06 April 2009

Minggu Palma palem habis



Minggu Palma--atau di lingkungan Katolik Jawa lebih dikenal dengan MINGGU PALEM--berlangsung biasa-biasa saja di Jawa, khususnya Surabaya dan Sidoarjo. Tak berbeda jauh dengan misa minggu biasa, kecuali ada pasio. Itu pun dibacakan, bukan dinyanyikan, sehingga cepat selesai.

Prosesi dengan daun-daun palma? Tidak ada. "Ini bukan Flores, Bung, tapi Jawa. Orang Katolik sedikit, kurang dari 1%, dan belum punya tradisi Katolik," ujar teman saya dari Maumere yang sama-sama ikut Misa Minggu Palma di Gereja Pagesangan Surabaya, Minggu (5/4/2009) petang.

Minggu Palma sangat penting dalam kalender liturgi. Ia menandai awal pekan suci Paskah. Jemaat memperingati Yesus Kristus dielu-elukan massa ketika masuk Kota Yerusalem. Massa mengelu-elukan Yesus, yang naik keledai, dengan daun-daun palma.

Sekadar perbandingan, di Flores Timur Minggu Palma ini dirayakan secara besar-besaran. Sabtu, anak-anak sekolah pergi ke hutan untuk mencari daun-daun palma: daun pinang, ijuk, palem hutan, kelapa hutan, dan sebagainya. Singkatnya, daun-daun tanaman keluarga palem.

Proses atau perarakan Minggu Palma pada Minggu pagi berlangsung sangat meriah di kampung saya. Jalan kaki sejauh 2,5 kilometer dari kampung saya, Mawa, ke gereja di Atawatung. Liturgi awal dibuka dengan lagu "Hosana, Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan...." Kemudian lagu: "Anak-anak Ibrani membawa ranting-ranting zaitun...."

Dua lagu gregorian terkenal ini dinyanyikan sambil berjalan kaki sejauh 2,5 km. Capek menyanyi, pak guru yang memimpin perarakan mengajak umat untuk berdoa rosario. Doa sederhana ini sangat populer di lingkungan Katolik, khususnya di Flores.

Sampai di Atawatung, jemaat masuk ke dalam gereja. Sebagian besar jemaat berada di luar karena gereja tidak muat. Lantas, liturgi dilanjutkan meskipun tidak ada pastor. Di Flores, peranan awam atau katekis luar biasa besar. Mereka "mengambil alih" banyak sekali tugas pastor.

Sangat sulit dibayangkan di Jawa Timur yang, menurut saya, cenderung "kelebihan pastor". Banyak pastor di Jawa terkesan "menganggur". Bahkan, kadang sebuah misa dilayani dua tiga pastor sekaligus. Bukan main!

Kenangan perayaan pekan suci, khususnya Minggu Palma, di kampung ini selalu membekas dalam diri saya. Saya selalu heran mengapa perarakan palem tidak diadakan di Jawa Timur. Tidak usah dua kilometer, cukup 100-200 meter dari halaman gereja. Toh, gereja-gereja Katolik di Jawa umumnya punya halaman dan areal parkir yang luas.

Sayang, pastor-pastor di Keuskupan Surabaya, yang sebagian besar orang Jawa, belum punya keberanian untuk melakukan. Gereja masih cenderung berliturgi secara ke dalam. Tidak heran, orang-orang Jawa yang non-Kristen belum banyak tahu tradisi-tradisi liturgi yang ada di lingkungan Katolik.

"Orang Katolik di Jawa itu punya sindrom (penyakit) minoritas. Beda dengan orang Hindu di Jawa yang tiap tahun bikin perarakan ogoh-ogoh di tempat terbuka dan bisa disaksikan semua orang," kata Silvanus, teman saya, asli Flores.

Apa boleh buat. Selain tidak ada perarakan, pastor hanya memerciki air suci secara massal ke daun-daun palma yang dipegang umat, di dalam gereja, dari tempat duduk masing-masing, paroki juga tidak menyediakan daun palma. Umat harus membawa palma sendiri-sendiri dari rumah.

Bagaimana kalau tidak membawa daun palma? Yah, tidak akan punya kenangan Minggu Palma. Padahal, menurut tradisi, daun-daun palma ini selalu dipasang umat Katolik di atas salib yang ada di rumah masing-masing.

Saya termasuk umat yang alpa membawa daun palma. Meskipun sudah lama tinggal di Jawa Timur, saya sering lupa bahwa paroki di Jawa tidak pernah menyiapkan daun-daun palem itu. Hehehe....

KREDIT FOTO: http://www.flickr.com/photos/37229110@N00/2335977063

4 comments:

  1. Laurens P. Dasion11:57 AM, April 08, 2009

    Ama Lambert,

    Teringat sekali bahwa setiap pekan suci Om Tuan P. Lambert Pari Seran SVD (alm.) akan ke Singaraja. Di sana dia akan membantu pastor paroki setempat untuk merayakan ekaristi. Dia baru akan kembali ke Soverdi Surabaya setelah Paskah... RIP..!!

    Selamat Pesta Paskah 2009.. Semoga sukses selalu..

    Salam,

    Laurens Paji Dasion
    Jakarta

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Ama Laurens Paji Dasion.
    Tite wekekae memang peten tong Tuan Lambert, na nolona kae. Go ia Surabaya nolo musti tobo kong na, koda macam-macam, behing bir, diskusi... Seba atadiken heloka Tuan Lambert Paji nepe gampang hala.

    Selamat Paskah untuk keluarga di Jakarta. Salam kenal untuk semua.

    ReplyDelete
  3. Salam kenal,
    Saya pun juga punya cerita yang sama, di Paroki Paskalis, Jakarta seminggu sebelumnya sudah diumumkan bahwa gereja tidak menyediakan "daun palma"....gak ada pohon palem di rumah, terpaksa petik di taman jalan sekitar Kelapa gading ( dekat kantor ) hahahahah...kacian amat yach!!!!

    ReplyDelete
  4. Salam kenal, Ini saya sharing cerita fabel yang berhubungan dengan Minggu Palma, Semoga memberi inspirasi

    http://authspot.com/tales/lowly-donkey-and-the-king-of-peace/

    ReplyDelete