08 April 2009

Kecanduan Internet: Facebook, Blog, Chatting




Internet itu ibarat candu: bikin orang ketagihan. Sehari tidak masuk ke dunia maya ini, wah, dunia bagai kiamat. Persis perokok berat yang dipaksa tidak merokok.

Adiksi internet sebetulnya sudah lama dibahas ketika jaringan global ini semakin massal pada 2000-an di Indonesia. Maklum, orang Indonesia kebanyakan suka situs-situs hiburan, games, dan chatting yang memang asyik.

Di Surabaya, misalnya, tak sedikit orang yang menghabiskan waktu berjam-jam di warung internet untuk menikmati situs porno, film biru, dan chatting. Pengelola internet sangat paham tabiat pelanggan kita. Maka, mereka pun menyiapkan folder khusus berisi film-film panas. Bisa diakses 24 jam.

Polisi bolak-balik menggerebek warnet macam ini, tapi ya sulit dihilangkan sama sekali. HIKMAH: Selama laki-laki masih suka melihat perempuan telanjang, suka nonton film porno, maka situs porno mustahil dibasmi.

"Sehari saja gak internetan kepala bisa pecah. Internet itu sumber informasi, pengetahuan, dan hiburan paling murah," kata Eva, 21 tahun, kepada saya.

Gadis Sidoarjo ini paling suka chatting. Temannya buanyaak banget. Dia sampai hafal karakter cowok-cowok penebar rayuan maut di internet. Eva juga bisa menebak usia lawan bicara di chat room dari beberapa kalimat saja. "Pokoknya, banyak pemalsuan umur di internet. Hehehe," katanya.

Eva ini korban chatting. Dia pernah janjian kopi darat dengan teman chatting asal Tanjungperak, Surabaya, di sebuah kafe. Si cowok menyebut ciri-cirinya, pakai baju warna apa, duduk di posisi mana. Selanjutnya, mereka saling ber-SMS. Eva sendiri sengaja menyamarkan identitasnya.

"Waduh, saya langsung kabur sebelum masuk kafe," cerita gadis manis ini.

"Kenapa?"

"Orangnya ternyata kayak om-omo, gak cocok sama data di internet. Bahaya kalau kopi darat. Hehehe," kata Eva yang paling sedikit main internet delapan jam sehari. "Aku kan kerja di internet."

Akhir-akhir ini isu kecanduan internet makin relevan ketika situs pertemanan Facebook makin populer. Di mana-mana orang bicara Facebook. Di kantor, kafe, warung, sekolah, kampus, bahkan di pegunungan kayak Trawas atau Pacet.

"Sudah punya Facebook belum? Asyik lho Facebook itu," ujar banyak teman. Media massa membahas panjang lebar demam Facebook di Indonesia.

Tabloid KONTAN edisi Minggu I April 2009 menjadikan Facebook sebagai bahasan utama. "Demam Facebook: Madu atau Racun?" begitu judul sampul KONTAN. Ada foto seorang nona manis yang keranjingan Facebook.

Di Jakarta, menurut KONTAN, banyak kantor swasta dan pemerintah yang memblokade situs Facebook gara-gara pegawainya kecanduan Facebook. Begitu buka komputer, lama pertama yang dipantau adalah Facebook. Fasilitas kantor dipakai untuk bersosialisasi di jagat maya.

Alokasi waktu dan pikiran untuk kerja pun tergerus demi Facebook. Tak hanya itu. Fasilitas ponsel dan laptop sekarang memungkinkan orang-orang kota untuk menikmati Facebook puluhan kali sehari.
"Kecanduan Facebook itu lebih parah ketimbang chatting," kata si Eva lagi. "Tapi manfaatnya lebih banyak. Semua itu kembali ke diri kita sendiri. Teknologi itu pada dasarnya netral."

Bagaimana pula dengan lama atau website pribadi macam blog, entah di Blogspot, Wordpress, Blogdrive, Friendster, Multiply... dan sejenisnya? Apakah laman-laman ini juga membuat kita kecanduan?

Sebagai blogger, saya harus mengatakan secara jujur bahwa blog itu punya efek adiksi. Kecanduan. Setelah punya blog, saya selalu "dipaksa" untuk melihat-lihat blog sendiri setiap hari.

Pengunjungnya berapa orang? Ada komentar baru? Isi komentar netral, sensitif, menyerang orang atau golongan lain? Posting mana yang paling banyak di-googling pengguna internet?

Ada lagi satu kecanduan yang menimpa para blogger. Yakni, kita "dipaksa" untuk selalu menulis artikel agar selalu ada posting-posting baru. Para blogger itu mengidap penyakit "kecanduan menulis" baik itu tulisan serius, santai, atau sekadar memajang foto-foto sendiri di blog.

Apa pun yang namanya kecanduan, adiksi, itu tidak baik. Tapi kalau kecanduan menulis, menurut saya, baik-baik saja. Jurnalis radio terkenal di Surabaya, Bapak Errol Jonathans dari Radio Surabaya, bahkan selalu menganjurkan anak-anak muda, mahasiswa, untuk membuat blog sendiri.

Hanya dengan begitu anak-anak muda punya kecanduan menulis. "Menulis apa saja. Kalau punya blog, setiap saat Anda bisa memasukkan artikel Anda sendiri. Kalau hanya mengandalkan media-media umum, sulit diprediksi kapan artikel kalian bakal dimuat," ujar Pak Errol.

Kitorang kecanduan blog masih lebih baik daripada kecanduan situs porno to? Yah, itu sudah, Bung!

7 comments:

  1. Facebook dan Blogspot memang bisa dikatakan membuat saya kecanduan..

    Facebook,
    saya anggap sebagai jendela besar yang bisa mempertemukan saya dengan sobat-sobat lama yang sudah bertebaran dimana-mana (termasuk mantan pacar saya waktu SMP yang sudah hilang kontak selama lebih dari 12 tahun. Hehe)
    Atau menjaring pertemanan baru, khususnya teman-teman dari luar negeri. Saya mendapat beberapa teman baru dari Filipina, Afrika dan India lewat Facebook. Dulu, saya suka sahabat pena. Tapi karena harga perangko sekarang mahalll, untunglah ada Facebook.

    Blogspot,
    saya suka menulis. Tapi saya tidak ingin menulis dengan mengikuti standar tertentu (seperti halnya dalam jurnalistik). Menurut saya, menulis itu seharusnya menyenangkan dengan menuangkan apa yang ada di pikiran tanpa harus memikirkan untuk mengedit kembali. Yang pasti, tulisan seperti itu tidak akan pernah masuk media cetak. Hehehe.. Padahal, saya ingin orang lain juga membaca pemikiran saya itu. Sebagai jalan tengah, saya pilihlah Blogspot. Tulisan saya yang apa adanya bisa dibaca oleh orang banyak.

    Teknologi memang selalu kembali kepada pribadinya masing-masing.

    Horas,
    bang Bernie

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Risma atas kesediaanmu berbagi pengalaman. Kuncinya memang di individu masing-masing. Selamat menikmati FB.

    ReplyDelete
  3. Mas hurek,
    Mulanya saya ragu membuat acc di facebook, sebabnya saya baca n dengar berita miring ttg kerugian punya acc disini, dari mulai kurangya privasi, spam yg menusuk dari musuh dlm selimut, bekas teman/pacar yg hub tidak lg baik dll dll.

    Tapi akhirnya saya coba jg, krn bujukn teman2 sekolah dulu. Sejauh ini saya senang punya acc d facebook krn saya bisa kembali menyambung tali pertemanan dg teman skolah dulu. Mantan pacar sih engga lah ;) cuma saya belum berminat tambah teman baru di sini. Lha teman lama saja gak habis2 disapa...belum ada waktu u teman baru.

    Blogging? Gakada itu yg nama ya kecanduan blogging! Hehe
    Hobi menulis itu bagus, membuat kita menjadi pengamat hal2 yg kita minati dg lebih baik.

    Setuju gak mas? :D
    Oiya...saya skrg geleng2 geli terus nih tiap membaca komentar masxhurek di blog sya!! Aiiih... Bahasanyaaa!

    ReplyDelete
  4. Wow, bagus sekali Mbak Dyah punya masukan dan bagi2 pengalaman. Bahwasanya ternyata Facebook punya manfaat begitu banyak, mudaratnya sedikit. Artinya, beta harus koreksi beta punya pendapat yang kurang pro sama FB. Maaf seribu maaf.

    Geleng2 kepala tidak apa2, anggap saja relaksasi sekejap. Beta kebetulan tertarik dengan gaya bahasa tempo doeloe yang Mbak Dyah perkenalkan lewat itu bungkus KOFFIE BANDOENG. En kebetulan beta pada saat yang hampir bersamaan membaca buku2 tjeri tempo doeloe yang pake gaya Melayu Tionghoa.

    Kira2 begitu beta punya penjelasan. Selamat menikmati Facebook dan ngeblog.

    ReplyDelete
  5. Mas Hurek,

    Di sini ada Museum Peranakan...bagus sekali! :D
    Tiap ada kelas, saya bawa murid2 ke sini supaya mereka lebih menghargai kebudayaan mereka yang unik ini.

    Saya pernah tulis ttg museum peranakan di Singapura, ini link nya, jika tertarik silakan berkunjung (ke link dan ke museumnya) :D

    http://catatanpendek.blogspot.com/2008/05/new-peranakan-museum.html

    ReplyDelete
  6. facebook itu asyik banget lho. yg penting qta tau wkt kapan makainya.

    ReplyDelete
  7. Sebenarnya anak yang kecanduan internet memiliki gelombang otak diatas rata-rata sehingga jika ia mampu memanfaatkan gelombang otaknya dengan cara yang tepat ia bisa menjadi anak yang jenius dan berprestasi disekolahnya

    ReplyDelete