20 April 2009

Prof. Fasichul Lisan, Rektor Universitas Airlangga




Ketika Universitas Airlangga (Unair) mengubah statusnya menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN) tiga tahun lalu, muncul banyak pro dan kontra. Rektor Universitas Airangga Prof Dr H Fasichul Lisan Apt pun tak lepas dari sorotan terkait kebijakan itu. Bagaimana Prof Fasich menyikapi gejolak di Unair? Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Prof Fasich kemarin.

Oleh FAISAL PRASTIA
Sumber: Radar Surabaya, 19 April 2009

Bagaimana pendapat Anda mengenai kualitas pendidikan kita saat ini?

Secara umum kita sudah mulai bergerak maju. Tapi, dibandingkan dengan negara yang lebih maju, apa yang dicapai bangsa kita ini rasanya masih jauh. Bukan berarti tidak ada kemajuan lho. Kalau ukuran kasarnya angka partisipasi pendidikan ke perguruan tinggi, ya, sudah sangat tinggi. Dulu masih zaman saya, angka masuk ke perguruan tinggi hanya 15 persen atau 700 ribu orang. Kalau diukur dari waktu ke waktu, bangsa kita ini sudah cukup maju.

Apa masukan Anda agar kualitas pendidikan kita menjadi lebih baik?

Kuantitas lulusan S-1 saja tidak cukup. Perlu upgrading menjadi S-2. Jumlah S-2 sendiri sebenarnya juga masih belum mencukupi. S-3 harus ada spesifikasi dan kekhasan agar mampu menghadapi tantangan global. Jadi, bangsa kita sudah lebih maju, tapi masih kalah dengan bangsa lain. Kita masih berusaha mengejarnya. Sebagai bangsa yang bermartabat, kita harus memajukan bangsa kita.

Bagaimana pendapat Anda tentang polemik BHMN di Unair?

Itu hanya pro dan kontra. Yang harus dipahami bersama adalah apakah perguruan tinggi itu perlu diberi otonomi apa tidak. Menurut saya, perguruan tinggi harus diberi otonomi secara penuh untuk mengelola sumber daya yang ada. Maka, tugas utama pengembangan ilmu itu harus didukung dengan lembaga-lembaga yang otonom.

Pengembangan ilmu adalah pencarian kebenaran. Kalau tidak ada kontrol otonomi di luar universitas, bagaimana mungkin melakukan kontrol kebenaran? Kalau tidak otonom, kontrol kekuatan di luar universitas. Bisa dibayangkan nilai kebenaran yang dikembangkan oleh universitas. Pada zaman otoritarianisme, kebenaran ditafsirkan oleh penguasa.

Kalau kebenaran itu harus mengikuti tafsir penguasa, apa yang akan terjadi?

Ilmu pengetahuan tidak berkembang. Ilmu akan disubordinasikan oleh pejabat atau penguasa. Maka, rusaklah universitas ini. Jadi, menurut saya, otonomi itu sangat diperlukan karena tugas utama universitas adalah pengembangan ilmu. Setiap kita sepakat otonomi keilmuan itu harus ditegakkan dalam penyelenggaraan universitas.

Universitas harus otonom. Anda bisa bayangkan jika keuangan dikendalikan oleh pihak eksternal. Rekrutment ditentukan oleh orang luar. Maka, rekrutment itu tidak didasarkan pada kebutuhan, kompetensi, dan keberlanjutan universitas. Kita bisa bayangkan bagaimana universitas adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan. Biarkan universitas ditentukan oleh masyarakat universitas.
Biar mereka menentukan jati diri, nilai-nilai, tujuan ke depannya.
Jadi, jangan kemudian dikaitkan kalau BHMN SPP-nya naik. Itu barang sepele. Yang harus kita pelajari adalah makna dari otonomi itu sendiri.

Apa saja yang sudah ditempuh Unair agar masuk world class university?

World class university sebenarnya suatu upaya untuk memperoleh kesetaraan dengan universitas-universitas di dunia. Tidak hanya universitas, tetapi produk-produknya juga harus diakui. Misalnya, lulusan kita bisa berkiprah dan mengabdi di negara mana pun.

Dalam masyarakat universitas internasional ada dua ukuran yang kita ikuti, yakni TIMES dan WTO. Dari Geometric, kita sudah masuk 11 besar di Asia Tenggara. Unair masih kalah dengan ITS, tetapi itu bukan alasan untuk tidak bisa meraih yang lebih baik. Kita baru memulai untuk mengintegrasikan seluruh sistem informasi yang kita miliki.

Kalau menurut TIMES, untuk social science, kita meraih 300 besar di dunia. Kemudian, analisis science biomedicine itu masuk 300 besar. Kemudian natural sciences masuk 500 besar. Humaniora juga 500 besar. Jadi, Unair itu lumayanlah sebenarnya. Cuma, pemerintah minta supaya kita tidak jauh dari angka 100 atau 300. Kita ini sudah menyiapkan perbaikan-perbaikan sistem informasi untuk menunjukkan apa yang sedang kita miliki. Jadi, di web kita seluruh dokumen dimasukkan, misalnya penelitian, kerja sama, dan publikasi-publikasi. Jangan mengada-ada.

Apa lagi persiapan konkret Unair?

Kita sudah menyiapkan jurnal-jurnal yang berbasis pada riset. Dana-dana riset baik yang di departemen maupun di universitas harus kita tingkatkan untuk kemajuan sarana prasarananya. Dosen-dosen yang S-1 ditingkatkan minimal S-2. Yang S-2, di-upgrade menjadi S-3. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas. Karena ada korelasi mutu staf dan mutu pendidikan.

Kita juga menyiapkan program universitas yang berbasis kewirausahaan. Kita ingin lulusan Unair mepunyai kapasitas sebagai enterpreneur. Kalau sudah punya modal enterpreurship itu lebih mudah bekerja. Mahasiswa akan dimodali universitas untuk mengembangkan usahanya. (*)


Kalem, Mengalir seperti Air

Fasichul Lisan lahir di Jember 63 tahun lalu. Dia merasakan betul masa-masa sulit negeri ini. Untuk itu, dia menyadari betul arti pendidikan demi masa depan yang lebih baik. Fasichul cilik kemudian masuk Sekolah Rakyat (SR) Semboro 1, Tanggul, Jember.

Berkat kerja keras dan ketekunannya, dia lulus memuaskan pada 1959. Dia melanjutkan ke SMPN 2 Bagian B Jember dan lulus tiga tahun kemudian. Tamat SMP, dia melanjutkan ke SLTA Negeri Paspal Jember, lulus 1965. Semasa SLTA, Fasichul aktif berorganisasi. Dia tercatat sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia.

Dengan kondisi keluarga yang pas-pasan, Fasichul berjuang keras agar bisa masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah, akhirnya dia diterima di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair). Setelah masuk kuliah, dia selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

"Sejak mahasiswa, saya mengoleksi buku-buku agama, di samping buku-buku kuliah," kata Fasich. Tempaan religius dalam organisasi-organisasi keislaman, termasuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), membuatnya menjadi pribadi yang ikhlas dan mengalir.

Fasich pernah menjabat ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi Unair dan sekretaris Dewan Mahasiswa Unair. Pengalaman sebagai aktivis membuatnya cepat berkembang setelah lulus Fakultas Farmasi pada 1974. Perjalanan karirnya dimulai dengan pangkat Asisten Muda II/B.

Sambil meniti karir, Fasichul Lisan menikahi Mughnijah pada 18 Juli 1975. Pasutri ini dikaruniai dua putra dan dua putri. Pendidikan dan agama sangat ditekankan dalam keluarganya. Tiga putra-putrinya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, sedangkan putri terakhirnya masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Unair.

Dalam menjalani hidup, Prof Fasichul Lisan mempunyai moto "mengalir seperti air". Alasannya: "Hidup itu jangan buat target yang muluk-muluk karena hal itu justru akan menjadi tekanan bagi individu yang bersangkutan."

Di mata rekan-rekan dan sivitas akademika Unair, penyuka nasi pecel ini dikenal sebagai sosok yang kalem, hati-hati, dan penuh pertimbangan. Karena itu, dia sangat berhati-hati sebelum akhirnya mengubah status Unair menjadi PT Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada 2006.

Fasich menjelaskan, otonomi sangat perlu agar perguruan tinggi bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional. Sebab, perguruan tinggi dapat melakukan pemisahan kepemilikan aset dan kemandirian dalam pengelolaan keuangan. "Kita punya bargaining dalam transaksi," katanya.

Dia menjelaskan, tantangan dalam mengelola PT BHMN itu ada empat hal. Yakni kekuatan moral, manajemen, partisipasi masyarakat, dan penyediaan pengetahuan (relevansi). Sedang untuk menjadi otonomi, maka diperlukan empat syarat: budaya (spirit), akuntabilitas, check and balance, dan legalitas status.

"Kita dituntut untuk membangun kepemimpinan universitas dengan semangat korporat, transparan, dan akuntabel, tetapi tetap nonprofit. Jadi, Unair BHMN bukan berarti komersial," tegas Fasich. (*)

Tentang Prof Fasich

Nama : Prof Dr H Fasichul Lisan Apt
 Lahir : 31 Desember 1946
Istri : Mughnijah
Anak : dr. Achmad Chusnu Romdhoni
Dr. Nur Rochmah
Muchammad Yasir ST
Nur Hidayati

PENDIDIKAN

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Institut Teknologi Bandung (Doktor MIPA)

PENGALAMAN ORGANISASI

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi Unair
Anggota Majelis Pekerja Kongres HMI
Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PW Muhammadiyah Jatim (1990-1994)
Kadiv SDM ICMI Jatim (1990-1995)
Ketua Majelis Wilayah KAHMI Jatim (1995-2000)
Ketua PW Muhammadiyah Jatim (2000-sekarang)
Ketua Kelompok Pakar Farmasi Indonesia (2004-sekarang)

KARIR

Pembantu Rektor I Universitas Bangkalan (1987-1990)
Rektor Universitas Bangkalan (1990-1994)
Kepala Lab Biofarmasetika-Farmakokinetika (1990-sekarang)
Sekretaris TPP Apoteker RS Farmasi Unair (1991-1994)
Anggota Dewan Sosial Politik Daerah (1992-1998)
Asisten Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Unair (1994-1998)
Dekan Fakultas Farmasi Unair (1998-2002)
Pembantu Rektor Bidang Akademik Unair (2002-2006)
Rektor Universitas Airlangga (2006-sekarang)

5 comments:

  1. Assalamualaikum wr wb
    Kami rombongan dari UMY insya Allah , ingin bersilaturahmi dengan Pak Rektor dan sekalian belajar ke Fak Farmasi Unair ( metode pembelajaran PBL ) terkait niat kami untuk membuka Prodi Farmasi baru di FK UMY pada tahun ini , dimana Prodi ini kurikulumnya nanti lebih beorientasi ke Farmasi klinik dan bersama Fak Kedokteran , Prodi Kedokteran Gigi dan Prodi Keperawatan yang sudah kami punyai , akan merintis pendidikan klinik terintegrasi secara multi disiplin dalama pelayanan pasien
    wassalamualaikum wr wb , terima kasih
    santosaerwin@yahoo.com
    ( dekan FK UMY )

    ReplyDelete
  2. wah pak Hurek blognya keren. Ajari bikin blog keren kayak gini donk Bang! Smoga makin sukses selalu

    ReplyDelete
  3. Hehehe... Faisal, naskahmu saya muat di sini untuk memudahkan orang mencari informasi tentang Pak Fasich dan Airlangga. Blog saya jelek karena aku ini aslinya gaptek, gak ngerti cara membuat tampilan yang bagus.

    Salam sukses dan selamat berpuasa.

    ReplyDelete
  4. Bang hurek,caranya bisa ada tampilan jumlah pengunjung itu gmn? terus tampilan comment bisa kayak gini gmn caranya? punyaku ter-hidden

    ReplyDelete
  5. Wahai adik2-ku para mahasiswa, camkanlah wejangan bapak Rektor Prof. Dr. Fasichul Lisan.
    Jadi manusia jangan buat target yang muluk2.
    Saya sangat setuju dengan beliau.
    Simaklah nasihat orang pandai dari Cambridge University :

    the more you study, the more you know
    the more you know, the more you forget
    the more you forget, the less you know
    so why study

    Kalau masih muda, kelihatan seperti guyonan.
    Namun Bathara Kala tidak bisa disuap, setelah tua, barulah jelas makna philosifi-guyonan tsb.
    Jadi manusia cukup2 sajalah.

    ReplyDelete