25 May 2009

Bahasa Calon Presiden/Wakil Presiden



JUSUF KALLA: Saya suka gaya berbahasanya.

Sangat elok jika pejabat-pejabat tinggi kita mampu berbahasa Indonesia dengan "baik", tak harus "benar". Akan sangat bagus manakala pejabat-pejabat tinggi menjadi teladan berbahasa. Ironis, bahasa pejabat-pejabat tinggi kita centang-perenang.

Bahasa Presiden Soeharto (Pak Harto) tahu sendirilah. Penguasa Orde Baru ini "sangat Jawa". Terlalu banyak membawa ragam Jawa ke dalam bahasanya. Termasuk di acara-acara resmi kenegaraan. Pak Harto (almarhum) dikenang dengan DARIPADA yang tidak pada tempatnya, SEMANGKIN, akhiran -KAN menjadi -KEN.

Namun, bagaimanapun juga, Pak Harto patut diapresiasi karena pada dia punya banyak "prestasi" di bidang pengembangan bahasa Indonesia. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972. Kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta direvisi oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Reka cipta kata-kata dan istilah baru. Contoh: canggih, rekayasa, sangkil, pramuniaga, anjungan tunai mandiri.

Di era Pak Harto juga lahir Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ini kali pertama dalam sejarah Indonesia punya kamus standar sebagai rujukan bagi kita sebagai pengguna bahasa. Ketika bimbang menghadapi kata kembar dua, tiga, empat..., kita tinggal buka kamus. Saya selalu melakukan itu.

SEKEDAR atau SEKADAR? Kamus menjawab: SEKADAR.

STANDARISASI atau STANDARDISASI? Kamus: STANDARDISASI.

APOTIK atau APOTEK?

Kamus: APOTEK.

UBAH, OBAH, RUBAH? Kamus: UBAH.

Pak Harto pada 1995, kalau tidak salah, juga mengeluarkan aturan agar nama-nama asing, khususnya Barat (Inggris) tidak digunakan di tempat publik. Indonesianisasi! Maka, lahirlah ratusan istilah, misalnya, GERAI, REAL ESTAT, MAL, GRAN, LAHAN YASAN, TOSERBA, PUJASERA.

Pak Harto juga berjasa "menegakkan" hukum DM (diterangkan-menerangkan) di ruang publik. Contoh: SHANGRI-LA HOTEL (salah) menjadi HOTEL SHANGRI-LA, TUNJUNGAN PLAZA (salah) menjadi PLAZA TUNJUNGAN, MULIA TOWER (salah) menjadi MENARA MULIA.

Pak Harto bukan ahli bahasa. Bahasa Indonesianya juga buruk. Tapi komitmennya untuk memajukan bahasa Indonesia boleh dikata luar biasa. Bagaimana dengan pejabat-pejabat pasca-Pak Harto?

Centang-perenang, Bung! Semangat untuk membina bahasa Indonesia nyaris tak tedengar. Semalam saya menyaksikan pidato Prabowo Subianto, calon presiden, di televisi. Prabowo ini cerdas dan berani. Bahasa asing yang dikuasainya banyak. Tapi, maaf saja, Prabowo selalu menggunakan kata PEROBAHAN (salah), bukan PERUBAHAN. Selalu pakai kata ROBAH atau RUBAH, bukan UBAH.

Jangan-jangan Prabowo tidak pernah buka kamus bahasa Indonesia?

Bagaimana dengan Megawati Soekarnoputri? Bahasa anak Bung Karno ini sebetulnya sederhana, tidak neko-neko, mudah diikuti. Ada nuansa logat Jawa dan Jakarta, dan itu cocok dengan latar belakang Megawati.

Hanya, karena terlalu pendiam, ucapan-ucapan Megawati kurang enak dinikmati. Kalimat-kalimatnya kadang ruwet, berbelit-belit, karena kurang fokus.

Susilo Bambang Yudhoyono, presiden sekarang, kata orang, cerdas dan berbicara secara runut dan tertata. Bisa berbahasa Inggris pula, sehingga tak perlu penerjemah ketika menerima tamu negara. Tapi, menurut saya, komitmennya dalam membina bahasa Indonesia (hampir) tidak ada.

Susilo sangat suka memungut istilah Inggris sebagai bunga percakapannya. Padahal, ungkapan yang dicomot Susilo itu kata-kata sederhana saja. Bukan istilah sulit yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ada kesan Susilo hanya sekadar bergaya. Agar terkesan hebat, karena bisa berbahasa gado-gado Indonesia-Inggris.

HM Jusuf Kalla, menurut saya, jauh lebih bagus. Apa adanya. Saya sangat menikmati gaya bahasanya. Gaya bahasa sebagai orang Indonesia asal Bugis-Makassar. Tidak sok dengan istilah-istilah tinggi, comot frase Inggris yang tidak perlu. Tuturan Jusuf Kalla sangat lancar, hidup, menarik. Siapa pun yang mendengarkan pidato Jusuf Kalla, saya pastikan, suka.

Jusuf Kalla itu "Indonesia banget". Bagi saya, orang Indonesia harus punya prinsip dan karakter macam Pak Kalla. Tidak sok dalam berbahasa, tidak dibuat-buat. Saya bangga jika orang Makassar berbahasa Indonesia dengan logat Makassar. Jakarta dengan karakter Melayu Betawi. Riau dengan bunyi Melayu Riau nan seronok. Ambon, Papua, Flores, Jawa... pun perlu muncul karakter dirinya.

Saya sering mendapat "undangan" mampir di blog milik teman-teman dari Indonesia Timur: Flores, Timor, Maluku, Papua. Pertama-tama saya perhatikan gaya bahasa, logat, pilihan kata, ungkapan yang digunakan. Aha, ternyata sebagian besar menulis dalam Melayu-Betawi alias bahasa Jakarta ala artis-artis sinetron atau di INFOTAINMENT. Nyaris tidak ada ungkapan lokal yang sebenarnya sangat saya nikmati.

Maka, setelah membaca satu dua artikel, saya tidak mau lagi berkunjung ke blog teman-teman yang "men-Jakarta" itu. Lha, wong nggak pernah tinggal di Jakarta, kok gaya bahasanya ngalah-ngalahi orang Betawi?

Belum lama ini saya bertemu Anton, asli Flores, di Surabaya. Dia baru tinggal enam bulan karena kuliah di sini. Saya bertanya pakai bahasa daerah (Lamaholot): "Mo teiku teku nai? Mehako hena le mong famili?" (Kamu tinggal di mana? Sendiri atau sama keluarga?")

Anton menjawab: "Gue ngekos ama temen-temen gue. Tapi kagak tau lagi, mungkin gue nyari kos yang lebih deket kampus gue!"

"Nolo mo sekolah lau Jakarta le..." (Dulu, apa kamu sekolah di Jakarta?)

"Kagak. Gue skulnya di kampung."

Hehehe.... Sama-sama orang kampung, Flores Timur. Adik yang satu ini paham 100 persen pertanyaan saya dalam bahasa daerah, tapi selalu menjawab dalam bahasa Jakarta.

Ya, sudah, sejak itu saya kehilangan minat untuk berkomunikasi dengan Anton.

7 comments:

  1. Benar Ka'e...

    kemarin saya juga sempat nonton capres kita dialog didepan Kadin... dan saya simpulkan bahasa yangpalin sederhana itu Pak Kalla. lugas dan tidak njlimet... orang sederhanapun saya yakin sangat bisa mengerti tutur macam ini.

    Sby: terlalu di awang-awang...

    Mega : muter-muter...

    soal kebijakan tidak tau... mana yang bagus.

    ReplyDelete
  2. Mas, saya kebetulan cuma ngikuti acara pidatonya sby dan mega. Tidak dengar bicaranya JK. Sayang ya.

    Saya sekarang merasa menyesal krn dulu kurang minat brlajar bhs ibu saya jawa dan sunda dg lebih sungguh-sungguh. Saya hanya sampai tingkat mengerti mengerti tp kurang pwrcaya diri untk berbicara dlm bhs itu. Hanacaraka pun sudah lupa... Sayang ya.

    Terlepas dari kemampuan berbicara dlm berbagai bahasa, perlu selalu diingat bahwa 'bahasa itu seperti pakaian' kita harus lihat di mana dan dg siapa kita menggunakannya ;)
    Sebenarnya

    ReplyDelete
  3. ya harus berbahasa indonesia secara sempurna
    franskupang

    ReplyDelete
  4. Wah, wah, wah.. Bang Hurek rupanya benar-benar menjadikan bahasa itu sebagai tolok ukur untuk kunjungan blog ya? Hehehe.. Ternyata, orang Flores sama juga dengan orang Batak dalam hal ini. Saya sendiri sering menemui 'Anton-Anton' versi Batak disini. Mengerti bahasa Batak tapi membalas dengan bahasa ala Jakarta. Tapi bagian yang lebih lucunya, bahasa ala Jakarta yang dipakainya itu asli menggunakan logat Batak!
    Misalnya: "Ke sekolah, dong."
    (Pakai embel-embel 'dong' tapi lupa melafalkan huruf 'e' menjadi lembut. Jadi, tetap saja yang terdengar lafal 'e' keras khas orang Batak, tapi pakai istilah 'dong')

    Mau tertawa, takut orangnya tersinggung. Akhirnya ya saya diamkan saja..
    Heheheh

    ReplyDelete
  5. memang seperti itu. perlu ada pembinaan tekun dalam berbahasa nasional sambil melestarikan bahasa ibu kita, dan sudah tentu tidak menutup kemungkinan mempelajari bahasa lain apakah daerah atau asing demi pengembangan diri dalam berkarya hidup melayani dan menolong sesama kita tanpa embel-embel kecongkakan hati melainkan penuh kebersahajaan dan kerendahan hati.
    Oh ya, ama Berni, tolong balas email goen krn go sangat butuh mau kontak rae lewo tanah sebelum go pindah te Brazil dalam waktu dekat nepi, jadi tolong sorong go alamat email suster Ursula naen. Terima kasih aya-aya.

    ReplyDelete
  6. Dear,

    Terima kasih untuk ulasannya sangat bermanfaat dan mengingatkan kita bahwa kita tinggal di Indonesia dan wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita.

    Salam hormat,
    Lukas

    ReplyDelete