18 April 2009

Tambak di Sidoarjo Terancam



Di sini tambak, di sana tambak. Itulah Sidoarjo.

Sebagai kabupaten yang berada di muara sungai, delta, sejak dulu Sidoarjo memang kaya tambak. Maka simbol kabupaten ini: udang dan bandeng. Dua satwa khas tambak.

Udang organik Sidoarjo sudah lama diekspor ke negara-negara Eropa. Meskipun produksinya sempat terganggu gara-gara serangan virus, sampai sekarang Sidoarjo merupakan penyumbang ekspor udang terbesar ketiga dari Jawa Timur setelah Banyuwangi dan Gresik.

Anda bepergian dengan pesawat terbang lewat Bandara Juanda? Nah, bandar udara internasional itu terletak di Sedati, Kabupaten Sidoarjo, yang juga kawasan tambak. Tak jauh dari Bandara Juanda terhampar ribuan hektare tambak.

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Sidoarjo menyebutkan, Kecamatan Sedati (sekitar wilayah Bandara Juanda) ada 4.100 hektare lahan tambak. Petani tambak juga membuka usaha pemancingan ikan di Sedati. Setiap akhir pekan ratusan orang memanfaatkan waktu luang dengan memancing di berbagai tambak Sedati.

"Udang dan bandeng itu ikon Kabupaten Sidoarjo. Sehingga, kita punya lahan tambak yang sangat luas. Total 15.530 hektare," demikian data yang dirilis Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sidoarjo Muhammad Sholeh pada Maret 2008.

Kabupaten Sidoarjo, yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Pasuruan punya 18 kecamatan. Dari 18 kecamatan ini, ada 8 kecamatan yang punya lahan tambak karena memang dekat muara sungai. Tambak terluas ada di Kecamatan Sedati dan Kecamatan Jabon, masing-masing 4.000 hektare lebih.

Rincian tambak di Kabupaten Sidoarjo sebagai berikut:

1. Kecamatan Waru 402 hektare.
2. Kecamatan Sedati 4.100 hektare.
3. Kecamatan Buduran .731 hektare.
4. Kecamatan Sidoarjo 3.128 hektare.

5. Kecamatan Tanggulangin 497 hektare.
6. Kecamatan Candi 1.032 hektare.
7. Kecamatan Porong 496 hektare.
8. Kecamatan Jabon 4.144 hektare.

Menurut Muhammad Sholeh, produksi tambak pada 2007 mencapai 22.296 ton, terdiri dari udang windu 3.515 ton, bandeng 15.537 ton, udang putih 108 ton, udang campur 1.782 ton. Sisanya berupa tawes, nila, dan lain-lain mencapai 1.354 ton.

"Komoditas unggulan tetap udang windu dan bandeng. Udang windu setahun tiga kali panen, sedangkan bandeng setahun satu sampai dua kali panen," papar Sholeh.

Bagaimana dengan dampak lumpur Lapindo?

Tentu saja sangat terasa di Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Sebab, semburan lumpur dari Sumur Banjarpanji 1 milik Lapindo Brantas Inc itu melalui tiga kecamatan ini. "Tambak di Porong dan Jabon, sekitar 4.600 hektare, sudah menurun karena terkena lumpur Lapindo," kata Sholeh.

Sidoarjo itu sangat strategis. Sejak 1980-an kabupaten penyangga Kota Surabaya ini diincar kalangan investor. Ribuan hektar lahan diubah menjadi perumahan dan perkantoran. Dan laju konversi lahan, termasuk lahan tambak, akan jalan terus ketika pengusaha berusaha memperluas bisnisnya.

Agus Susanto, aktivis Masyarakat Peduli Tata Ruang Kabupaten Sidoarjo, belum lama ini mengadakan penelitian tentang kondisi tambak di Sidoarjo. "Mengerikan," kata insinyur lulusan Filipina ini kepada saya.

Di Pepe, Kecamatan Sedati, menurut Agus, terjadi pemanfaatan lahan tambak secara tak terkontrol. Perumahan-perumahan baru dibangun tanpa kontrol. "Terjadi tumpang tindih antara lahan pertambakan dan perumahan," tegasnya.

Alih fungsi kawasan pesisir juga terjadi di Waru dan Sedati. Padahal, ada dua fasilitas vital di sini, yakni Bandara Juanda dan Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut (Lanudal).

Kawasan Bandara Juanda dilewati Sungai Bulubenda. Jarak garis pantai dengan Bandara Juanda hanya kira-kira 1,5 kilometer. Desa terdekat Bandara Juanda adalah Gisikcemandi yang dikenal sebagai daerah rob.

"Jarak desa dengan bandara hanya 400-an meter. Maka, bukan tidak mungkin Bandara Juanda tenggelam kalau terjadi alih fungsi lahan di tambak sekitar Bandara Juanda," tegas Agus Susanto.

KREDIT FOTO: Soegiarto, Jakarta Photo Club.

3 comments:

  1. Salah siapa? Lapindo aja gak bisa ngurus.... yang penting uang masuk kas propinsi gak peduli pengusaha tambak atau lingkungan sekitarnya menjadi rusak dan ekosistem tergusur... nasib bangsa serakah...

    ReplyDelete
  2. begitulah pemerintah yang tidak bisa mengurusi urusan rakyat, karena dalam demokrasi untuk menjadi penguasa harus kampanye terlebih dahulu, habislah uangnya, sehingga ketika jadi pemimpin, bagaimana supaya uang saya kembali.... apa yang bisa diuangkan, jadi lah...

    ReplyDelete
  3. Kalau Pemilu lagi, arek Jawa Timur jangan mau coblos Golkar atau Demokrat. Partainya Lapindo yang perusak, partainya Bakrie yang penilep pajak; partainya SBY yang pengecut tidak berani membela rakyat Sidoarjo yang menderita, yang korupsi habis2an di kalangan pemimpinnya (Nazarudin, Angie semua hanyalah kambing hitam).

    Tahu kenapa Sri Mulyani mundur? Karena beliau tidak mau memasukkan ganti rugi rakyat Sidoarjo yang merupakan tanggung jawab Lapindo / Bakrie ke dalam APBN. Beliau juga tidak mau menghapuskan tunggakan pajak Bakrie yang ratusan milyar.

    Belajar, carilah informasi Bung, agar tahu siapa di kalangan elite yang merupakan bajingan2 busuk yang merampok rakyat di siang hari bolong.

    Teruskan semangat kerakyatan Bung Karno dan keberagaman Gus Dur. Hidup arek Jatim!

    ReplyDelete