06 April 2009

Yen Yen gadis Shanghai: Sulabaya panas



Hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok yang semakin harmonis sejak 1990-an membuat banyak orang dari negeri panda berkunjung ke Indonesia. Mula-mula sekadar jalan-jalan santai, wisata, kemudian jatuh hati pada alam serta penduduk Indonesia.

Salah satunya Yen Yen. Gadis kelahiran Shanghai, Tiongkok, 28 tahun silam ini mengaku betah tinggal di Surabaya. Hampir dua tahun Yen Yen mencoba beradaptasi dengan kultur, gaya hidup, makanan, serta keseharian arek-arek Surabaya.

"Saya suka Sulabaya. Olangnya baek-baek. Tapi Sulabaya panas," ujar Yen Yen kepada saya di sebuah rumah makan di Surabaya.

Bahasa Indonesia Yen Yen masih patah-patah meski dia mengaku sudah bisa memahami kalimat dalam bahasa Indonesia. "Bahasa Jawa tidak bisa," kaya Yen Yen lantas tertawa kecil.

Seperti kebanyakan orang Tiongkok, nama Indonesia, khususnya Surabaya, tak asing lagi buat Yen. Dia pun kerap bertemu dengan warga negara Indonesia yang kebetulan berkunjung ke negaranya. Yen akhirnya sadar bahwa ternyata di Indonesia terdapat banyak warga keturunan Tionghoa.

"Saya jadi ingin sekali jalan-jalan ke Indonesia, entah kapan," papar Yen Yen yang didampingi seorang penerjemah.

Setelah hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok dipulihkan, Yen Yen semakin yakin bahwa keinginannya main-main ke Indonesia bakal kesampaian. "Saya percaya pada suatu saat ada kesempatan ke Indonesia," tutur perempuan langsing ini.

Kesempatan itu pun terbuka dua tahun silam. Tak dinyana, sahabat karibnya berkenalan, kemudian menikah dengan orang Surabaya. "Saya diajak ke Surabaya untuk menemani dia. Kalau nggak punya teman di Surabaya kan susah," tukasnya.

Sebelum ke Surabaya, Yen Yen sudah membayangkan bahwa temperatur di Indonesia jauh lebih panas ketimbang di negaranya. Maklum, Indonesia negara tropis yang hanya punya dua musim. Beda dengan Tiongkok yang punya empat musim. "Tapi ternyata Surabaya itu lebih panas dari bayangan saya. Hehehe."

Meski begitu, Yen Yen mengaku betah tinggal di Surabaya. Dia juga tidak merasa kesulitan berkomunikasi karena di Kota Pahlawan ini terdapat banyak ekspatriat asal Tiongkok. Orang Surabaya sendiri, khususnya yang keturunan Tionghoa, pun banyak yang bisa berbahasa Mandarin dengan baik. Kursus bahasa Mandarin pun ada di mana-mana.

"Saya malah sering dijadikan penutur asli bagi teman-teman di Surabaya yang baru belajar bahasa Mandarin," ceritanya.

Yen Yen merasa 'tidak adil' jika dia tidak belajar bahasa Indonesia. Karena itu,
saat ini penghobi masak ini mulai rajin belajar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. "Saya belajar sama teman-teman (Tiongkok) yang sudah bisa bahasa Indonesia," akunya.

1 comment:

  1. salam kenal mas, saya ngisi komentar yang pertama ya.... saya bloger dari bali.

    ReplyDelete