11 May 2009

Dian Piesesha - Pance - JK Records




Saya pernah menulis di blog ini betapa gilanya orang Flores pada Dian Piesesha [yang membawakan lagu-lagu karya Pance F. Pondaag]. Di mana-mana, di Flores, memang orang melantunkan lagu Dian Piesesha.

Bahkan, di kapal feri Kupang-Larantuka, sepanjang perjalanan lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Pance... diputar. Dan penumpang bersenandung ramai-ramai. Perjalanan yang makan waktu 7-8 jam pun tak terasa.

Tapi, Minggu (10/5/2009) malam, saya menyaksikan di televisi, ternyata Dian Piesesha tak hanya disukai di Flores. Penggemar penyanyi melankolis ini luar biasa. Sampai-sampai Metro TV, yang segmennya kelas menengah ke atas, menyediakan waktu 60 menit untuk konser tunggal Dian Piesesha. Zona 80 pun terlihat meriah.

Acara yang dipandu Ida Arimurti dan Sys NS itu juga menghadirkan Aris, pria 30-an tahun asal Jakarta. Aris ini mengaku mengoleksi 30-an kaset/CD/VCD Dian Piesesha. "Saya fans berat Dian Piesesha. Saya juga menyimpan 460 kaset JK Records," ujar Aris disambut tepuk tangan hadirin.

JK Records. Yah, perusahaan rekaman milik Judhi Kristianto ini memang berjaya pada 1980-an. JK-lah yang mengangkat nama Dian Piesesha. Sebelumnya, Dia sudah bikin tiga album lagu Melayu dengan nama Dida Dyah Daniar, tapi tidak sukses. Setelah masuk JK, si Dida yang mojang Bandung ini "dipermak" jadi Dian Piesesha. "Salah satu orang yang mengganti nama saya itu Maxie Mamiri," ujar Dian Piesesha menyebut nama salah satu pemusik studio JK Records Jakarta.

Kita tahu, pada 1980-an Dian Piesesha sukses besar dengan lagu-lagu manis ala JK Records. Sebagian besar, sekitar 80 persen, ciptaan Pance Pondaag. Yang paling sukses tentulah album TAK INGIN SENDIRI. Meledak luar biasa! Rekor dalam sejarah perkasetan di Indonesia.

Saya masih ingat anak-anak muda, remaja, di Flores Timur menjadikan lagu ini (plus lagu-lagu Dian yang lain) untuk belajar main gitar. Sederhana, tidak ruwet, akornya minim.

Saya sendiri, karena terlalu sering mendengar Dian Piesesha di rumah-rumah orang Flores, bukan saja masih ingat syair dan melodi, tapi juga bisa menulis notasi dengan mudah. Notasi TAK INGIN SENDIRI di atas, misalnya, saya tulis dengan sangat cepat. Tak sampai 10 menit. Sebab, alur melodi lagu-lagu karya Pance Pondaag itu ada semacam pakem tetap.

"Hafal tiga kunci, korang so bisa main. Pokoknya, korang kalo main gitar musti pake perasaan le," kata Laus, gitaris asal Larantuka, yang pernah mengajari saya main gitar bolong (akustik). Hehehe....

Mengapa lagu-lagu Dian Piesesha selalu melankolis, nelangsa, bertutur tentang kegagalan rumah tangga? Judhi Kristianto, yang hadir di Zona 80 Metro TV, tersenyum lebar. Lalu berkata, "Dian Piesesha itu karakternya seperti itu. Dia kalau nyanyi selalu penuh penghayatan. Mood-nya selalu masuk di dalam lagu."

Judhi menambahkan, sukses JK Records mengangkat Dian Piesesha tak lepas dari tangan dingin Pance Pondaag. Di mata Judhi, Pance ini pencipta lagu yang luar biasa pada masanya. Sebelum menulis lagu, dia harus menjajaki lebih dahulu calon penyanyinya. Karakter, pengalaman hidup, penghayatan, warna suara, ambitus, dan sebagainya.

"Pance itu paling mood dengan Dian Piesesha. Pance itu menolak banyak sekali penyanyi yang minta dibuatkan lagu karena nggak ada mood," terang Judhi Kristianto yang kali pertama tampil di televisi nasional setelah 20 tahun lebih itu.

Diiringi band pimpinan Widya Kristianti, malam itu Dian Piesesha membawakan enam lagu: CEMARA-CEMARA CINTA (Pance), KUNCUP TELAH LAYU PASTI (Dian Piesesha), AKU CINTA PADAMU (Judhi Kristianto), KUCOBA UNTUK BERTAHAN (Pance), PENGORBANAN DI ATAS SEGALANYA (Pance), KUCOBA HIDUP SENDIRI (Pance).

Tentu saja, penampilan Dian Piesesha sudah tak sama dengan era kejayaan pada 1980-an. Badannya lebih kurus, usia bertambah 20-an tahun. Namun, yang patut dipuji, kualitas vokal Dian Piesesha masih relatif terjaga. Rata-rata tangga nadanya diturunkan satu. CEMARA-CEMARA CINTA yang di kaset/CD pakai nada D, misalnya, dibawakan dalam C. Ekspresinya pun masih prima.

Lantas, apakah masih ingin membuat album lagi?

"Wah, itu tanya langsung sama bos saya, Judhi Kristianto," jawab Dian Piesesha sambil menepuk bahu Judhi, bos JK Records, yang duduk di sebelahnya.

"Yah, kita lihat saja nanti. Kebetulan selama Dian sibuk, saya juga punya kesibukan, sehingga belum bikin album," kata Judhi yang juga penulis lagu ini.

"JK Records tidak bubar," tegas Judhi.

Selain artis-artis lama macam Dian Piesesha, Meriam Bellina, Ria Angelina, Lydia Natalia, Helen Sparingga, Judhi mengaku masih mencari bibit baru untuk diorbitkan. Tentu saja, dengan gaya musik yang sudah jauh berbeda dengan era 1980-an dan 1990-an.

"Yang jelas, kita ingin memproduksi lagu-lagu yang akan selalu dikenang masyarakat dari tahun ke tahun. Bukan lagu yang hari ini booming, tapi dua bulan lagi sudah dilupakan orang."

3 comments:

  1. saya jiuga terkesan waktu nonton acara ini di metro tv. tapi saya coba googling untuk mendapatkan lagu "pengorbanan di atas segalanya", tidak ketemu. bapak punya? boleh dong kirimi saya, ke bungazet@gmail.com. terima kasih.

    ReplyDelete
  2. org flores suka dian piesesha krn memang romantis. ptongan boleh serem tapi hatinya lembut. hehehe....

    frans, anak flores juga

    ReplyDelete
  3. boleh dong kirimin ku lagunya? alna susah banget dapetinnya. apalagi yang versi keroncong.

    kalo boleh kirim ja ke coyenk2002@yahoo.com

    trima kasih sbelomnya.

    narmo BATAM

    ReplyDelete