20 April 2009

Paduan Suara Lagu Pop



Di panggung inilah, di Gedung Sutardjo Universitas Jember, Jawa Timur, 1990-an, saya mendalami paduan suara bersama PSM Universitas Jember. Posisi saya biasanya di deret belakang, kanan, bas. Paling kanan biasanya si Andong. Dirigennnya Mas Yudhi, Mas Arif, Vivit (yang cantik, di mana dikau sekarang), atau langsung sama sang pembina, Bapak Suyono. Pianis: Mas Ahmad Yani.

Pada mulanya paduan suara (kor, choir) itu berorientasi pada klasik. Paduan suara identik dengan musik klasik. Bahkan, hampir semua dedengkot musik klasik macam Mozart, Bach, Handel, Mendelssohn juga menulis komposisi paduan suara.

Teman-teman aktivis paduan suara -- entah di kampus, gereja, sekolah, komunitas tertentu -- umumnya merasa belum sreg jika belum membawakan komposisi klasik. Kalau bisa yang sulit-sulit. Belum sreg lagi kalau belum bikin konser bertema klasik.

"Kalau hanya nyanyi lagu nasional, lagu daerah, lagu pop, ya, aba bedanya choir kita dengan choir anak-anak sekolah," kata seorang teman, aktivis paduan suara di Jawa Timur.

"Komposisi klasik itu lebih menantang. Awalnya sulit, bahkan sangat rumit. Tetapi, kalau kita sudah kuasai, kemudian konser, wah, puasnya bukan main," tambah lulusan sebuah perguruan tinggi terkenal di Surabaya ini.

Ada benarnya memang. Tapi, harus diingat, seni paduan suara belum mentradisi di Indonesia. Kor itu tradisi musik klasik Barat. Tangga nadanya saja, harmonisasi, beda dengan tangga nada tradisional Indonesia, India, Vietnam, Tiongkok, Tibet, dan sebagainya.

Maka, kalau kor kita umumnya belum "klasik" ya tidak apa-apa. Anggap saja ini "bahasa Inggris untuk penutur asing". Itu pula alasan mengapa catatan paduan suara yang saya tulis di sini hampir semuanya untuk paduan suara biasa-biasa. Paduan suara pemula. Paduan suara yang landasan musik klasiknya belum kuat, bahkan tidak ada. Gampang-gampang sajalah!

Selain lagu-lagu daerah, lagu-lagu pop [Indonesia, asing khususnya Barat] kerap "dipaduansuarakan" di kampus, sekolah, atau komunitas. Malam Minggu lalu, 18 April 2009, kor ibu-ibu muslim Tionghoa Surabaya membawakan beberapa nomor populer. Paduan suara Jawa Pos juga ngepop.

Kita tidak usah menggunakan standar kor klasik untuk menilai paduan suara ibu-ibu atau paduan suara karyawan. Berlatih di sela-sela kesibukan saja yang menumpuk jelas tidak mudah. Kita harus angkat topi. Jangan bandingkan, misalnya, dengan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan, Bandung, yang sudah sangat profesional dan mendunia.

Sejak kapan lagu-lagu pop dikorkan?

Saya pastikan sudah sangat lama. Sudah sejak seni paduan suara dikenal di Indonesia, khususnya era 1950-an dan 1960-an. Tapi, menurut saya, paduan suara yang ngepop, pop choir, berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan paduan suara mahasiswa (PSM).

Gerakan PSM ini dipelopori Nortier Simanungkalit, yang kita kenal sebagai "bapak paduan suara", pada 1978 dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Kompetisi paduan suara antarmahasiswa mulai tumbuh sejak itu. Dan pada 1980-an PSM menyebar di hampir semua kampus baik negeri dan swasta.

Di sinilah "virus" budaya pop merasuki semua paduan suara kampus dan pelajar di tanah air. Ini memang jalan termudah untuk memperkenalkan paduan suara di kalangan anak-anak muda Indonesia yang memang tidak punya tradisi musik klasik. Maka, jangan heran PSM-PSM itu praktis hanya punya tiga macam komposisi: lagu nasional [sebagian ditulis N Simanungkalit], lagu daerah, dan lagu pop.

Lagu-lagu pop yang memang sudah populer dibuatkan aransemen SATB (sopran, alto, tenor, bas) oleh pelatih atau pembina PSM. Kalau tidak punya home arranger, teman-teman PSM universitas A biasanya minta pada universitas B. Begitulah sebuah partitur SATB beredar dari tangan para aktivis di seluruh Indonesia. Saking seringnya dipakai kertas partitur itu biasanya terlihat lusuh, kumal, sulit terbaca.

Satu partitur difotokopi berkali-kali. "Dulu, mencari partitur yang bagus itu nggak gampang. Sebab, belum ada teknologi komputer untuk menulis notasi. Paling banyak pakai tulisan tangan atau mesin ketik manual. Hehehe," kenang teman saya, Robby, sesama eks aktivis paduan suara mahasiswa.

Masih pada 1990-an PSM Universitas Trisakti Jakarta sangat terkenal sebagai paduan suara yang fokus pada lagu-lagu pop. Kebetulan Trisakti punya Bonar Sihombing, pelatih dan arranger yang berorientasi pop. Bonar mampu meracik lagu-lagu pop menjadi komposisi paduan suara yang rancak. Juga lagu-lagu daerah, tentu saja.

PSM-PSM di Jawa Timur pun mulai mengadopsi komposisi pop dalam festival paduan suara antarperguruan tinggi. PSM Universitas Brawijaya, misalnya, pernah bikin lomba paduan suara dengan lagu wajib BALADA SEJUTA WAJAH (Ian Antono/Theodore KS). Aransemen SATB disiapkan pelatih Universitas Brawijaya. Lagu kedua pop aransemen bebas. Ketiga, lagu daerah, juga aransemen bebas.

Bagi kampus-kampus di kota kecil atau daerah, di mana tradisi musik klasik masih lemah, bahkan susah mencari pianis yang bisa baca partitur not balok, paduan suara lagu pop ini sangat efektif untuk menarik minat mahasiswa-mahasiswa baru untuk ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara.

Di mana-mana kegiatan paduan suara paling banyak diserbu mahasiswa baru ketimbang UKM pencak silat, pecinta alam, keroncong, karawitan, atau menwa misalnya. Salah satu cara ampuh untuk menarik minta adik-adik baru itu, ya, menggunakan repertoar-reprtoar pop, bahkan keroncong atau dangdut. Orang merasa familier, akrab, daripada komposisi klasik yang berat-berat.

Apakah setelah berpop ria lantas sebuah PSM "naik pangkat" dengan menjajal komposisi paduan suara beneran alias klasik? Belum tentu. Hanya PSM-PSM tertentu, yang punya pelatih andal, rekam jejak klasik, macam Universitas Kristen Petra, UGM Jogjakarta, ITS Surabaya, Universitas Indonesia, Universitas Parahiyangan, ITB Bandung, Airlangga Surabaya, yang terkenal dengan klasiknya.

PSM-PSM lain sejak dulu ya hanya berkutat di situ saja. Lagu nasional, lagu darah, lagu pop. Beban kuliah yang berat, tuntutan menyelesaikan studi, nyambi cari uang, membuat aktivis PSM kemudian fokus untuk cepat-cepat selesai kuliah. Urusan paduan suara tergeser ke nomor 47. Siklus ini berjalan terus-menerus dari tahun ke tahun.

Maka, ketika saya mampir melihat latihan adik-adik PSM, suasananya hampir sama dengan ketika saya menjadi aktivis paduan suara di kampus Universitas Jember pada 1990-an. Lagunya -- mengutip ungkapan Pance Pondaag-- "masih seperti yang dulu". Sebut saja:

DOA ANAK NEGERI (Donny Hardono/Prasetyo), BUMIKU INDONESIA (Lilik Sugiarto), TEKAD (Damodoro Nuradyo), PERALIHAN (N. Simanungkalit), WARISAN (N. Simanungkalit), PUING (N. Simanungkalit), RENUNGAN IBU DI HARI TUA (N. Simanungkalit).

INDONESIA JAYA (Chacken M.), KEBYAR-KEBYAR (Gombloh), INDONESIA SUBUR (Muhammad Syafei), TANAH AIRKU (Iskak), TANAH AIRKU (Ibu Sud), KEPADA PAHLAWAN (Cornel Simanjuntak), LEBUR DALAM BAKTI (Trisutji Kamal), RAYUAN PULAU KELAPA (Ismail Marzuki)....

14 comments:

  1. Luar Biasaa!! sungguh pecinta Negeri Sendiri... Salam !

    ReplyDelete
  2. aq salut banget ama tulisan2 anda ttg paduan suara. kayaknya jarang ada di blog. byk wawasan baru buat aktivis psm di indonesia. good luck.

    evan, malang

    ReplyDelete
  3. Waaa jadi ingat masa2 kuliah dulu ;)
    Saya gak ikut kelompok paduan suara universitas sya dulu, krn lebih pingin ikut orkestranya (selain memang mutu suara kurang bagus... Hehe)

    Kebiasaan srkolah saya dulu semua mahasiswa baru dr semua fakultas latihan paduan suara bersama untuk 'mentas' pada acara wisuda kakak2 kelasnya yg baru lulus. Nyanyinya ya lagu standar rayuan pulau kelapa, kebyar-kebyar sampai godeamus igitur dll. Wuuuih pengalaman yg berkesan lho... Ratusan anak muda menyanyi bersama! Merinding juga mendengar nada2 soprannya.

    Setelah acara ini, memang byk tema yg tertarik ikut menjadi anggota paduan suara kampus. Promosi berhasill!!! ;D

    ReplyDelete
  4. Hurek gitu loch... Emang beda blognya....

    ReplyDelete
  5. Terima kasih banyak atas kawan-kawan punya apresiasi yang baek sekali: Fendi, Dyah, Marianus. Yah, sekadar postingan ringan pengisi nostalgia en untuk kasih semangat kita punya teman-teman muda, khususnya mahasiswa, yang aktif di paduan suara.

    Apalagi beta lihat belum banyak blog yang bahas hal-ihwal koor atawa paduan suara, sehingga beta coba corat-coret sedikit saja. Salam untuk kawan-kawan dan beta percaya Tuhan Allah kasih berkat untuk teman-teman semua.

    ReplyDelete
  6. teringat aq sama paduan suara di kampus dulu, mas. catatan yg menarik.

    reny

    ReplyDelete
  7. Mas Hurek, PSM Unej sekarang sudah mulai belajar klasik juga. Menyanyikan lagu-lagu di era klasik dan romantik, juga menyanyikan lagu2 madrigal dan traditional song dari berbagai negara. Mereka juga sudah mulai belajar menggunakan not balok. Semoga ini menjadi awal yang lebih bagus. Kalo tidak ada halangan tahun ini mereka konser. gabung aja di FBnya PSM UJ, kalo buat kangen2an ma temen2 PSM Unej. Didung PSM UNEJ.

    ReplyDelete
  8. dimana saya bisa mendapatkan partitur piano "Puing" (N.Simanungkalit)?
    Agus Widodo (mazwid@yahoo.co.id)

    ReplyDelete
  9. Mas Didung, terima kasih dan salut kalau adik-adik PSM UJ makin maju, sudah bisa menggeluti nomor-nomor "berat". Harusnya memang begitu. Tidak mencontoh senior-senior yang cenderung stagnan. Tapi sebetulnya tanpa berklasik ria pun kita bisa berpaduan suara dengan baik. Yang penting, kata orang bijak, nyanyi dengan hati dan cinta. Hehehe....

    Untuk Mas Agus Widodo:
    Sebaiknya hubungi langsung Bapak N. Simanungkalit di Jakarta. Beliau sangat welcome, senang, kalau ada pihak-pihak yang serius dan mau membawakan komposisi-komposisi ciptaanya. Selamat mencoba.

    Lagu PUING ini termasuk yang sangat saya suka. Tidak terlalu panjang, banyak triol, dan manis. Orang diajak untuk menghormati pahlawan. Salam musik!

    ReplyDelete
  10. paduan suara lagu pop emang asyik. bisa dinikmati org banyak...

    ReplyDelete
  11. Wah jadi ingat masa-masa dulu. Mas Didung masih di Jember ya!!!
    Mas Helmi msh idup juga g??
    Gimana tuh UKM PSM Ekonomi kok kalah, pdhal zaman dulu menang terus. Bravo PSM Unej.

    ReplyDelete
  12. mas saya guru dari kisaran,tepatnya di sebuah kota kecil di sumatera,saya kesulitan mencari partitur lagu untuk saya ajarkan pada paduan suara sekolah,bagaimana caranya agar saya bisa memperoleh partitur untuk lagu-lagu pop.terima kasih

    ReplyDelete
  13. salam kenal, saya salah seorang pecinta paduan suara meski jarang sekali bisa menikmati, karena jarang sekali ada event lomba padus.

    ReplyDelete