bahasa daerah di Indonesia itu ribuan, bahkan puluhan ribu. Di Australia dan Inggris bahasanya hanya satu: Bahasa Inggris. Belum lagi aspek-aspek kebudayaan lain yang juga sangat kaya.

Kita harus menjaga kebhinnekaan ini. Bukan malah membuat gerakan-gerakan untuk "menunggalkan" kebhinnekaan. Ingat, Indonesia itu tidak tunggal ika, tapi bhinneka. Ini yang sering tidak disadari oleh orang Indonesia, termasuk politisi-politisi yang membuat undang-undang.

Celakanya lagi, ada orang-orang tertentu yang memaksakan kehendaknya dengan mengatasnamakan Tuhan. Atas nama Tuhan, mereka menyerang orang-orang lain yang berbeda pandangan. Seakan-akan Tuhan yang menyuruh mereka.

Menurut saya, orang-orang itu harus diragukan kepercayaannya kepada Tuhan. Sebab, orang yang percaya pada Tuhan itu lebih rendah hati, menghargai sesama.

Tapi pemerintah dan DPR menganggap pornografi sangat berbahaya bagi rakyat sehingga perlu diatur?

Inilah susahnya di Indonesia. Para pejabat kita begitu ahli menggerebek apa yang kelihatan di permukaan, namun malas mengurusi hal-hal yang lebih mendasar. Mengobrak-abrik warung internet, pedagang VCD/DVD, di emperan tentu lebih mudah daripada mengusut korupsi pejabat kelas kakap.

Pemerintah juga hanya menuruti kelompok agresif, yang meneror dan menghantam siapa saja yang tidak manut kehendak mereka. Karenanya, pemerkosaan ribuan perempuan Aceh dan Papua tidak ditangani.

Begitu juga pemerkosaan dan pelecehan ratusan perempuan Tionghoa di Jakarta pada bulan Mei 1998 juga tidak diusut sama sekali. Ini seperti dokter bedah yang tidak becus menggunting sel-sel kanker, sehingga kankernya malah menjadi semakin liar.

Inikah salah satu alasan Anda menerbitkan Bhinneka?

Iya. Saya merasa perlu menyebarluaskan kesadaran sosial politik kepada masyarakat. Sejak 2005 saya dapat ide dan semakin termotivasi setelah melihat gerakan elemen tertentu yang memaksakan "tunggal ika" di tanah air.

Menurut saya, gerakan itu harus ada imbangannya. Tapi tahun saya sempat kena kanker sehingga ide itu nggak jalan. Tahun 2007 mulai jalan lagi setelah sembuh.

Mengapa jurnal itu dibagikan secara cuma-cuma?

Orang Indonesia suka yang gratis-gratisan. Orang Indonesia paling eman uangnya dipakai beli buku, majalah, atau koran. Lha, kalau jurnal ini dijual, siapa yang mau beli? Kalaupun dijual Rp 2.000, misalnya, untungnya nggak ada. Bayangan saya, jurnal ini setelah dibaca, disebarkan lagi ke tetangga, dan seterusnya. Syukurlah, teman-teman mau membantu menyumbang tulisan hingga distribusi.

Bagaimana cerita Anda mendirikan Sekolah Mandala di Surabaya?

Yang mendirikan itu sebenarnya mama saya, Juliana Soesilo, pada 1986. Mula-mula play group dan sekarang sudah berkembang menjadi TK, SD, dan SMP. Sekolah ini sejak awal dirancang sebagai sekolah inklusif. Semua etnis, agama, kaya-miskin, apa pun latar belakangnya, kita terima. Untuk pelajaran agama, semua agama ada di sini.

Kami memang sengaja membuka sekolah di kampung untuk menekan biaya. Pajak lebih murah ketimbang di lokasi strategis. Biaya operasional jadi lebih murah. Tapi mutunya harus bagus. Maka, para siswa dibiasakan berbahasa Inggris, Mandarin, Jawa, dan Indonesia di sini. Siswa juga mempelajari kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan etnisnya. Jadi, sejak kecil anak-anak harus dibiasakan untuk bergaul dengan etnis yang lain.

Apa semua ini terkait dengan pengalaman masa lalu Anda?

Bisa jadi. Saya lahir dari keluarga Tionghoa yang pas-pasan. Ke mana-mana saya naik bemo, tidak punya fasilitas apa-apa. Saya juga nggak bisa bayar guru untuk les privat.

Eh, setelah saya masuk ke sekolah favorit, ternyata banyak gurunya yang ngobjek, kasih les privat, untuk teman-teman anaknya orang kaya. Ini jelas tidak adil! Saya sempat protes sama tokoh yayasan dan dia bilang, "Baik, baik, nanti akan kami perhatikan." Tapi ternyata realisasinya tidak ada. (*)


Main Piano Sakarepe Dhewe

Seperti anak-anak Tionghoa lainnya, Soe Tjen Marching mulai mengenal musik klasik sejak dini. Pada usia 11 tahun dia belajar piano. Namun, berbeda dengan rekan-rekannya yang memainkan komposisi sesuai partitur (score), Soe Tjen malah bermain-main sesuka hatinya.

"Soale, aku ini gak seneng baca not balok. Ya, pas pelajaran piano, ya, aku main sakarepe dhewe," kenang Soe Tjen Marching lalu tertawa kecil. Sang guru dibuat puyeng dengan ulah Soe Tjen yang memang sangat sulit diatur.

Apakah Anda memang tidak bisa membaca notasi?

"Bukan gak bisa baca. Aku gak suka baca not aja. Kalau menulis (not) sih aku seneng," tegasnya dengan logat Surabaya kental.

Meski begitu, Soe Tjen sempat belajar biola pada Paul Situpang, guru biola ternama di Surabaya, dan ikut tampil bersama Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong. "Waktu itu saya main biola 1," ceritanya.

Ketika duduk di SMA Sint Louis, Soe Tjen berkenalan dengan Slamet Abdul Sjukur, komponis sekaligus guru piano senior. Slamet meminta Soe Tjen bermain piano sesuai keinginan hatinya. Tidak perlu memainkan komposisi karya komponis klasik macam Mozart, Beethoven, Chopin, dan sejenisnya. Slamet rupanya menangkap bakat terpendam Soe Tjen.

"Pak Slamet bilang saya ini memang bukan pemain, tapi berbakat sebagai komponis. Komponis itu sukanya, ya, mengarang, menulis komposisi. Di mana-mana komponis itu bukan pemain yang baik," paparnya.

Berkat arahan Slamet Abdul Sjukur, yang juga guru musik utamanya, Soe Tjen Marching berhasil meraih juara pertama komposisi piano klasik yang diadakan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Komposisi ini sudah dirilis di album Asia Piano Avantgarde Indonesia. "Saya jadi makin asyik membuat komposisi," kata kolumnis di berbagai media nasional dan internasional itu.

Aktivitas musiknya berkurang ketika Soe Tjen mendapat beasiswa dari pemerintah Australia. Arek Surabaya ini menekuni studi gender di Monash University, Melbourne. Di benua kanguru itu dia berkenalan dengan Prof Angus Nicholls yang kemudian menjadi suaminya. Pada 2005, Soe Tjen dan Angus Nicholls pindah ke London, Inggris.

"Saya dapat kerjaan jadi dosen South East Study di University of London," paparnya.

Karena waktu luangnya cukup banyak, Soe Tjen mengaku sudah mulai aktif lagi membuat komposisi. Seperti gurunya, Slamet A Sjukur, karya-karya Soe Tjen pun kontemporer, avantgarde, sukar diterima kuping orang biasa. Dan sulit dijual.

"Tapi saya sangat menikmatinya," pungkas Soe Tjen. (hurek)





SOE TJEN MARCHING PhD

Lahir: Surabaya, 23 April 1971
Suami: Angus Nicholls (London, Inggris)
Hobi: Musik, membaca, menulis.

PENDIDIKAN
SD Imka Surabaya
SMP Santo Yosef Surabaya
SMA Sint Louis Surabaya
UK Petra Surabaya
Monash University, Australia

PRESTASI
Juara kompetisi piano Kedubes Jerman, 1998.
Penghargaan pemerintah Australia, 1999.
Juara I Lomba Menulis di Melbourne University, 2000.
Juara Harapan Lomba Menulis Puisi dari Ballarat City Council.


PUBLIKASI

Cerpen, diterbitkan jurnal sastra Amerika Serikat.
Ratusan artikel di media massa.
"Kenang" (2001), komposisi untuk piano.
Majalah Bhinneka, 2009.

Sumber: Radar Surabaya, Minggu 3 Mei 2009

6 comments:

  1. 'Di Australia dan Inggris bahasanya hanya satu: Bahasa Inggris.'

    Mas Hurek, di Inggris, bahasa daerahnya juga banyak. lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Languages_in_the_United_Kingdom. yang kita kenal sebagai bahasa inggris itu bahasa standar mereka. bahasa inggris daerah, walau beberapa mungkin lebih tepat disebut dialek dan aksen daerah, banyak juga yang terancam punah.

    ReplyDelete
  2. just commeting on Susant statement that said that England has multiple languages.

    Well it is different case with Indonesia.
    Indonesia in its originality has numerous different dialect, not taking migrations from overseas into accounts, for example chinese in indonesia.

    whereas in England.. the dialects mainly comes from Migrations, which in the ends leads to variances in the daily language.

    take for example, kalo ketemu orang scottish, mereka bisa ngomong inggris lancar... tapi susah bgt dengernya soalnya vocabulary yang mereka pakai berbeda dengan common english.
    But you still can understand what they are trying to say if you listen to them carefully.

    tapi kalo orang bule yang mengerti bahasa indonesia jalan2 ke Surabaya, mereka waktu balik rata2 pasti ngomel2... mereka pada ga ngerti sama sekali, becacuse the dialect does not really revolve around the main language.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas komentar Susan dan teman ANONIM yang bagus dan berbobot. Salam damai!

    ReplyDelete
  4. Dear Mas Lambertus:

    Do you have her email or phone or a contact person / address
    for her "Sekolah Mandala" in Surabaya?

    I really like your article here about Dr. Soen Tjen:
    http://hurek.blogspot.com/2009/05/dr-soe-tjen-marching.html

    Thank you for having that article, it's very very very good... and inspirational.

    Thank you for the info. I'd really like to get in touch with her.

    Sincerely,
    Aryo Wicaksono

    ReplyDelete
  5. bagus juga pemikiran soe tjen...

    ReplyDelete
  6. Mbak Soe Tjen mengajarkan banyak hal pada kami. Dia pribadi yang luar biasa!!

    ReplyDelete