02 April 2009

Pemilu di Flores Timur dan Lembata akhirnya diundur




Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) legislatif di Lamaholot akhirnya ditunda. Bukan 9 April melainkan 14 April 2009. Baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Timur maupun KPU pusat sudah melegalisasikannya.

Deo gratias! Syukur kepada Tuhan!

Mengapa pemilu di Lamaholot MUSTAHIL digelar pada 9 April 2009? Saya sudah lama menulis catatan singkat di blog ini. Hari-H pemilu 9 April 2009 itu bersamaan dengan hari KAMIS PUTIH, bagian penting dari ritual SEMANA SANTA atau pekan suci di lingkungan agama Katolik.

Semua orang tahu, warga Lamaholot--meliputi Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata--mayoritas beragama Katolik. Wilayah yang didominasi etnis Lamaholot yang berbahasa Lamaholot (dominan), bahasa Nagi [Melayu Larantuka], dan bahasa Kedang ini masuk wilayah Keuskupan Larantuka. Ingat, Keuskupan Larantuka, tepatnya di Solor, merupakan tonggak masuknya agama Katolik di Indonesia.

Sejak abad ke-16 telah berlangsung tradisi SEMANA SANTA yang dipelopori para misonaris Dominikan dari Portugis. Dus, tradisi rohani ini sudah berjalan sekitar 400tahun. Empat abad, Bung!

Pekan suci itu diawali dengan perayaan Minggu Palma [di Jawa disebut Minggu Palem], 5 April 2009. Sejak itu dimulai "masa tenang", refleksi, untuk mengikuti ritual tahunan Paskah. Umat ramai-ramai membersihkan gereja, kapela, sakramen rekonsiliasi, persiapan liturgi, paduan suara... dan segala sesuatu seputar Paskah.

Usai Minggu Palma, Uskup Larantuka mengumpulkan semua pastor yang bertugas di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata di Gereja Katedral Larantuka. Diadakan misa krisma. Para imam (pastor) menyatakan loyalitas kepada Bapa Uskup sebagai pemimpin gereja.

Hari Rabu dimulailah rangkaian SEMANA SANTA, khususnya di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Namanya RABU TREWA. Misa khusus dan upacara lamentasi. Besoknya KAMIS PUTIH memperingati perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama 12 muridnya. Malamnya umat berdoa alias tuguran (istilah orang Katolik di Jawa).

Ritual dilanjutkan dengan JUMAT AGUNG. Dilakukan jalan salib pagi dan petang. Malamnya viligi atau tuguran. Perayaan Jumat Agung di Larantuka sangat akbar. Ada prosesi khusus yang diikuti ribuan orang dari berbagai daerah. Karena itu, setiap tahun biro-biro perjalanan wisata rohani di Jawa selalu menawarkan LARANTUKA TOUR.

SEMANA SANTA diteruskan dengan SABTU SANTO (malam Paskah) dan MINGGU PASKAH. Selesai!

Apa jadinya kalau pemilu digelar pada Kamis Putih, 9 April 2009? Betul kata KPU, tidak akan ada orang Lamaholot yang mau jadi petugas KPPS. Akan sangat sedikit orang yang datang ke TPS untuk pencontrengan. Timingnya sangat tidak pas.

"KPU bukan saja tidak profesional, tapi alpa dengan kemajemukan bangsa ini. Paskah terjadi setiap tahun dan perayaan di Lembata dan Flores Timur selalu akbar. Saya menyesalkan mengapa persoalan ini baru dibicarakan sekarang," kata Dr Daniel Sparingga, dosen FISIP Universitas Airlangga, seperti dikutip KOMPAS edisi Kamis (2/4/2009).

Yah, mudah-mudahan kasus Pemilu Kamis Putih ini menjadi pelajaran bagi pemerintah dan penyelenggara pemilu di Indonesia. Jangan alpa dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. KPU bisa dimaafkan karena memang tidak tahu ada liturgi Pekan Suci, khususnya Kamis Putih, yang juga dilakukan di jemaat Katolik di seluruh dunia.

Saya berterima kasih kepada Ama Abdul Kadir, ketua KPU Flores Timur, orang Islam asal Lamaholot, yang sangat gigih berjuang agar jadwal pemilu legislatif di Lamaholot diundur karena Kamis Putih.

Ama Kadir, terima kasih aya-aya! Jasa moen kame lupang hala! Ata kiwan, ata watatan... hama hena. Tite lewo tou. Mo tetap kerja mela-mela mang gelekat lewotana.

TULISAN TERKAIT

Mengapa Pemilu pada Kamis Putih?

Semana Santa di Larantuka.

KREDIT FOTO: http://ermalindussonbay.blogspot.com/

5 comments:

  1. aku salut sama pemilik BLOG ini, sangat informatif beritanya

    ReplyDelete
  2. thanks krn pemerintah mau dengar kita punya aspirasi sehingga pemilu diundur 14 april. jangan sampe golput, pilih caleg yg berbobot, tidak korupsi!!!!

    ReplyDelete
  3. Ade Lamber,

    Salam dan selamat jumpa. Apa kabar? Semoga sare-sare hena. Go Rm. Phiner, mo kenal toh? Sekarang go ia Paris - Prancis. Setiap kali mau cari info dan sumber inspirasi tugas-tugas studi, selalu jumpa no blog moen. Jadi sejenak go baca, terlebih tentang NTT no lewo tana.

    Terima lasih aya-aya ade, mo selalu mengingatkan saya rae lewo tana. Sekarang go lagi cari bahan tentang tentang inkulturasi, kalau ada file-file moen ega, tolong natu karena ada paper tentang inkulturasi di indonesia. Tulisan moen tentang SEMANA SANTA sangat indah dan inspiratif.
    Oke, nepa hena Ade. Salam untuk orang-orang sekampung halaman.

    Philipus SERAN,
    Missions Etrangères de Paris
    128, rue du Bac
    75341 Paris Cedex 07 - French

    ReplyDelete
  4. Ogiex, terima kasih atas apresiasi anda. Semoga anda selalu sukses.

    Pater Phiner, terima kasih aya-aya mo basa tulisan goen pi blog nepi. Tuan Phiner nala te oring goen berarti go bisa dapat berkat aya-aya, hehehe...

    Bahan inkulturasi? Majalah liturgi baru-baru ini mengupas isu tersebut. Go di kong buku tou tentang inkulturasi liturgi Jawa, tapi file digital naen take. Go soba fotokopi beng nato mo te Paris. Selamat bertugas te ata lewuna.

    Selamat menyongsong Pekan Suci, Ama Pater.

    ReplyDelete
  5. ama lamber, selamat bertemu lagi...saya baru muncul baca tulisanmu. terimakasih atas perjuangan para pemimpin kita yang pekah terhadap kemajemukan budaya Indonesia. ...ternyata teman Phiner (teman saya dulu di Hokeng) masuk blogmu..salam untuk noke...dari frans kupang ata kalikasa perna tei lou Waipukang karna bapa berguru selama 16 tahun di sana (guru lodo Breket ujan)

    ReplyDelete