23 April 2009

Anak Tionghoa dan Musik Klasik Barat




GRACE ROZELLA SOETEDJA, lahir di Surabaya 23 Mei 1994. Pada usia 5 tahun sudah menjadi juara II lomba piano di Hongkong. Di usia 9 tahun Grace menerima sertifikat Museum Rekor Indonesia sebagai violinis termuda yang mampu memainkan Concerto for Violin in Bes Major karya WA Mozart dan Concerto for Violin No 3 in G Major bersama orkes simfoni tanpa partitur. Ciamiiik soro!



Hampir setiap pekan ada konser atau resital musik klasik di Surabaya baik itu konser kecil, ujian kenaikan tingkat, solo concert, konser ulang tahun, hingga pemecahan rekor nasional. Dan, yang menarik, para pemusik ini (hampir) 100 persen anak-anak dan remaja Tionghoa.

Kursus piano, les biola, hingga seni suara klasik ibaratnya sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup keluarga Tionghoa di kota-kota besar, khususnya Surabaya. "Sebagai oang tua, kami hanya memberikan dukungan agar anak-anak bisa maju," ujar Gunawan.

Salah satu putri Gunawan, Valerie, tercatat sebagai pemegang rekor Muri dalam bidang seni vokal klasik. Tak hanya pandai membawakan repertoar-repertoar klasik yang berat, Valerie pun fasih memainkan berbagai instrumen musik.

Sejak kapan sebenarnya keluarga Tionghoa memperkenalkan anak-anaknya, termasuk yang balita, pada musik klasik?

Menurut Solomon Tong (70 tahun), dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO), yang juga guru musik klasik, cikal bakal kursus musik klasik, khususnya piano, mulai muncul di Surabaya pada 1950-an. Orang-orang Tionghoa yang kaya kemudian memasukkan anak-anaknya ke sekolah, kursus musik, atau les privat.

Pada 1970-an, ketika Orde Baru berkuasa, minat anak-anak Tionghoa belajar musik klasik semakin besar seiring semakin membaiknya kondisi perekonomian dan politik di dalam negeri. Orang tua merasa kurang sreg kalau anaknya hanya fokus di pelajaran sekolah atau membantu keluarganya berbisnis. Musik klasik sudah dianggap penting.

"Tahun 1980-an tambah banyak. Sekolah-sekolah musik tumbuh di mana-mana. Sehingga, terjadi booming anak-anak Tionghoa yang belajar musik," tutur Solomon Tong dalam sebuah diskusi di kantor SSO, Jalan Gentengkali 15 Surabaya, kepada saya.

Kalau dulu fokusnya hanya pada piano, menurut Tong, pada awal 1980-an anak-anak mulai mempelajari violin alias biola. Tong sendiri menitipkan anak dan keponakannya pada Paul Situpang, guru piano terkemuka saat itu. Sambil belajar biola, kursus piano jalan terus. Selain Paul Situpang, guru-guru piano di Surabaya antara lain Bernardo (warga Filipina), Lie Xian Fai, Welly Liando, Ricky, Alex Tambayong, dan Braga.


Lantas, mengapa keluarga Tionghoa sangat antusias memperkenalkan musik klasik kepada anak-anaknya? Solomon Tong menyebut beberapa alasan.

1. FINANSIAL.

Kursus atau les apa pun, apalagi musik klasik, membutuhkan biaya cukup besar. "Nah, kebetulan orang-orang Tionghoa secara umum cukup mampu secara ekonomi," jelas Tong.

2. KOMUNITAS.

Di mana-mana musik klasik punya segmen penggemar tersendiri yang akhirnya membentuk semacam komunitas. Ketika melihat anak-anak temannya bisa memainkan nomor-nomor klasik, tampil di konser, maka yang lainnya pun tertarik. Komunitas klasik ini sangat solid. Perhatikan semua konser musik klasik, sebagian besar penonton saling mengenal satu sama lain.

"Komunitas itu pula yang menghidupi SSO sejak 1996," kata tokoh yang sejak 1950-an aktif sebagai guru musik klasik itu.

3. KEBUDAYAAN.

Musik klasik sejak dulu diakui sebagai fine art atau "budaya tinggi" dalam peradaban Barat. Pengaruhnya sudah meluas ke dunia internasional. Karena itu, masyarakat modern merasa perlu mendalami atau setidaknya mengapresiasi musik klasik. Apalagi di era globalisasi sekarang. Musik klasik itu ibarat bahasa universal yang perlu dipahami semua orang apa pun latar belakangnya.

"Ketika ekspresi budaya Tionghoa dilarang (selama Orde Baru, Red), maka anak-anak Tionghoa merasa lebih aman belajar musik klasik. Kalau orang Jawa, Batak, Madura, Bugis... mempelajari kesenian tradisionalnya, orang Tionghoa belajar apa? Kesenian Tionghoa gak boleh, ya, larinya ke musik klasik," tukas Tong.

4. KEBUTUHAN ROHANI.

Dibandingkan profesi-profesi lain, menurut Tong, pemusik atau guru musik jauh lebih enjoy meskipun tidak selalu makmur. Dokter yang tiap hari menghadapi orang sakit, insinyur yang berurusan dengan bahan bangunan, misalnya, membutuhkan keseimbangan jiwa dengan musik. "Maka, sebagian besar dokter itu senang musik. Bahkan, waktu kecil mereka ikut les musik klasik. Dan itu sangat penting ketika sudah bekerja."

5. PROSPEK JANGKA PANJANG.

Menurut Tong, orang-orang Tionghoa selalu melihat peluang keuntungan jauh ke depan. Apa manfaatnya jika anak-anak diikutkan dalam kursus piano, biola, cello, dan instrumen lain?

"Orang Tionghoa sadar bahwa abad ke-21 itu abad jasa. Dan musik termasuk salah satu profesi yang bisa ditekuni anaknya di masa depan. Kalau dia nggak bisa kerja, setidaknya kemampuan musik yang pernah dipelajari itu bisa dipakai untuk cari makan," urai Tong.

6. PEMBENTUKAN KARAKTER.

Keluarga-keluarga Tionghoa di Surabaya, ungkap Tong, merasa lebih aman jika anak-anaknya belajar musik klasik. Ini karena selain merangsang kemampuan kognitif, juga membentuk karakter yang santun, rendah hati, menghargai orang lain.

Berdasarkan pengalamannya mendidik ribuan pemusik di Surabaya, Tong melihat bahwa orang-orang yang belajar musik klasik memiliki daya ingat yang tajam dan kemampuan analisis lebih baik.

"Saya yang sudah 70 tahun, misalnya, sampai sekarang masih ingat apa saja yang saya lakukan di Tiongkok 65 tahun lalu. Nama anjing saya apa, saya ingat betul. Hehehehe," kata Tong.

4 comments:

  1. Musik klasik, finansial dan komunitas rasanya menjadi hal yang sangat penting disini.
    Kalau hanya menjadi penikmati seperti saya saja kalau harus menonton konser klasik jelas pikir-pikir 2 kali. padahal saya sangat senang mendengarkan. apalagi mereka yang bermain dan menjadi pelaku musik klasik.

    ReplyDelete
  2. Ingin apat DVD dan CD musik klasik dengan harga terjangkau? Cek di sini:

    www.higayonmusicstudio.multiply.com/market

    ReplyDelete
  3. Musik Bach paling keren kalo menurutku, karena ndak bisa ikutin makanya ku suka, kalo tak bisa nonton, biar diri sendiri yang buat eventnya, ada kemauan pasti ada jalan, uang mah no. 2. Seandainya saja orang2 cerdas ini lebih diperhatikan ketimbang musik pop yg me-Layu. Maju pemusik Classic Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Fenomena ini menarik, Bung Hurek. Saya tertarik sekali mengetahuinya. Tp saya rasa butuh penelitian yang lebih mendalam lagi. Jawaban Tong masuk akal juga, tp saya kira tidak sesederhana itu. Mungkin bisa dikaji lebih serius lagi.

    Salam!

    ReplyDelete