19 April 2009

Carmen Straight dan Buddha's Relic Tour




Orangnya ramah, murah senyum, lekas akrab dengan siapa saja. Bahasa Inggrisnya juga relatif mudah dipahami kita-kita yang bukan penutur asli. Yah, mungkin karena Carmen Straight ini sudah lama hidup dan mengembara di Asia, negara yang penduduknya tidak berbahasa Inggris.

Carmen Straight berada di Surabaya sejak 17 April hingga 20 April 2009 untuk pameran relik-relik suci Buddha di Vihara Buddhayana, Jalan Putat Gede 1 Surabaya. Perempuan asal Kanada ini membawa ratusan relik suci Buddha untuk dipamerkan di Surabaya.

Bukan sekadar pameran biasa, umat Buddha juga melakukan devosi pada sisa-sisa tulang, rambut, dan bagian tubuh lain dari para guru spiritual kaum Buddhis itu. Diiringi musik khas Buddhis yang melodinya diulang-ulang, suasana vihara terasa khidmat. Umat juga membunyikan lonceng kecil.

"Relik itu mengandung energi cinta kasih. Dan kami datang ke Surabaya untuk membagikan cinta kasih dan semangat perdamaian," ujar Carmen Straight. Selama empat hari di Surabaya, Carmen tampak sibuk menjawab pertanyaan pengunjung. Pengalamannya menggelar pameran bertajuk Buddha's Relic Tour ke 48 negara [Indonesia negara ke-48] bikin orang-orang takjub. Termasuk saya.

Syukurlah, di sela-sela kesibukannya, Carmen Straight bersedia menerima saya untuk sebuah wawancara khusus. "Oke. Kita cari tempat duduk di sebelah saja ya. Kebetulan di sana ada minumnya," ujar Carmen Straight dengan ramah.

"Apakah Relic Tour ini untuk menggalang dana pembangunan patung Buddha berukuran besar senilai Rp 250 juta di India? Saya kebetulan membaca informasi ini di internet," kata saya.

"Itu bukan tujuan utama kami," tegas Carmen Straight. Tujuan utamanya, ya, lebih ke spiritual. Mengajak orang-orang Surabaya, khususnya jemaat Buddha, untuk lebih meningkatkan keimanan dan devosinya kepada Tuhan. Selalu berjuang menjadi Buddha.

Hanya saja, menurut Carmen, Relic Tour ini kiranya bisa memberi inspirasi kepada jemaat untuk ikut mendukung rencana pembangunan patung tersebut. Di Bodhgaya, India Utara, juga dibuat kompleks pendidikan untuk anak-anak. Saat ini dana yang sudah terkumpul mencapai separo dari kebutuhan.

"Mudah-mudahan Anda mendapat tambahan dana dari Surabaya," pancing saya.

"Hehehe.... Bagus sekali. Terima kasih," jawab Carmen Straight seraya tertawa kecil.

Menurut dia, pembangunan patung Buddha Maitreya ini diperkirakan membutuhkan waktu lima tahun. Sekarang belum ada pembangunan karena panitia alias pelaksana proyek masih mengurus berbagai keperluan terkait proyek itu. "Doakan saja semoga bisa segera diwujudkan," katanya.

Nah, setelah patung itu jadi, maka ribuan relik yang dipamerkan ke banyak negara sejak 1994 itu akan ditaruh di sana. Menjadi bagian tak terpisahkan dari patung Buddha di situs rohani utama umat Buddha di dunia itu. "Tapi bisa saja dibawa ke tempat-tempat lain kalau memang diperlukan. Ini agar umat Buddha bisa memperoleh energi dan manfaat rohani lainnya."


PENCERAHAN DI CALIFORNIA

Carmen Straight mengaku mulai berkenalan dengan agama Buddha di California, Amerika Serikat, pada 1994. Waktu itu dia mengikuti sebuah acara meditasi yang dipimpin Lama Zopa Rinpoche, rohaniwan Buddha yang sangat terkenal di dunia internasional.


"Saya merasa cocok dengan meditasi serta ajaran-ajaran yang dia sampaikan. Dan sejak itu saya semakin mendalami tradisi-tradisi Buddha," cerita Carmen Straight.

"Bagaimana reaksi keluarga serta teman-teman ketika tahu Anda menjadi Buddha?" tanya saya. (Sebelumnya, Carmen mengaku tidak memeluk satu agama pun. Tapi dia berusaha mempelajari berbagai macam agama yang ada. )

Carmen tertawa kecil. "No problem. Baik-baik saja. Sebab, kami di Kanada itu sudah terbiasa dengan semangat kebebasan. Setiap orang bebas memilih keyakinan tertentu," katanya.

Ketertarikan Carmen Straight juga tak lepas dari pilihannya menjadi vegetarian sejak 1984. Dia merasa lebih nyaman tidak mengonsumsi segala macam makanan hewani. "Badan saya memang tidak bisa menerima daging. Jadi, saya ini sebenarnya sudah jadi Buddha sebelum resmi masuk agama Buddha," katanya.

Carmen, yang punya hobi jalan-jalan alias travelling ini, kemudian berkelana ke India. Dia mendalami kehidupan rohaninya dengan bermeditasi di padepokan milik sang guru, Lama Zopa Rinpoche. Dari situ dia semakin menghayati pentingnya nilai relik-relik suci. "Dan kami ingin agar makin banyak orang yang mendapat energi cinta kasih dari orang-orang suci itu. Misi kami memang pedamaian," tuturnya.

Sejalan dengan hobi travelling-nya, Carmen Straight bersama beberapa staf kemudian mengadakan Buddha's Relic Tour di berbagai negara. Saat ini sudah 48 negara yang didatangi. "Kami ke Indonesia karena ada permintaan dari sini. Sebelumnya, kami tur di Vietnam dan setelah ini kami geser ke Srilanka," tuturnya.

Bagi Carmen Straight dan para penggemar travelling di Kanada umumnya, Indonesia bukanlah negara yang asing. Namun, mereka hanya tahu kalau Indonesia itu ada Pulau Bali yang ekstik, tari-tarian, serta pemandangan alam yang indah.

"Saya sendiri tidak tahu bahwa Indonesia itu negara yang multietnis, multiagama, dengan toleransi yang tinggi. Semua agama bisa hidup berdampingan secara damai. Ini yang bena-benar menarik," tuturnya.

Di kalangan Buddhis internasional sendiri, menurut Carmen, Indonesia nyaris tidak masuk hitungan karena tidak ada guru-guru spiritual yang terkenal. "Padahal, setelah saya datang ke sini, ada banyak guru yang bermutu," pujinya.


ORANG BARAT DAN AGAMA TIMUR

Bagaimana orang-orang Barat yang sekuler itu tertarik pada agama, khususnya spiritualitas Timur, seperti dilakoni Carmen Straight? Apakah ini terkait dengan kekosongan rohani masyarakat modern?


Menjawab pertanyaan saya, Carmen Straight menyinggung "generasi bunga", flower generation, pada 1960-an. Masa ketika The Beatles sangat berjaya. Pentolan band asal Inggris ini ternyata tertarik dengan spiritualitas Timur. Mereka ke India untuk belajar meditasi, mencoba menjalani keutamaan-keutamaan Buddhis.

Dari situlah orang-orang Barat mulai terbuka mata dan hatinya pada agama Buddha. Buddhist Center tumbuh di Barat. Guru-guru spiritual juga didatangkan ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya. "Orang mulai mencoba belajar meditasi. Ada yang merasa cocok, ada yang hanya bertahan sebenatar saja."

Dua dasawarsa kemudian, 1980-an, gelombang spiritualitas Timur yang dirintis para "generasi bunga" mulai surut. Meditasi dan latihan-latihan rohani masih ada, tapi tidak semarak 1960-an dan 1970-an. "Ini juga karena guru-guru yang datang ke Barat cenderung kurang qualified," papar Carmen Straight.

Perjalanan rohani itu ibarat siklus yang naik turun. Pada 1990-an ada gelombang baru kebangkitan agama-agama. Pusat-pusat Buddhis di Barat tumbuh lagi. Kali ini dengan pembimbing atau guru yang mumpuni. Nah, Carmen Straight ikut meditasi di California, Amerika Serikat, bersama sejumlah kawannya. Generasi ini seolah menemukan pilihan baru di tengah kehidupan yang makin materialistis, keras, dan penuh persaingan.

"Orang Barat itu tahunya kerja, kerja, kerja. Sementara ada ruang spiritual yang kosong. Dan itu yang perlu diisi dengan meditasi, doa, dan sebagainya," jelas Carmen Straight. Ini semua pilihan pribadi, sehingga Carmen mengaku tak punya pretensi untuk "mengagamakan" rekan-rekannya di Kanada sana.

"Anda akan membuka Pusat Buddha di Kanada? Atau, barangkali menjadi pemimpin spiritual Buddha yang berlatar belakang Barat?" tanya saya.

"Hehehe.... Tidak mudah membuka Pusat Buddha di Kanada atau Amerika Serikat. Ada banyak persyaratan yang harus diperhatikan, khususnya kualitas sang pemimpin. Dan saya belum memenuhi persyaratan itu. Hehehe..."

"Sekarang mungkin belum, tapi 10 tahun mendatang? Siapa tahu?"

"Hehehe...."

Wawancara makin asyik saja. Carmen Straight yang baru saya kenal 40-an menit lalu kini sudah seperti teman lama. Tiba-tiba pengurus Vihara Buddhayana memberi tahu Carmen Straight bahwa jadwal ceramahnya tinggal beberapa menit lagi.

"Baiklah. Ini pertanyaan terakhir. Apa pesan Anda untuk generasi muda di Surabaya yang makin lama makin berkiblat ke Barat, bergaya hidup modern, menikmati segala fasilitas modern?"

Carmen Straight yang sudah melanglang ke puluhan negara mengatakan, gaya hidup Barat memang diadopsi anak-anak muda di mana-mana. Orang berusaha mencari kebahagiaan ke mana-mana, ke tempat hiburan, materi, dan sebagainya.

"Tapi itu bukan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati itu justru ada di sini," ujar Carmen Straight seraya menepuk dadanya.

"Carmen Straight, terima kasih!"

Dalam perjalanan pulang, saya mengingat-ingat kata-kata bijak Carmen Straight--yang sebetulnya sudah sering kita dengar:

KEBAHAGIAAN SEJATI ADA DI DALAM HATIMU.

3 comments:

  1. Salam,
    Terima kasih.
    Sudah hampir setengah tahun ini saya sedang tertarik mempelajari hipnoterapi & meditasi serta hidup vegetarian. Banyak memang nilai positif yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya sebagai seorang Kristen.
    Hanya saja belum siap secara penuh untuk menjadi vegetarian.

    Semoga semesta berbahagia.

    ReplyDelete
  2. Katrin, terima kasih aya2 mo mala te blog goen.

    Go beng koi kalo mo amam Waibalun lewun.

    Mo soba maang vegetarian? Akuko hala, tapi gampang hala. Mo onem musti mege-mege.

    ReplyDelete
  3. Menurutku, buddha itu ajarannya membumi banget.... Menarik.., terutama untuk ku yang dibesarkan secara Katolik.

    Salam..

    ReplyDelete