29 April 2009

Orang Tua Tionghoa dan Musik Klasik



FOTO: Bapak Solomon Tong memimpin latihan Surabaya Symphony Orchestra (SS)). 70 persen pemusik SSO adalah remaja Tionghoa di Surabaya.


Lanjutan artikel Anak Tionghoa dan Musik Klasik Barat

Sebagian besar anak-anak Tionghoa di Surabaya yang belajar musik klasik umumnya atas keinginan orangtua. Padahal, hampir semua orangtua Tionghoa sebenarnya tak ingin anaknya benar-benar jadi pemusik di masa depan. Ini memang paradoks yang sudah berlangsung sejak 1960-an.

Maka, ketika si anak sudah menginjak usia remaja, beban sekolah makin berat, menjelang ujian, para orangtua ramai-ramai menarik anaknya dari sekolah musik. Demikian antara lain petikan percakapan saya dengan Solomon Tong belum lama ini.

Solomon Tong adalah dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO) dan pemilik Sekolah Musik SSO. Dia termasuk salah satu guru musik klasik yang konsisten di Surabaya sejak 1960-an.

"Bahkan, ada yang minta cuti sampai tiga bulan atau empat bulan. Lha, kalau sudah begitu, untuk melanjutkan lagi itu susah. Gurunya setengah mati, si anaknya juga akan kesulitan belajar," kata Solomon Tong.

Begitulah.

Orangtua yang mendorong, tapi di tengah jalan mereka pula yang menghambat anak-anaknya menekuni musik klasik Barat. "Lha, kalau anaknya main musik terus, nggak mau kerja, terus ke depan dia makan apa? Apa bisa makan dengan main musik," ujar salah satu orangtua pianis cilik berprestasi di Surabaya.

Karena itu, menurut Solomon Tong, sulit melahirkan pemusik yang benar-benar serius di Surabaya, bahkan Indonesia. Setelah tamat SLTA, kuliah, biasanya anak-anak berbakat musik ini memilih bidang lain yang mungkin jauh dari musik. Entah itu kedokteran, bisnis, marketing, desain, dan sebagainya.

"Orangtua mereka bilang, yang penting anak saya sudah punya dasar musik klasik. Nanti kalau sudah jadi dokter, ya, dokter yang bisa main piano, mengerti musik klasik," ujar Tong.

Kalaupun ada anak Surabaya yang terus menekuni musik klasik, sambung pria kelahiran Xiamen, Tiongkok, ini, biasanya ujung-ujungnya akan membuka kursus musik atau jadi guru musik. Kalau dirasa penghasilannya masih kurang, dia akan membuka bisnis lain. "Ini memang masalah lama yang belum terpecahkan di Indonesia," kata pria 70 tahun ini.

Menurut Solomon Tong, yang mengajar musik klasik sejak 1950-an, dari seribu siswa sekolah/kursus musik klasik, paling banyak lima orang yang bertahan sampai dewasa.

"Lima dari seribu orang. Dan itu akibat orangtua yang tidak sabar ditambah motivasi anak yang tidak murni. Orangtua inginnya instan," kritiknya.

No comments:

Post a Comment