16 April 2009

SBY di Atas Angin




Perolehan suara Partai Demokrat melonjak dari 7,5% menjadi 21%, berdasar data hitung cepat beberapa lembaga survei. Naik 200%. Sangat fenomenal.

Hasil pemilihan umum ini dibaca berbagai kalangan bahwa "sebagian besar rakyat" menginginkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden lagi. Siapa pun pasangannya, mau Jusuf Kalla, Hidayat Nur Wahid, Sri Sultan Hamengkubuwono IX..., SBY pasti memang.

"SBY itu biarpun berpasangan dengan kucing so pasti menang. SBY seng ada lawan," kata beta punya teman, si Patty.

Dia ini orang Saparua, Maluku, pendukung berat SBY. Mati hidup ikut SBY meski namanya tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT). Dan tidak dapat BLT karena dianggap bukan orang miskin. Tapi utangnya cukup banyak karena penghasilan pas-pasan.

Saking hebatnya SBY dan Partai Demokrat, kata si Patty, siapa pun calegnya, pemilu legislatif pasti dimenangi Demokrat. Termasuk jika Partai Demokrat memasukkan nama-nama kucing sebagai caleg.

"Orang tidak lihat caleg, Bung! Orang tidak peduli kucing jadi caleg, insyaallah, contreng Partai Demokrat," ujar si Patty yang ucapan "insyaallah"-nya tidak fasih. Hehehe... Bung satu ini kok suka kucing ya! "Beta suka piara kucing di rumah, Bung!" aku si Patty.

Kalau berpasangan dengan kucing saja, SBY sudah menang 60-70 persen dalam pemilihan presiden mendatang, apakah masih ada orang yang mau menantang SBY? Jangan-jangan SBY calon tunggal. Buat apa capek-capek ikut pilpres, habiskan uang triliunan rupiah untuk kampanye, bayar ini itu, kalau SBY sudah dijamin menang?

Apakah Megawati Soekarnoputri masih mau menjajal kembali SBY? Apa tidak takut kalah lagi seperti pada pilpres 2004?

"Kasihan Ibu Megawati. Dia tidak bisa revans sama SBY yang sekarang makin kuat," kata teman saya itu.

Daripada kalah lagi, kemudian tidak baku omong selama bertahun-tahun, si Patty mengusulkan agar Megawati tidak maju lagi. Cari calon yang lain? "Wah, tambah kalah. SBY itu beta sudah kasih tahu: berpasangan sama kucing saja sudah menang. Hehehe," kata si Patty.

Kasihan memang Megawati bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai ini akan terus menjadi pecundang, barisan orang kalah, dan nyaris mustahil meraih kekuasaan kembali. Cukup jadi oposisi saja. Berdiri di luar pagar.

Tapi, di sisi lain, kita bersyukur ada Megawati dan PDIP yang konsisten beroposisi. Berpolitik dengan prinsip yang sangat kuat. Beda banget dengan Golkar yang, mengutip Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung, berpolitik dengan dua muka. Menurut saya, Golkar bukan hanya dua muka, tapi dasa muka: 10 muka.

Hari ini gembar-gembor mengusung calon presiden sendiri, minggu depan ganti pikiran. Hari ini Jusuf Kalla menantang SBY, "lebih cepat, lebih baik", kini Jusuf Kalla cepat-cepat merapat lagi dengan SBY: agar tetap jadi wakil presiden. Saya yakin rakyat benar-benar muak melihat silat lidah politisi Golkar di televisi.

"Golkar itu memang terkenal paling licin dan licik di Indonesia. Licinnya bukan lagi kayak belut, tapi belut yang sudah diolesi oli," kata si Patty, teman saya.

"Kalau SBY sama kucing saja sudah pasti menang, kenapa harus berpasangan lagi dengan Jusuf Kalla dan Golkar yang plintat-plintut?" pancing saya.

"Ah, itu sudah!"

KREDIT FOTO:
http://www.presidensby.info/imageBeritafotoD.php/447.jpg

2 comments:

  1. Hahaha...geli saya baca perumpamaan yang dibuat teman mas Hurek ttg partai politik di tanah air.

    Berita ttg byknya caleg gagal yg stres dimuat di koran lokal sini lho. Hadoooh campur aduk pwrasaan saya membacanya, yg utama malu. Heran...dikira jadi anggota legislatif enak ya? Kalo yg bener kan ini pekerjaan berat memanggul inspiras aspirasi rakyat. Gak mudah ya kan?

    Kangen baca artikel mas Hurek, nikmat baca sambil minum koffie ;D

    ReplyDelete
  2. Politik memang selalu tentang silat kata ya, bang Bernie.. Mungkin karena sikap plintat-plintut itulah Golkar tetap bisa bertahan dari hujan cemoohan sejak jatuhnya Orde Baru sampai sekarang.
    Mungkin juga karena sosok Mega yang selalu membawa 'emosi jiwa' dan bertahan untuk tidak 'bertegur sapa' dengan SBY pula lah yang membuat PDIP sebagai partai raksasa yang hanya bisa melihat dari luar pagar.
    Yah, lebih enak kalau menonton dagelan mereka yang tidak lucu itu sambil pura-pura tertawa saja.
    Tapi, seperti yang bang Bernie bilang tadi juga,
    "ah... sudahlah!"

    Hehehe
    Horas

    ReplyDelete