15 April 2009

Misa Malam Paskah di Katedral Surabaya




Malam Paskah tahun ini (11/4/2009) saya "terpaksa" ikut misa tengah malam di Gereja Katedral (Hati Kudus Yesus) Surabaya. Di gereja sendiri, Paroki Paulus, Jalan Raya Juanda Sidoarjo, misa terlalu sore, pukul 18.00. Sementara saya harus kerja malam hari.

Misa kedua di Katedral digelar tepat pukul 22:00 WIB. Jam yang pas untuk pekerja malam macam saya. "Engkau belum terlambat. Masih ada waktu 10 menit," ujar Ansfridus, pentolan Pemuda Katolik, asal Bajawa.

Malam itu Bung Anfridus bersama teman-temannya jadi penjaga keamanan. Misa tidak seramai gelombang pertama, pukul 18:00 WIB. Maklum, bubarnya mendekati pukul 01.00, sehingga memang sejak dulu jarang diambil umat, kecuali yang kepepet macam saya.

Diawali upacara cahaya, misa dipimpin Romo Damar Cahyadi, didampingi dua romo lain: Romo Eddy Laksito alias Romo Nanglek serta Romo Kuncoto Yekti alias Romo Cuncun. Romo-romo muda di Surabaya, entah kenapa, sejak dulu selalu pakai "alias". Nama asli dan nama alias berbeda jauh. Umat lebih kenal nama alias ketimbang nama sebenarnya.

Jika engkau datang ke Gereja Katedral dan bertanya: "Apakah ada Romo Petrus Kanisius Eddy Laksito?", saya pastikan banyak umat bingung. Tapi, sebaliknya, "Apakah Romo Nanglek ada?" Dia akan segera menunjuk pastor yang berewoknya tebal.

Malam itu Romo Nanglek menyanyikan pujian Paskah, exultet. Rupanya, vikjen Keuskupan Surabaya dan mantan pembina Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Surabaya ini sudah latihan cukup. Sehingga, nada-nadanya pas, tidak salah. Kita bisa menikmati upacara lilin Paskah dengan meriah dan asyik.

Romo Cuncun, yang paling muda tapi cerdas, kebagian membacakan doa-doa sebelum bacaan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Cuncun juga kebagian tugas berkhotbah. Saya baru pertama kali ini mendengar khotbah Romo Cuncun. Tenang, santai, tidak meledak-ledak, tapi berbobot.

Pantas saja, sejak frater, Cuncun ini sudah "dijagokan" bakal menjadi pastor yang berpengaruh di Keuskupan Surabaya. "Cuncun itu juga kuat di aksi. Gak pinter ngomong thok," ujar seorang kawan, bekas aktivis PMKRI.

Paduan Suara SMAK Santa Maria menunjukkan kelasnya sebagai salah satu paduan suara terbaik di Surabaya. Mereka tak hanya membawakan lagu-lagu sederhana di buku PUJI SYUKUR, tapi juga berani memilih repertoar sulit. Benar, kata para pakar musik liturgi, paduan suara yang baik sangat mendukung kualitas liturgi.

Katedral Surabaya harus bersyukur punya banyak paduan suara hebat, khususnya sekolahan maupun kategorial. Selain SMAK Santa Maria, ada Paduan Suara SMAK Sint Louis I yang dikenal sebagai langganan juara lomba paduan suara tingkat nasional.

Misa vigili Paskah di mana-mana memang panjang, tapi tidak membosankan. Liturginya bervariasi sehingga umat Katolik merasa rugi kalau tidak ikut. Maka, tidak afdal rasanya jika kita tidak menikmati kor Hallelujah (GF Handel) sebagai lagu penutup misa. Kor SMAK Santa Maria bernyanyi dengan penuh semangat.

Di Inggris, komposisi ini harus dinikmati sambil berdiri. Sikap sempurna memuji dan memuliakan Tuhan. Hallelujah = pujilah Tuhan! Sayang sekali, malam itu jemaat memilih bubar satu per satu, bersalaman, atau ngobrol besama rekannya karena liturgi inti memang sudah selesai. Pastor pun sudah kembali ke sakristi.

Begitulah orang Indonesia, tidak terkecuali jemaat Katolik di gereja paling terkenal di Jawa Timur. Kesadaran untuk menghargai musik klasik, paduan suara, adik-adik SMAK Santa Maria yang sudah capek-capek berlatih, masih sangat kurang.

Mau bilang apa lagi, Bung? Okelah. Selamat Paskah. Semoga kita semua ikut bangkit, lebih semangat dan lebih beriman. Haleluya!!!!

3 comments:

  1. KAe Bernie Selamat Paskah....

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak ucapannya Mas Fendi dan Marianus. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

    ReplyDelete